
Mereka bertiga duduk di gazebo tempat di mana Bi Momon dijahili Mang Judas waktu itu. Duduk bersantai dan mengistirahatkan tubuhnya sambil menikmati suasana siang yang sebentar lagi akan beranjak sore. Hembusan angin menambah kesegaran untuk menikmati waktu santai mereka.
“Non, Neng, kalian mau sesuatu tidak?” kata Bi Momon membuka percakapan.
“Hm, aku mau manjat buah itu, Bi.” Memey menunjuk pohon ceri yang terdapat di samping gazebo.
“Bukan itu yang Bibi maksud, Neng!” ucap Bi Momon.
“Hahahaha. Kalian cocok banget. Hahaha.” Agatha tertawa terpingkal-pingkal.
“Ishhh. Apa yang lo ketawain? Letak lucunya di mana coba?” celetuk Memey.
Ada rasa senang ketika Memey melihat Agatha tertawa begitu lepas. Paling tidak, bisa mengobati rasa yang menggelora di jiwanya. “Teruslah seperti itu, Agatha William.” Memey membatin, bibirnya mengulas senyuman anggun.
“Enggak ada. Gue pengen ketawa aja. Hahaha.” Agatha masih saja tertawa.
“Bibi, tolong jelaskan. Di mana letak lucunya? Kenapa Agatha malah tertawa seperti orang kesurupan?” pinta Memey pada Bi Momon.
“Bibi juga tidak tau,” jawab Bi Momon. “Neng yakin mau manjat pohon serendah itu?” tanya Bi Momon. Nyatanya pohon ceri itu bisa dicapai tanpa harus dipanjat.
“Haha. Diam, Bi. Ini hanya pencitraan.” Memey berkilah berusaha menutup rasa malunya.
“Yasudah. Bibi ambilkan cemilan dan minuman ke dalam, ya. Neng kalau benaran mau manjat, itu ada pohon jambu biji,” ucap Bi Momon sebelum masuk ke dalam.
“Oke, Bi. Tenang saja.” Memey tersenyum pada Bi Momon.
Bi Momon pun akhirnya meninggalkan Agatha dan Memey ke dalam. Sepeninggalan Bi Momon, Memey mengajak Agatha untuk memunguti jambu yang akan ia panjat. “Tha, ikut gue yuk!”
“Ke mana?”
“Itu.” Memey menunjuk pohon jambu yang tak jauh dari hadapan mereka. “Ayolah!” Dengan segera Memey meraih tangan Agatha dan menyeretnya supaya mengikutinya. Dengan terpaksa Agatha pun mengikuti Memey.
Tibalah mereka di bawah pohon jambu yang tidak terlalu tinggi. Namun jika tidak terbiasa manjat, maka lutut dan kaki akan bergoyang saking takutnya. Memey kemudian melepaskan sandal jepitnya karena tidak terbiasa manjat menggunakan sandal. Tampak Agatha mengerutkan wajahnya karena tidak yakin Memey bisa memanjat.
Dalam hitungan ketiga Memey sudah mencapai ujung pohon jambu. Ia seperti anak monyet yang sedang bergelantungan mencari jambu yang manis. Seketika Agatha dibuat terkejut karena dugaannya pada Memey ternyata salah. “Mey, ternyata lo hebat ya, bisa manjat juga,” puji Agatha pada Memey.
“Jangan memuji seperti itu. Ntar yang ada gue malah jungkir balik dari sini,” ucap Memey dengan tangan sambil memetik jambu. Sudah beberapa buah yang terlempar ke tanah, tetapi belum Agatha punguti.
“Jungkir balik aja, tinggal gue siapin ambulance doang kok.” Agatha sengaja menjahili Memey.
“Astaga, Gusti. Lo pengen gue gak bernapas lagi, ya?” tanya Memey dengan memonyongkan bibirnya. Tangannya mengguncang dahan jambu dengan keras.
Pukkkkk!!! Tiba-tiba satu buah jambu jatuh mengenai kepala Bi Momon yang baru saja tiba menyusul mereka. “Aduhhhhh. Siapa yang mukul Bibi?” Bi Momon memegangi kepalanya. Bi Momon belum menyadari bahwa Memey sudah berada di pohon jambu.
“Aduh. Maafin Memey, ya, Bi. Memey gak sengaja, sumpah.” Memey seolah bersembah sujud pada Bi Momon. Bi Momon mendongak ke atas mengikuti arah suara, betapa kagetnya ketika melihat Memey.
“Wah, enggak apa-apa, Neng.” Bi Momon berucap seraya tersenyum. “Kamu udah asyik, ternyata jago manjat juga, ya.”
__ADS_1
“Ah, Bibi sama aja kayak Agatha. Suka memuji dengan berlebihan.” Memey menggeser kakinya dari dahan yang kecil.
“Kan memang benar. Yasudah, Bibi buatin bumbu rujaknya, ya.” Lagi-lagi Bi Momon masuk ke dalam rumah setelah selesai membawa cemilan.
Gubraakkk!! Agatha yang tengah fokus memunguti jambu yang bertebaran di atas rumput, dibuat kaget ketika mendengar suara membentur tanah. Agatha menoleh ingin mengetahui asal bunyi yang baru saja ia dengar. Tatapan matanya membulat seketika di saat ia mendapati Memey yang sudah tiarap di atas rerumputan, kakinya sengaja ia goyang-goyangkan. Ya, Memey terjatuh ke tanah ketika kakinya tergelincir.
Agatha bergegas menghampiri Memey. “Mey, lo gak apa-apa, kan?”
“Eng...enggak, gue gak apa-apa,” jawab Memey.
“Yakin?”
“Yakin pake banget malah.” Memey berdalih menyembunyikan rasa malunya. “Gue emang biasanya loncat kalau mau turun.”
“Hahaha. Yasudah, ayo bangun! Ntar Bi Momon bawain bumbu rujaknya.” Agatha tersenyum karena Memey menyembunyikan bahwa sebenarnya ia terjatuh, bukan meloncat.
Dengan wajah yang memerah, Memey bangun dan menyusul Agatha yang sudah beranjak duluan ke gazebo. Di gazebo sudah berkumpul Mang Judas, Bi Momon, serta Agatha. Mereka menunggu Memey untuk menikmati rujak dari jambu hasil panjatan Memey. Bi Momon yang sangat ahli dalam membuat bumbu rujak, hingga dalam sekejap rujakan itu telah selesai mereka santap. Kini mereka berempat menikmati cemilan dan minuman yang sudah Bi Momon sediakan untuk menghilangkan rasa pedas karena rujakan itu. Mereka berempat bercengkerama dengan penuh sukacita. Semua hal yang keluar dari mulut Bi Momon dan Memey mengundang gelak tawa Mang Judas dan Agatha, dan pada akhirnya mereka tertawa bersama.
Mereka menghabiskan waktu di gazebo hingga menjelang sore. Tepat pada pukul 16:00, mereka bubar dan kembali ke dalam rumah. Tanpa aba-aba, Memey langsung mencuci barang yang mereka pakai di gazebo, walaupun sebenarnya Bi Momon sudah melarang.
“Bi, Memey bantu, ya.” Memey langsung menyalakan kran air di wastafel.
“Sudah, Neng. Neng sama nona Agatha aja. Ini kan kerjaan Bibi.” Bi Momon melarang Memey.
“Enggak apa-apa atuh, Bi. Memey senang kok bantu-bantu kayak gini.”
Akhirnya Bi Momon pun membiarkan Memey mencuci piring dan gelas. “Yasudah, terserah Neng aja kalau gitu.”
🕊️🕊️🕊️
“Bentar lagi, tinggal bilas aja. Kenapa, mau ngebantu juga?” tanya Memey sekalian bertanya.
“Kalau udah beres, buruan istirahat sebentar. Ntar jam tujuh malam kita jalan-jalan. Mau enggak?”
“Lah, bukannya enggak mau, Tha. Tapikan gue harus balik ke rumah,” jawab Memey.
“Udah. Lo tenang aja, bisa nginap di sini kok. Soal om dan tante, ntar gue langsung yang ngomong. Jangan ngebantah!”
“Astaga. Suka sekali mengancam. Yasudah, terserah lo aja,” jawab Memey dengan kesal.
“Bi, jangan masak terlalu banyak, ya. Aku dan Memey mau keluar nanti malam.” Agatha berpesan pada Bi Momon dan langsung diangguki oleh Bi Momon.
🕊️🕊️🕊️
Waktu yang Agatha dan Memey tunggu-tunggu telah tiba. Mereka berencana akan makan malam ke restoran yang bintang lima di kotanya. Mereka telah bersiap-siap kemudian berpamitan pada Bi Momon. “Bi, kami berangkat, ya. Bibi pesan apa? Nanti aku belikan.” Tawar Agatha.
“Bibi mau cake red velvet sama boba aja, Non. Kalian hati-hati, ya, jangan pulang terlalu malam.” Bi Momon tersenyum
__ADS_1
“Oke, Bi,” jawab keduanya.
Saat melewati Mang Judas yang lagi duduk bersantai di depan sambil menyeruput kopi, Agatha menghentikan langkahnya. “Mang, kami pergi dulu, ya. Mang Judas pesan apa?”
“Eh, siap, Non. Kayaknya pesan baju aja deh, Non.”
Agatha tertawa mendengar pesanan Mang Judas. “Mang, kami bukannya mau ke mall. Kami mau makan malam di resto yang terkenal di kota ini.”
“Yah, kirain mau ke mall, Non.”
“Buruan mau pesan apa, Mang?” tanya Agatha sekali lagi.
“Pizza aja, Non. Udah, itu aja. Kalian hati-hati, jangan ngebut!”
“Sipp. Thanks, Mang. Pesanannya akan aku belikan.”
Agatha dan Memey mengendarai mobil sport baru. Perlahan mobil itu meninggalkan pelataran rumah Agatha, dan membelah jalanan kota A. Dalam waktu kurang lebih lima belas menit, mobil mereka telah sampai di restoran yang akan menjadi tempat mereka untuk makan malam. Agatha sengaja memilih tempat yang dekat dengan kolam karena suasana dan pemandangannya sangat menarik.
Mereka berdua memesan makanan sesuai dengan seleranya masing-masing. Tak berapa lama, makanan mereka datang. Tanpa membuang waktu, mereka langsung menyantap makanannya yang sangat menggugah selera. Selesai dengan makannya, Agatha berpamitan pada Memey karena ingin ke toilet. “Mey, gue ke toilet dulu, ya. Lo tolong ambilin pesanan Bi Momon sama Mag Judas, trus nunggu di sini.”
“Sipp. Lo sana aja dulu, jangan lama tapi.”
Agatha melangkah dengan terburu-buru hingga langkahnya limbung. Badannya hampir saja mendarat di lantai, namun tiba-tiba ada sebuah tangan yang langsung melingkar menangkap tubuhnya. Mereka berpacu dalam tatapan yang cukup lama seolah tak ingin lepas, tak ingin berkedip sama sekali. Wangi parfum yang menjadi favorit Agatha kembali menyeruak memasuki rongga hidungnya. Jantung Dirgo berdegup kencang tak karuan di saat melihat manik mata Agatha. Entah, setiap kali ia bersentuhan dengan Agatha, organ di dalam tubuhnya berpacu tak karuan seolah ingin keluar dari tempatnya. “Hati-hati dong kalau jalan. Jangan terburu-buru.”
“Eh, maaf. Gue kebelet pipis soalnya. Untungnya ada lo. Thanks, ya,” ucap Agatha tanpa mengedipkan matanya sama sekali. Dirgo hanya tersenyum sebagai tanda responnya pada Agatha.
“Dir, lepasin. Gue mau ke toilet,” pinta Agatha.
“Oh. Iya, maaf, maaf.” Dirgo melepaskan dekapannya pada Agatha. “Mau aku anterin gak?”
“Gak usah, Dir. Thanks, ya,” tolak Agatha. “Bentar lagi gue balik kok.”
“Oke. Kamu ke sini sama siapa? Sama Welson, ya?” tanya Dirgo.
“Enggak. Gue ke sini sama Memey. Udah, ya, bye.” Agatha segera menuju toilet.
Tanpa menunggu lagi, Dirgo juga bergegas ke parkiran mobilnya. Ia berencana akan mengawasi Agatha dan Memey hingga sampai ke depan rumah, mengingat suasana yang sudah malam.
Sejak Agatha keluar dari toilet, ia segera menemui Memey yang mungkin sudah bosan menunggunya sejak tadi. “Mey, ayo kita balik.” Agatha mengejutkan Memey yang tengah memainkan ponselnya.
“Ayokkk. Gue hampir aja kejang-kejang nungguin lo. Kenapa lama amat sih?”
“Hehe. Biasa, gue tadi hampir aja menggelinding di lantai. Untung ada cowok yang wangi parfumnya selalu membuat gue terpesona,” jawab Agatha santai.
“Hah? Karena wangi parfumnya aja lo udah kepincut? Apa jangan-jangan lo jatuh cinta, ya, sama dia?” Memey memberikan banyak pertanyaan pada Agatha.
“Hisss. Ya enggaklah. Mana mungkin gue bisa pisah dari Welson.” Agatha mendelikkan matanya. Ia segera meraih tas tangannya yang tergeletak di atas meja, tak lupa juga menyuruh Memey membawa pesanan Bi Momon dan Mang Judas. “Ayo ke mobil!” Mereka berdua segera bergegas ke parkiran menuju mobilnya.
__ADS_1
🕊️🕊️🕊️
To be continued....