Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Sepupu Nyebelin.


__ADS_3

FLASHBACK – Kedatangan Alzio Steward.


Dua lelaki berbeda generasi tengah berbincang di beranda rumahnya. Wajah keduanya tampak ceria dengan topik pembahasan yang sedari tadi diperbincangkan. Sedang asyik berbincang, muncullah mamanya dari dalam menemui kedua lelaki kesayangannya.


“Wah, anak Mama ceria sekali!” ucap mama Alzio lalu mengusap kepala anaknya dengan lembut. “Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya mama Alzio.


“Tidak sedang membicarakan apa-apa. Hanya membicarakan bahwa Mama sangat cantik. Bukankah begitu, Nak?” tanya papa Alzio kepada anaknya.


“Papa kebiasaan, deh! Malu loh di depan anak sendiri malah obral gombal,” mama Alzio mencubit pelan lengan suaminya, lalu ikut duduk di samping sang suami. “Oh iya, Nak, udah selesai ujian akhir, kan? Gimana nilaimu, udah keluar?” tanyanya pada sang anak.


“Sudah, Ma. Sejak tiga hari yang lalu. Ahh Mamaku memang cantik, tapi sayang pelupa, hihi,” ucap Alzio menggoda mamanya yang sering kali tidak mengingat sesuatu dengan baik.


PLETAK!! Mama Alzio menjitak pelan kepala anaknya, dan Alzio hanya bisa terkekeh yang juga disusul oleh papanya. “Dasar anak tengil, sama aja kayak papamu!”


Melihat reaksi mamanya, kedua lelaki itu kembali terkekeh. Mamanya memang sangat lucu jika sedang kesal.


“Puji Tuhan, Ma. Nilai Zio bagus. Grade A semua, kok!” jawab Alzio dengan bangga. Alzio memang anak yang cerdas dan juga bijak meskipun mamanya memberikan gelar tengil padanya.


“Anak Mama memang pintar!” mama Alzio memberikan dua jempolnya pada sang anak.


“Anak Papa juga! Masa cuma anak Mama, sih?” timpal papa Alzio dengan cepat.


“Enak saja! Dia anak Mama, cerdas seperti Mama.”


“Anak Papa! Karena Papa yang memproduksinya, hahaha,” jawab papa Alzio. Wajah mama Alzio tampak merona karena jawaban suaminya yang menjurus ke ranah itu.


“Ihhhh Papaaaaa!” teriak mama Alzio. Alzio dan papanya sampai menutup telinga sambil tergelak dengan tawa.


“Sudah-sudah! Zio kan memang anak Papa Mama, jadi jangan berebut,” cela Alzio. “Ma, mungkin itu kode dari papa, loh,” Alzio menutup mulutnya seraya tertawa setelah menggoda mamanya. Pasangan suami istri itu saling bertatapan karena ucapan anaknya. Sang suami terlihat tersenyum miring penuh maksud, namun sang istri hanya manyun saja.


“Zio mau minta hadiah apa? Mama papa akan mengabulkannya. Asal permintaanmu yang masuk akal, jangan meminta adik baru!” ujar mama Alzio.


“Kalau Papa sama Mama bersedia, ya why not?” ucap Alzio senang.


“Tuh, anakmu saja tau apa yang diinginkan suamimu yang hot ini,” jawab papa Alzio asal dan berhasil mendapat toyoran dari istrinya.


“Makin berumur makin narsis! Ingat, Pa, umur kita sudah seperempat abad!” ucap mama Alzio yang ngasal seperti suaminya. Padahal umur mereka juga sepantaran dengan umur daddy mommy Agatha, yang tak lain adalah sepupu dan juga kakak ipar dari papanya Alzio.


“Zio sudah Papa belikan tiket pesawat. Dia ingin mengunjungi sepupu dan juga omnya di sana.” Papa Alzio kembali dalam mode serius.


“Benarkah, Sayang?” tanya mamanya. “Mama ingin sekali bertemu dengan sepupumu yang cantik itu. Hmmm pasti sekarang sudah makin cantik saja dia.” Alzio tersenyum dan mengangguk menanggapi perkataan mamanya.


“Jika Mama ingin pergi, pergi saja bersama Zio!” tawar sang suami. Namun Alzio menolak itu, karena ini memang permintaannya sebagai hadiah karena berhasil memperoleh nilai ujian akhir dengan baik.


🕊️🕊️🕊️


Keesokan hari, sebuah mobil mewah tengah terparkir di depan bandara. Barry Steward dan sang istri mengantar buah hatinya ke bandara, karena sang buah hati akan berlibur ke rumah omnya yang berada di provinsi lain.

__ADS_1


“Sayang, titip salam ya sama uncle dan auntymu. Salam kangen juga dari Mama untuk Agatha,” pesan mamanya pada Alzio yang juga diangguki oleh suaminya. Ketiganya saling berpelukan sebagai salam.


Setelah announcer bandara menyebutkan maskapai penerbangannya yang sebentar lagi akan segera meluncur, Alzio segera bergegas dari gate 12 menuju pesawatnya. Alzio semakin menjauh dari pandangan papa mamanya dan ia hanya bisa mendengar ucapan I Love You dari kedua orang tuanya tanpa membalas, ia takut akan ketinggalan pesawat jika masih harus berfokus pada orang tuanya.


🕊️🕊️🕊️


Penerbangan yang menghabiskan waktu kurang lebih dua jam lamanya, dan harus transit satu kali, membuat Alzio merasa kelelahan. Setiba di bandara kota tempat Agatha tinggal, sebuah mobil sudah menunggu kedatangannya. Waktu masih menunjukkan pukul empat lebih empat puluh lima menit. Pagi buta yang dingin ditambah lagi pendingin ruangan bendara semakin membuat Alzio kedinginan.


“Den Zio!” sapa Mang Judas ketika sampai di tempat Alzio menunggu. Alzio segera mendongakkan kepalanya ke arah sumber suara yang memanggilnya. “Mari, Den! Saatnya kita ke rumah.” Mang Judas segera meraih koper milik keponakan majikannya. Alzio mengikutinya dari arah belakang, kemudian mensejajarkan langkahnya dengan langkah Mang Judas.


“Mang, nanti jangan kasih tau Agatha ya soal kedatanganku. Aku ingin memberinya kejutan.” Alzio memulai percakapan di saat mobil mulai menjauhi bandara.


“Siap, Den. Mang Jud juga akan memberikan informasi ini pada Bi Momon setelah kita tiba di rumah.”


🕊️🕊️🕊️


Rumah mewah masih terlihat sama dari pandangan mata Alzio, hanya saja warnanya sudah cukup cerah, mungkin sudah dicat ulang, pikirnya. Mang Judas segera menurunkan koper Alzio lalu mengantarkannya ke dalam. Di depan pintu utama, Bi Momon sudah siap menyambut kedatangannya. Alzio menyalami tangan Bi Momon, lalu Bi Momon mengantarnya menuju kamar yang tak jauh dari ruang keluarga.


“Den Zio istirahat saja. Kasian, pasti cape,” titah Bi Momon. “Makannya nanti biar Bibi antar saja ke kamar.”


“Terima kasih, Bi. Zio istirahat dulu. Ingat, jangan bocor, Bi!”


“Siap, Den!”


FLASHBACK END


“Udah. Aku duluan yang membuka hidangannya, terus aku main ke sini,” ujar Alzio sambil cengar-cengir, membuat Agatha semakin jengkel saja rasanya. Meski tak bisa dipungkiri Alzio memiliki wajah yang cukup tampan, hingga mampu membuat cewek-cewek berteriak histeris. Ingin rasanya Agatha menonjok muka imut milik sepupunya itu.


Hening cukup lama di antara mereka berdua. Alzio tidak tau harus bicara apa. Bukan karena tidak punya topik obrolan, tetapi ia ingat bahwa posisi Agatha saat ini tidak mudah. Ia tau dari tantenya jika Agatha tidak lulus seleksi di kampus ternama pilihan. Ia rasa, ini merupakan obrolan yang masih sensitif bagi Agatha jika dirinya bertanya tentang itu. Dirinya juga tau bahwa om dan tantenya juga akan bercerai. Ia jadi serba salah dan kikuk sendiri jadinya.


“Aku ke sini mau melihat keadaan sepupuku yang tidak cantik ini. Aku sekalian ingin melihat calon kam…” Baru dua kalimat saja yang keluar dari mulutnya, Alzio merasa dirinya sudah keceplosan.


“Nggak apa-apa, terusin aja,” ujar Agatha dengan tidak ikhlas.


“Nggak, nggak Tha. Aku nggak bermaksud kayak gitu,” ucap Alzio sambil tertawa.


“Loh? Aku nggak tersinggung kok. Lanjutin aja nggak apa-apa!”


“Iyaa, udahlah. Aku juga nggak bilang kamu tersinggung, sepupu jelek.”


Agatha hanya terpaku dan termenung. Biasanya selalu ada saja jawabannya untuk menyanggah ucapan Alzio. Tapi kali ini, ia hanya ingin menangis saja rasanya.


“Dasar! Ngatain aku jelek, padahal sendirinya juga jelek!” Agatha melempar sebuah bantal ke arah Alzio, tetapi Alzio dengan cepat menangkapnya. Ditangkapnya lalu didekapkan pada dadanya.


“Kenapa kamu tadi ingin bunuh diri?” tanya Alzio dengan penuh kelembutan. Sorot matanya memancarkan sejuta kasih dan damai yang menenangkan, yang pada akhirnya mau tak mau bisa meluluhkan hati Agatha. Agatha kembali merenung, mengingat semua kisah tragis yang terjadi di dalam hidupnya.


“Hei!! Kamu lupa memberi pelukan selamat datang pada sepupumu ini?” tutur Alzio karena melihat sepupunya masih saja termenung. Ya, Agatha benar-benar lupa memberikan pelukan selamat datang pada sepupunya karena masih tak percaya sepupunya yang kadang bikin kesal itu datang begitu saja ke rumahnya tanpa memberikan kabar sedikitpun padanya. Akhirnya ia berdiri dan berpelukan dengan Alzio. Hal itu lumrah mereka lakukan pada semua sepupunya jika sudah berkumpul satu sama lain.

__ADS_1


“Kamu bosan hidup?” ucap Alzio lalu menguraikan pelukan. Ia duduk di kursi meja rias Agatha dan memberi jeda sesaat. “Coba kamu pikir baik-baik, apakah dengan cara bunuh diri dapat menyelesaikan masalah, Tha? Apa kamu yakin bakalan masuk surga sesudah ini?”


Ucapan sepupunya itu berhasil membuatnya tampak berpikir. Agatha semakin mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia sama sekali tak pernah memikirkan tentang surga dan neraka. Ia juga belum pernah mati dan ia juga tidak mengetahui fakta sesudah kematian manusia akan ke mana. Apakah semua orang yang mati bakalan masuk surga? Ataukah hanya orang-orang baik saja yang berhak menginjakkan kakinya ke surga? Mungkinkan ia akan menjadi roh-roh yang bergentayangan di muka bumi lalu menakut-nakuti Nadine dan Welson karena telah mengkhianatinya? Semua pikiran berkecamuk menjadi satu di kepalanya. Tetapi tidak mungkin juga rasanya ia akan masuk neraka, toh sama sekali ia tidak pernah mencuri, menjambret, dan lain sebagainya.


Walaupun hidupnya bergelimang harta, tetapi tak membuatnya menjadi sombong. Ia sering bersedekah pada pengemis di jalanan, mentraktir teman-temannya, memberikan uang lebih pada pelayan restoran ataupun parkiran, menolong makhluk hidup yang terlantar di jalanan. Bukankah ia baik? Batinnya mengatakan itu dengan pasti. Alzio cukup lama memandangi sepupunya itu lalu tersenyum lucu seolah ia tau apa yang ada di dalam pikiran Agatha.


“Entahlah….” pada akhirnya Agatha menjawab setelah diam memikirkan ucapan Alzio. “Emangnya kamu tau syarat untuk masuk ke surga?” tanya Agatha penasaran.


“Mmm kita mulai dari mana, ya? Dari kisah Adam dan Hawa, mungkin? Bisa pinjem Alkitab?”


Agatha langsung dongkol karena sepupunya itu baru saja menyebutkan Alkitab. Jika sudah seperti itu, Agatha harus siap-siap diceramahi oleh sepupunya sendiri. Tapi ya siapa suruh juga bertanya tentang syarat masuk surga, sudah pasti Alzio akan membagikan pengetahuannya yang pernah ia dapat. Sepupunya sudah kambuh lagi, karena menurut Agatha untuk usia remaja seperti mereka, Alzio memang tergolong remaja yang suka berkhotbah dan mendengarkan khotbah.


“Yeayy ditanyain malah bengong. Yaudah, sekarang buka HP mu lalu cari lagu Rohani!” perintah Alzio pada Agatha. Dengan kesal Agatha menuruti perintah sepupu nyebelinnya itu.


“Judulnya apa?” tanya Agatha sembari mencari aplikasi Youtube Music di ponselnya.


“Di Tengah Ombak.”


Agatha langsung memutar lagu ‘Di Tengah Ombak’ tersebut. Kamarnya malam ini mendadak haru karena lagu itu.


“Di tengah ombak dan arus pencobaan. Hampir terhilang, tujuan arah hidupku. Bagaikan kapal yang slalu diombang-ambingkan, mengharap kasih-Nya, seolah-olah tiada mampu…” Alzio ikut melantunkan lagu itu.


“Coba resapi lagunya di dalam hatimu. Tidak apa jika kamu ingin menangis,” ucap Alzio.


“Yesus perhatikan, kehidupan tiap orang. Yang sudah rusak dibetulkan, dengan penuh kasih sayang. Yesus perhatikan, tiap tetesan air mata. Dia mengenal hatimu yang penuh penyesalan dosa…” mata Agatha tampak basah meresapi lagu itu. Setiap lirik di bait refren lagu syarat akan makna dan sangat menyentuh hatinya hingga dengan sendirinya air mata Agatha jatuh. Alzio memberikan tissue pada sepupunya yang tengah menangis.


“Maka dari itu, jangan cepat mengambil jalan pintas untuk mengakhiri hidupmu. Tuhan mengasihi setiap orang yang datang pada-Nya. Caramu tadi yang ingin mengakhiri hidup, sangat dibenci oleh Tuhan. Sudah banyak masalah yang terjadi, tolong jangan membuat masalah lagi! Apa nggak kasian kamu dengan daddymu?” tanya Alzio yang semakin membuat air mata Agatha jatuh bercucuran. Cukup lama Agatha menangis sampai lagu itu pun selesai.


“Gimana perasaanmu?”


“Sudah cukup lega,” jawab Agatha datar.


“Kamu sudah Krisma belum, sih?”


Agatha mengernyitkan dahinya. “Krisma?”


“Penasaran, bukan?” tanya Alzio.


“Apa sih yang kamu ucapkan? Bisa pusing aku jika kamu ingin menceramahiku dan mengajariku seperti itu,” batin Agatha.


“Biar kujelaskan padamu, sepupuku yang malang. Sakramen Krisma merupakan tanda kedewasaan iman seseorang. Penerimaan sakramen Krisma melengkapi rahmat pembaptisan dan menyempurnakan inisiasi. Melalui sakramen Krisma, seseorang diikat secara lebih kuat dan sempurna dengan Gereja serta diperkaya dengan daya kekutan Roh Kudus. Gereja menghayati bahwa Roh Kudus hadir untuk menguduskan, menguatkan dan membaharui semangat kaum beriman untuk tetap percaya kepada Allah Bapa dan Putra-Nya, serta setia pula menjalankan seluruh pengajaran-Nya demi keselamatan.”


Agatha hanya mengangguk tetapi pikirannya belum cukup mampu untuk menangkap penjelasan sepupunya. Ia mengangguk supaya sepupunya itu tidak lagi memberinya kursus privat seperti sekarang ini. Otaknya sudah cukup lelah dan ingin mengistirahatkannya.


“Sudah hampir larut malam. Lekaslah tidur dan jangan lupa berdoa!” ucap Alzio. “Aku akan ke bawah, aku juga sudah cukup mengantuk. Besok saja kita lanjutkan jika kamu mau. Singkirkan tali itu, jangan macam-macam lagi! Selamat malam.” Alzio berpamitan.


“Siap, guru nyebelin. Sudah sana, ke bawah!” Agatha segera menutup pintu kamarnya ketika Alzio keluar. “Dasar sepupu nyebelin. Dari dulu sampai sekarang nggak pernah berubah, selalu saja jadi penceramah,” dengus Agatha. Ia kembali ke ranjangnya kemudian segera berdoa karena sudah cukup lelah dan mengantuk.

__ADS_1


🕊️🕊️🕊️


To be continued…


__ADS_2