
Mereka kini bergegas setelah semuanya sudah sarapan. Agatha dan Welson berlalu sambil berpegangan tangan dan hal itu membuat Nadine kepanasan ketika melihat yang di depan matanya. Semakin dilihat semakin mesra Welson menggandeng Agatha, hingga Nadine refleks menghentak-hentakan kakinya pada lantai.
Tak... tuk... tak... tuk!!! Bunyi hentakan kaki Nadine berhasil mengalihkan pandangan mata dari teman-temannya yang lain, begitu juga Welson dan Agatha. Welson tau, ini semua karena melihat dirinya dan Agatha bergandengan dengan mesra. Memey membalikan badannya ketika mendengar hentakan itu.
“Nad, lo kenapa, sih? Kesurupan setan apa?” tanya Memey menelisik dari ujung kepala hingga ujung kaki Nadine.
“Kesurupan-kesurupan! Kesurupan beneran baru tau rasa lo, Mey!” dengus Nadine dengan cemberut.
“Lah, gue kan cuma nanya, kok lo ngomel, sih?” Memey memutar bola matanya jengah.
“Mey, ayo!” Yadi menimpali.
“Ke mana?” tanya Memey bingung.
“Gandengan!” ucap Yadi dengan percaya diri.
“Hahaha. Lo ngawur? Ogah gue gandengan sama lo!” Memey tertawa.
“Gue serius! Nih tangan gue!” Yadi seketika memegang tangan Memey, sontak Memey mengibaskan tangan Yadi dari tangannya.
“Don’t touch me!” Memey melotot pada Yadi.
“Mey, kasian tuh si Yadi. Sekali-sekali lah lo gandengin dia. Hahaha!” ejek Welson.
“Ogah! Mendingan gue gandengan sama tiang tengah itu aja!” tunjuk Memey pada tiang tengah villa itu.
“Makin hari makin aneh aja lo, Mey,” ujar Agatha.
“Bukan gue yang aneh, tapi Nadine!” ucap Memey yang langsung tertuju pada Nadine.
“Kok malah gue?” tanya Nadine bingung karena namanya dibawa-bawa Memey.
“Ya iyalah. Trus kenapa lo tiba-tiba menghentakkan kaki lo tanpa sebab? Kan aneh! Huh!” Memey mendengus.
“Apa jangan-jangan sandal lo mau copot, ya?” lanjut Memey.
Pertanyaan Memey yang ada-ada saja alias nyeleneh itu membuat yang lainnya hanya mampu geleng kepala. Welson kini membawa Agatha keluar dari villa itu untuk menghirup udara segar di pagi ini. Lagi dan lagi Nadine cemberut. Gelagat Nadine tak lepas dari pandangan Dirgo. Dirgo hanya menatap malas melihat itu semua. Dia berpikir, semuanya pasti akan terbongkar di waktu yang tak tau pasti, bisa saja sekarang atau malah lebih lama lagi.
__ADS_1
“Yank, kita mau ke mana?” tanya Agatha ketika mereka berdua sudah di depan pintu.
“Cari udara segar, sayang. Kamu mau?” Welson balik bertanya.
“Hm, baiklah. Ayo!” jawab Agatha singkat lalu menarik tangan Welson untuk keluar.
Mereka mencari tempat yang bisa untuk mereka bersantai sembari melihat sekeliling villa milik keluarga Dirgo. Mereka berdua duduk di bawah pohon yang berada di depan villa itu. Yang lainnya memilih berada di dalam villa dan hanya mereka berdua mencari kesegaran di luar villa.
Agatha dan Welson tampak saling tertawa di sela-sela mereka bersenda gurau. Sesekali Welson mengusap kepala Agatha karena saking gemasnya. Tak diduga bahwa mereka berdua tak luput dari pandangan Dirgo yang mengintip dari dalam melalui jendela kaca villa miliknya.
Agatha dan Welson menghabiskan banyak waktu di luar villa hingga tanpa terasa hari pun sudah menjelang siang. Mereka berdua segera bangkit dari duduknya untuk melangkah ke dalam villa karena sebentar lagi mereka akan jalan-jalan ke kebun binatang yang ada di Kota L, kota di mana menjadi tempat pijakan mereka saat ini.
“Sayang, masuk yuk! Udah menjelang siang nih.” Welson mengajak Agatha masuk ke dalam villa.
“Pegangin, Yank,” rengek Agatha dengan manja pada Welson seraya menjulurkan tangan kanannya. Welson pun akhirnya menuruti permintaan Agatha lalu mereka segera melangkah masuk ke dalam villa.
Agatha segera ke atas ketika sudah di dalam villa. Mereka semuanya bersiap untuk jalan-jalan.
“Mey, Nad!” Agatha mengetuk pintu kamar mereka berdua setelah ia selesai bersiap-siap. Agatha mengenakan celana jeans warna hitam dan memakai baju kaos warna putih serta sepatu yang juga berwarna putih. Tak lupa juga ia membawa ransel kecil untuk menyimpan keperluannya.
“Memey, Nadine!” panggil Agatha dari luar ketika pintunya belum dibuka, “ini orang kemana, sih?” gerutunya.
“Udah siap lo, Tha?” tanya Nadine ketika melihat Agatha.
“Udah dong. Udah cantik, kan?” ucap Agatha narsis.
“Hahaha. Bisa aja lo, Tha. Lo kan emang cantik, makanya Welson tergila-gila sama lo,” ujar Nadine memuji, namun hatinya berkata lain bahwa Welson akan hanya milik dia seorang.
“Aku gak yakin dia tergila-gila sama gue.” Agatha melipatkan tangannya.
“Emangnya lo bisa bedain, ya? Liat aja tadi pas kita sarapan, lo mau diambilin sarapan oleh dia,” tukas Nadine tersenyum yang tak tau itu tandanya apa.
“Hm, dia perhatian mungkin saja karena ada hal yang mau dituntutnya. Dan aku tidak akan melepas kehormatanku begitu saja. Jangan sampai!” Agatha membatin.
“Loh, si Memey kok lama amat, sih?” tukas Agatha tanpa menjawab perkataan Nadine.
“Memey, lo lagi ngapain aja, sih? Kok la...” ucap Agatha menggantung ketika melihat Memey yang sudah di depan matanya. Agatha berhasil melingkarkan bola matanya melihat Memey.
__ADS_1
“Lo kenapa, Tha?” tanya Memey melihat wajah Agatha yang penuh tanda tanya, “kayak kena Cikungunya aja lo!”
“Mulut kuali! Sembarangan amat lo ngomong!” Agatha melotot pada Memey dan tangannya hampir saja menjitak kepala Memey, namun dengan cepat Memey bergeser sehingga Memey menabrak dinding di sampingnya.
“Aduh. Ampun, Gusti!” Memey mengaduh ketika keningnya mencium dinding yang ia tabrak.
“Syukurin lo, Mey. Makanya jangan menghindar!” Agatha tertawa.
“Kepala gue kunang-kunang,” ucap Memey memegang kepalanya yang terasa pusing.
“Sejak kapan kepala bisa kunang-kunang?” timpal Nadine.
“Lo kayak gak tau Memey aja, Nad,” tukas Agatha, “ayo kita turun!”
Mereka bertiga pun turun ke bawah menemui ketiga cowok di bawah yang mungkin saja sudah lama menunggu kemunculan mereka. Belum sampai pada pijakan lantai dasar, Welson sudah menyambut Agatha dengan senyuman, senyuman yang membawa luka jika saja hal itu terbongkar. Agatha pun membalas senyuman Welson.
Sambil berjalan menuju ketiga cowok itu, Memey tak henti-hentinya melihat penampilannya yang tak kalah cantik dari Agatha dan Nadine.
“Kenapa, Mey?” tanya Dirgo yang menyadari bahwa Memey berjalan sambil melihat ke bawah alias kakinya.
“Eng-nggak apa-apa!” jawab Memey spontan.
“Kamu cantik sekali, sayang!” seru Welson terperangah melihat Agatha.
“Mulai deh gombal.” Seketika wajah Agatha merona merah.
Tak ingin melihat Agatha dan Welson menunjukkan keromantisannya, Dirgo segera mengalihkan topik pembicaraan.
“Sudah siap semua, kan?” tanya Dirgo.
“Sudah dong.” Memey menjawab dengan begitu semangat.
Karena semuanya sudah bersiap, mereka pun bergegas keluar menuju mobil yang akan dipakai mereka untuk jalan-jalan. Posisi duduk tetap sama seperti saat mereka berangkat kemarin, hanya saja Memey dan Nadine duduk di kursi paling belakang karena Dirgo menyetir mobil, alhasil Yadi juga duduk di depan. Dirgo akhirnya menyalakan mobilnya dan segera melajukan mobil itu menjauh dari villa menuju ke jalanan yang akan mengantarkan mereka ke tempat tujuan yang akan mereka kunjungi.
Jalanan yang tidak begitu ramai dan juga tidak begitu sepi, membuat mereka dapat menikmati perjalanan santai mereka sembari melihat sekeliling jalanan Kota L. Kota L terbilang sangat bersih dan sejuk. Masyarakat Kota L tidak seperti di kota mereka yang mana tidak bisa dan tidak mau mematuhi aturan dari pemerintah, misalnya dalam hal menjaga kebersihan dan keasrian kota. Sepanjang jalan mereka sesekali bernyanyi bersama dengan lagu yang setengah-setengah, jika sudah selesai lagu yang lain otomatis akan diganti dengan lagu lain. Agatha sangat menikmati semua momen dengan teman-temannya. Sejenak bisa melegakan hatinya dari rasa kesepian yang kadang datang menghampirinya kapan saja bahkan tiap hari.
Agatha bersyukur dengan Memey yang mengusulkan tentang liburan, ya walaupun pada awalnya Agatha mendengus karena Memey sangat senang jika liburan. Padahal, itu semua bisa menghilangkan segala beban pikiran dan menyegarkan jiwa-jiwa yang terbelenggu.
__ADS_1
🕊️🕊️🕊️
To be continued.....