
Agatha lalu membuka pintu mobilnya dan menginjakkan kakinya di tanah yang sudah dilapisi aspal hitam mengkilap. “Mey, ayo turun!” ajaknya pada Memey yang masih setia duduk di mobil. Tak disangka, Memey malah mengacuhkan ucapannya. Memey memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam, menikmati suasana di mobil Agatha. “Hmmm, adem sekali. Rasanya gak rela turun dari mobil ini,” ucap Memey yang mampu di dengar oleh Agatha.
Agatha hanya bisa memutar kedua bola matanya melihat tingkah Memey yang memang apa adanya atau konyol. “Tujuan lo mau sekolah apa mau tiduran di mobil gue sih?” tanya Agatha.
Memey tersenyum pada Agatha. “Kenapa mobil lo nyaman sekali sih? Andaikan saja mobil ini muat untuk satu kelas, sudah pasti gue ajak guru dan teman-teman sekelas kita untuk belajar di sini,” ucap Memey menepuk-nepuk kursi mobil. Matanya menatap sekeliling mobil dengan tatapan takjub.
“Kampret dah lo. Kenapa gak sekalian nyewa bus pariwisata aja biar lo gak lagi belajar di kelas?” celetuk Agatha.
“Loh, kenapa jadi bawa bus pariwisata, sih?” tanya Memey bingung. “Memangnya kita mau berwisata?”
“Astaga, Memey. Katanya tadi mau belajar di mobil? Makanya gue nyuruh lo sewa aja sekalian bus pariwisata.” Agatha meninggalkan Memey yang masih kelihatan bingung.
“Hei! Tungguin ih.” Buru-buru Memey membuka pintu mobil dan turun untuk menyusul Agatha.
Siww! Bunyi mobil Agatha ketika dikunci. Memey yang masih dekat dengan mobil, hampir jumpalitan karena kaget mendengarnya. Hampir saja Agatha tertawa karena kekonyolan Memey. “Buset dah ah. Lo bikin jantung gue hampir copot, tau gak?” ucap Memey ketika sudah mendekati Agatha.
“Lo nya aja sih yang norak.” Agatha segera bergegas memasuki koridor sekolahnya yang langsung disusul oleh Memey dari belakang. Sambil terus berjalan menyusuri koridor sekolah, Agatha masih mengingat di saat mereka sampai di parkiran. Dalam hatinya terus bertanya siapa orang yang Welson bonceng. Menurut yang ia ketahui, Welson berangkat sekolah selalu sendiri dan tidak biasanya seperti pagi ini. Langkah Agatha semakin cepat sehingga Memey dengan susah payah mengikuti langkahnya. “Pelan-pelan dong jalannya. Gue capek ngejar lo. Bisa-bisa gue pingsan gara-gara lo,” gerutu Memey.
Agatha pun memelankan gerak langkahnya supaya Memey bisa sejajar dengannya. “Lama amat lo jalanya,” ujar Agatha ketika Memey sudah sejajar dengannya. “Ayo cepat!”
Karena takut langkahnya akan ketinggalan dari Agatha, dengan cepat Memey meraih tas ransel Agatha dengan sempurna. Mereka saat ini sudah seperti sapi dengan penggembalanya. Tepat di depan mereka di ujung koridor sebelum tangga akses ke lantai atas, matanya dengan cepat melihat pemandangan yang begitu sedap. Agatha kembali melihat Welson bergandengan tangan dengan orang yang ia bonceng tadi. Agatha tak bisa mengenali siapa orang itu karena kepalanya ia tutup dengan jaket. Agatha menghentikan langkahnya seketika hingga Memey menabrak belakangnya. “Auwww! Kenapa berhenti mendadak?” tanya Memey dengan mengusap keningnya yang membentur tas ransel Agatha.
“Tuh! Coba lo liat yang di depan?” tunjuk Agatha ke depan. Memey mengikuti arah tangan Agatha, namun ia bingung karena yang ia lihat hanyalah tangga. “Itu kan tangga. Ada apa dengan tangga?” tanya Memey, keningnya berkerut.
Agatha menepuk pelan kening Memey karena matanya tidak jeli. “Bukan itu. Tapi yang setelah tangga.”
“Orang bergandengan? Itu maksud lo?” tanya Memey lagi.
“Ya iyalah. Emang apalagi?” dengus Agatha kesal.
“Ya siapa tau ada cowok ganteng lewat. Hahaha.” Memey tertawa renyah. Agatha kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan Memey.
__ADS_1
“Etdah. Doyan amat main ninggalin kayak gitu,” gumam Memey, “Tha, tungguin!”
Memey menyusul Agatha yang sudah mendahuluinya lagi, hingga pada langkah yang ke sekian, ia menabrak wali kelasnya, Pak Matias. Pak Matias hampir saja terpental jika tidak langsung bertopang pada tembok di sampingnya. “Busyet! Siapa lagi biang keladinya ini?” gerutu Pak Matias berusaha menahan tubuhnya supaya tidak ling-lung. Setelah menggerutu, Pak Matias memunguti buku-buku yang ia bawa. Buku-buku tersebut terhempas dan bertebaran di lantai. “Udah nabrak malah tidak bertanggung jawab. Nilainya biar dikasih 4 saja biar tau rasa.”
Mendengar ucapan Pak Matias yang terakhir, Memey akhirnya ikut membantu wali kelasnya memungut buku-buku itu. “Pak, maafkan saya. Saya tidak sengaja menabrak Bapak. Sumpah deh, saya benar-benar tidak sengaja. Jangan kasih nilai saya jelek, Pak. Please!” ucap Memey yang seperti dikejar induk ayam, hingga Pak Matias menutup kedua kupingnya.
Pak Matias kembali menggerutu dan membiarkan Memey dengan aktivitasnya memungut buku. “Astaga murid satu ini. Nyerocos udah kayak penyiar radio saja.” Memey dapat mendengar ucapan wali kelasnya itu, dan ia menoleh ke sampingnya. “Wahhh. Hebat ya, Pak. Ternyata Bapak curang. Bapak malah enak-enak membiarkan saya memunguti buku Bapak ini sendirian. Sungguh terlalu!” mulutnya terus mengoceh dengan tangan tetap pada buku. Buku yang sudah ia punguti ia lempar lagi ke lantai.
“Yang nabrak saya siapa?” tanya Pak Matias.
“Saya, Pak!” jawab Memey lantang.
“Korbannya siapa?” tanya Pak Matias lagi.
“Ya buku-buku Bapak lah. Buktinya saja mereka berserakan di lantai.”
“Yang membawa buku-buku itu siapa?” Pak Matias menunjuk hamparan buku di lantai.
“Jadi korbannya bukan cuma bukunya saja, kan?”
“Korbannya hanya buku. Bapak bukan korban. Kalau Bapak juga jadi korban, harusnya Bapak guling-guling di sini.” Memey meraba-raba lantai memberi isyarat pada Pak Matias.
“Bisa begitu, ya?” ucap Pak Matias keheranan.
“Ya iyalah. Emang mau gimana lagi Bapak Matias yang tampan?” tanya Memey dengan penuh penekanan.
“Wah. Kamu emang murid Bapak yang baik. Kalau begitu, punguti semua buku-bukunya.” Pak Matias tersenyum menampakan wajahnya yang tampan.
Memey tidak habis pikir pada wali kelasnya yang memujinya baik, tetapi akhirnya malah menghukumnya dengan hukuman memunguti semua buku yang berserakan di lantai, yang memang juga salah dirinya. “Astaga, Bapak. Apakah tidak terbalik, ya? Harusnya Bapak memberikan saya nilai plus karena saya memuji Bapak tampan.”
Pak Matias malah tertawa mendengar ucapan Memey. “Hahaha. Kamu lucu sekali. Yasudah, nanti akan Bapak pertimbangkan nilaimu. Kamu mengerti?”
__ADS_1
“Ish, menyebalkan. Untung saja memang tampan, coba kalau jelek. Sudah aku cincangin jadi makanan sapi,” gerutu Memey dengan pelan sambil terus memunguti buku. Namun ucapannya dapat didengar oleh Pak Matias dengan jelas.
“Apa yang kamu ucapkan?” tanya Pak Matias menyelidik.
“Saya gak mengucapkan apa-apa, Pak. Mungkin Bapak salah dengar!” sanggah Memey. “Aduh, kenapa telinganya jeli sekali? Semoga saja Pak Matias tidak mendengar,” gerutunya dalam hati.
“Cepat selesaikan!” perintah Pak Matias. “Sebentar lagi kita masuk kelas!”
“Baik, Pak. Satu buku lagi kok,” jawabnya. Memey bangkit berdiri ketika tugasnya memungut buku sudah selesai. “Ini, Pak!” Memey menyodorkan buku-buku itu pada Pak Matias.
Ya, Pak Matias adalah salah satu guru laki-laki termuda di sekolah itu. Ia mengajar di sekolah itu sudah hampir satu tahun lebih lamanya. Usianya kini baru menginjak 28 tahun. Beliau memiliki fostur tubuh yang ideal, rambut sedikit ikal, dan memiliki kulit yang putih bersih. Beliau juga banyak dikagumi oleh murid-murid perempuan di sekolahnya.
Sementara tidak jauh dari Memey dan Pak Matias, Agatha berusaha membuntuti Welson. Hingga pada akhirnya, Agatha tidak mampu untuk menahan emosinya melihat orang di depannya. Makin lama makin terlihat sangat mesra. Agatha menambah volume langkahnya supaya lebih dekat dengan mereka. Dengan tindakan yang tiba-tiba, Agatha menarik lengan Welson dengan keras sehingga yang punya lengan menoleh ke belakang. “Ooh, jadi gini kelakuanmu di belakangku...” ucap Agatha menggantung setelah melihat orang yang ia serbu.
Lelaki itu keheranan. “Maaf, maksudnya apa, ya, kak?” tanya siswa itu (adik kelas Agatha).
Agatha terlihat menahan malunya setengah mati. Menggaruk tengkuknya, namun tak terasa gatal. Merapikan bajunya, namun masih rapi, belum acak-acakan. “Hehe. Sorry, ya. Gue salah orang. Gue kira Welson,” ucapnya. “Once again, I am sorry.” Agatha berlalu pergi dengan wajah memerah karena malu. Adik kelas yang ia serbu hanya geleng kepala dan tersenyum.
Di kelas XII IPA.
“Duh, bikin malu saja. Mimpi apa semalam sampai gak fokus kayak gini?” Agatha menggerutu, melewati teman-temannya yang sedang mengobrol menunggu guru masuk.
“Kamu kenapa, sayang? Pagi-pagi kok udah ngomel gitu aja, sih?” tanya Welson.
Tanpa menjawab, Agatha malah merogoh ponselnya yang ada di saku dan mengambil headset-nya. Teman-temannya yang lain juga ikut kebingungan dengan tingkah Agatha pagi ini. Tak lama mereka saling bertanya-tanya, Memey muncul dari luar dengan menghentakkan kakinya kesal. “Sial, sial, sial. Mengapa begitu menyebalkan sih?” ucap Memey. Dengan langkah yang sengaja diperagakan seperti robot, Memey menghampiri teman-temannya yang sudah duduk. Dirgo perlahan menatap wajah Memey dan Agatha secara bergantian. “Kalian berdua kenapa?” tanya Dirgo, “kok pada cemberut?”
“Gue lagi kesel sama Pak Matias!” teman-temannya kaget mendengar ucapan Memey.
To be continued....
__ADS_1