
Sesampai di kamar kesayangannya, Agatha merapikan barang bawaannya dari kota L di walk in closet-nya. Pakaian kotor ia simpan di keranjang cucian yang setiap hari dipunguti Bi Momon, lalu dimasukan ke dalam mesin cuci. Selesai merapikan barang-barangnya, Agatha segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum istirahat. Tak membutuhkan waktu lama, ia sudah selesai dengan mandinya lalu segera memakai daster. Ia mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambutnya yang basah karena habis keramas. Tiba-tiba ponselnya berdering karena WhatsApp masuk. Agatha meletakkan hair dryer ke atas meja riasnya lalu menyambar ponselnya yang berkedip-kedip. Muncullah nama Memey di sana, Memey Somplak. Agatha menuliskan nama Memey di WhatsApp-nya ditambah dengan kata somplak karena memang Memey yang selalu saja ngawur.
“Lihatlah. Gue sangat cantik dan aura kecantikan gue semakin terpancar nyata karena mengenakan barang mahal ini, beb. Bahkan kecantikan Sarimie aja kalah sama gue. Hahaha. Thanks a lot, beb, atas traktirannya. Love-love segudang cinta.” Isi WhatsApp Memey.
Agatha menggelengkan kepalanya di kala ia melihat isi WhatsApp yang berupa sebuah foto dengan memakai pakaian dan sepatu baru yang branded. Bahkan capnya pun tidak ia lepaskan. “Kelakuannya benar-benar, ya.”
Agatha membalas WhatsApp Memey. “Haha. Merk-nya dilepas-lepas kali, Mey. Gak usah norak kayak gitu deh.” WhatsApp terkirim dan langsung dibaca oleh Memey.
“Hahaha. Gak apa-apa. Kan cuma lo yang ngeliatnya. Lagian gue juga nyoba aja kok,” balas Memey.
“Up to you lah, Mey. Udah ya, gue mau bobo cantik. Gue lelah.”
“Oke. See you next time, Tha.”
Selesai WhatsApp-an dengan Memey, Agatha kini melanjutkan aktivitasnya yang tertunda karena Memey. Ia mengeringkan rambutnya sampai ia mengomel pada hair dryer karena lama kering.
Aktivitasnya pun selesai. Kini ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang kesayangannya itu. Ia menguap beberapa kali karena sangat mengantuk, tubuhnya juga kelelahan karena baru saja balik dari kota L. Alhasil, tak butuh waktu lama, ia tertidur dengan posisi yang melintang, mulutnya mengaga seperti buaya yang meminta makan. Sungguh kelelahan, sepertinya.
🕊️🕊️🕊️
Waktu bergulir dengan begitu cepatnya. Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Orang tuanya sudah bersiap-siap untuk menghadiri acara relasinya. Bi Momon juga telah selesai memasak untuk makan malam, untuk Agatha dan juga untuk dirinya dan Mang Judas.
“Bi, kami berangkat dulu, ya,” ucap Nyonya Daria yang tanpa sadar mengagetkan Bi Momon yang tengah menata masakannya di atas meja makan.
“Astaganaga. Burung perkutut terbang melayang sambil bawa jenggot!” ucap Bi Momon refleks karena kaget. Tangannya yang memegang mangkok juga ikut bergoyang. “Hampir saja mandi dengan gulai kambing ini jika saja ia tertumpah,” ucapnya lagi seraya meletakkan gulai kambing ke atas meja.
“Jenggot siapa, Bi?” tanya Nyonya Daria.
__ADS_1
“Eh, Nyonya. Ada apa?” Bi Momon balik bertanya dan mengacuhkan pertanyaan majikannya.
“Ini. Saya dan papa mau keluar sebentar. Agatha jangan lupa dibangunin, takutnya dia tidur sampai malam,” ucap Nyonya Daria.
“Oh. Siap dan laksanakan, Nyonya.”
Ketika dirasa mobil majikannya sudah menjauhi rumah, Bi Momon segera bergegas masuk dan naik ke atas. Bi Momon masuk begitu saja karena pintu kamar Agatha yang sedikit terbuka sehingga ia tidak repot-repot berteriak dan mengetuk pintu kamar. Perlahan, Bi Momon berjalan mendekati ranjang Agatha. Kepalanya menggeleng melihat Agatha yang tidur dengan posisi melintang, ditambah lagi dengan mulutnya yang masih saja mengaga.
“Kok jadi tidak tega, ya? Sepertinya nona kecil sangat kelelahan,” ucap Bi Momon. Niat untuk membangunkan Agatha pun ia batalkan. Tiba-tiba saja Bi Momon juga menguap. Dunia mimpi Agatha seolah merasuki dan menari-nari di jiwa Bi Momon untuk tiduran. “Hoaahamm. Aduh, kok jadi mengantuk? Dasar mata ayam!” ucap Bi Momon bergumam sendiri.
Kebetulan, di kamar Agatha ada sebuah sofa yang juga sering Agatha gunakan untuk berbaring seraya memainkan ponselnya. Bi Momon mendekati sofa itu. Tanpa pikir panjang lagi, Bi Momon membaringkan tubuhnya di atas sofa dan tertidur dengan meringkuk. Bi Momon tertidur dengan menghembuskan napasnya ke udara yang bunyinya persis ceret air yang telah mendidih dan mengeluarkan uap panasnya.
Di saat Agatha mengganti posisi tidurnya, samar-samar ia mendengar suara siulan. Agatha mengerjapkan matanya dan menajamkan indra pendengarannya. Makin lama makin terdengar jelas ketika Agatha tersadar sepenuhnya. “Suara apaan itu, ya? Sejak kapan siulan ceret Bi Momon sampai ke atas sini?” ucap Agatha sambil menguap. Ia bergegas mengambil ponselnya dan melihat jam di sana. Padahal, jam di dindingnya sangat jelas daripada harus melihat di ponsel. Ia terlonjak kaget karena melihat jam yang menunjukkan pukul lima lebih dua puluh lima menit.
“Astaga. Ternyata lama juga aku tertidur. Tapi syukurlah, ini badan udah terasa segar.” Agatha bangun dari baringnya. Ia menguncir rambutnya asal-asalan di depan meja rias. Ia masih tak menyadari bahwa ada Bi Momon yang menumpang tidur di kamarnya. Suara yang seperti siulan itu kembali terdengar, namun kali ini sangat jelas.
Agatha kesal sendiri jadinya. Membangunkan Bi Momon ternyata tidak semudah membangunkan dirinya, pikirnya. Ia tampak memikirkan sesuatu bagaimana caranya membangunkan Bi Momon. Akhirnya ia mengambil ponselnya dan memutar lagu Cendol Dawet, lagu kesukaannya. Ponselnya ia arahkan ke telinga Bi Momon, lantas Bi Momon terbangun karena kaget. “Eh, Non sudah bangun? Kenapa tidak membangunkan Bibi?” tanya Bi Momon kikuk.
“Siapa bilang enggak bangunin Bibi? Dari tadi aku goyang-goyangkan kaki Bibi, eh malah makin ngorok. Mana bunyinya kayak ceret lagi. Huh, bikin kesel,” dengus Agatha kesal.
“Astaga. Pasti Bibi tidurnya kayak kebo, ya, Non?” ucap Bi Momon merasa sungkan.
“Udah tau masih saja bertanya. Buruan masak sana, Bi. Aku laper. Rindu masakan Bibi soalnya.”
“Ooo itu mah sudah beres semua, Non. Tinggal kita eksekusi saja,” jawab Bi Momon santai.
“Baguslah, jadi aku tidak perlu repot-repot dan bosan menunggunya. Aku mandi dulu, Bi.” Agatha meninggalkan Bi Momon yang masih terduduk di sofa.
__ADS_1
Bosan menunggu sendiri, Bi Momon pun meninggalkan kamar Agatha dan turun ke bawah. Ia juga ingin membersihkan diri karena memang sudah waktunya.
🕊️🕊️🕊️
Semuanya telah beres membersihkan diri, tinggal menunggu Agatha yang belum turun dari atas. Bi Momon sudah setia menunggu Agatha di ruang makan untuk makan malam. Kali ini, Bi Momon juga menyiapkan dessert untuk makanan penutupnya.
“Wah, baunya sangat menggugah seleraku yang lagi meronta-ronta ingin diberi asupan makanan,” seru Agatha saat sudah sampai di ruang makan.
Bi Momon mendongakkan kepalanya ketika mendengar suara Agatha. “Silahkan duduk, Non.”
“Terima kasih, Bi. Loh, Mang Judas kemana, kok belum duduk di sini?” tanya Agatha dan melirik ke segala arah mencari keberadaan Mang Judas.
“Kenapa malah nyari Mang Judas, Non? Dia kan sudah besar, bukan lagi anak bayi. Biarkan saja dia,” ucap Bi Momon asal.
“Bibi ini gimana? Mana mungkin Mang Judas enggak makan bareng sama kita?” tanya Agatha, “panggil saja dia Bi, jika menolak bakal berurusan sama aku!” tegasnya.
Bi Momon pun menuruti permintaan Agatha. Ia bergegas keluar untuk memanggil Mang Judas. “Woi sandal jepit. Nona Agatha nyuruh masuk. Katanya kamu akan dihukum atas kasus penculikan,” ucap Bi Momon dengan asal. Lalu berlalu ke dalam rumah.
Mang Judas berdiri dan melangkahkan kakinya mengikuti Bi Momon. Tak berselang lama, muncullah Mang Judas ke ruang makan. “Ada apa mencari Mang Judas, Non?” tanya Mang Judas.
“Enggak apa-apa sih. Ayo kita makan bersama!” ajak Agatha pada Mang Judas dan Bi Momon.
Sebelum memulai makan malam, mereka bertiga adu argumen. Agatha tau bahwa Mang Judas dan Bi Momon merasa tidak enak jika harus makan bersama dengan majikannya. Namun, Agatha tetap memaksanya. Mau tidak mau, mereka mengalah dan menuruti keinginan nona kecilnya. Karena sudah tau Agatha akan kesal jika saja mereka menolaknya. Mereka pun akhirnya makan bersama sembari bercerita tentang liburan singkat Agatha.
🕊️🕊️🕊️
To be continued....
__ADS_1