
Memey dengan takjub memandang seisi rumah Agatha semenjak ia melewati tangga yang mengakses ke lantai atas. Matanya berbinar bagaikan ada cahaya di dalam matanya. Ia nampak tersenyum mengamati semuanya. Ia bergumam, “memang benar adanya. Untuk apa hidup dengan bergelimang harta, namun di dalamnya miskin kasih sayang. Lebih baik hidup sederhana, namun banyak cinta dan kasih sayang.” Memey melanjutkan langkahnya lagi yang masih terhenti. Setelah mencapai lantai atas dengan sempurna, ia bingung mencari keberadaan kamar Agatha-sahabatnya. Dengan penuh kegembiraan hati, ia melangkahkan kakinya menuju kamar yang langsung menarik perhatiannya.
Tiba di depan pintu yang ia tuju, sayup-sayup terdengar suara rintihan. Rintihan yang sangat menyayat hati. Dengan jiwa penasaran yang cukup tinggi, Memey menempelkan indra pendengarannya pada pintu. Dengan fokus ia menyimak dan mendengarkan semuanya, sampai-sampai ia ikut merasakannya. “Lo yang sabar, Tha. Gue yakin, semuanya akan indah pada waktu-Nya.” Memey berucap seraya meneteskan air matanya yang tak mampu terbendung lagi. Siapapun, pasti akan empati pada sahabatnya itu.
Dengan mata yang masih basah, ia kembali bergumam. “Tenang, Tha. Gue ada di sini dan akan selalu ada untuk lo.”
“Tha, lo di dalam, ‘kan? Apa gue boleh masuk?” ucap Memey hati-hati. Ia takut sahabatnya itu akan meneriakinya dan malah menjitak kepalanya.
Tidak ada jawaban. Dengan refleks Memey memutar gagang pintu dan pintu pun langsung terbuka. Tatapannya menelisik ke segala sudut kamar, namun tak mendapati Agatha sama sekali. Sambil melangkahkan kakinya dan memanggil nama Agatha, matanya tertuju pada lembaran tissue yang bertebaran di atas ranjang. “Agatha kemana, ya? Apa mungkin ia bersembunyi seperti batman?” ucapnya dengan tangan sambil memunguti tissue di atas ranjang.
“Apa-apaan batman? Kok gue jadi ngelantur, sih? Jelas-jelas ia sahabat gue yang cantik se-dunia.” Memey menggelengkan kepalanya karena ucapannya sendiri.
Tissue yang sempat ia pungut, ia masukin ke keranjang sampah yang berada di pojokan kamar.
“Mey. Lo ngapain di situ? Mau mulung?” ucap Agatha ketika keluar dari kamar mandi lengkap dengan kimono berwarna hijau stabilo dan dengan handuk yang menutupi kepalanya.
Suara Agatha yang tiba-tiba saja menggema dengan lantunan halus namun cukup memekikkan telinga, membuat Memey kehilangan kesadaran. Memey terkejut dan tangannya malah dikatup oleh keranjang sampah. “Oh my God! Tangan gue.” Memey berusaha melepas dan menarik tangannya dari dalam keranjang sampah. Agatha hanya tertawa geli melihat kekonyolan sahabatnya itu.
Tangan Memey yang terkatup keranjang sampah terlihat memerah di bagian pergelangannya. “Lo malah ngetawain gue. Untung aja itu bukan perangkap tifus.”
Agatha memperhatikan sahabatnya itu karena ucapannya yang selalu saja sembrono. “What? Sejak kapan jenis penyakit ada perangkapnya?” tanya Agatha karena mendengar kata tifus. Ya, tifus merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Rickettsia typhi atau R. Prowazekii. Bakteri ini bisa dibawa oleh ektoparasit, seperti kutu atau tungau pada tikus, dan kemudian menginfeksi manusia.
Memey mengelus tangannya yang terasa digigit semut api, namun tidak terlalu parah. “Ya iyalah. Penyebab tifus kan berasal dari tikus. Makanya gue bilang perangkap tifus. Itung-itung sambil belajar Biologi. Hehe.” Memey cengengesan.
“Oh begitu. Hebat juga lo, ya, Mey.” Agatha memuji Memey dan tersenyum sebelum menuju walk in closet-nya.
“Hahaha. Gini-gini gue juga hebat kalau pelajaran Biologi.” Memey membanggakan dirinya. “Lo ngapain ke kamar mandi?” tanyanya ketika melihat Agatha masih mengenakan kimono dan handuk di kepalanya.
“Lagi nyetak foto Tarzan dan Dora Emon,” jawab Agatha asal, “ya mandilah. Emang apalagi kalau bukan mandi?”
“Lo gak apa-apa, kan?” tanya Memey serius seraya memperhatikan Agatha dengan tatapan iba dan penuh arti.
“Kan udah dibilang kalau gue mandi. Kok muka lo jadi menyedihkan, sih?” kilah Agatha berusaha menyembunyikannya. Ia lalu segera menuju walk in closet sebelum Memey menyerbunya dengan beragam pertanyaan seperti sedang interview.
__ADS_1
Sejenak Memey terpaku dan tetap memperhatikan Agatha yang tengah menuju ke tempat pakaiannya. Hatinya terasa sakit saat mengetahui semua yang terjadi pada sahabatnya itu. “Gue yakin, lo pasti kuat. Lo bisa menjalani semuanya dengan semangat. Ada gue dan yang lainnya yang setia bersama lo,” ucap Memey.
Mendengar ucapan Memey, Agatha mengira bahwa Memey telah mengupingnya menangis tersedu-sedu sendirian di kamar. Ia mengelus dadanya agar air matanya tak lagi tertumpah. “Maafkan gue karena membuat kalian semua khawatir.” Agatha membatin.
Selesai berpakaian, Agatha mengambil handuk yang belum terpakai sama sekali olehnya. Ia membalikkan badannya dan berjalan mendekati Memey. “Lo ngomong apaan, sih? Gue baik-baik aja kok. Lebih baik lo mandi gih, biar gak oleng.” Agatha memberikan handuk pada Memey.
Memey menyambar handuk yang Agatha titahkan untuknya. “Oke gue mandi. Abis gue mandi, cerita sama gue. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Oke?” Tanpa menunggu jawaban dari Agatha, kini Memey melesat masuk ke kamar mandi begitu saja. Agatha hanya menggelengkan kepala. Ia tahu, jika sudah berurusan dengan Memey, semuanya pasti akan dikupas tuntas habis-habisan. Ia tidak bisa mengelak.
“Terima kasih, Mey.” Hanya kata itu yang ia ucapkan lalu duduk di depan meja rias untuk mengeringkan rambutnya.
Agatha telah selesai mengeringkan rambutnya, Memey juga keluar dari kamar mandi. “Tha, gue pakai baju siapa nih? Lo kan tau, kalau gue enggak bawa pakaian, ini juga gara-gara lo, nih. Masa iya gue pakai seragam lagi, sih?” kata Memey berdiri bertengger di samping ranjang Agatha.
“Sana ke bawah! Minjem daster Bi Momon, gih!” Agatha menjawab dengan asal tanpa menoleh pada Memey yang sedang berbicara padanya.
“Dih. Lo mah tega. Badan Bi Momon kan besar dari gue. Yang ada gue keliatan kayak tante kunti kalau pakai dasternya.” Memey duduk di sisi ranjang dengan pelan.
“Hahaha. Jangan nyebutin itu, nanti datang loh,” ucap Agatha. “Atau lo pinjem baju Mang Judas aja deh.” Agatha tetap menjahili Memey.
“Teganya, teganya, teganya, teganya. Hooooo pada diriku.” Memey melantunkan lagu dari pedangdut Meggy Z.
Dengan segera Memey menuju yang Agatha tunjukan. Setelah ia membukanya, ia dibuat heran karena semua pakaian Agatha yang serba mahal dan branded. “Ada baju rombeng, gak?” tanya Memey yang merasa enggan untuk memakai pakaian mahal itu.
“Makin ngawur lo, ya! Udah, pakai aja yang ada di situ. Daleman ada di laci. Bagian yang lo buka itu memang belum pernah sama sekali gue pakai. Lo tenang aja,” ucap Agatha. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil memainkan ponselnya.
Karena tidak ingin Agatha jengkel padanya, akhirnya Memey pun memakai semua yang ada di walk in closet itu. Ia memilih baju dan celana santai seperti Agatha. “Wahh, gue cantik juga ternyata kalau memakai barang yang orangnya juga sangat cantik.” Memey memuji dirinya saat memantaskan diri di depan cermin besar. “Tha, coba lo ngaca deh! Siapa tau kecantikan lo luntur karena terserap oleh gue. Hihi.”
“Ogah!” sergah Agatha. “Oh iya. Lo ada ngeliat paper bag gak di sana?” tanyanya. Sebelumnya, saat ia menyudahi makannya dan kembali ke atas, ia sudah menyiapkan beberapa pakaian, sepatu, dan juga tas jinjing untuk Memey. Sebagai hadiah karena telah peduli pada dirinya. Semua barang yang ia berikan untuk Memey, semuanya branded. Bukan maksud menyombongkan dirinya, tapi ia sadar bahwa berbagi rezeki itu sangat perlu, terlebih lagi itu sebagai ucapan terima kasihnya untuk Memey.
“Enggak, gue gak baper kok,” jawab Memey di luar pertanyaan Agatha.
“Kayaknya kita harus ke dokter deh,” ucap Agatha lagi.
“Lo sakit apa? Kepala lo pusing? Makanya jangan kebanyakan nangis.” Memey mengatakannya dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
“Mau gue lempar ke kandang macan di bawah?” ancam Agatha.
“Yaudah deh, gue diam aja.” Memey memilih diam, takut kalau-kalau Agatha menepati perkataannya.
“Sekali lagi gue tanya, ada liat paper bag gak?”
“Bawel ah. Ada kok. Emang ada apa dengan paper bag ini?” Memey meraih semua paper bag itu untuk ia perlihatkan pada Agatha.
“Itu semua buat lo.” Agatha menjawab dengan santai dengan kakinya ia goyang-goyangkan.
“Apa? Semua ini buat gue? Barang branded ini semuanya buat gue?” teriak Memey. Teriakannya menggema seluruh isi kamar Agatha. Agatha seketika menutup kupingnya.
“Jangan teriak ih. Kuping gue sakit, tau,” dengus Agatha. “Udah, lo terima aja. Santai aja sama gue!”
“Gue gak enak loh. Gue gak minta apa-apa. Gue jadi sahabat lo aja gue udah bersyukur banget. Gue itu tulus sama lo. Gak ada maksud apa-apa di balik semuanya ini. Lo kasih aja sama yang lebih membutuhkan,” ucap Memey dengan suara gemetar.
Agatha sudah mengira dari awal kalau Memey akan menolak semuanya. Tapi ia juga tulus memberikan itu semua pada Memey. “Gue ngasih itu juga tulus. Gue gak cari sensasi atau apapun.”
“Iya, gue tau, Tha. Tapi gue rasa lo terlalu baik sama gue. Gue takut dikira gue yang minta-minta.”
“Sejahat itukah gue? Apa pernah gue ngomongin lo di luaran sana, hah?” tanya Agatha, “kalau lo gak mau terima, berarti lo menganggap gue musuh lo!”
Deg! Ucapan Agatha berhasil membuat Memey bungkam. “Yasudah. Forget it! Sekarang lo cerita sama gue, kenapa sebelum gue masuk, lo malah nangis? Apa ada yang mengganjal di hati lo, hm?” tanya Memey serius berusaha mencairkan hati Agatha. Sebenarnya ia sudah mengetahuinya dari Bi Momon, namun ia ingin menanyakannya secara langsung pada Agatha.
Karena paksaan yang bertubi-tubi dari Memey, mau tidak mau Agatha menceritakan semuanya. Memey hanya bisa meneteskan air matanya. Karena tidak sanggup, Memey lantas memeluk Agatha berusaha memberikan kekuatan pada sahabatnya. Jika dihitung, sudah lebih dari dua kali Memey mengeluarkan air matanya hari ini. “Lo yang sabar, ya. Seperti yang gue bilang, gue akan selalu ada untuk lo. Untuk sahabat gue yang cantik dan tangguh ini.” Memey mengelus lembut punggung Agatha yang menangis.
“Thanks, sudah mau mengerti. Hiks...hiks...” ucap Agatha sambil menangis.
“Udah. Jangan menangis lagi. Mendingan kita berdoa, habis itu lo ajakin gue keliling rumah lo biar kayak para vlogger yang lagi house tour,” ucap Memey.
Agatha pun mengangguki permintaan Memey. Mereka berdua berdoa bersama sebelum mengajak Memey mengelilingi seisi rumahnya. “Baiklah. Ayo sekarang aja doanya!” ajak Agatha.
Berdoa pun selesai. Kini Agatha menepati janjinya untuk mengajak Memey berkeliling. Tak lupa Agatha membawa serta Bi Momon untuk menemani mereka. Mereka bercanda ria setelah tadi menangis bersama dan menutupi kesedihan yang telah lalu. Semua area rumah Agatha mereka telusuri, taman dan sekelilingnya juga tak lupa mereka susuri juga sembari mengabadikan dengan sebuah foto bersama.
__ADS_1
🕊️🕊️🕊️
To be continued...