
Setelah memasuki villa dan naik ke lantai atas, Welson membaringkan Agatha di atas ranjangnya. Welson membaringkan Agatha dengan hati-hati agar Agatha tidak terbangun. Kemudian Welson menarik selimut supaya menutupi sebagian tubuh Agatha. Welson tersenyum menatap Agatha yang tertidur dengan begitu pulas. Ia mengusap lembut pipi Agatha dengan tangan kanannya lalu membelai rambut Agatha yang terlihat berantakan.
“Bahkan di saat tidur seperti ini pun kamu sangat cantik.” Welson mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur yang terletak di nakas sebelah ranjang Agatha.
Sebelum keluar meninggalkan Agatha yang sudah pulas, Welson kembali tersenyum melihat Agatha. Memang benar ia ingin tidur dengan Agatha, tetapi ia juga punya hati dan tidak mengambil kesempatan di saat Agatha tengah tertidur. Ia akan memintanya jika Agatha dalam keadaan membuka mata, tidak sedang tidur seperti saat ini.
“Selamat istirahat, sayang. Semoga mimpi indah,” ucapnya tersenyum. Sekali lagi ia mengusap wajah Agatha sebelum ia meninggalkannya. Kali ini, ada bonus yang ia tinggalkan. Ia mengecup kening dan bibir Agatha sebelum akhirnya keluar kamar.
Di saat ia keluar dan menutup pintu kamar Agatha, muncullah Nadine dari dalam kamarnya. Entah angin apa yang membawanya keluar. Tepat pada saat itu pula, Memey yang satu kamar dengannya sudah tidur juga. Welson akhirnya menghampiri Nadine yang tengah menuju balkon lantai yang mereka pijak saat ini. Welson sudah paham apa maksudnya, terlihat jelas dari tatapan Nadine di saat ia keluar kamar.
Nadine membuka pintu yang mengakses antara ruangan dan balkon di lantai atas. Ia berdiri mematung dengan kedua tangannya ia silangkan di dada. Tibalah Welson menyusulnya dan langsung memeluk Nadine dari belakang.
“Kenapa kamu belum tidur?” tanya Welson sedikit berbisik. Seketika bulu roma Nadine merinding, apalagi ditambah dengan hembusan napas Welson yang sangat terasa di kulitnya.
“Aku belum mengantuk!” jawab Nadine ketus dan dingin. Welson mengerutkan keningnya karena Nadine menjawabnya dengan ketus, seperti sedang bertengkar. Welson pun akhirnya melepaskan pelukannya di tubuh Nadine dan membawa Nadine supaya menatapnya.
“Hei, kamu kenapa? Apa yang kamu pikirkan?” Welson menatap Nadine dengan penuh tanda tanya.
“Memikirkanmu yang selalu manja-manjain Agatha. Padahal aku juga ingin merasakan itu dari kamu.” Nadine menjauhkan pandangannya dari Welson. Ia tercengang dengan ucapannya sendiri yang keluar begitu saja tanpa disaring terlebih dahulu.
“Hei, dengarkan aku! Mana mungkin kita terang-terangan berduaan di depan Agatha dan teman-teman kita yang lain? Apa kamu tau? Agatha dan Memey curiga pada kita di saat kita berciuman di kebun binatang dan juga di sofa ruang tamu villa ini. Kamu lupa? Untung saja aku bisa berkilah,” jelas Welson pada Nadine yang tengah membelakanginya.
“Bukankah itu bagus jika Agatha mengetahuinya sekarang?” Nadine kini menoleh ke arah Welson dengan tatapan yang mematikan. Welson tidak habis pikir dengan jalan pemikiran Nadine yang seenaknya langsung ingin membuat ia dan Agatha berakhir.
“Jangan bodoh dan gegabah, Nad!” Welson membentak Nadine.
“Kamu membentakku?” ucap Nadine, tiba-tiba air matanya keluar. Baru kali ini ia dibentak oleh Welson, dibentak orang yang telah berhasil membuat hatinya jatuh terperangkap di dalam hubungan mereka saat ini.
“Itu semua salahmu. Jika kamu bisa bersabar, tidak mungkin aku membentakmu. Aku kan sudah bilang, aku masih memikirkan caranya dan ada waktu yang tepat untuk kita berterus terang pada Agatha. Bukan sekarang!” Welson mencoba memberi pengertian pada Nadine.
“Iya, kamu memang benar. Ini semua salahku. Aku salah karena sudah hadir di antara kalian berdua. Dan aku sadari itu, Wels. Perlu kamu tau, semenjak kamu pertama kali mencium ku di sofa bawah, di saat itulah aku tidak ingin melepaskanmu. Aku terlanjur hanyut di dalam arus yang rumit ini, Wels. Jujur, aku semakin tidak ingin lepas darimu. Hatiku sakit ketika melihatmu dan Agatha bermesraan.” Nadine berkata sambil menangis.
“Ssstttt! Jangan menangis! Nanti yang lainnya bangun dan memergoki kita di sini,” ucap Welson berusaha menenangkan Nadine. Lantas Welson membawa Nadine ke pelukannya supaya tenang.
Usai menangis, Nadine menatap Welson dengan wajah yang membuat Welson ingin menciumnya karena gemas.
“Jangan menatapku seperti itu.” Welson memicingkan matanya. Perlahan, wajah Welson semakin lama semakin menunduk hingga membuat Nadine mengernyitkan dahinya.
“Kamu mau apa?” tanya Nadine dengan wajah yang sudah merona.
“Kenapa wajahmu memerah? Kamu lagi mikirin apa, hm?” Welson tersenyum menggoda Nadine. Lagi-lagi Welson membungkukkan wajahnya pada Nadine.
__ADS_1
“Kamu mau ngapain, sih?” tanya Nadine tanpa menjawab pertanyaan Welson. Ia tau, Welson pasti ingin menggodanya.
Cup!!!
Tanpa pikir panjang, Welson langsung mencium Nadine. Ini ketiga kalinya mereka berciuman dan ciuman itu juga yang ketiga kalinya untuk Nadine. Nadine tak membalas ciuman Welson karena ia memang belum mengerti bagaimana caranya. Nadine berusaha melepaskan tubuhnya dari Welson karena ia merasakan seperti kehabisan napas. Ia memukul-mukul dada Welson supaya Welson menyudahi aksinya. Hingga tak terasa Nadine menggigit bibir Welson dan ciuman itupun berakhir.
“Aihhh. Kenapa kamu menggigitku?” ucap Welson seraya memegang mulutnya yang terasa perih.
“Ma...maaf. Aku tidak sengaja.” Nadine gelagapan dan menundukkan wajahnya menatap lantai balkon.
“Lihat aku, Nad! Aku yang berbicara padamu, bukan lantai yang sedang kamu tatap itu,” ujar Welson.
Nadine malu pada Welson saat ini karena tidak sengaja menggigit bibir Welson. Tanpa pamit dan menjawab Welson, ia berlalu begitu saja meninggalkan Welson menuju kamarnya. Welson hanya bisa tersenyum penuh misteri melihat Nadine meninggalkannya seorang diri di balkon. Welson pun juga ikut berlalu dari balkon itu dan turun ke bawah menuju kamarnya. Ia juga ingin beristirahat. Dalam hatinya ia begitu senang karena bisa meluluhkan Agatha dan juga Nadine.
🕊️🕊️🕊️
Keesokan paginya, semuanya sudah terbangun dan tengah sarapan bersama di meja makan. Bi Inem juga ikut sarapan bersama mereka karena hari ini adalah hari terakhir mereka berada di villa kota L, milik keluarga Dirgo. Nadine masih menunduk malu karena ia ingat kejadian semalam di balkon. Suasana hening memenuhi meja makan ketika Bi Inem kembali ke belakang.
“Uhuk!” Agatha tersedak susu hangat ketika ia menenggaknya.
“Sayang, pelan-pelan dong minumnya. Jangan terburu-buru!” Welson siaga dan mengelus tengkuk Agatha dengan perhatian.
“Ekhem! Karena hari ini adalah hari terakhir kita liburan, bagaimana jika kita keliling mall terbesar dan terkenal di kota ini?” timpal Dirgo yang langsung mengalihkan perhatian teman-temannya.
“Lah, salahnya di mana coba?” tukas Nadine, “lo nya aja yang selalu salah sambung!”
“Ya jelas salah lah. Bagaimana mungkin Dirgo ngajak kita maling ke mall? Gue gak mau masuk penjara!” jawab Memey. Yang lainnya hanya bisa mengelus dada karena Memey yang selalu saja berulah.
“Hadehh. Mey, Mey! Gue masih waras, gak mungkin gue ngajak lo maling. Gue ngajakin kalian semua berkeliling siapa tau mau beli sesuatu.” Dirgo menepuk keningnya tak habis pikir pada Memey.
“Aneh ya, mall itu. Ada jual batu juga. Hahaha.” Memey tertawa lepas. Ia mengira perkataan Dirgo yang terakhir adalah batu.
“Udah ah. Ayo kita siap-siap!” ajak Welson menimpali. Mereka semua berhamburan meninggalkan Memey yang masih saja mengunyah sarapannya.
“Lo gak mau ikut, Mey?” tanya Yadi yang sengaja menghentikan langkahnya ketika menyadari Memey masih di meja makan.
“Ya maulah. Gue habisin sisa roti bakarnya dulu.” Memey tersenyum pada Yadi.
“Nah, coba kayak gitu terus. Kan senang ngeliatnya,” ucap Yadi yang juga tersenyum pada Memey.
“Eh, gak jadi. Gue tarik senyumnya.” Memey kemudian bangkit berdiri ketika yang ia makan telah ludes dan berlari menuju ke atas.
__ADS_1
“Dasar!” Yadi menggelengkan kepalanya.
Selesai berbenah diri dengan segala keperluannya, kini mereka telah berkumpul di ruang tamu sebelum akhirnya mereka berangkat. Wajah Memey berbinar-binar karena akan mengelilingi mall. Hingga sampai di dalam mobil pun, Memey masih saja asyik sendiri.
Mobil meninggalkan halaman villa dan menuju ke mall. Letaknya tidak sejauh antara kebun binatang dan villa Dirgo. Sehingga tidak membutuhkan waktu lama, mobil mereka telah memasuki area parkiran mall. Mereka semua keluar dari mobil dan mulai memasuki lobby mall.
“Gue yang traktir, jadi kalian tinggal pilih yang kalian inginkan.” Agatha memulai pembicaraan di sela melewati lobby mall.
“Wah, anak sultan mah bebas!” Memey semakin senang karena akan ditraktir Agatha.
“Lo serius, Tha?” tanya Yadi dan Nadine bersamaan.
Agatha tidak menjawab selain dengan anggukan kepala. Namun, tidak untuk Welson dan Dirgo. Mereka berdua memilih untuk membayar sendiri barang belanjaannya. Welson dan Dirgo memisahkan diri dari mereka berempat. Penelusuran mereka dimulai dari tempat sepatu, tas, dan terakhir adalah pakaian. Semua yang mereka telusuri adalah barang-barang bermerek atau lebih dikenal dengan barang branded. Mereka menghabiskan banyak waktu untuk berkeliling mencari barang keperluannya masing-masing. Sehingga di tangan mereka penuh dengan paper bag yang bergelayut manja. Mereka berempat pun menuju kasir untuk membayar semua barang belanjaannya.
“Mohon di cek, Mbak!” perintah Agatha pada kasir mall.
“Baik. Silakan menunggu sebentar!” jawab kasir itu tersenyum ramah.
Sang kasir pun mengecek barang belanjaan mereka semua. Satu per satu telah selesai sang kasir cek. Mata sang kasir membulat seketika melihat nominal belanjaan itu.
“Horang kaya. Pantas saja barang-barangnya branded semua,” batin sang kasir.
“Sudah beres, Mbak. Totalnya 315.850.500,” ucap sang kasir.
“What?” Memey tersontak kaget mendengar nominal yang sang kasir sebutkan. Lantas sang kasir juga kaget karena teriakan Memey.
“Tutup mulut lo, karcis.” Agatha menyikut lengan Memey.
“Buncis mah enak, iya gak Mbak?” tanya Memey pada sang kasir. Namun sang kasir menatap penuh kebingungan karena tidak mengerti.
“Mohon maaf atas ulah teman kami, Mbak. Tolong jangan didengar.” Agatha tersenyum lalu membungkukkan badannya. Kemudian ia merogoh tasnya untuk mengambil dompet yang berisi berbagai macam jenis kartu. Ia mengeluarkan “The Black Card” yang memiliki limit tak hingga, jadi bebas untuk bertransaksi apa saja dan berapa saja jumlahnya.
“Ini Mbak.” Agatha menyerahkan kartu yang ia ambil dari dompetnya.
“Terima kasih. Saya proses, ya.”
Setelah urusan mereka semuanya terselesaikan, kini mereka berempat menyusul Welson dan Dirgo yang sudah menunggu mereka di restoran yang ada di dalam mall itu. Karena sebelumnya, Dirgo telah berpesan pada mereka supaya menyusul jika urusan mereka telah selesai. Ketika tiba di meja yang sedang ditempati oleh Welson dan Dirgo, mereka berdua melongo menatap tangan mereka berempat yang penuh dengan tentengan paper bag. Tak menunggu waktu lama, kini mereka memesan makanan yang serba mahal karena lagi-lagi Agatha yang akan membayarnya. Welson dan Dirgo sebenarnya menolak, tetapi karena Agatha memaksa dan memilih mogok bicara jika saja mereka tidak mau ditraktir olehnya, akhirnya mereka berdua pun memilih iya dari pada Agatha cuek pada mereka.
Makan siang mereka diselingi dengan sesekali mengobrol. Hingga tak terasa makanan telah selesai mereka sajikan. Karena jam sudah menunjukkan pukul 13.00, akhirnya mereka pun memutuskan untuk balik ke villa karena sore nanti mereka akan mandi di pantai bersama-sama untuk mengakhiri masa liburannya yang super sederhana.
Setibanya di villa, Dirgo langsung memberikan oleh-oleh untuk penjaga villanya. Ia sudah menganggap penjaga villa itu sebagai keluarganya sendiri. Jadi, tidak salah jika ia mempercayakan urusan villa pada Bi Inem dan suaminya.
__ADS_1
🕊️🕊️🕊️
To be continued...