
Agatha hanya mampu memandang sepupunya dengan wajah yang penuh dengan linangan air mata.
“Supaya orang-orang yang merasa paling nggak layak seperti kita, paling hina sekalipun dapat datang pada-Nya,” lanjut Alzio.
“Aku bahkan juga merasa orang yang paling gagal. Aku nggak lulus ujian seleksi masuk perguruan tinggi dan masa depanku suram. Aku gagal. Apa Dia tetap mau menerimaku?”
“Cupit,” Alzio menepuk kepala sepupunya itu dengan lembut. “Kalo kamu mau percaya pada-Nya dan menyerahkan hidupmu seutuhnya pada-Nya, maka Dia yang akan menjamin masa depanmu. Apa kamu tau apa artinya menjamin? Dia tetap menanggung segalanya sekalipun orang itu rusak dan gagal. Dia sanggup memulihkan hidupmu, memulihkan hidup setiap orang yang merasa hidupnya tak berguna seperti apa yang kamu rasakan. Dia selalu punya rencana yang indah untuk anak-anak-Nya.”
“Mengapa Tuhan Yesus sangat mengasihiku?” Agatha tetap meminta penjelasan pada sepupunya.
“Entahlah, dan itu semua nggak ada alasan. Cuma karena kasih Allah itu adalah kasih. Yang harus selalu kamu ingat, Tuhan mengajarkan kita untuk selalu menerapkan hukum cinta kasih.”
“Jadi, sekarang aku harus gimana? Aku ingin mengenal Dia dan menerima anugerah keselamatan dari-Nya.”
“Berdoalah dari lubuk hatimu yang paling dalam. Bilang bahwa kamu orang berdosa dan mau meninggalkan setiap perbuatan dosamu yang telah lalu. Undanglah Dia untuk masuk ke dalam hatimu untuk memerintah hidupmu selamanya. Bila perlu, hari minggu selesai kita misa, kamu datanglah kepada Pastor untuk mengakui semua kesalahan, biar dia yang mendoakanmu. Terimalah rekonsiliasi.”
“Mau nggak kamu berdoa untukku?” tanya Agatha karena ia masih ragu-ragu.
“Oke, sekarang kita doa bersama. Kamu tirukan aku, ya.”
Agatha mengangguk dan mengambil sikap berdoa.
“Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus. Amin. Tuhan Yesus Kristus, aku tau dan sungguh menyadari bahwa aku adalah orang yang berdosa. Tapi mulai saat ini, aku mohon dengan rahmat dan kemurahan-Mu, aku mau meninggalkan semua dosaku dan cara hidupku yang lama. Aku mengakui dan sangat menyesal dengan setiap dosa yang telah kuperbuat. Aku percaya bahwa Engkau telah mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosa umat manusia. Dan aku percaya bahwa Engkau telah dibangkitkan dari maut dan telah naik ke dalam kerajaan surga untuk menyediakan tempat bagiku dan bagi semua orang serta mematahkan setiap belenggu dosa dan kuasa kegelapan. Yesus, datanglah dan tinggallah dalam hatiku, jadikanlah hatiku seperti hati-Mu. Aku mengundang Engkau untuk masuk dan memerintah dalam hatiku sepenuhnya. Ubahkan aku untuk menjadi manusia yang baru dan ajarkan aku untuk mengasihi-Mu dan juga mengasihi sesama. Tuhan Yesus, semua doa dan permohonanku ini, kuserahkan ke dalam tangan-Mu yang kudus. Tuhan, Engkau layak kami puji dan kami muliakan, demi Yesus Kristus, Tuhan dan pengentara kami. Amin.”
Setelah menutup doa dengan tanda kemenangan Kristus, Agatha merasakan damai dan kelegaan yang luar biasa mengisi hatinya. Ia sangat bersyukur memiliki sepupu yang mau membimbing dan mengajarkan banyak hal tentang kebaikan. Kini, Agatha telah merasa dibebaskan dan segala bebannya diangkat.
Damai, indah, dan haru. Agatha hanya bisa menangis, menangis, dan menangis atas apa yang telah ia rasakan saat ini. Ia teringat semuanya dan ingat masa lalunya. Ia telah disakiti, tetapi ia memutuskan untuk mengampuni. Mengampuni Nadine, Welson, orang tuanya dan bahkan ia dapat berdamai dengan dirinya sendiri. Ia tak mau lagi terikat oleh dosa masa lalu. Bi Momon yang sedari tadi menguping kedua majikannya itu, tanpa terasa ia juga menangis terharu. Bi Momon menerobos masuk sambil membawakan minum untuk Agatha dan juga Alzio.
“Non…. Bibi rindu.” Bi Momon langsung memeluk Agatha setelah nampan berisi air minum sudah diletakkan di meja.
Agatha makin menangis melihat semuanya. Bi Momon yang begitu menyayanginya sewaktu ia masih kecil, dan sampai sekarang pun rasa itu tetap sama.
Agatha menyadari bahwa memang dirinya pernah jatuh dalam dosa ***, tapi ia tahu dan harus bangkit serta tak membiarkan bayang dosa masa lalu terus menghantuinya, karena ia tahu bahwa dirinya berharga bagi Tuhan, itu lebih dari cukup.
Agatha juga yakin, masa depannya akan cerah bila berjalan bersama Tuhan. Tuhan menjamin semua kehidupannya bahkan sekalipun kedua orang tuanya sudah bercerai. Agatha tahu, ia punya Tuhan yang kekal dan selalu mengasihinya. Memberinya kasih yang tiada batas dan tiada berkesudahan.
Agatha kembali menangis, menangis haru dan menangis menyesali semua masa lalunya. Melihat situasi Agatha sedang menangis, Alzio juga Bi Momon tak tahu harus berbuat apa. Ia lalu mengambil gitarnya yang ia simpan di kamar Agatha lalu menyanyikan lagu rohani.
“Hatiku tenang berada dekat-Mu, Kaulah jawaban hidupku. Hatiku tenang berada dekat-Mu, Kau yang plihara hidupku. Pertolongan-Mu begitu ajaib, Kau t’lah memikat hatiku. Di saat aku tak sanggup lagi, di situ tangan-Mu bekerja. Pertolongan-Mu begitu ajaib, Kau t’lah memikat hatiku. Kini mataku tertuju pada-Mu, kurasakan kasih-Mu Tuhan…”
🕊️🕊️🕊️
__ADS_1
Keesokan harinya, Alzio memandang Agatha tanpa berkedip seperkian detik. Agatha tampak manis dan berbeda. Rambutnya kembali hitam karena sebelumnya Bi Momon telah memanggil tukang salon ke rumah untuk mengurus kebutuhan Agatha. Agatha telah kembali dengan rupa dirinya yang semula, namun suasana hatinya telah begitu sejuk. Inilah sosok Agatha yang selama ini Alzio rindukan. Ia memakai dress dan high heels yang selama ini ia rindukan, sangat cantik seperti dulu, pikirnya.
“Ahh, Cupit, akhirnya kamu kembali…,” ucap Alzio saking senangnya melihat Agatha yang sudah belajar menerima semuanya.
“Nggak,” ujar Agatha sambil menggeleng. “Ini bukan diriku yang dulu. Hidupku tak akan sama…”
Alzio tertawa lega. Akan tetapi, di satu sisi ia tak ingin melihat Agatha harus jatuh lebih dalam lagi untuk kedua kalinya. Ia merasa punya tanggung jawab untuk sepupunya itu.
“Udah siap? Ayo, berangkat,” ajak Alzio.
Alzio ingin mengajak Agatha menemui daddynya di kantor. Memang, semenjak Agatha minggat dari rumah, daddynya lebih banyak menghabiskan waktu di kantor. Pulang ke rumah jika ada sesuatu yang penting untuk diambil.
“Eitss, tunggu dulu,” ujar Agatha tiba-tiba.
“Apa ada yang ketinggalan?”
“Nggak, aku hanya ragu,” ucap Agatha jujur. “Aku takut, gimana kalo Daddy marah…”
Alzio menatap mata Agatha dengan lekat. “Tha, kita kan udah ngomongin ini semalaman.”
“Aku tau, tapi…”
“Hallo,” sapa Alzio setelah menunggu beberapa detik. “Iya, Uncle, ini Zio.
“Apa sudah ada kabar tentang sepupumu, Zio?” tanya Tn. Thomas. Alzio dan Agatha saling memandang.
“Uncle, apa Uncle berharap Agatha kembali? Kalo seandainya Agatha pulang, apa yang akan Uncle lakukan?” Di seberang sana hening, dan Alzio juga sepupunya juga menahan napas.
Beberapa detik hening, Tn. Thomas akhirnya bicara kembali. “Uncle… Uncle akan memarahinya. Uncle akan memukulinya.”
Alzio mendelik dan menelan ludah mendengar mendengar jawaban dari omnya itu. Jika begitu keadaannya nanti, mungkin akan lebih baik ditunda dahulu pertemuan Agatha dengan daddynya. Terdengar ******* napas berat yang terdengar di seberang sana. Dan daddynya Agatha lalu berkata lagi, “Kalau sepupumu pulang, Uncle akan memeluknya.”
Suasana hening kembali. Sebuah keheningan yang lebih panjang dari sebelumnya.
“Beneran, Uncle? Uncle nggak akan marah?” tanya Alzio dengan suara meninggi.
“Ada apa, Zio? Apa kamu menemukan sepupumu?”
“Emm, oke, Uncle sampai ketemu nanti.”
TUT!! Alzio mematikan sambungan telepon. Daddynya Agatha hanya bisa mengernyit di seberang sana. Tak menyangka bahwa anak dari adik sepupunya itu bisa tidak sopan juga.
__ADS_1
“Apa yang dikatakan Daddy, Zio?” tanya Agatha yang kelihatan khawatir.
“OKAY!! Ayo kita ke kantor sekarang. Uncle ingin ketemu sama kamu!”
🕊️🕊️🕊️
Daddynya Agatha sedang membaca di ruang pribadinya menggunakan waktu istirahat kantor saat Alzio dan Agatha datang. Para karyawan Tn. Thomas menatap kedatangan mereka dengan senyum menyadari anak dan keponakan dari pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.
“Permisi, Daddy di mana, Uncle?” tanya Agatha pada sekretaris daddynya.
“Ada di dalam. Tuan kayaknya akhir-akhr ini sering mengigau sambil menyebutkan nama Nona,” jawab sang sekretaris.
Alzio dan Agatha saling pandang. Tampak adanya sinar ketakutan dan secercah pengharapan berurai jadi satu yang terpancar dari wajah mereka. Akan tetapi, mereka tahu tak mungkin mundur sekarang. Inilah waktunya. Sekarang, atau bahkan mungkin tidak sama sekali.
Daddynya sedang membawa sebuah buku tebal, mungkin merupakan catatan keuangan perusahaan atau yang lainnya, dengan posisi membelakangi meja dan menghadap ke jendela. Agatha masih ingat sekali, itulah posisi favorit daddynya jika sedang serius dan tak ingin diganggu. Agatha menatap Alzio dengan wajah yang makin memelas. Sedangkan Alzio hanya bisa mengelus pelan pundak sepupunya. Ia lalu maju duluan sementara Agatha berada dekat pintu.
“Uncle,” sapa Alzio dengan pelan. Tn. Thomas mengangkat wajahnya lima senti dari buku tebal di pangkuannya. Ia menyipitkan matanya dan memutar kursinya ke depan. Dipandanginya Alzio dengan kaku seperti biasa dari atas ke bawah.
“Tumben ke kantor, Uncle? Ada apa?”
“Mmm…,” Alzio menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Zio khawatir sama, Uncle. Karena Uncle udah jarang pulang ke rumah,” terang Alzio seadanya.
“Kamu nggak perlu mencemaskan, Uncle. Uncle di sini hanya mengusir rasa rindu…”
“Iya, Uncle,” Alzio nyengir. “Apa Uncle sibuk?”
“Ada apa, bilang aja. Tapi Uncle sedang tidak ingin diajak futsal ataupun golf hari ini,” terang beliau sembari membalik halaman berikutnya dari buku tebal itu.
“Nggak, Uncle.” Lagi-lagi Alzio hanya menyengir, memamerkan sederetan gigi-gigi putihnya pada omnya yang entah peduli atau tidak.
“Bukan Zio yang mau berbicara, tapi seseorang. Cupit…” Alzio memanggil Agatha untuk masuk dan mendekat. Agatha masuk dengan langkah perlahan-lahan. Ia juga takut menghadapi sosok di hadapannya yang adalah daddynya sendiri.
Saking kagetnya melihat kedatangan putri semata wayangnya, beliau sampai menjatuhkan buku tebalnya ke lantai hingga menimbulkan suara bedebam yang cukup keras. Beliau memandangi putrinya tanpa bergerak dalam beberapa detik.
“Ini Agatha, Uncle,” ucap Alzio sambil tersenyum manis.
“Daddy…,” panggil Agatha dengan lembut.
🕊️🕊️🕊️
To be continued…
__ADS_1