Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Hari Terakhir di Kota L-Main di Pantai.


__ADS_3

Bi Inem merasa sungkan atas pemberian anak majikannya. Menurutnya, keluarga Dirgo adalah orang yang sangat ramah pada siapapun, baik yang sudah dikenal lebih jauh maupun yang baru saja kenal. Bi Inem awalnya menolak pemberian Dirgo, namun karena Dirgo tetap memaksanya untuk menerima pemberian darinya, mau tidak mau Bi Inem pun menerimanya. Agatha menatap bangga dan terperangah melihat sikap Dirgo yang berbeda dari Welson, begitu juga dengan Nadine dan Memey, mereka tak kalah terperangah dari Agatha.


“Baru kali ini aku melihat orang yang begitu berbeda perbuatannya. Dia kelihatan sangat dewasa. Beruntung sekali orang yang akan menjadi pasangannya kelak. Seandainya Welson juga seperti itu...” Agatha membatin dan menatap ke arah Dirgo dengan mengulas sebuah senyuman terindahnya, namun perhatiannya teralihkan di kala Memey membuyarkan pandangannya. Agatha terlonjak kaget karena Memey menyenggol tubuhnya secara tiba-tiba. “Kenapa nyenggol-nyenggol?” tanya Agatha pada Memey dengan memasang wajah masam.


“Biasa aja kali tuh wajah.” Memey membuang pandangannya dari Agatha, sekilas ia menatap Yadi yang tengah tersenyum padanya. Lagi-lagi Memey mengalihkan pandangannya ke depan. “Kenapa sih selalu aja ngeliat wajah lo? Ditambah lagi senyum gak jelas, bikin malas ih,” ucap Memey tanpa menatap Yadi. Yadi semakin tersenyum melihat Memey yang kesal padanya.


“Ya karena gue ada, makanya lo selalu ngeliat wajah gue. Kecuali jika gue mati, baru lo bisa jauh dari wajah gue,” jawab Yadi tersenyum simpul.


Suasana ruang tamu villa itu di siang ini sangat terasa hidup karena kehebohan mereka. Bi Inem juga merasa sangat terhibur dengan kehadiran Dirgo dan teman-temannya, karena sebelumnya mereka hanya tinggal berdua saja di villa itu. Tetapi, hari ini juga adalah hari terakhir mereka berada di villa karena pagi minggu mereka akan kembali lagi ke kota asal mereka, ke kota A.


Sembari menunggu waktu sore tiba, mereka memilih untuk bercengkerama di ruang tamu. Saling berceloteh satu sama lain, kemudian tertawa bersama. Momen-momen ini sangat Agatha nantikan. Setidaknya, ia bisa kembali melupakan kisahnya di rumah. Akan tetapi, sebentar lagi mereka akan kembali ke kotanya, ada rasa khawatir juga yang dirasakan Agatha. Akankah ia mampu menghadapi sikap orang tuanya? Itulah yang ada dipikirannya sekarang.


Sedang asyik bercengkerama, muncullah Bi Inem dari arah dapur dengan membawa minuman dan cemilan untuk menemani mereka mengobrol. Dari jauh, Bi Inem tersenyum dan menggelengkan kepala mendengar obrolan majikan dan teman-temannya, yang menurutnya ada-ada saja.


“Permisi anak-anak cantik dan ganteng,” ucap Bi Inem ketika sampai di sofa, “ini Bibi bawakan minuman dan cemilan untuk kalian semua.” Bi Inem tersenyum ramah kemudian meletakkan minuman dan cemilan itu di atas meja. Belum ada perintah dari Bi Inem, tangan Memey sudah berkuasa duluan meraih cemilan yang dihidangkan Bi Inem. Agatha melotot ke arahnya. “Mey, gak sopan!” tegurnya pada Memey dengan sedikit berbisik dan merapatkan giginya. Namun, Bi Inem mendengar apa yang Agatha ucapkan, lantas Bi Inem pun tersenyum.


“Sudah, tidak apa-apa. Kan Bibi bawa ke sini memang untuk di makan.” Bi Inem tersenyum pada Agatha. “Ayo, silakan dinikmati cantik dan ganteng!” tawar Bi Inem pada mereka semua.


“Terima kasih, Bi. Tapi nanti kalau dia keseringan gak bagus, Bi,” jawab Agatha seperti mengadu.


“Sudah, yang penting nanti kalau sama orang lain jangan sampai. Iyakan, Neng?” Bi Inem meminta persetujuan pada Memey.


“Nah, dengar itu, Tha. Bibi aja tau kok,” ucap Memey seraya mengunyah cemilan yang sedang berada di dalam mulutnya.


 🕊️🕊️🕊️


Siang hari berlalu dan bersambut sore. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul empat lebih lima menit (16.05). Mereka telah bersiap akan bermain di pantai. Agatha, Memey, dan Nadine telah mengenakan pakaian khusus di pantai dengan bagian bawah dililitkan dengan kain selutut. Begitu juga dengan Welson, Dirgo, dan Yadi. Mereka bertiga juga telah mengenakan boxer dengan bagian atas dikenakan singlet. Semuanya telah siap dengan rencana mereka.


“Oh my God! Terlihat begitu menggoda!” Welson terperangah serta membulatkan matanya menatap Agatha yang begitu sexy dari yang biasanya. Pikiran liarnya sudah menari-nari di kepalanya. Tubuhnya pun keringat dingin melihat pemandangan yang begitu menggugah selera jiwa kelakiannya. “Uh, aku bisa gila jika melihatnya terlalu lama.”


Agatha menjadi salah tingkah karena terus ditatap Welson dengan tatapan nelangsa. “Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Agatha memecahkan khayalan Welson. Welson datang menghampiri Agatha yang tengah menatapnya dengan heran.


“Kenapa kamu begitu menggoda, sayang?” tanya Welson berbisik-bisik di telinga Agatha. Agatha seketika merinding karena hembusan napas Welson.


“Mulai lagi kan mesumnya.” Agatha menjauhkan tubuhnya dari Welson. Secepat kilat Welson menangkap tangan Agatha dan membawanya mendekap di dadanya. Welson sampai melupakan bahwa teman-temannya yang lain masih bersama mereka berdua. Pikirannya yang sudah liar membuatnya bertindak sembrono dan di luar akal sehatnya. Welson ingin memulai aksinya untuk mencium Agatha, namun aksinya gagal ketika Dirgo menyadarkannya.


“Ekhem! Ayo kita ke pantai!” ajaknya yang memang sengaja untuk mengalihkan perhatian Welson. Dirgo pun berlalu setelah menggagalkan aksi Welson. Agatha bernapas lega serta mengelus dadanya karena Dirgo telah menyelamatkan hidupnya dari terjangan singa buas.


“Maaf, sayang. Aku lupa jika mereka masih di sini.” Welson terlihat menggarukkan kepalanya sembari cengar-cengir tidak jelas.


Agatha berlalu menyusul Nadine dan Memey yang sudah keluar villa, meninggalkan Welson yang masih berdiri di tempatnya tanpa memindahkan posisinya. Yadi yang masih berada di dalam villa, seketika menggelengkan kepalanya saat melihat ke arah Welson. ada sesuatu yang aneh di sana.

__ADS_1


“Bro, benda pusaka lo kenapa?” Yadi tertawa setelah melontarkan pertanyaannya. Menyadari yang dimaksud oleh Yadi, lantas Welson menutup bendanya dengan kedua tangannya. Ia tersenyum menyeringai.


“Wajar dong. Gue kan normal.” Hanya kata-kata itu yang Welson ucapkan, kemudian menyusul yang lainnya ke pantai.


Sesampainya di pantai, ia mencari keberadaan Agatha di sana. Namun, orang yang sedang dicarinya tidak menampakkan batang hidungnya. Ia menatap ke segala penjuru pantai, namun tetap tidak kelihatan.


“Nad, Agatha ke mana?” tanyanya pada Nadine.


Nadine menoleh dengan lemas. “Gak tau! Tadi aku liat jalan sama Dirgo ke arah sana, tapi gak tau ke mana,” ucapnya serta menunjuk ke arah Agatha dan Dirgo pergi.


“Serius kamu gak tau?” tanya Welson memastikan kebenarannya. Hatinya hampir saja tersulut emosi mendengar pacarnya yang pergi hanya berduaan dengan Dirgo, tanpa dirinya ataupun yang lainnya.


“Lah, ngapain aku bohong? Bukannya ini kesempatan untuk kita berdua bisa empat mata?” Nadine menatap Welson dengan wajah cemberut.


“Empat mata? Gimana maksudnya?” tanya Yadi yang tak tau dari mana arah ia muncul.


“Bukan apa-apa, itu hanya judul sebuah lagu,” jawab Nadine sekenanya karena kaget Yadi yang datang tiba-tiba.


“Oh, hanya lagu. Kirain mata lo mau ditambah lagi dengan telor mata sapi. Hahaha.” Yadi tertawa.


“Bocah edan!” timpal Welson.


“Wah, kapan mau ke Jerman? Ikut dong, gue ikut,” ucap Memey yang datang bersama Agatha dan Dirgo.


“Loh, kalian bertiga dari mana? Gue nyusul gak ketemu,” ujar Yadi.


“Tuh, dari sana,” tunjuk Dirgo ke arah penjual kelapa muda yang ada di ujung matahari terbenam.


Selesai menenggak air kelapa muda, mereka semua mulai bermain. Dari kejar-kejaran sampai petak umpet pun mereka bantai. Hingga tiba pada saat Agatha mengejar Dirgo, kakinya tak sengaja tersenggol kain pantainya yang sudah kedodoran karena telah basah oleh air laut. Untung saja ia tidak terjatuh ke pasir melainkan ke tangan Dirgo. Tatapan manik indah mereka beradu cukup lama hingga tak sadar ada satu mata yang menatapnya dengan darah yang sudah mendidih. Siapa lagi jika bukan Welson, pacarnya Agatha.


“Kamu sangat cantik jika sedang seperti ini,” ucap Dirgo pelan seraya menyunggingkan sebuah senyuman. Namun ucapannya terhalau oleh debur ombak yang memecah pantai sehingga Agatha tidak mendengarnya dengan begitu jelas. Kata yang dapat Agatha tangkap adalah cantik, itu pun hanya samar-samar yang terdengar di telinganya.


Agatha tersenyum dan juga membatin. “Oh Dewi Fortuna, wanginya ini yang membuatku terpesona.” Agatha merasakan penciumannya sudah terkontaminasi oleh wangi Dirgo. Wangi yang membuatnya seolah menjadi candu.


“Lepaskan!” seru Welson ketika sampai di tempat Agatha dan Dirgo. Mereka berdua kaget. Dirgo dengan refleks melepaskan Agatha sehingga Agatha terpental ke pasir.


“Aw!” Agatha memekik ketika belakangnya mengenai pasir. Untung saja pasir, bagaimana jika saja itu batu? Pikirnya di saat ia terbaring indah.


“Ya Tuhan. Aku minta maaf. Sungguh, aku tak sengaja.” Dirgo berinisiatif mengangkat Agatha. Belum juga tangan Dirgo meraih tubuh Agatha, Welson sudah menghardiknya dan menjauhkan tangan Dirgo.


“Minggir lo! Gue pacarnya,” ucap Welson sinis. Dirgo tidak menjawabnya dan tidak ingin membuat keributan, ia lebih memilih menuruti perkataan Welson ketimbang membuat masalah nantinya.

__ADS_1


“Kamu gak kenapa-kenapa, kan?” Welson mengangkat tubuh Agatha dan membersihkan pasir yang menempel di tubuh Agatha. Kini hanya mereka berdua yang di sana. Dirgo, Yadi, Memey, dan Nadine sudah ke warung untuk mengistirahatkan tubuhnya sambil menikmati mie rebus. Mereka kelelahan karena asyik bermain kejar-kejaran.


Welson membawa Agatha duduk di atas pasir tempat di mana Agatha terjatuh. Welson mengambil ponselnya yang ia gantungkan di leher. Sebelumnya Welson sudah mengambil langkah aman pada ponselnya yang sudah ia pasang dengan pengaman waterproof.


“Sayang, liat ke sini!” pinta Welson.


Agatha pun mengindahkan perintah Welson untuk menatapnya. “Ada apa?” tanya Agatha.


Dengan kekuatan super, Welson mencuri kesempatan di saat Agatha sedang menoleh ke arahnya, mengecup bibir Agatha kemudian mengambil fotonya dengan menggunakan ponsel.


“Sudah jadi. Lihatlah, kamu sangat cantik di sini.” Welson dengan bangganya menatap foto mereka berdua.


“Curang!” ucap Agatha, “coba ku lihat!”


Welson pun memberikan ponselnya pada Agatha, namun tetap ia yang memegangnya karena takut Agatha akan menghapusnya. “Kamu lihat saja, jangan di pegang!” ucapnya.


Agatha mengerucutkan bibirnya karena kesal. “Hapus itu, aku malu!” ujar Agatha ketika melihatnya dengan jelas.


“Gak mau. Ini sangat bagus, sayang.” Welson mengusap rambut Agatha lalu merengkuhnya supaya bersandar di lengannya.


“Kebiasaan. Kamu selalu saja mesum. Pikiranmu sudah terkontaminasi virus.” Agatha mencubit lengan Welson kecil-kecil dan berulang kali ia melakukannya. Bukannya kesakitan, yang ada Welson malah tertawa karena menahan geli.


“Haha, sayang cukup. Haha.” Welson tertawa begitu nikmat, senikmat cokelat panas.


Karena kasihan pada Welson yang terus tertawa, akhirnya Agatha menghentikan aksinya di lengan Welson. “Itu hukuman buat kamu. Awas kalau nakal lagi. Ingat, ini belum seberapa!” ancamnya pada Welson.


“Aku juga akan menghukummu, sayang.” Welson tersenyum licik penuh maksud. Matanya sudah liar menatap Agatha mulai dari ujung kaki hingga kepala.


“Dadamu semakin kencang dan berisi.” Suatu ucapan yang membuat Agatha tanpa sengaja memukul benda pusaka Welson. Agatha kaget dan bergidik ngeri karena telah menyentuh benda pusaka Welson.


Agatha menggerutu dalam hati, “astaga tangan ini.” Agatha membersihkan tangannya dengan kain yang melilit di pinggangnya.


“Kau menyentuh pisangku. Dan kau akan ku hukum.” Baru saja berucap seperti itu, Welson sudah menghujani Agatha dengan ciuman. Agatha kaget karena lagi-lagi mendapat serangan yang tiba-tiba. Ia berpikir, ini adalah karena ulahnya sendiri telah dengan lancang memukul benda pusaka Welson.


Langit menghitam tanda-tanda akan turunnya hujan. Pasangan kekasih itu masih saja bercumbu mesra tanpa menghiraukan panggilan teman-temannya supaya mereka juga kembali ke villa karena cuaca memburuk. Dan turunlah hujan. Ciuman semakin memanas bahkan hujan pun kalah oleh aksi mereka.


Agatha meninju pelan perut Welson agar melepaskan ciumannya dan kembali ke villa. Agatha kembali merangkak naik ke gendongan Welson karena ia ingin membalas perbuatan Welson yang selalu saja nyosor duluan. “Ayo gendong aku!” perintahnya.


Bukannya menolak, justru Welson bersorak kegirangan penuh kemenangan. “Baiklah, Tuan Putri. Aku akan senang melakukannya tanpa perintah darimu.” Welson melangkahkan kakinya meninggalkan pantai dan kembali ke villa.


🕊️🕊️🕊️

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2