
“AGATHAAAA!” Terdengar lengkingan keras yang menggema dari suara tinggi Ny. Daria. Bi Momon yang tengah berkutat di dapur menyiapkan hidangan untuk makan malam, sampai terkejut mendengarnya. Untung saja semangkok soup iga sapi panas tidak tumpah. Sementara Agatha yang masih mendekam di kamarnya, karuan membuatnya semakin mendekam sambil memeluk erat-erat gulingnya. Agatha tak menyangka bahwa mommynya pulang begitu cepat.
Hari ini adalah hari pengumuman tes seleksi masuk perguruan tinggi yang sudah Agatha tempuh setelah seleksi yang pertama tidak lulus. Hari ini menentukan apakah Agatha berhasil masuk perguruan tinggi atau tidak. Ia sengaja tidak membacanya, sebab dirinya sudah mengatakan bahwa ia tidak bisa lulus di perguruan tinggi yang dipilih orang tuanya.
“Agatha, cepat keluar! Turun ke bawah temui Mommy sekarang!” panggil mommynya lagi dengan sedikit berteriak. Dengan perasaan geram dan pasrah, Agatha turun dari ranjangnya dan keluar kamar menemui mommynya di bawah. Ia masih muak dan benci dengan perbuatan yang telah dilakukan mommynya tempo hari.
“SEBENTAR!” bentak Agatha yang tak kalah sengit. Rasa kecewa dan amarahnya kembali membuncah ketika mengingat perbuatan mommynya. Mommynya sama sekali tidak ambil pusing dengan tingkah anaknya.
Nyonya Daria berdiri di ruang keluarga sambil berkacak pinggang dengan tangan sebelahnya memegang ponsel. Agatha bisa menebak bahwa mommynya sudah membaca hasil pengumuman tersebut. Ia mendekati mommynya dengan wajah yang masam. Ny. Daria menyodorkan ponselnya pada Agatha meminta anaknya untuk membaca hasil pengumuman.
“Ck…sudah Agatha bilang bahwa Agatha tak mungkin bisa masuk di kampus pilihan kalian.” Agatha berdecak sinis menatap mommynya.
“Apa kamu bilang? Dengan santainya kamu bersikap seperti itu. Kamu benar-benar bikin Mommy pusing,” ujar mommynya sambil memijat kepalanya.
“Apa mau dikata jika kemampuan anakmu ini hanya setengah tiang seperti ini? Pokoknya Agatha tetap mau masuk di universitas A, tempat Memey. Jika di sana, Agatha tidak perlu tes, bisa langsung daftar.”
“Apa istimewanya kampus itu? Kamu bikin Mommy malu! Gimana mungkin Mommy bisa keluar rumah dengan leluasa jika seperti ini? Apa kata orang nanti? Kamu sudah bikin Mommy kecewa!”
Ucapan mommynya justru membuat Agatha semakin kecewa. Semua sikap dan perkataan mommynya sama sekali tidak pernah mendukungnya. Menurutnya, kuliah di kampus manapun sama saja hasilnya tergantung dari masing-masing mahasiswa membawa diri. Tak melulu kampus yang terbelakang menghasilkan lulusan terburuk, bahkan jika digali fakta, banyak juga kampus terbelakang yang lulusannya sukses semua.
“Gimana bisa di saat-saat suram seperti ini, Mommy masih mementingkan harga diri dan reputasi? Orang tua macam apa yang seperti itu, hah? Aku masih anaknya, bukan?”
Dengan langkah yang kesal Agatha berlari keluar rumah hendak pergi dengan mobilnya. Teriakan dan omelan dari mommynya tak dihiraukannya. Dihampirinya Mang Judas yang tengah duduk berjaga sambil berselancar dengan ponselnya. Agatha memberikan perintah pada Mang Judas dengan aba-aba dan isyarat seperti seorang mime (sebutan untuk orang yang melakukan pantomim. Pantomim adalah suatu pertunjukan teater akan isyarat, dalam bentuk mimik wajah atau gerak tubuh, sebagai dialog. Jenis pertunjukan ini telah dikenal sejak zaman Romawi Kuno dan sering digunakan dalam ritus keagamaan dengan cerita umumnya seputar mitologi Yunani).
Tanpa banyak bertanya, Mang Judas menuruti perintah majikan kecilnya itu. Mereka mengelilingi jalanan kota yang kadang ramai kadang sepi hingga kurang lebih satu jam lamanya. Sepanjang mengitari jalan kota, Agatha sesekali meluapkan emosinya dengan berteriak. Mang Judas dibuat ingin copot jantung ketika Agatha berteriak dengan keras. Setelah puas, mereka kembali ke rumah.
🕊️🕊️🕊️
Agatha berlari menuju kamarnya. Ia menutup dan mengunci pintu, ingin menangis sejadi-jadinya di kamar. Tiba-tiba ponselnya yang diletakkan di atas ranjang berbunyi, ada pesan chat yang masuk. Agatha mengambil ponselnya dengan malas, entah siapa yang berani-berani mengganggunya yang sedang menangis saat ini. Ketika melihat isi pesan chat dari Nadine yang mengatakan bahwa ia dan Welson mengkhawatrikan dan cemas pada Agatha, Agatha semakin bertambah kacau saja pikirannya. Tidak mungkin Nadine benar-benar peduli padanya, apalagi Welson. Ia rasa ini semua hanyalah sandiwara belaka yang memang sengaja dibuat oleh Nadine dan Welson. Lagi pula Agatha tidak mengharapkan belas kasihan dari dua manusia pengkhianat itu. Ponselnya ia lempar ke tembok hingga menimbulkan suara, ia sudah tidak mau berurusan lagi dengan mereka. Bahkan hanya sekedar ketemu secara kebetulan pun ia tidak sudi. Welson saat ini pasti sedang menertawakannya dan Nadine berucap berulang kali kasihan padanya, pikirnya.
Tok! Tok!! Pintu Agatha diketuk pelan oleh Bi Momon dari luar. “Non, sedang apa di kamar, Non?”
“Ada apa, Bi?” tanya Agatha sedikit mengeraskan suaranya agar didengar oleh Bi Momon.
__ADS_1
“Haha, ngeronda kayak satpam kompleks aja,” gumam Bi Momon. “Non, itu di bawah ada yang nyariin, Non.”
“Siapa, Bi? Siapa yang nyariin nggak kenal waktu kayak gini?”
“Pacarnya Non, Den Welson sama temen Non juga,” ujar Bi Momon.
“Bilang saja pada mereka kalau aku sedang balap kuda, Bi!” jawab Agatha dengan asal.
“Tapi…Non,”
“Yaudah, usir aja mereka, Bi! Bibi jangan sebut-sebut nama mereka lagi di depanku. Bilang pada mereka, aku benci banget sama mereka berdua,” jawab Agatha sambil menangis.
Tanpa berkata-kata lagi Bi Momon mengiyakan dan menuruti perintah Agatha. Bi Momon bergegas ke bawah menemui tamu yang sedang menunggu di bawah.
“Agathanya mana, Bi?” tanya Nadine tak sabaran.
“Mmm anu, katanya kalian disuruh pulang. Non Agatha lagi nggak bagus suasana hatinya, dan nggak mau ketemu siapa-siapa…”
“Trus dia bilang apalagi, Bi? Benci banget ya sama kami berdua?” ucap Welson dengan santai.
“Loh, kok Den Welson tau?” tanya Bi Momon keheranan.
“Iyalah, kedengaran sampe ke sini juga. Adowww!”
Nadine langsung menginjak kaki Welson dengan kuat lalu berbisik, “kok bisa sih kamu di saat seperti ini bicara sejujur itu?”
“Ya kan memang gitu kenyataannya,” balas Welson yang juga berbisik.
“Kalian berdua tidak apa-apa? Kenapa jadi lomba berbisik seperti itu? Bibi kan tidak bisa dengar,” sela Bi Momon heran.
“Nggak apa-apa, Bi. Yaudah, Bi. Sampein salam sayang kami untuk Agatha ya, Bi. Makasih, Bi Momon,” ujar Nadine. Mereka berdua lalu berpamitan pulang karena yang punya rumah tidak mau bertemu dengan mereka.
🕊️🕊️🕊️
__ADS_1
“Ma, kenapa Agatha sampai tidak lulus seleksi untuk yang kedua kalinya? Padahal dia bukanlah anak yang terlalu buruk di sekolah,” tanya Tn. Thomas pada istrinya.
“Mana aku tau, Pa. Mama juga tidak habis pikir. Sampai-sampai aku tidak pergi arisan dan ke panti hari ini,” keluh Ny. Daria.
“Mungkin anak kita sedang ada masalah. Papa udah sering bilang sama Mama, pulanglah lebih awal dan memperhatikan Agatha. Apa Mama lupa tugas seorang ibu? Tugas utama seorang ibu adalah mengurus anak dan suami.”
“Oo jadi Papa berani menyalahkan Mama? Memangnya tanggung jawab mendidik anak hanya di tangan Mama saja? Ingat, Papa juga orang tuanya, bukan cuma Mama!”
“Tapi tugas utama Papa sebagai suami dan orang tua adalah mencari nafkah! Mama sebaiknya mengurangi kegiatan Mama di yayasan!”
“Jadi, maksud Papa, Mama harus meninggalkan pekerjaan Mama begitu saja? Enak saja Papa bicara seperti itu!”
“Papa tidak mengatakan jika kamu harus berhenti. Coba Mama pikir baik-baik, Mama di luaran sana sibuk mengurusi anak orang lain, sementara anak sendiri ditelantarkan. Apa kata orang?”
“Cukup, Pa! cukup! Sekali-sekali Papa juga harus pulang lebih awal dan memantau Agatha. Dia juga membutuhkan Papa! Mama sudah berusaha semampu yang Mama bisa, menyekolahkan dan mendaftarkannya di sekolah dan universitas terbaik, melengkapi semua perlengkapannya sekolahnya, memberinya uang jajan yang lebih dari cukup. Apa ada yang kurang? Justru Papalah yang menelantarkannya.”
“Jangan mencari ini kesalahan siapa! Maksud Mama, Mama mengatakan Papa salah karena tidak berbuat apa-apa, begitu? Papalah yang menyediakan dana sekolahnya! Mama harus bertindak sebagai mana ibu semestinya!”
“Mama sudah melakukan semuanya! Mengurus Agatha adalah tanggung jawab kita berdua. Jangan curang!”
Tanpa disadari oleh keduanya, Agatha mendengar semua pertengkaran dan perdebatan orang tuanya dari atas. Ini memang gila. Ternyata selama ini kedua orang tuanya hanya menganggapnya sebagai beban yang harus dipikul serta dijinjing. Mereka menjadikan Agatha sebagai bahan pertengkaran seolah Agatha bukan siapa-siapa dan seolah tak layak untuk dikasihi dan dicintai. Hati dan perasaan Agatha semakin sakit mendapati semua perlakuan ini.
🕊️🕊️🕊️
Agatha memunguti ponselnya yang sudah ia banting ke tembok. Benda pipih tersebut sudah retak layarnya. Agatha mengambil kartunya, lalu membuang ponselnya yang retak ke dalam kotak sampah. Kemudian memasukan kartu sim ke ponselnya yang lain.
“Hii. Gimana kabarmu? Aku sudah mendengar bahwa kamu tidak lulus seleksi. Jangan bersedih, ya. Ada aku dan yang lainnya akan selalu ada buat kamu.” Pesan chat dari Dirgo. Agatha hanya membalasnya dengan ucapan terima kasih lalu menyematkan emoji senyum. Memey, Maria, Stevanie, juga Yadi turut mengirimkan pesan chat padanya, dengan ungkapan menyemangati dan ada yang merindukan dirinya. Agatha menyeka air matanya yang jatuh ketika membaca semua chat dari sahabat-sahabatnya itu. Ia bersyukur masih ada yang peduli dan mau mensupportnya. Setidaknya, hal ini bisa membuat pikiran dan hatinya sedikit lebih tenang.
“Mmm, jika berkenan, lain kali kita makan bareng lagi, yuk! Kurasa waktu itu, waktu yang kita habiskan hanya sebentar.” Dirgo kembali mengirim chat pada Agatha. Agatha pun tersenyum walaupun masih belum seutuhnya senyum itu mengembang.
🕊️🕊️🕊️
To be continued…
__ADS_1