Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Sendu.


__ADS_3

“Oke, Non. Saya bakalan diam.” Jawab Mang Judas.


“Jangan bergerak!” seru Agatha.


“Ini orang udah sadar apa setengah sadar sih? Masih aja galak-galak.” batin Mang Judas.


“Baik, Non.” Jawab Mang Judas patuh.


Kini Mang Judas berdiri bagaikan patung pajangan sambil menunggu Bi Momon kembali dari dapur. Jika saja Mang Judas meninggalkan Agatha sendirian, maka Bi Momon akan membuka kelas bedah secara gratis bila Agatha ditinggalkan, sementara dirinya masih mengambil makanan. Tak lama kemudian, Bi Momon pun kembali dengan membawa makanan untuk Agatha.


“Ini makanannya, Non.” Ucap Bi Momon seraya meletakkan makanan itu di atas meja.


“Iya, Bi. Makasih.” Jawab Agatha.


“Makan yang banyak Non, biar kagak sakit lagi.” Bi Momon tersenyum lalu duduk di sofa.


“Iya, Bi. Makasih.” Jawab Agatha lalu menyuapkan makanan ke mulutnya.


“Apa masih pusing, Non?” tanya Bi Momon.


“Udah gak apa-apa, Bi. Cuma pusing dikit kok.” Agatha kembali mengukir seulas senyum meyakinkan Bi Momon.


“Syukurlah jika begitu, Non.” Ujar Bi Momon yang juga ikut tersenyum.


“Oiya, Non. Apakah tadi malam Non melewatkan makan malamnya lagi?” tambah Bi Momon.


“Iya, Bi. Lagian selera makan juga ilang jika merenungi nasib aku, Bi.” Jawab Agatha datar.


“Jangan terlalu dipikirkan, Non. Namanya juga hidup. Ada saat senang, ada juga saat bersedih. Tak selamanya seperti itu, asalkan kita tetap berserah diri pada yang Kuasa. Tuhan lebih mengerti apa yang Non pikirkan saat ini. Mungkin saja Tuhan telah mempersiapkan kebahagiaan Non dikemudian hari.” Jelas Bi Momon.


“Dan jangan sering melewatkan makan, Non. Nanti yang ada malah repot jika Non harus sakit lagi. Apa Non mau jika tuan dan nyonya marah sama Non?” tambah Bi Momon lagi.


Tak berselang waktu, kini Agatha menghentikan makannya. Jika mengungkit masalah orang tuanya, pikirannya entah melayang kemana, selera makan pun ikut melayang.


“Bahkan Bi Momon yang bukan siapa-siapa lebih peduli dibandingkan mereka.” Batin Agatha.


“Sudahlah, Bi. Jangan terlalu mengkhawatirkan aku.” Ucap Agatha dengan tatapan nanar.


“Gimana kagak khawatir, Non. Non sudah Bibi anggap sebagai ponakan Bibi sendiri, Non. Bibi di dunia ini hanya sebatang kara semenjak keluarga Bibi terkena musibah, Non.” Jawab Bi Momon yang kini tanpa celah sedikitpun air matanya sudah mengalir dengan sendirinya.


“Non masih beruntung masih ada yang peduli. Bibi waktu itu susah payah mencari kerja demi bertahan hidup, Non. Ke sana kemari selalu di tolak, bahkan dihina dan disiram pakai air. Sanak family Bibi yang lainnya sama sekali tak menghiraukan Bibi. Dan beruntungnya pada suatu hari, Bibi bertemu dengan tuan dan nyonya yang kebetulan sedang mencari asisten rumah tangga. Bibi diajak ke rumah ini, dan mereka memperlakukan Bibi seperti keluarganya sendiri. Maka sampai saat ini, Bibi selalu setia pada tuan dan nyonya. Karena mereka juga Bibi bisa bangkit dari keterpurukan masa itu, Non.” Tambahnya lagi.


Kini, Agatha tanpa terasa meneteskan air matanya mendengar cerita Bi Momon.


“Ternyata Bi Momon lebih menderita dibandingkan aku.” Agatha membatin.

__ADS_1


“Terima kasih, Bi. Terima kasih telah peduli dan menganggap aku sebagai keluarga Bibi sendiri.” Ucap Agatha tercekat karena menahan isak tangisnya.


“Justru Bibi yang berterima kasih sama kalian, Non.” Jawab Bi Momon seraya menepis air matanya.


Saking asyik bercengkerama, sampai-sampai mereke (Bi Momon dan Agatha) tak menghiraukan Mang Judas yang sedari tadi mematung dan menyaksikan pertunjukan itu. Mang Judas yang sudah pegal-pegal, kini mengeluarkan suaranya.


“Ekhem.” Mang Judas berdehem.


Bi Momon yang sengaja ingin menjahili Mang Judas, dengan sengaja tak memperdulikan deheman Mang Judas. Dia berpikir, jika menjahili Mang Judas, pikiran kalut antara Agatha dan dirinya akan terobati, jadi tidak harus bersedih lagi.


“Eh, Non. Apa Non mendengar suara deheman barusan?” tanya Bi Momon.


Agatha yang sudah tau akan niat Bi Momon, kini menjawab.


“Eh, ada kok, Bi. Tapi kok orangnya gak ada ya? Apa jangan-jangan...” Agatha mengantungkan kalimatnya karena telah dihardik Mang Judas.


“Jangan-jangan hantu.” Hardik Mang Judas kesal.


“Loh, Non. Ada lagi suaranya. Tapi orangnya di mana, kagak keliatan?” sambung Bi Momon.


“Iya ya, Bi.” Agatha mengiyakan.


“Kalian ini kalau bercanda jangan bawa-bawa hantu. Saya bukan hantu.” Pungkas Mang Judas.


“Gak ada kok, Non.” Jawab Mang Judas santai.


“Kenapa masih berbicara, Mang? Apa Mang Judas mau melihat nampan ini bergoyang?” Tanya Agatha yang sudah memegang nampan makanannya itu.


“Kan Non sendiri yang ngajak saya berbicara, jadi saya juga berbicara.” Jawab Mang Judas santai.


“Emang sejak kapan nampan bisa bergoyang, Non? Saya baru mendengar istilah itu?” sambung Mang Judas lagi.


“Ada. Caranya dengan melemparkan nampan itu sama Mang Judas.” Ucap Agatha.


Bi Momon yang sedari tadi menahan tawanya, kini tertawa terbahak-bahak.


“Hahahaha. Lempar saja, Non. Biar tau diri.” Bi Momon tertawa bahagia melihat Mang Judas dijahili.


“Tau rasa, Bi. Bukan tau diri.” Ketus Agatha.


“Hehe. Maaf, Non. Keceplosan.” Ucap Bi Momon menutup mulutnya.


“Apakah saya sudah boleh kembali ke habitat saya, Non?” tanya Mang Judas memohon.


“Yaudah sana! Lagian Mang Judas di sini bikin pemandangan jadi tambah rusak.” Ucap Agatha asal.

__ADS_1


Akhirnya Mang Judas terbebas dari dua makhluk yang dari tadi menjahilinya tanpa henti.


“Non tidak mau melanjutkan makannya lagi?” tanya Bi Momon.


“Gak, Bi. Udah kenyang. Bawa aja ke dapur.” Seru Agatha.


“Yasudah, Non. Bibi permisi ya.” Pamit Bi Momon.


Ketika Bi Momon sudah meninggalkan Agatha kembali ke dapur, kini Agatha mengantuk. Padahal, jam masih menunjukkan pukul 08.10 pagi.


“Hoahammmmm.” Agatha menguap.


“Uhhh ngantuk sekali. Tidur ah.” Ucapnya lagi dan merebahkan diri di sofa.


🕊️🕊️🕊️


Di tempat lain, tampak Nadine tengah termenung. Dia berdiri di jendela kamarnya, menatap gedung-gedung pencakar yang berdiri kokoh. Dia bingung apa yang akan terjadi pada jalinan persahabatannya dengan Agatha dan juga Welson. Dia tau dan menyadari bahwa tindakannya salah telah merebut pacar dari sahabatnya sendiri. Lambat laun, Agatha pasti akan mengetahuinya. Dia menatap ponselnya yang berada di nakas, lalu meraihnya. Dia memutar-mutar ponselnya ingin menghubungi Welson.


“Wels, gimana jika sampai Agatha mengetahui hubungan kita?” Nadine mengirimkan pesan singkat pada Welson.


Tak butuh waktu lama, kini pesan tersebut sudah mendapat balasan dari Welson di sana, namun bukan pesan singkat melainkan sambungan telepon.


“Hallo, Wels. Gimana?” tanya Nadine.


“Jangan khawatir, sayang. Kita hadapi sama-sama ya.” Balas Welson.


“Kamu mah enak hanya ngomong kayak gitu. Tapi kamu gak tau apa yang aku rasakan, Wels. Dia sahabatku yang sudah ku anggap sebagai saudaraku sendiri. Namun di satu sisi, aku sudah terlanjur jatuh dalam hatimu, Wels.” Balas Nadine terisak.


“Yaudah jangan dipikirkan dulu selama Agatha belum mengetahui yang sebenarnya. Kita jalani saja layaknya tak memiliki hubungan apapun. Oke, sayang?” jawab Welson.


“Kamu salah, Wels.” Nadine menangis.


“Kenapa jadi aku yang salah?” tanya Welson.


“Iya kamu salah. Salah karena telah menghadirkan rasa untukku. Rasa yang tak ingin aku lepas begitu saja. Kamu telah membuatku tak ingin jauh darimu, Wels. Lalu, kenapa kita mengkhianati Agatha, Wels? Padahal dia gak salah apa-apa.” Isak tangis Nadine kini terdengar jelas.


“Udah jangan nangis. Pokoknya kamu tenang aja. Percaya sama aku kan?” bujuk Welson pada Nadine.


Entah kenapa, apapun yang diucapkan Welson seolah telah menghipnotis Nadine.


“Iya, aku percaya. Tapi aku takut...” Nadine menggantung kalimatnya.


“Apa yang kamu takutkan?” selidik Welson.


🕊️🕊️🕊️

__ADS_1


__ADS_2