
“Berburuk sangka hanya akan mengotori akalmu. Semakin sering kamu berburuk sangka, maka hal itu tetap akan menjadi kebiasaanmu”
“Tiada kata indah yang mampu terurai selain ucapan syukur pada yang Kuasa. Mampukan hatimu untuk selalu bersyukur atas apa yang telah kamu capai”
🕊️🕊️🕊️
Keesokan paginya di rumah keluarga William.
Kedua pasangan suami istri itu seperti biasanya telah berangkat pagi-pagi sebelum Agatha bangun. Nyonya Daria ke panti sedangkan suaminya ke kantor. Mereka berangkat masing-masing menggunakan mobil miliknya masing-masing.
Agatha yang telah bersiap-siap ke sekolah, turun ke dapur dan mulai sarapan. Pertanyaannya selalu membuat Bi Momon kasihan. Padahal, semalam Agatha tak ingin melihat orang tuanya.
Walaupun demikian, tak mengubah rasa sayang Agatha pada orang tuanya. Dia berpikir, akan ada saatnya mereka menyesali apa yang mereka perbuat.
Selesai sarapan, Agatha berangkat sekolah tanpa diantar mang Judas. Dia sendiri yang melarang mang Judas.
Sepeninggalan nona kecilnya berangkat, Bi Momon tengah sibuk merapikan meja makan lalu mencuci piring di wastafel. Mang Judas yang tiba-tiba menyelinap masuk ke dapur membuat Bi Momon tak sadar akan kedatangan sang penakluk jalanan dan gerbang rumah. Bi Momon sedang asyik mencuci piring tiba-tiba mencium aroma aneh yang seakan-akan membuatnya mual tujuh keliling.
“Eh, bau apaan ini ya? Aneh sekali baunya, kayak bau bangkai cicak,” ucap Bi Momon seraya mengendus-enduskan penciumannya yang mirip kucing sedang mengintai tikus.
Mang Judas yang mendengar gumaman Bi Momon hanya bisa tertawa menutup mulutnya takut kepergok. Kebetulan di meja makan ada botol Kiranti yang dibawa turun oleh Agatha dari atas dan sisanya lumayan untuk menghilangkan haus. Mang Judas yang tidak tau bahwa Kiranti adalah khusus wanita, dengan seketika dia meneguknya tanpa memberi jeda. Secepat kilat dia memusnahkannya.
“Hmm, Bi Momon Suromon tau sekali jika saya haus. Segar sekali jusnya,” ucap Mang Judas dan menjilati bibirnya yang masih menyisakan bekas Kiranti.
“Baru tau saya jika kunyit bisa dijadikan jus selain untuk masakan dan jamu gendong,” tambahnya lagi.
Perut Mang Judas kembung akibat meminum yang dia kira jus, padahal itu Kiranti. Tiba-tiba Mang Judas kentut dengan sangat keras seperti dentuman drum. Bi Momon kaget.
“Ampun Nyi Roro Kidul. Saya belum keliling negara kincir-kinciran, jangan sandera saya Nyi,” latahnya sambil menutup indra pendengarannya tanpa berpindah di depan wastafel.
Mendengar latahan Bi Momon, akhirnya Mang Judas meloloskan tawanya yang sedari tadi dikulumnya.
“Buahahhahahahhahaha.” Mang Judas tertawa dengan antusias seperti tanpa beban sedikitpun.
Sontak membuat Bi Momon memutarkan badannya mencari sumber suara yang menggema bagaikan raksasa sedang mengintai Timun Mas.
“Hoiiiii. Rupanya ente ya mambang kusut,” seru Bi Momon berkacak pinggang.
Namun Mang Judas masih saja tertawa melihat tingkah Bi Momon.
“Awas ente ya, ane siram ente pakai kuah bakso,” ucap Bi Momon sedang membuka panci bakso. “Eh, kok kuah bakso. Kan sayang kalo abis,” gumamnya dan menutup kembali panci yang berisi bakso.
Bi Momon baru sadar apa yang sedang Mang Judas pegang.
“Mambang apain itu botol?” tanya Bi Momon heran.
“Kagak diapa-apain, cuma mau pegang doang kok Bi Momon Suromon. Haha.” Mang Judas kembali tertawa.
“Bawa sini. Ane mau cek itu botol bocor apa kagak,” ketus bi Momon.
“Helehhh mak Erot galak amat. Hahaha.” Mang Judas kembali mengejek Bi Momon.
Bi Momon kaget karena isi dari botol itu ternyata sudah kering keriting.
“Mambang kemanain yang ada di sini?” tanya Bi Momon sambil menunjukkan botol Kiranti itu yang dipegang Mang Judas.
“Upppsss. Itu udah ane masukin ke bank makanan, Bi Momon Suromon,” jawab Mang Judas dan memegangi perutnya.
__ADS_1
Menyadari bahwa Kiranti itu sudah diminum Mang Judas, membuat Bi Momon tertawa terpingkal-pingkal seakan-akan dia balas dendam.
“Buahahahahaaa.” Bi Momon tertawa hingga terduduk dan memegangi perutnya yang hampir saja kram akibat tawanya sendiri.
“Lah, kenapa lagi itu orang tiba-tiba ketawa? Emangnya ada yang aneh sama saya?” batin Mang Judas.
Karena Bi Momon yang masih saja setia dengan gelak tawanya sampai-sampai mengeluarkan air mata, akhirnya Mang Judas bertanya. “Ente kenapa Bi Suromon? Kerasukan arwah duyung ya?” tanya Mang Judas heran.
“Enak saja nama ane jadi Suromon.” Bi Momon menjawab dengan ketus.
“Emang mambang kagak tau kenapa ane ketawa? Haha,” tambah Bi Momon lagi.
“Ya mana ane tau, kopyor. Ane bukan peramal,” jawab Mang Judas.
Karena Mang Judas yang masih bingung dengan tingkahnya, akhirnya Bi Momon mengambil botol Kiranti itu dan menyodorkan botol itu pada Mang Judas.
“Nih. Ambil dan baca sendiri! Jangan asal minum,” titah Bi Momon sembari menahan tawanya.
Seketika Mang Judas merampas botol itu kemudian membacanya dengan seksama. Matanya tiba-tiba membulat setelah tau Kiranti manfaatnya untuk apa dan siapa yang mengkonsumsinya. Melihat mang Judas membulatkan matanya, Bi Momon geleng-geleng kepala dengan tertawa kecil.
“Apa Mbok sudah tau manfaatnya?” ejek Bi Momon dengan memanggil Mang Judas dengan kata “mbok.”
“Lah! Bukannya ini jus? Pantas saja rasanya agak asing,” jawab Mang Judas.
“Ahahaha. Sejak kapan laki-laki minum Kiranti, Mbok? Itu khusus wanita yang haid, bukan untuk orang bertanduk,” ejek Bi Momon.
“Mbak mbok mbak mbok. Dasar kuping gajah!” dengus Mang Judas karena kesal akibat diejek Bi Momon.
“Huuuu. Siap-siap ya Mbok. Mbok akan berubah nama menjadi Mbok Kiranti. Haha. Dan selamat ente akan menjadi kemayu. Hihihi,” ejek Bi Momon lagi dan menakut-nakuti Mang Judas.
“Ini gara-gara ente Bi Momon Suromon. Kenapa kagak bilang-bilang?” kesal Mang Judas menyalahkan Bi Momon.
“Awas ente ya. Lagian siapa suruh simpan di meja.” Lagi-lagi Mang Judas mencerca Bi Momon.
“Lah, emang mau simpan di mana? Di selokan? Dasar mambang, eh Mbok Kiranti.” Bi Momon kembali mengejek Mang Judas.
“Sialan! Kutu keong!” umpat Mang Judas.
Merasa kesal karena diejek Bi Momon, akhirnya Mang Judas meninggalkan dapur dan kembali ke depan. Dia tidak habis pikir kenapa langsung saja menyeruput isi dalam botol itu tanpa mengetahuinya terlebih dulu. Dia menganggap itu adalah kebodohan yang tanpa disadari.
Selang beberapa menit, Bi Momon pergi ke gazebo depan. Di sekitaran gazebo banyak ditumbuhi tanaman-tanaman hias. Sambil membawa jus dan gunting tanaman di tangannya, Bi Momon sesekali terkekeh masih mengingat ulah Mang Judas yang mengira Kiranti adalah jus.
Sesampainya di gazebo, Bi Momon meletakkan jusnya di sana kemudian memotong tanaman yang sudah mulai rindang. Mang Judas yang melihat Bi Momon sedang memangkas tanaman, seketika dia mempunyai ide gilanya.
“Ane kerjain ente Bi Momon Suromon,” gumamnya pelan-pelan mau memulai aksi balas dendamnya.
Mang Judas mengendap-endap ke gazebo dan mulai mengambil gelas jus itu seketika meneguknya dengan kecepatan super.
“Hahaha. Tau rasa ente,” ucapnya dengan tawa licik. Setelah meneguk habis jus itu, Mang Judas kembali ke tempatnya semula.
Karena merasa haus setelah memerangi tanaman-tanaman hias itu, Bi Momon kembali ke gazebo berniat meminum jusnya. Alangkah kagetnya dia ketika gelas terlihat transparan tanpa penghuni. Dia meraih gelas itu dan menaik-turunkan ingin memastikan gelas itu bocor apa tidak, tetapi tidak menemukan tanda-tanda apapun.
“Lah, jus aing ngilang ke mana ya? Padahal kagak ada siapa-siapa bahkan gelasnya kagak terkontaminasi corona?” tanyanya pada diri sendiri kebingungan. Sesekali Bi Momon melihat ke bawah meja mana tau dia melihat jusnya sedang bersembunyi atau menemukan biang keroknya. Namun hasilnya tetap nihil. Mang Judas yang melihat tingkah Bi Momon yang celingak-celinguk hanya bisa tertawa di tempatnya.
“Ah, mungkin tadi aing lupa bawa kode pengamannya, jadi jusnya kabur,” ujar Bi Momon lagi lalu meninggalkan gazebo untuk menyiram tanaman di sekitaran gazebo.
Muncul lagi ide konyol bin edan dari Mang Judas ketika melihat Bi Momon menyiram tanaman menggunakan selang. Kebetulan sekali kerannya tak jauh darinya. Bi Momon pun memulai aksinya dengan berbagai macam tanaman dan mulai menyemprotkan air ke seluruh tanaman, sesekali bersenandung. Entah lagu apa yang sedang dia senandungkan. (Yang tau hanyalah Author. Haha). Akhirnya mang Judas mematikan keran air itu.
__ADS_1
“Ini kenapa lagi tiba-tiba kagak ada airnya? Apa jangan-jangan Nyi Roro Kidul lagi numpang mandi di mari? Hiiiiii ngeri cuy.” Bi Momon bergidik ngeri.
Ketika hendak bergegas ke dalam gazebo, airnya keluar karena mang Judas telah membuka kerannya.
“Loh, bukannya Nyai lagi mandi? Mandi aja Nyai, tolong jangan ganggu saya,” ucap Bi Momon meminta ampun. Padahal, jika dia tau pelakunya sudah pasti habislah Mang Judas dicincangnya lalu dimasukin ke empang.
Bi Momon mengangkat selang itu ke arah mukanya karena air kembali tidak mengalir. Bertepatan selang masih di depan muka Bi Momon, Mang Judas kembali membuka kerannya. Otomatis muka Bi Momon basah karena semburan air itu.
“Sialan lo Nyai ngerjain gue.” Akhirnya bahasa lo gue pun keluar dari mulut Bi Momon. Mang Judas yang melihat itu langsung mengejek Bi Momon.
“Huahahhaha. Rasain lo Bi Momon Suromon. Emang enak.” Mang Judas terpingkal-pingkal.
“Ooooo jadi elo biang keringatnya, eh biang keroknya?” Bi Momon berkacak pinggang setelah mengetahui pelakunya.
“Elo dendam sama gue, Mbok Kiranti?” tanya Bi Momon lagi.
“Hahaha. Rasain,” jawab Mang Judas sambil berlari meninggalkan Bi Momon.
“Gue kutuk lo jadi buntut ayam, Mbok Kiranti.” Bi Momon bergumam sendiri ketika Mang Judas pergi.
🕊️🕊️🕊️
Sementara di sekolah, jam istirahat pun tiba. Para murid bergegas ke kantin karena lapar dan haus. Yang masih di ruangan hanyalah para sahabat itu. Mulai dari Agatha, Welson, Memey, Nadine, Stevanie, Yadi, dan Dirgo.
“Eh, guys. Kalian mau ke kantin gak? Gue laper nih.” Dirgo membuka percakapan.
“Gak ah, males,” jawab Memey dan Agatha serentak.
“Yang lain gimana?” sambung Dirgo lagi.
“Boleh, asal lo yang traktir. Ahaha,” jawab Yadi kegirangan.
“Eleehhhh, emang bisa lo makan pasir, Yad?” tanya Memey yang membuat semuanya tertawa.
“Ampun dah nih anak. Yang diomongin apa, yang ditanyain apa.” Nadine menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Hahaha. Kayak gak tau Memey aja lo Nad,” celetuk Stevanie dan langsung menoyor kepala Memey.
“Lah, ngapain lo noyor kepala gue, Stev? Emang lo pikir ini latihan tinju?” tanya Memey kebingungan sambil memegang kepalanya yang ditoyor Stevanie.
“Makanya lo kalau orang lagi ngomong tuh didenger baik-baik. Jangan asal ceplos,” pungkas Agatha.
“Hehe, salah ya?” Memey bertanya dengan gelak tawanya.
“Dasar semprol!” pungkas Welson. Namun, Yadi membela Memey karena dia dari pertama masuk SMA telah memiliki rasa pada Memey, tapi dia menyembunyikannya.
“Udah, guys. Kasian si Memey,” ucap Yadi membela.
“Hahaha. Lo sama Memey mah satu paket, Yad. Sama-sama kupret.” Dirgo menghardik dan mentertawakan mereka berdua.
Karena Agatha dan Memey tak ingin ke kantin, akhirnya Welson, Nadine, Yadi, Stevanie, dan Dirgo meninggalkan Memey dan Agatha di ruang kelas.
Di perjalanan ke kantin, Welson menggandeng tangan Nadine dengan mesra. Yadi, Stevanie, dan Dirgo mendahului mereka berdua sehingga dengan leluasa Welson menggandeng Nadine.
“Wels, kapan kamu mutusin dia?” tanya Nadine pada Welson.
“Tunggu saatnya tepat, sayang. Nungguin misi ku selesai. Haha,” jawabnya pada Nadine.
__ADS_1
Nadine yang mendengar itu tersenyum senang. Nadine sama sekali tak tau apa yang sedang Welson pikirkan.
To be continued...