Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Apa Maksudnya?


__ADS_3

🕊️🕊️🕊️


Karena penasaran akan kertas kumuh tersebut, akhirnya Dirgo dan Yadi membaca apa yang tertulis di dalam kertas itu. Dirgo memulai ancang-ancang untuk membaca tulisan itu. Yadi dan Agatha sempat terheran-heran karena melihat Dirgo dengan seriusnya membuka kertas itu dengan muka yang tanpa bisa ditebak, yang ada malah merem melek kayak keselek biji jambu.


“Lo mau baca apa mau lahiran? Merem melek kek gitu?” Sambar Yadi yang sudah tak sabar ingin mengetahui isi dari kertas tersebut.


“Yeeei gak sabaran amat lo jadi orang.” Ucap Dirgo pada Yadi. “Lo tau gak kenapa gak boleh terlalu gantungin hidup sama orang?” tambahnya lagi.


“Yaelah. Malah balik nanya lo. Ya karena takut buntunglah.” Jawab Yadi santai.


“Salah.” Agatha tiba-tiba menjawab. “Yang benar gini, jangan terlalu bergantung pada orang lain, apalagi jika lo bergantung di pohon sambil makan pisang. Hahhaha.” Tambahnya lagi yang tak kuasa menahan tawa.


“Astagadragon. Itu mah lo nyamain gue sama tuh makhluk.” Ketus Yadi kesal.


“Udah-udah. Lo mau gue bacain gak, Yad?” potong Dirgo.


“Yaudah, buruan baca. Kebo nih.” Ucap Yadi pada Dirgo.


Agatha dan Dirgo geleng-geleng kepala indah karena menurut mereka, Yadi satu komplotan sama Memey dan Buto Ijo.


“Kepo, Yad. Kepo.” Jawab Agatha bersamaan dengan Dirgo.


Yadi yang menjadi sasaran ejekan mereka berdua hanya bisa mengelus dadanya. Akhirnya si Dirgo pun membuka lipatan kertas itu. Gerak-gerik Dirgo membuat mata Yadi membulat sebesar panci bakso.


“Yaelah. Belum dibaca aja mata lo udah kayak panci bakso pengkolan. Bisa sabar gak?” ucap Dirgo. “Tha, hati-hati. Ada yang main meong-meongan sama kamu. Kamu gak perlu tau siapa aku. Bye, Tha.” Ucap Dirgo membacakan isi dari kertas itu.


“Hahaha. Main meong-meongan. Gue kira apaan, ternyata cuma gitu doang.” Kekeh Yadi yang tidak tau maksud dari meong-meongan (kucing-kucingan).


“Jangan asal ngakak lo kalo gak paham, kutu keong!” Agatha memelototkan mata indahnya.


“Lah, itu apa meong-meongan? Masa iya lo diajak main kucing? Hahaha.” Yadi masih setia dengan tawa bolongnya.


“Dasar kecipir!” Dirgo menjitak kepala Yadi karena tak tahan dengan sifat konyolnya.

__ADS_1


“Asal lo tau, meong-meongan itu adalah main belakang. Misalnya lo diselingkuhin kek, dibohongin kek. Itu maksudnya.” Tambah Dirgo panjang lebar. Yadi manggut-manggut setelah mengerti tentang meong-meongan.


“OK, guys. Gak usah dipikirin itu surat. Gue mah bodo amat.” Ucap Agatha yang tak mau ambil pusing, apalagi sampai dikelilingi bintang-bintang di kepalanya. “Yaudah, gue cabut duluan ya. Bye.” Pamitnya sambil membuka pintu kuda putihnya.


“Hati-hati, Tha. Jangan ngebut, kalo tikungan lurus ya.” Ucap Yadi yang membuat Dirgo semakin geram dan menginjak kaki Yadi.


“Auuuwww. Lo doyan amat sih menjajah gue.” Yadi memekik kesakitan karena kakinya diinjak Dirdo.


“Bodo!” seru Dirgo dan berlalu meninggalkan Yadi ke arah motor gedenya.


🕊️🕊️🕊️


Di perjalanan pulang, sesekali Agatha memikirkan maksud dari si pengirim surat itu. Sebenarnya ada apa gerangan hingga membuat dia diberikan peringatan wajib seperti itu. Karena jalanan yang begitu padat dengan kendaraan yang lalu lalang dan hilir mudik ke sana kemari, membuat Agatha memelankan laju kuda bersetirnya. Tak jauh dari jarak mobilnya, ada salah satu motor yang seperti membuntutinya. Agatha heran akhir-akhir ini selalu ada yang mengikutinya, mulai dari mobil yang tempo hari membuntuti dia dan Welson hingga saat ini. Semakin Agatha melajukan mobilnya, si pembuntut juga melajukan motornya.


Si pemotor memelankan motornya ketika Agatha seperti memancingnya. Dia tidak ingin membuntutinya lagi karena dia rasa Agatha akan selamat sampai tujuan tanpa kurang ini dan itu. Dia putar balik ke arah jalan menuju rumahnya.


“Hmm, syukurlah. Si liliput itu udah gak buntutin gue lagi.” Agatha bernapas lega setelah melihat motor itu putar balik. Dia menepikan mobilnya di bahu jalan ketika melewati jalanan yang tak cukup ramai.


Kebetulan di sisi jalan ada sebuah cafe yang begitu padat akan pengunjung. Hingga membuat tempat itu bagaikan dapur umum.


“Neng, jamu-jamu. Di pandang-pandang tak jemu-jemu.” Tawar si bibi jamu itu.


“Hisss, ganggu aja. Kagak minum jamu, Bi.” Gerutu Agatha karena melihat bibi jamu gendong di depan jendela mobilnya. Orang yang sejak tadi dia amati, kini telah lenyap dari pandangan matanya karena mereka telah memasuki cafe itu.


“Tuh kan jadi ngilang orangnya. Bibi sih ngalangin pandangan saya.” Kesalnya pada bibi jamu.


“Eitss. Neng cantik kagak boleh ngambekan, ntar hidungnya jadi hidung pinokio.” Jawab bibi jamu itu.


“Hah? Emang gitu ya Bi?” tanya Agatha heran.


“Iya, Neng. Apalagi kalau sambil melotot, katanya sih kalo melotot, matanya jadi bola kepompong yang bolanya biasa dipakai buat main.” Jawab bibi jamu menjelaskan.


“Bola pingpong kali, Bi.” Ketus Agatha kesal.

__ADS_1


Di rumah, di sekolah, dan di manapun dia berada selalu saja bertemu orang-orang aneh yang menurutnya adalah murid didikan Buto Ijo dan diketuai oleh Hulk.


Karena tak ingin berpusing ria menghadapi bibi jamu itu, akhirnya Agatha menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan tempat itu. Dengan sekejap Agatha melajukan mobilnya meninggalkan bibi jamu yang terbengong melihat kepergian Agatha.


Hingga di suatu jalanan yang kembali ramai, dia kembali melihat motor yang mengikutinya berada di jalan yang sama. Karena tak ingin dibuntuti terus-terusan, hingga tanpa sadar Agatha banting setir dan dan kecelakaan pun tak dapat dihindari. Mobilnya langsung menabrak trotoar. Perkataan Yadi sejak tadi pun bagaikan sihir untuk Agatha.


PROOKKKKKK!!


Bunyi dari tabrakan itu membuat para pengguna jalan menghentikan mobil serta motornya. Si pembuntut itu juga bergegas ke arah kejadian setelah mengetahui bahwa yang kecelakaan adalah Agatha.


Di dalam mobil, Agatha sudah pingsan karena kepalanya membentur setir dengan cukup keras. Keningnya berdarah karena benturan itu. Untung saja mobilnya tidak mengalami rusak parah, dan hanya sedikit benjolan di bagian depannya. Akhirnya si pembuntut itu menerobos dari kerumunan orang-orang yang memenuhi kejadian itu. Dia langsung membuka pintu mobil Agatha ingin menolongnya. Dia juga meminta tolong pada orang-orang di situ untuk membawa motornya sembari mengikuti dia dan Agatha dari belakang.


Sebelum berangkat ke rumah sakit terdekat, dia menghubungi keluarga Agatha terlebih dahulu. Dia membuka tas Agatha mencari keberadaan telepon seluler. Setelah menemukan benda tersebut, dia langsung mengobrak-abrik beberapa kontak yang ada di sana.


Kontak pertama yang dia hubungi adalah daddy nya Agatha, namun tak mendapatkan sambungan apa-apa. Yang kedua adalah mommy nya, namun hasilnya tetap nihil.


Alternatif terakhir adalah menelpon ke rumah. Panggilan pun tersambung.


Tuuuut! Tuuut! Tuut!


Bi Momon yang sedang nyetrika pakaian dikejutkan dengan dering telepon rumah yang berkali-kali menggema. Bi Momon segera bergegas untuk mengangkat telepon tersebut.


“Iya hallo dari kediaman Tuan William. Ada yang bisa saya banting, eh lontongin?” Ucap Bi Momon memulai percakapan.


Si penelpon kaget karena langsung mendapatkan kejutan yang begitu mengejutkan baginya.


“Bi, ini saya ingin memberi kabar bahwa Agatha mengalami kecelakaan. Tadi saya sudah menghubungi orang tuanya, tapi tidak ada jawaban dari keduanya.” Jawab orang itu sembari menyalakan mesin mobil Agatha.


Bi Momon kaget hingga tangannya tanpa sengaja menggeser vas bunga hingga terjatuh ke lantai. Penelpon yang mendengar suara pecahan vas bunga itu tiba-tiba bertanya lagi.


“Bi, apakah Bibi mendengar yang saya ucapkan tadi? Secepatnya tolong susul kami ke rumah sakit Sta. Elisabeth ya, Bi.” Ucap orang itu memberi lokasi tujuan mereka.


“Ba-baik, Den. Kami ke sana sekarang. Tolongin non Agatha ya, Den.” Jawab bi Momon sesenggukan karena khawatir.

__ADS_1


“Baik, Bi. Kami jalan duluan.” Kemudian dia memutuskan sambungan telepon.


To be continued....


__ADS_2