
Memey memprotes karena tidak terima.
“Gue juga suka libur, tapi gak antusias banget kayak gitu kali.” Agatha menjawab Memey kemudian menginjak kaki Memey.
“Ihh. Lo apaan sih, main injak-injak segala? Emang kaki gue timbangan, kaki gue pedal gas mobil?” Memey mendengus karena lagi-lagi kakinya diinjak Agatha.
“Biar lo tau rasa, Mey,” ketus Agatha.
Ketika mereka sudah selesai dengan makannya, mereka beranjak dari cafe itu setelah Welson membayar makanan mereka. Makanan yang mereka pesan hampir mencapai jutaan, entah makanan apa itu yang harganya hingga selangit. Memey membulatkan matanya ketika mendengar jumlah harga makanan yang mereka pesan.
Mereka berempat kini sudah memasuki mobil dengan posisi semula, yang mana Yadi dan Memey selalu saja berdebat. Setelah dari cafe XY dan meninggalkan cafe dengan suasana yang semakin ramai, mereka berencana ingin ke rumah Dirgo untuk membahas rencana liburan yang akan datang. Meskipun hanya tiga hari, tetapi mereka ingin menikmati dan menghabiskan libur itu bersama-sama. Membuang kejenuhan dari hiruk pikuknya kota mereka.
“Hm, jadi gimana nih rencana liburan kita, Guys?” tanya Memey kembali dengan wajah yang serius.
“Ya makanya kita harus ke rumah Dirgo dulu. Kita diskusikan aja sama dia, dan gue rasa teman-teman kita yang lain bakal setuju,” ucap Welson sembari menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang, mengingat jalanan yang juga ramai dipadati kendaraan.
“Horeee, kita bakalan liburan!” Memey kegirangan.
“Jangan senang dulu lo, kupret! Belum tentu juga kita jadi berangkat, kan?” ucap Agatha tanpa menoleh ke belakang.
“Pokoknya harus jadi! Gue bosan di rumah mulu, udah kayak di penjara aja gue, Tha.” Memey menjawab tanpa goyah.
“Emang lo kalo liburan, mau liburan ke mana? Apa lo udah punya rencananya?” tanya Yadi yang juga ikut membahas masalah liburan mereka nanti.
“Ya gak tau juga sih gue. Haha.” Memey tertawa.
“Lah, gimana mau liburan kalo kayak gitu?” tanya Agatha kembali.
“Pusing gue,” ucap Memey, “kalian aja ngapa buat mikir di mana tempatnya?” tambahnya lagi.
“Udah ah. Nanti kan juga bakalan kita diskusikan sama Dirgo dan yang lainnya juga. Ngapain bingung-bingung lagi?” kini Yadi memberikan komentarnya, yang langsung disetujui oleh Agatha dan Welson.
__ADS_1
“Nah, itu baru benar!” jawab Agatha dan Welson bersamaan.
“Uhuk. Mentang-mentang pacaran, ngejawabnya juga barengan. Huh, gue ngiri tau!” Memey mendengus kesal pada kedua insan di depannya.
“Giliran gue yang buka suara, kalian malah nantangin ide gue. Sekali si kutu gajah buka suara, kalian langsung setuju. Parah kalian.” Memey menyindir orang yang ada di depannya, yang tak lain adalah Agatha dan Welson.
“Haha, malangnya nasib lo, Mey,” hardik Agatha seraya tertawa mengejek.
“Sebel gue sama kalian!” Memey mendekapkan tangannya karena kesal.
Suasana di dalam mobil kembali hening setelah perbincangan receh mereka berempat. Ketika menoleh keluar jendela mobil, tepatnya di seberang jalan, Agatha melihat sosok yang sangat familiar di matanya sedang berjalan bergandengan dengan seorang pria yang nampak begitu mesra, dan orang itu sedikit muda dari daddynya. Tetapi, Agatha tak terlalu menghiraukan hal itu. Mungkin saja indra penglihatannya lagi bermasalah, pikirnya. Karena ia yakin, orang tuanya pasti baru saja terbangun akan lelapnya tidur mereka.
Tak terasa, tikungan dan belokan sudah mereka lewati, dan mereka kini sudah tiba di depan gerbang rumah Dirgo. Sang penjaga atau satpam lalu membuka gerbang untuk mereka. Dirgo yang menyadari mobil Welson yang datang, segera mengemas peralatan melukisnya karena takut Welson mengetahui di balik lukisannya nanti. Setelah semuanya kembali dimasukkan ke dalam ruang khususnya melukis, dia berjalan ke depan untuk membuka pintu rumah buat tamunya yang datang saat ini.
Betapa terkejutnya Dirgo ketika melihat Yadi dan Memey yang juga ikut serta bersama Welson. Karena Agatha masih di dalam mobil, jadi Dirgo tak mengetahui bahwa Agatha sebenarnya juga ikut.
“Loh, ada apa ya mereka bertiga ke sini? Tumben amat?” tanyanya dalam hati. Tak lama, pintu mobil terbuka lagi yang langsung menampakkan wajah Agatha di sana. Seketika Dirgo membulatkan matanya karena Agatha ternyata juga ikut. Tiba-tiba seuntai senyum menghias wajahnya, binar matanya terpancar begitu nyata karena kehadiran Agatha. Paling tidak, rasa rindunya menatap wajah Agatha dapat terobati.
“Woi, lo gak nyuruh kami masuk nih? Lo mau nyuruh kita-kita belajar peraturan baris-berbaris lagi, gitu?” teriak Memey membuyarkan pandangan Dirgo.
“Dah lah, cape tau belajar PBB. Meluruskan perasaan seseoarang aja susah,” sambungnya lagi.
“Hiyaaaaa. Perasaan siapa, hayo?” celetuk Yadi mengejek Memey.
“Diam lo kakek peyot!” perintah Memey.
“Enak aja. Gak liat gue tampan mempesona kayak gini? Hm?” ucap Yadi dengan menyipitkan matanya.
“Kalian berdua di mana-mana selalu aja berantem, gak cape ya?” tanya Dirgo setelah tersadar karena selalu saja memandangi wajah Agatha.
“Oh iya. Silakan masuk!” ajaknya pada teman-temannya.
__ADS_1
Lantas mereka masuk ketika ada perintah dari sang pemilik rumah. Dirgo membawa mereka ke taman belakang tempat di mana dia biasa melukis sambil membayangkan wajah Agatha. Memang tempat itu sangat menyejukkan bagi siapa saja yang bersantai di sana. Dirgo memerintahkan sang pelayan rumahnya untuk membawakan mereka minuman dan beberapa cemilan untuk menemani mereka mengobrol. Tak butuh waktu lama, barang yang Dirgo minta pada sang pelayan telah tersedia di meja taman belakang. Mereka berlima duduk di sana dan mulai berbincang-bincang.
“By the way, dalam rangka apa kalian ke sini nih, Guys? Tumben?” tanya Dirgo memulai perbincangan.
“Gak ada apa-apa sih, cuma pengen ngumpul aja kok,” ucap Yadi.
“Gini, Bro. Kita minggu depan kan ada libur tiga hari, mulai dari kamis sampai sabtu. Kita punya usulan nih, gimana kalo kita liburan?” jelas Welson pada Dirgo.
“Wah, ide bagus juga tuh! Lagian gue juga puyeng di rumah sama sekolah mulu, Bro.” Dirgo mengatakan hal itu sembari melihat Agatha sekilas.
“Nah kan, Dirgo aja setuju kalo kita liburan,” celetuk Memey senang, “lo aja sih gak asyik, Tha,” sambungnya lagi yang tertuju pada Agatha.
Agatha tak menggubris ucapan Memey karena dia sedang asyik menghirup aroma tubuh Dirgo yang seolah membuatnya kecanduan. Aroma itu masih sama ketika mereka bertabrakan di depan gerbang sekolah mereka tempo lalu. Memey mengkerutkan keningnya ketika melihat Agatha memejamkan matanya, pikiran liar sudah berkeliaran di kepalanya.
“Tha, lo kesurupan nenek gayung, ya?” tanya Memey dengan menggoyang-goyangkan lengan Agatha. Sontak membuat Agatha terkejut karena Memey menyadarkannya.
“Sembarangan lo, Mey. Gue lagi ngadem tau,” ucap Agatha berbohong, padahal sebenarnya dia sedang menikmati aroma Dirgo yang berada di depannya.
“Nah, sekarang kembali ke rencana kita. Gimana menurut kalian, ada usulan lain gak?” tanya Welson. Ucapan Welson langsung dijawab setuju oleh Memey, karena dia yang sangat antusias pada liburan mereka nanti.
“Gue punya usulan. Gimana kalo kita liburan ke kota L saja? Kebetulan di sana, ada villa punya orang tua gue, letaknya lumayan bagus, di tepi pantai. Jadi kita bisa nenangin diri kita dengan suasana di pantai itu.” Dirgo menjelaskan suasana villa mereka. Ada seulas senyum yang Agatha sematkan di wajah cantiknya ketika mendengar kata “pantai.” Kebetulan juga Agatha sudah lama tidak liburan mengingat karena orang tuanya yang sibuk dalam bekerja.
“Jadi, ada yang setuju gak dengan usulan gue? Di sana kita gak perlu nyewa atau bayar sih, karena itu memang punya kami. Dan kita di sana nanti gak perlu repot-repot masak atau segalanya, karena di sana juga ada penjaga villanya,” sambung Dirgo lagi.
“Gue sih setuju,” jawab Agatha bersamaan dengan Memey.
“Ya karena cewek-cewek udah pada setuju, jadi gue juga setuju,” tukas Yadi.
“Lo gimana, Bro?” tanya Dirgo pada Welson.
To be continued....
__ADS_1