
“Stop! Stopppp!” Cath menengahi Andrew dan Carlos. “Kenapa kalian berdua malah ribut?”
“Kak Bernard, jangan lakukan ini!” Kini giliran Agatha yang menjerit-jerit. Selain menjerit-jerit, rupanya Agatha sudah berlinang air mata. “Kita pindah aja dari area itu, dan kita cari tempat lain…”
“Benar apa yang diucapkan Agatha. Kita cari tempat lain saja dari pada kita memperebutkan area itu dengan nyawa sebagai taruhannya,” timpal Carlos. “Nyawa lebih berharga dari apapun!”
“Whoahahaha… Gimana? Apakah kalian masih mau menerima tantangan kami, hmm?” tanya Gempa. “Teman-temanmu payah! Mereka benar-benar cengeng! Sudahlah, Bernard, mendingan kamu nyerah aja sekarang. Mumpung belum terlambat.”
Ucapan Gempa membuat Bernard tersentak. Secara pribadi, Bernard merasa terluka dan harga dirinya terasa diinjak-injak. Ia bersikukuh dan semakin ingin untuk memenangkan pertandingan ini.
“Kalian nggak akan menang, kita lihat saja nanti!” ujar Bernard dengan tegas dan tenang. “Teman-teman…” Bernard berpaling pada Agatha dan teman-temannya dengan senyuman yang indah. “Kita ketemu lagi nanti, ya.”
Sejatinya, senyuman indah yang Bernard berikan membuat hati Agatha, Cath juga Carlos semakin terluka. Tak tega rasanya mereka melepaskan Bernard untuk bertanding mengalahkan tantangan konyol itu. Andrew sama dengan mereka bertiga, tetapi ia sebagai ketua kelompok Badai mencoba untuk tetap tenang. Ia berusaha mengikuti alurnya saja. Apa boleh dibuat jika yang bersangkutan tetap ingin maju, pikirnya.
Sesudah itu, baik Bernard maupun Gempa, masing-masing menyalakan mesin motornya. Cath mendengarnya bagaikan gemuruh yang siap melenyapkan keduanya kapan saja, hilang tanpa berbekas. Pada hitungan ketiga dari pemandu yang berasal dari anak geng motor, Bernard dan Gempa mulai melaju dari garis start. Agatha dan yang lainnya hanya bisa harap-harap cemas. Rute yang ditempuh cukup jauh. Dalam hati kecil mereka, sebenarnya mereka tak yakin dan tak percaya jika semuanya akan beres begitu saja tanpa masalah.
“Gimana kalo Kak Bernard kehabisan bensin di jalan?” tanya Agatha cemas sambil sesenggukan.
“Kamu diamlah!” bentak Cath dengan wajah yang penuh dengan linangan air mata.
“Teman-teman, kalian semua punya Tuhan, ‘kan?! Kalian berdoalah pada Tuhan kalian masing-masing!” ujar Andrew sekeras-kerasnya.
Dua puluh menit telah berlalu. Semua menanti dengan perasaan yang berdebar-debar di garis akhir. Ternyata setelah dua puluh menit berlalu, belum juga ada tanda-tanda kemunculan mereka. Jalanan masih lengang dan sunyi sepi. Angin yang berhembus kencang tak mengusik sedikit pun rasa dingin di kulit mereka. Mereka mondar-mandir menantikan kedatangan yang sedang adu balap.
“Gawat!” seru salah seorang dari rombongan geng bermotor dengan napas terengah. Ia baru datang dengan mengendarai motor gedenya menuju di mana orang-orang menunggu, berhenti di depan Agatha dan kawan-kawan. “Terjadi kecelakaan. Ayo, cepat!” entah ke arah siapa orang itu memberi perintah, tapi kontan saja perintah itu membuat semua yang berada di sana segera beraksi.
“APAAAA?” pekik Carlos dengan mata nanar.
“Siapa yang kecelakaan?” tanya teman Gempa yang tak kalah kaget dari Carlos.
“Apakah Bernard baik-baik saja?” tanya Andrew yang juga sama histerisnya. Agatha langsung membekap mulutnya, kerongkongannya terasa tercekat dan air matanya sudah berderai-derai membasahi wajah. Sementara Cath, rasanya sudah tak mampu lagi untuk berdiri. Ingin pingsan rasanya. Informan itu tidak bercerita dengan detail. Ia sama sekali tak menjawab pertanyaan yang datang dari dua kelompok, tapi ia mengisyaratkan agar semua orang untuk mengikutinya dari belakang.
Ketika tiba di lokasi kejadian, mereka semua menyaksikan asap tebal nan pekat mengepul-ngepul dan melihat si jago merah tengah menjilat-jilat dari sebuah motor yang terbakar. Andrew dan yang lainnya dapat dengan pasti mengenali motor yang sedang terbakar itu. Itu adalah motor yang dikendarai oleh Bernard. Mereka semua menghampiri Bernard yang sudah terkapar enam puluh meter jauhnya dari motornya yang terbakar. Sepertinya ia terlempar begitu menyakitkan, menghempas kerasnya aspal.
“BERNARD!!!” Semua berhamburan mendekati Bernard. Mereka berdiri mengelilinginya. Sementara Andrew, perlahan mengangkat tubuh Bernard yang terkulai. Keadaan Bernard sungguh sangat mengenaskan. Darah berlumuran di mana-mana, membasahi jalanan. Kepalanya terus mengucurkan darah segar dan Bernard sama sekali tak sadarkan diri.
Sedangkan Gempa dan motornya berada beberapa meter dari di belakang motor Bernard. Gempa juga terluka, tetapi ia masih sadarkan diri dan merintih-rintih kesakitan. Kakinya tertindih motornya yang besarnya hampir sama dengan badannya.
__ADS_1
“A…apakah…Kak Bernard ma…masih bernapas?” tanya Agatha terbata-bata di sela isak tangisnya. Matanya tak lekas memandangi keadaan Bernard. Ia cemas dan takut teman barunya itu tidur untuk selama-lamanya.
“Diamlah! BERNARD harus HIDUP!” jerit Cath histeris dengan tangannya mengepal keras meninju-ninju tanah.
“Minggir…minggir,” salah seorang anak punk dari kelompok lain meminta izin untuk melihat Bernard. Sepertinya orang itu semasa sekolahnya pernah mengikuti palang merah. Setelah mengeceknya sebentar mengenai kondisi Bernard, lalu ia berkata, “terlambat teman-teman. Percuma!” Ia menggelengkan kepalanya penuh dengan penyesalan.
“Ayo, cepat kita bawa mereka ke rumah sakit,” seru salah seorang dari teman Gempa meneriaki Andrew dan kawan-kawan.
“Pergi kalian!” Dengan refleks tangan Andrew melempari geng bermotor yang mencoba mendekati mereka dengan kerikil. “Percuma saja ke rumah sakit. Bernard sudah tewas. Ia sudah mati!”
“Nggak…. Nggak mungkin dia sudah mati. Nggak mungkin…” ujar Cath galau sambil teriak. Cath mengguncang-guncang tubuh Carlos.
“Udahlah, Cath…. Bernard sudah tak bisa bergerak…!” Carlos mengucapkan kata demi kata itu dengan lambat seolah Cath adalah bocah enam tahun yang belum mengerti apa-apa.
“Nggak! Dia sudah janji sama kita, dia bilang kalau kita akan bertemu lagi nanti…,” Cath terus menangis. Agatha dan Andrew juga terisak-isak. Rasanya tak percaya bahwa Bernard akan tiada dengan cara mengenaskan. Dan, apa yang ditakutkan Agatha, Cath juga Carlos memang benar-benar terjadi. Mereka harus kehilangan temannya itu untuk selama-lamanya.
“Sorry, kami juga menyesal dengan semua ini,” timpal salah seorang dari geng bermotor.
“Menyesal pun percuma, teman kami sudah tiada. Penyesalan nggak mungkin bisa mengembalikan napasnya. Kalau sudah begini, kalian masih ingin memperebutkan itu semua dengan nyawa sebagai taruhannya, hah?” teriak Agatha. “Bodoh kalian semua! Pergi dari sini!” Kelompok geng bermotor segera pergi setelah diteriaki Agatha dengan makian.
🕊️🕊️🕊️
Di nisan Bernard, anak-anak punk menuliskan kata-kata ungkapan dari hati:
...“Selamanya kami takkan lupa bahwa Bernard pernah berada di antara kami mengisi hari-hari. Thanks untuk SEMANGAT, KEBERSAMAAN, dan SOLIDARITAS yang pernah kamu tunjukkan semasa hidupmu. BERNARD, YOU’RE THE BEST. NO ONE LIKE YOU! WE LOVE YOU!” ...
“Aaaaaaaarrrgggggghhhhhh….” Andrew, Agatha, Cath juga Carlos menjerit sepuas-puasnya di bukit tempat Andrew dan Agatha malam itu mengungkapkan segala beban di hati. Kini, mereka kembali lagi, berusaha membuang kesedihan setelah kehilangan Bernard.
“Bernard….!” Cath menjerit.
“Ini semua terlalu KEJAM….!” jerit Agatha pula.
“TUHAN itu memang tidak ada! Dia tidak mendengar dan mengabulkan doa-doa yang dipanjatkan dari kalian satu pun!” Andrew berlutut di rerumputan yang basah.
“Ini semua salahmu, Kak!” Carlos mencengkeram baju Andrew. “Seharusnya Kakak bisa mencegahnya! Kenapa ia harus terima tantangan konyol dari mereka? Sekarang puas semuanya jadi seperti ini? Inikah maumu, Kak?”
“Jangan menyalahkan Kak Andrew lagi!” Agatha berusaha melepaskan tangan Carlos yang menggenggam baju Andrew dengan erat. Andrew hanya bisa menunduk tak berdaya. Dan ketika Andrew mengangkat kepalanya, Agatha melihat air mata Andrew untuk pertama kalinya.
__ADS_1
“Nggak seorang pun dari kita berharap Bernard pergi…,” ucap Andrew putus asa. “Kita semua, dipersatukan oleh dua persamaan. Bernard mengasihi kita dan kita semua juga mengasihi Bernard. Dan akupun berharap…Bernard bisa hidup seribu tahun lamanya…”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Andrew menangis keras-keras bak seorang anak kecil. Melihat bahu Andrew yang berguncang, membuat Agatha ingin memeluknya dan mengatakan semua akan baik-baik saja asal mereka selalu bersama. Agatha lalu mendekat, dan mereka berempat menangis saling berangkulan.
🕊️🕊️🕊️
Beberapa hari sejak kepergian Bernard, ketidakhadirannya begitu terasa di kehidupan mereka. Segala sesuatu bisa mengingatkan mereka pada Bernard. Seperti juga di siang hari yang terik ini. Agatha, Cath, dan Carlos di sebuah gudang tua bekas yang terbengkalai menjadi tempat peristirahatan mereka. Carlos dan Cath mulai nge-drugs, karena mereka sangat terpukul dengan kepergian Bernard. Mereka berdua secara bergantian mengenakan jarum suntik, entah cairan apa yang ada di sana.
“Kabarnya, sih…kakinya Gempa diamputasi…,” ujar Carlos.
“I don’t care about it!” ucap Cath. “Bernard…” Cath hampir menangis lagi setelah beberapa hari. “Bernard sudah tiada, hahaha…”
“Kak Bernard sekarang pasti kesepian, ya,” timpal Agatha dalam keadaan sadar. Karena memang dirinya tak menyentuh jarum suntik. Cath sebenarnya terus memaksa Agatha untuk ikut serta nge-drugs, tetapi Carlos dengan siaga melarang dan mencegah niat Cath. “Tanpa kita, apakah dia bisa tertawa di sana? Dia kan manusia hidup yang tidak bisa tanpa ketawa. Siapa temannya di alam sana?”
“GUYS! Bernard itu orang baik! Dia pasti sedang berjalan-jalan di taman surga sekarang. Menyenangkan sekali dia, ya? Bernard sekarang sedang melihat kita. Katakan hallo…,” Carlos melambai-lambaikan tangannya ke langit-langit gudang tua seolah ada orang di sana. Sementara Cath terus menambah dosis obatnya karena tidak adanya rasa efek kepuasan.
“Kak Bernard nggak ada di sini, Kak. Dasar gila!” ucap Agatha menggeleng-gelengkan kepalanya. Tiba-tiba Cath tertawa aneh.
“Yups, kamu benar. Bernard memang nggak ada di sini, tapi selamanya dia akan hidup di hati kita. Aku…ingin ketemu Bernard…,” ujar Cath dengan tenang. Perlahan-lahan, ia lalu menutupkan matanya tanpa Agatha maupun Carlos menyadarinya.
“Cath, Kak Carlos aneh. Hei, Kak Carlos kenapa?” Agatha mengguncang-guncang Carlos yang tampak kedinginan dan napasnya tersengal-sengal. “Kak Carlos, jangan bercanda! Aku kan udah bilang, jangan sampai overdosis. Gimana nih, Cath? Cath!” Agatha menoleh dan melihat Cath tengah tertidur pulas. Cath memeluk kedua kakinya sementara kepalanya disanggah oleh lututnya. Agatha menggoyang-goyang tubuh Cath dan Cath jatuh ke samping dengan lemas.
“Cath, kamu kenapa, Cath? Bangun!” Agatha menepuk-nepuk pipi Cath. Tidak ada reaksi dari Cath sama sekali. Agatha yang dalam keadaan sadar, tiba-tiba menangis. Ia menyadari satu saudaranya telah pergi lagi.
“Tak bernapas… Kenapa Cath sudah tak bernapas….? Hikss…hikss… Jangan bercanda, Cath. Kak Carlos, Cath hanya tidur, kan?” Agatha bingung harus berbuat apa. Ia melihat Carlos sepertinya sudah dalam keadaan koma dan Cath sama sekali tidak bergerak. Agatha mengambil dompet Carlos lalu berlari keluar tak tentu arah. Ia merasa letih, ingin marah dan frustasi. Untung saja ia bertemu dengan Andrew yang baru saja pulang dari mengamen.
“Kak Andrew….,” Agatha langsung mencengkeram tangan Andrew erat-erat. “Cath…Cath…Kak Carlos…”
“Kenapa? Kamu mau bilang apa? Kenapa dengan mereka? Kenapa Cath? Kenapa Carlos?”
Agatha tidak dapat berbicara banyak. Ia tidak bisa mengendalikan kecemasannya. Ia merasa benar-benar kacau lagi. Andrew hanya mengernyit dan segera berlari ke gudaang tua. Ia tau bahwa Cath dan Carlos pasti baru saja berpesta dengan suntikan.
Andrew terpaku selama beberapa detik. Kedua temannya telah kaku di hadapannya tanpa sempat ia memberikan pertolongan. Sekali lagi air mata Andrew mengalir di wajahnya. Agatha menyusul Andrew beberapa saat kemudian setelah melihat semua kartu yang ada di dompet Carlos. Ia cukup terkejut melihat nama lengkap Carlos juga sebuah foto Carlos bersama adik perempuannya. Ia lalu menghampiri Andrew. Secara bergantian, Agatha memeluk kedua temannya yang kini telah tiada menyusul Bernard.
“Kak… Kak Andrew, nanti aku mau bicara…,” ucap Agatha. Air matanya terus saja mengalir, begitu juga Andrew.
🕊️🕊️🕊️
__ADS_1
To be continued….