
“Ini Agatha, Uncle,” ucap Alzio sambil tersenyum manis.
“Daddy…,” panggil Agatha dengan lembut.
Alzio tertegun menyaksikan antara sepupu dan omnya. Ia sempat berpikir, bagaimana bila omnya tidak menerima kehadiran Agatha lagi, bukankah Agatha akan merasakan pedih untuk ke sekian kalinya? Ia lalu memberi persetujuan pada Agatha untuk kembali menyapa daddynya dengan senyuman dan anggukan kepala.
“Hallo, Daddy… Daddy, gimana kabar Daddy? Apa Daddy baik-baik aja?” Saat Agatha mengajukan pertanyaan seperti itu, jujur saja hati Agatha terasa pedih sekali. Sudah lama rasanya ia tidak berbicara dengan daddynya. Raut wajah daddynya tampak sedikit tua saja, atau mungkin karena terlalu banyak berpikir tentang keluarganya yang tak lagi utuh, ditambah lagi karena putri semata wayangnya sempat minggat dari rumah kurang lebih selama dua bulan lamanya.
“Angin apa yang membawamu kemari?” tanya daddynya dengan tajam. Agatha yang mendengar kata-kata yang keluar dari mulut daddynya, tentu saja ingin menangis rasanya. Apakah ia ditolak, pikirnya.
“Dad…,” ucap Agatha lemah. Sudut matanya mulai terasa basah.
“Kamu pikir bisa seenak kamu keluar masuk dengan menginjakkan kakimu di rumah dengan bebas dan seenak kamu saja?” Beliau lalu mengambil bukunya yang sempat terjatuh karena kaget Agatha datang menemuinya. Daddynya lalu kembali membalikkan kursinya lagi menghadap jendela. Agatha hanya mampu menunduk dan tak mampu untuk berkata-kata lagi. Daddynya tak menerimanya kembali. Daddynya membencinya. Lalu bagaimana yang harus Agatha lakukan? Agatha ingin pulang saja rasanya dan menangis sejadi-jadinya di kamar. Alzio menepuk pundak sepupunya sebagai tanda semangat.
“Daddy, aku tau aku salah udah kabur dari rumah. Memberontak seenaknya dan keluar masuk rumah sesuka hati… Dan sekarang, Daddy mau menerima aku atau nggak, mau membenciku dan mengusirku, aku cuma pengen meminta maaf sama Daddy. Aku bener-bener minta maaf…” Air mata semakin bertambah banyak rasanya menggenangi matanya. “Tapi satu hal yang harus Daddy tau, aku sangat menyayangi Daddy…” Agatha lalu bersiap untuk berbalik. Rasanya begitu sangat sulit memulai sesuatu yang baru terlebih dahulu.
“Agatha…,” panggil daddynya tiba-tiba, membuat langkah Agatha terhenti. Agatha berbalik menghadap daddynya dan melihat wajah daddynya yang sedikit melunak. “Mendekatlah, Nak. Mendekatlah pada Daddy, Sayang.” Beliau mengulurkan kedua belah tangannya. Agatha perlahan-lahan berjalan mendekati daddynya dan pada detik berikutnya daddynya merangkul Agatha ke dalam pelukan. Agatha menangis, dan daddynya juga menitikkan air mata haru kebahagiaan. Inilah pertama kalinya Agatha merasakan pelukan seorang daddy setelah dirinya merasa ditinggalkan oleh kedua orang tuanya. Alzio turut berkaca-kaca menyaksikan adegan haru biru antara seorang anak dan seorang daddy.
“Kenapa pergi dari rumah?” tanya daddynya. “Daddy kecewa padamu, Nak.”
“Maafkan aku, Daddy….”
“Ini bukan salahmu sepenuhnya, Sayang. Daddy banyak merenung bahwa selama ini sebenarnya kami kurang memperhatikanmu, sering membuat putri Daddy terluka… Maafkan Daddy juga, ya, Nak.”
“Uncle, ada baiknya kita kembali ke rumah saja. Uncle sama sepupu Zio yang jelek itu bisa melepas rindu di rumah lebih lama,” ujar Alzio.
“Ahh ya, kamu benar juga, Zio. Ponakan Uncle satu ini memang paling bisa diandalkan.” Daddynya Agatha sedikit menguraikan pelukannya pada Agatha dan memberi ruang untuk Alzio supaya bisa memeluknya. “Kemarilah, Zio, peluk Uncle.” Momen haru kembali tercipta di antara ketiganya. Ketiganya segera keluar ruangan dan berpamitan pada sekretarisnya bahwa hari ini beliau pulang terlebih dahulu karena ingin melepas rindu dengan putrinya.
🕊️🕊️🕊️
“Uncle, Zio pamit ke kamar, ya.” Alzio berpamitan pada omnya setelah tiba di rumah. Bi Momon menangis haru melihat Tn. Thomas merangkul Agatha dengan erat.
Setelah semuanya sedikit tenang dan ketegangan mereda, Alzio segera meninggalkan om dan sepupunya itu untuk bicara dari hati ke hati di kamar Agatha dengan ditemani segelas jus alpukat yang dibuat khusus oleh Bi Momon.
“Daddy, aku ada hal serius yang mau dibicarakan,” ujar Agatha dengan mantap.
“Soal kuliah di Beijing?” daddynya mengernyitkan keningnya. “Kamu nggak perlu memaksakan diri, Sayang. Kita bisa….”
Agatha tersenyum dan memotong ucapan daddynya. “Bukan itu, Dad. Bukan! Tetapi sesuatu yang lebih serius lagi.”
Daddynya Agatha menyipitkan matanya. Beliau menduga apakah ada hal yang lebih buruk yang belum terselesaikan, pikirnya.
__ADS_1
“Aku memutuskan untuk nggak masuk kuliah tahun ini, Dad.”
“Nggak apa-apa. Tapi jika kamu mau, Daddy bisa bayar mahal untuk itu, kuliah di sini, di tempat yang kamu inginkan dulu, Nak.”
“Jangan dulu, Dad. Aku cuma ingin sembuh.”
“Sembuh?” Sang daddy bingung dengan jawaban anaknya.
“Iya, Daddy.”
Agatha menceritakan semuanya tentang kegiatannya selama ia kabur dari rumah. Daddynya sekali lagi menangis membayangkan betapa sengsaranya sang anak selama hidup di jalanan. Beliau kembali memeluk anaknya, mencium kening anaknya berkali-kali seolah tak ingin lepas lagi dari anaknya.
“Daddy janji, Daddy akan lebih sering memperhatikanmu. Kamu jangan kabur-kabur lagi, ya, Sayang.”
“Iya, Dad. Ini juga berkat dari sepupuku yang jelek itu. Ia telah mengajariku banyak hal tentang kehidupan, mengajarkanku untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Mengampuni segala kesalahan, berdamai dengan diri sendiri juga pada semuanya, dan meninggalkan cara hidup yang lama ke hidup yang lebih baik sesuai ajaran Tuhan.”
Daddynya merasa bangga karena keponakannya itu ternyata bisa membawa anaknya menjadi pribadi yang bisa mengampuni dan berdamai dengan masa lalu.
Tak terasa karena saling melepas rindu dan berkeluh kesah, Agatha dan daddynya menghabiskan waktu hingga menjelang sore. Agatha kembali ke kamarnya dan mendapati Alzio tengah memetik gitar.
“Eh, udah selesai,” ucap Alzio menyadari kehadiran sepupunya di kamar. “Ada satu hal yang harus kutunjukkan.”
“Something?”
Agatha mengikuti instruksi dari sepupunya dan mendekati meja belajarnya. Ia mendapati sebuah kartu undangan berwarna putih di meja belajarnya. Undangan pernikahan siapa, pikirnya. Begitu melihat inisial nama W&N, Agatha pun mengerti. Ia membuka undangan itu dengan cepat, dan ternyata tanggal dan harinya sudah lewat sejak seminggu yang lalu. Agatha tersenyum, namun senyumnya adalah senyum kesedihan. Entah kenapa ia tak lagi merasakan dendam dan benci pada mereka. Tapi Agatha bersyukur akhirnya Welson mau bertanggung jawab dan tak meninggalkan Nadine. Yang ia sesali ialah mengapa mereka harus terjerumus sejauh ini. Namun semua mungkin lebih indah jika terjadi beberapa tahun lagi dari sekarang. Agatha menyesal, menyesal karena tak bisa menjadi sahabat yang baik, menyesal karena ia tak ada di sana ketika Nadine membutuhkannya, menyesal karena tak memberi kesempatan untuk Nadine bicara, menyesal karena ia memilih terjebak dalam rasa sakit hati daripada mengampuni sejak awal.
“Zio, apa yang harus kulakukan? Aku nyesal, aku ingin minta maaf pada Nadine.”
“Ya udah, kamu telepon aja si Nadine. Aku senang, akhirnya kamu bisa mengerti apa yang telah kujelaskan sebelumnya padamu.”
Agatha lalu mengambil ponselnya. Dicarikan kontak Nadine lalu membuka blokirannya dan berharap nomor itu masih digunakan oleh pemiliknya. Terdengar nada sambung di seberang sana yang membuat Agatha memiliki sejuta harap di hatinya.
“Hallo…,” sapa Nadine dengan suara lemah. Agatha tidak langsung menjawab dan ia hanya menangis. Suara yang ternyata bisa juga ia rindukan, suara seorang sahabatnya di seberang sana yang sudah resmi menjadi istri Welson dan menyandang gelar Nyonya Welson. Rasanya mereka jauh berbeda dari mereka masuk SMA dahulu. Tak pernah terpikir semua berubah seperti ini. Tak pernah terbayangkan oleh Agatha, Nadine akan melahirkan seorang anak dari benih Welson, orang yang masih tetap dicintainya dalam usia semuda ini.
“Nadine…,” sapa Agatha.
“Tha…,” suara Nadine terdengar tercekat. “Lo…lo baik-baik aja? Gue denger lo kabur dari rumah. Pulanglah, Tha…maafkan aku….”
“Gue udah pulang. Lo dan dan bayi lo sehat-sehat, ‘kan?”
Nadine pun menangis di seberang sana.
__ADS_1
“Nad, maafin gue. Gue bukan sahabat yang baik….”
“Gue…gue yang harusnya meminta maaf, Tha. Lo memang berhak untuk marah. Siapa pun pasti akan marah jika mereka jadi lo. Maaf…. Kamu mau kan maafin aku?”
“Iya, aku udah memaafkanmu.”
“Really? Termasuk Welson?”
“Iya. Oh ya, selamat ya atas pernikahan kalian.” Agatha mengambil jeda sesaat. “Aku senang akhirnya Welson mau bertanggung jawab padamu.”
“Iya, Tha. Aku juga merasa sangat bersyukur…. Nanti jika anakku lahir, aku ingin kamu yang mencarikannya nama untukku.”
Agatha tersenyum. “Akan kucarikan untuk keponakanku. Nad, selama aku kabur dah hidup di jalanan, aku merasa nyaman dekat dengan seseorang.”
“Oh, ya? Lalu gimana?” tanya Nadine antusias. Alzio juga menajamkan indra pendengarannya, entah siapa gerangan orang yang dimaksud Agatha.
“Hmm, lupakan aja, Nad. Orangnya nggak akan bisa kugapai. Nad, aku mau berpamitan.”
“Maksudmu apa, Tha?”
“Mungkin dalam waktu dekat, kita nggak akan ketemu dulu. Aku ingin sembuh.”
“Tha…?” Nadine tak mengerti apa yang dikatakan Agatha. “Tha, aku memang nggak tau apa yang sudah terjadi dalam hidupmu selama ini, tapi … aku ingin saat bertemu lagi denganmu, aku ingin bertemu dengan Agatha—seorang gadis yang sudah menang.”
“Iya, doakan aja. Bye-bye, Nad.”
Sambungan telepon terputus ketika saling mengucapkan hal yang sama. Alzio meminta sepupunya untuk duduk dekat dengannya. “Heii, siapa gerangan yang membuatmu nyaman?” tanya Alzio kepo.
“Nanti pasti kuceritakan. Yang penting kamu bawa aku untuk selalu dekat kembali dengan Tuhan.”
“Dengan senang hati,” jawab Alzio. “Tapi, aku ingin memberikan kejutan untuk seseorang. Kamu maukan mengabulkan permintaan sepupumu yang tampan ini?”
“Mulai deh narsisnya! Boleh-boleh aja, tapi tunggu dulu. Apa yang harus kulakukan?”
“Kamu ikut denganku nanti jam tujuh ketemu seseorang. Tapi, matamu harus ditutup sepanjang perjalanan agar kamu nggak bisa menebak kita mau ke mana. Okay?”
“Kamu selain suka ngeselin, ternyata suka bikin orang penasaran. Okay, I want it!”
Alzio hanya terkekeh karena sepupunya mengomel tentang dirinya.
🕊️🕊️🕊️
__ADS_1
To be continued….