Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Minggat.


__ADS_3

...Jadilah dirimu sendiri karena engkau berharga. Tidak pernah ada orang yang sama seperti dirimu dan engkau selalu dikasihi-Nya dengan cinta yang sama....


...– Suster M. Fransita, FCh –...


🕊️🕊️🕊️


“Maksudmu, kamu akan dikuliahkan di Beijing, gitu? Wow, keren, Tha!”


“Kamu ini sama gilanya dengan daddy mommy!” Agatha langsung mendorong tubuh Alzio.


“Nggak, sorry, aku hanya bercanda. Tapi kalo menurutku, jika situasinya beda mungkin akan lebih menyenangkan,” ucap Alzio sambil tertawa, tetapi ia segera diam setelah sadar begitu melihat ekspresi muka sepupunya yang terus masam dan hampir meledak. “Mmm…jadi kamu mau gimana?”


“Ya nggak gimana-gimana, gitu lohhh! Kamu pikir aku bakalan nurutin maunya mereka? Nggak! Nggak bakalan. Mereka akan menyesal seumur hidup jika mereka terus memaksaku.”


“Lalu, kamu maunya ngapain?”


“Memangnya kamu harus tau semua apa yang akan aku lakukan? Apa urusanmu untuk itu?”


Alzio diam sesaat, lalu menghembuskan napasnya dengan teratur. Berbicara dengan Agatha membuatnya harus menunjukkan sikap kasih yang penyabar supaya Agatha bisa luluh. Alzio lalu menyahut, “Tha, aku bener-bener khawatir sama kamu pokoknya. Aku cuma bisa berdoa dan kasih saran ke kamu. Kamu mau mendengar, itu lebih bagus. Jika kamu rasa itu nggak berguna, ke depannya jangan nyesel atas perbuatan dan tindakanmu nantinya. Semua ada di tanganmu sendiri. Memang, kasih manusia itu terbatas, mereka nggak bisa mengasihi kita seutuhnya. Mereka nggak bisa mengasihi kita selamanya. Kasih yang mereka miliki pasti memudar seiring berjalannya waktu. Begitu pula dengan orang tua kita. Bukannya mereka nggak sayang sama kita, tapi mereka memang nggak bisa mengasihi kita secara sempurna. Dan, satu hal kamu pasti udah bosen banget dengernya, dan aku tau itu. Tapi, aku selalu pengen bilang bahwa Tuhan Yesus mengasihi kita. Hanya Dia yang mampu dan sanggup memberikan kasih yang sempurna. Aku, sebagai sepupumu, pengen banget suatu hari nanti kamu menyadari betapa KEREN kalimat itu.” Alzio lalu memegang kedua pundak sepupunya, berusaha memberi pengertian akan hebatnya kasih Tuhan. Tatapan Agatha menerawang, apakah kalimat panjang lebar yang diutarakan Alzio bisa ia serap. Ah, sepertinya kapasitas otak dan pikiran Agatha tak terlalu bagus untuk menyerapnya.


🕊️🕊️🕊️


Sore hari, Agatha tengah tertidur di kamarnya. Alzio masuk ke kamar lalu mencari ponsel Agatha. Ia sadar ini sebenarnya tak lazim dilakukan karena ini menyangkut privasi sepupunya, tetapi ia terpaksa melakukan itu. Ia mencari kontak Dirgo, lalu menyalin nomor Dirgo ke ponsel miliknya. Dengan cepat ia kembali karena Agatha sedikit menggeliat.


Setibanya di kamar yang ia tempati, Alzio mengirimkan pesan singkat pada Dirgo.


“Hallo…temui gue di café XY. Now!”


Alzio segera berganti baju, menyambar dompetnya yang tergeletak di atas nakas. Tak lupa ia berpamitan pada Bi Momon yang tengah berkutat dengan alat masaknya di dapur. Ia pergi menggunakan mobil Agatha.


Sementara Dirgo yang baru saja selesai dengan alat lukisnya, ponselnya berdering sekali. Ada pesan masuk di sana. Dirgo segera membuka pesan itu. Yang pertama kali ia lihat ialah sebuah nomor baru tanpa foto profil sebagai pengenal.


“Nomor baru? Kira-kira siapa yang ngajak ketemuan sore-sore begini?” tanyanya pada diri sendiri. Ia kembali meletakkan ponselnya, sedikit mengacuhkan isi pesan yang tertera di ponselnya.


“Ehh tapi kayaknya ada hal penting. Ya udah deh, aku akan menemuinya sekarang setelah selesai mandi,” gumamnya seraya membersihkan dan merapikan peralatan melukisnya.


🕊️🕊️🕊️


Sudah hampir satu jam lamanya Alzio menunggu kedatangan Dirgo. Minuman cappucino latte yang ia pesan sudah hampir tandas. Di saat dirinya hendak berdiri, lalu ponselnya berdering. Di sebuah pesan itu, Dirgo bertanya di mana keberadaannya. Ia segera membalas pesan itu dengan menyebutkan ciri-cirinya juga.


“Loh! Ini bukannya sepupu Agatha, ya? Alzio, bukan?” tanya Dirgo sedikit kaget karena orang yang ditemuinya adalah sepupu dari gadis pujaan hatinya.


“Iya, lo bener. Silakan duduk!” Alzio mempersilakan Dirgo untuk duduk.

__ADS_1


“Thanks. Oh ya, kenapa ngajak gue ketemu?” tanya Dirgo.


“Mmm sebelumnya, sorry, ya. Ada hal yang mau gue omongin…”


“Santai aja. Gue orangnya suka berbagi dan suka mendengarkan juga tentunya,” ujar Dirgo dengan sedikit terkekeh.


“Ini agak personal. Memangnya lo nggak keberatan?” tanya Alzio kembali memastikan lawan bicaranya.


“Soal apa?”


“Ini soal Agatha, sepupu gue…”


“Dia kenapa?” Ada rona panik yang terpancar dari wajah Dirgo. “Dia baik-baik aja, kan?”


“Ya seperti yang kamu lihat sendiri. Dia sedang banyak beban pikiran karena masalah om sama tante. Malam itu, dia pulang dalam keadaan mabuk berat. Padahal gue tau betul sepupu gue nggak pernah minum minuman beralkohol. Lo tau, dia pulang bawa mobil sendiri. Gue sampe khawatir tingkat tinggi…”


Dirgo menghela napas panjang. “Sebenarnya, kalo soal dia yang mabuk itu, gue tau…” Dirgo sengaja menggantungkan kalimatnya. Alzio menatap Dirgo dengan tatapan heran.


“Maksud lo gimana?”


“Iya, malem itu gue yang anter dia pulang. Gue nggak sengaja ketemu dia di parkiran club. Dia udah tersungkur di samping mobilnya. Ya udah, gue khawatir lalu inisiatif untuk mengantarnya pulang. Gue nggak mau kalo dia kenapa-kenapa di jalan dalam keadaan mabuk.”


“Jadi lo yang anter dia pulang? Gue kira dia nyetir sendiri. Syukurlah. Makasih, ya,” ucap Alzio. Ia lega setelah mendengar penjelasan Dirgo.


“Itu udah semestinya yang gue lakukan,” jawab Dirgo seraya mengembangkan senyum.


DEG!! Jantung Dirgo berdebar. Ia menjadi salah tingkah dalam beberapa detik. Ia khawatir jika Alzio justru menentangnya. Tapi setelah dipikir, sepanjang mengobrol, Alzio belum pernah menunjukkan rasa ketidaksukaan padanya sedikit pun. Ia lalu menjawab, “kenapa lo bertanya begitu?”


“Ya sebagai sesama cowok, gue bisa ngebaca semua yang lo lakuin ke Agatha. Tatapan lo ke dia benar-benar menunjukkan kalo lo menaruh hati pada sepupu gue yang malang.”


“Mmm sorry, gue…” Belum sempat Dirgo menyelesaikan ucapannya, langsung disanggah oleh Alzio.


“Nggak usah minta maaf,” Alzio terkekeh, lalu menepuk pelan pundak Dirgo. “Kalo lo bener-bener jatuh hati padanya, kejar. Kejar sampe dapet. Gue sangat mendukung kalian berdua. Gue juga mau minta tolong sama lo, tolong buat hatinya luluh. Gue rasa lo bisa bantu gue. Gue takut dia mau bunuh diri lagi.”


Sejenak Dirgo tertegun, lalu tersenyum. Ada rasa lega di hatinya karena Alzio mendukungnya. “Gue masih menunggu waktu yang tepat. Gue takut dia menjadi risih karena gue. Juga gue berusaha untuk bantuin apa yang lo maksud. Thanks, calon kakak ipar, hahaha.”


Alzio dan Dirgo tertawa bersama. Ada rasa lucu jika Alzio menjadi kakak ipar dari Dirgo, yang usianya memang sama rata.


🕊️🕊️🕊️


Malam tampak tak menghadirkan benda-benda indah yang menghiasinya seperti biasa dan awan sedikit mendung. Agatha termenung di dekat jendelanya seraya menatap langit yang mendung. Hatinya mengembara ke mana-mana. Ia sibuk berpikir, memerangi pikirannya, apa yang akan dilakukannya? Sebenarnya ia sudah punya rencana untuk kabur dari rumah, tapi ke mana? Tak mungkin ia ke rumah Memey, ke rumah Maria, ke rumah Stevanie, dan tak mungkin pula ke rumah Dirgo maupun rumah Yadi. Jika ke rumah saudaranya, mereka pasti akan mengirimnya kembali ke rumah. Ah, bodo amat, pikirnya.


Agatha lalu menghampiri lemari pakaiannya dan mulai membukanya. Ia mengambil kopernya untuk membawa semua pakaian yang ada di dalam lemari, akan tetapi kopernya itu tak cukup untuk menampung semua pakaiannya. Agatha mulai bingung. Pakaiannya semua bagus karena dari merek ternama dan ia ingin membawa semuanya, tapi ini bukan langkah yang tepat jika minggat. Alhasil Agatha membuat sebuah prioritas untuk memecah kebingungannya. Ia membuat polling pakaian mana yang harus ia bawa dan pakaian mana yang harus ia tinggalkan. Tak lupa ia juga memasukan satu set alat riasnya, karena itu merupakan senjata kaum Hawa. Walaupun minggat, tetap harus tampil cantik, pikirnya.

__ADS_1


Setelah selesai berkemas, Agatha merasa bawaan masih terlalu banyak. Minggat dengan membawa sebuah koper, malah tidak seperti minggat. Yang ada justru mirip dengan melakukan perjalanan luar kota atau sedang camping Rohani. Agatha terpaksa membongkar kembali kopernya yang sudah tertata barang bawaan sebelumnya. Kali ini, memakai tas ransel. Semua barang bawaan di koper ia pindahkan dan dipadatkan ke dalam ransel.


“Goodbye, all my past (semua masa laluku),” gumamnya sambil tersenyum lebar nan puas. Ia lalu melangkah keluar dari kamarnya. Sebelum turun, ia masih mengintip sekitar, memastikan keadaan rumahnya sepi. Ternyata rumah cukup sepi. Ia segera turun dengan langkah mengendap. Alzio sedang berada di kamarnya semenjak balik bertemu dengan Dirgo. Ia sedang memainkan gitarnya dengan melantunkan sebuah lagu kesukaannya. Lirik-lirik lagunya seperti tak asing di telinga Agatha.


“Bila samudera menderu, badai hidup menerpaku. Batu karang-Mu yang teguh, di sana aku berteduh. Kasih Tuhanlah yang abadi, sejuk menyirami jiwaku, Kristus Yesus juru slamat hidupku…”


“Mmm, lagu gereja,” gumam Agatha sambil berjalan keluar. Sampai di depan rumahnya, Agatha hanya perlu memasang senyum ataupun memelototkan matanya pada Mang Judas. Apabila Mang Judas bertanya padanya hendak ke mana ia pergi, ia cukup menjawab ingin berkunjung ke rumah tetangga, pikirnya.


Agatha berjalan seorang diri. Agak takut juga karena hari memang sudah malam. Ia lalu menghentikan sebuah taksi yang melintas di depannya. Tempat yang ingin ia kunjungi saat ini adalah club yang ia kunjungi waktu ia, club yang membuatnya mabuk berat. Saat ini ia berniat ingin menikmati dugem dan bersenang-senang tanpa mabuk-mabukan.


🕊️🕊️🕊️


Agatha mengamati beberapa anak punk yang sedang naik turun berjingkrak di atas panggung menikmati hentakan musik. Ia jadi teringat pada ketiga teman barunya. Maksudnya ketiga anak punk yang tempo hari mengembalikan tasnya. Setelah beberapa lama Agatha mengamati, akhirnya ia tersadar juga dan segera mengenali bahwa ketiga anak punk yang tempo hari itu ada di club juga.


“Si kakak rambut ungu cerah…” gumam Agatha. “Ternyata mereka sering ke sini?” Entah mengapa Agatha tidak merasa takut seperti waktu pertama kali bertemu. Ia justru merasa tertarik dengan ketiga anak punk itu, tertarik untuk menjadikan mereka sebagai teman barunya.


“Mengapa mereka bisa menari-nari seperti orang gila yang tanpa beban? Apakah sebahagia itu hidup yang mereka jalani?” gumam Agatha lagi. Tanpa berpikir panjang, Agatha lalu bergabung saja dengan mereka. Mungkin terlihat lebih keren apabila ia punya teman baru, si anak punk.


“Heii, adik kecil,” sapa Andrew begitu melihat Agatha. Ia ingin tertawa melihat gerakan dance Agatha yang tak karuan. Asal goyang saja.


“Musik underground memang gila, ya!” teriak Agatha.


“Heh, ngapain kamu ke sini? Ini bukan tempatmu, anak mami!” bentak Bernard.


“Bodo! Tau apa kakak soal anak mami? Anak yang menurut dengan kemauan orang tuanya, ya? Huh, aku nggak ada urusan dengan hal-hal semacam itu!”


“Biasa, anak mami yang sedang merajuk,” bisik Cath pada Andrew. “Nanti juga bakalan balik lagi jadi anak mami jika moodnya sudah normal.”


“Kalian ngomong apaan, Kak? Ngomongin aku, ya?” Agatha berhenti menari-nari dan tiba-tiba berbalik pada Cath.


“Nggak ada. Udah ah…malas!” Cath lalu keluar dari kerumunan dan berjalan menuju tempat minuman berada. Andrew dan Bernard berjalan di belakangnya. Agatha juga mau tak mau mengikuti mereka. Di kerumunan tidak ada yang ia kenal, selain mereka bertiga. Ia cuma tertarik dengan ketiga anak punk itu.


“Jangan ngekorin kita terus, dong!” bentak Cath pada Agatha. Agatha diam tertegun karena dibentak seperti itu, tetapi ia mencoba tetap tenang. Wajar saja jika ia dibentak. Toh di dunia ini tidak ada lagi yang sayang padanya, pikirnya. Bernard lalu mengeluarkan sebungkus rokok, lalu mengambil isinya sebatang. Ia juga membagikannya pada dua temannya yang lain, Andrew dan Cath.


“Aku cuma mau pesen minum kok, Kak,” ujar Agatha menanggapi bentakan Cath. Ia lalu duduk di samping Andrew yang murah senyum.


“Kamu mau?” Andrew menawari Agatha dengan rokok.


“Nggak, Kak. Thanks. Aku bukan perokok,” jawab Agatha sedikit ketus. Andrew dan Cath hanya saling pandang lalu tertawa bersamaan.


🕊️🕊️🕊️


“Cupit, nonton The Nun, yuk.” Alzio baru saja selesai mandi, naik ke atas lalu masuk ke kamar Agatha ingin mengajaknya nonton. Ia membawa laptopnya dan juga beberapa camilan yang dibelinya sewaktu pulang dari luar.

__ADS_1


🕊️🕊️🕊️


To be continued…


__ADS_2