Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Lukisan.


__ADS_3

“Eh, ntar unboxing kado kan? Tau gak? Gue penasaran sama kadonya Dirgo,” ucap Memey tiba-tiba.


“Sama, gue juga!”


Perbincangan mereka berdua selama di dalam perjalanan pulang, hanya membahas seputaran tentang Dirgo. Hari semakin gelap yang juga diiringi dengan gema Adzan Maghrib, menandakan waktu sudah beranjak menuju malam. Jalanan tampak indah karena dipadati dengan nyala lampu kendaraan. Hingga pada pukul 16:35 menit, Mang Judas menekan remote kontrol pagar rumah majikannya, segera mengarahkan mobil menuju garasi ketika sudah melewati pagar berkontrol itu.


“Bibi, I am coming!” seruan Memey ketika melihat Bi Momon menyambut kedatangan mereka.


“Tau betul jika Bibi sudah menyiapkan gulai kambing.” Bi Momon tertawa senang mendengar ucapan Memey. Agatha yang menyadari itu hanya bisa menghela napas. Bi Momon dan juga Memey seperti kucing dan anaknya jika sudah bertemu. Sangat cocok dan klop menurut pemahaman Agatha.


“Masuk dan bersihkan diri dulu sebelum makan malam, Non!” perintah Bi Momon. Kedua gadis yang diperintahkan Bi Momon untuk membersihkan diri tersebut mengiyakan dan berlalu ke atas menuju kamar. Seraya melihat punggung kedua gadis itu berlalu pergi, Bi Momon tersenyum. Dengan kehadiran Memey, berharap bisa menemani Agatha supaya tidak kesepian, terlebih lagi lantaran malam ini Nyonya Daria tidak pulang ke rumah. Toh, walaupun pulang, hanya secuil saja harapan untuk bisa meluangkan waktu bersama Agatha. Paling-paling alasannya lelah seharian ke sana kemari mengunjungi panti-panti.


🕊️🕊️🕊️


Selesai makan malam, Agatha mengajak Memey untuk membuka kado seperti yang sudah mereka bahas sewaktu perjalanan pulang. Masing-masing kado dari sahabatnya mereka buka satu per satu. Kado dari tamu undangan lainnya, Agatha sudah mengintruksikan Mang Judas bahwa kado-kado tersebut akan diberikan ke panti di mana mommy nya sering berkunjung di sana. Sampai pada kado yang diberikan oleh Dirgo, mereka berdua saling pandang, menerka-nerka isi di balik bungkusan tersebut.


“Buka aja deh! Penasaran gue.”


“Sabar!” Agatha perlahan membuka pita gold kado Dirgo.


“Apa isi kadonya?” tanya Memey penasaran.


Agatha tersenyum ketika melihat isi kado tersebut. Kemudian ia menyadari sesuatu yang menurutnya merupakan sesuatu yang pernah ia lihat. Agatha nge-freeze. Ia kembali mengingat di mana ia pernah melihat benda tersebut.


“Woii!” pekik Memey menyadarkan Agatha dari lamunannya. Memey dibikin bingung karena Agatha melamun. “Kenapa tiba-tiba mematung?” tanyanya penasaran.


“Eh gimana-gimana?” Agatha tersadar dari lamunannya.


“Isi kadonya apa gue tanya?”


“Nih! Jam tangan sama lukisan.”


“Lo suka?”


“Yes, I like it!” Agatha tersenyum merona sambil meletakkan kado tersebut ke dadanya. Ia memperlihatkan kado itu kepada Memey setelah ia puas memeluknya


“Wahhh. Keren banget lukisannya!” Memey terkagum. “Itu dia sendiri yang ngelukis atau ada pihak ketiga?” tampak Memey memikirkan sesuatu. Dan itu juga menjadi pertanyaan Agatha setelah mendengar ucapan Memey.


“Ntahlah. Kurang tau juga gue,” jawabnya. “Kayaknya, next time gue harus ngobrol nih sama Dirgo,” pikir Agatha. Ia sedikit menyimpan kecurigaan terhadap Dirgo karena lukisan tersebut.


🕊️🕊️🕊️


Sore itu, tiga bulan sudah berlalu. Agatha yang sudah resmi menyandang usia 18 tahun lebih beberapa bulan, berencana untuk mengajak Dirgo mengobrol, seperti yang sudah ia rencanakan sebelumnya. Kebetulan juga, bulan ini merupakan awal di mana murid kelas XII menempuh semester genap, yang berarti dalam beberapa bulan lagi mereka juga akan mengadakan ujian kelulusan, yang akan mengantarkan dan menentukan mereka lulus dari SMA. Agatha memandang jam dinding antik nan mewah yang terpajang di tembok ruang keluarga, yang jarum jamnya sudah menunjukkan pukul empat sore. Ia sudah menyiapkan diri untuk segera bertemu dengan Dirgo di sebuah café dengan pakaian sederhana, celana jeans hitam yang dipadukan dengan hoodie berwarna crem. Rambutnya ia cepol sehingga menampakkan sedikit leher jenjang nan mulus itu. Tak lupa, hadiah ulang tahun yang diberikan Dirgo ia sematkan juga di tangan kanannya. Lukisan yang menjadi banyak pertanyaan di dalam pikirannya, ia ikut sertakan juga di dalam tas selempangnya.

__ADS_1


“Bibi, aku pamit dulu, ya.” Agatha berpamitan pada Bi Momon ketika dirasa sudah waktunya berangkat.


“Hati-hati, Non. Jangan pulang terlalu larut, bahaya!”


“Siap. Bibi tenang aja!”


“Non bawa mobil atau jalan kaki?” tanya Bi Momon.


“Gak, Bi. Aku jungkir balik sekalian ngesot juga!” Bi Momon tampak menarik kedua sudut bibirnya karena memang pertanyaannya yang tak masuk akal. Toh sejak kapan juga nona kecilnya itu mampu jalan kaki. Kejadian waktu itu ketika pulang sekolah saja sudah membuatnya kelelahan, apalagi waktu itu ditambah dengan dimarahi oleh supir angkot karena duitnya kurang.


“Yasudah. Non hati-hati nyetirnya!”


🕊️🕊️🕊️


Dirgo yang juga penasaran akan apa yang nantinya akan ia bahas bersama Agatha, tampak juga sudah berpantas diri dengan tampilan yang menarik dan cool. Parfum kesukaan yang biasa ia pakai ke sekolah, sengaja ia semprotkan juga ke beberapa bagian titik tubuhnya. Kali ini ia tak memakai mobil, karena menurutnya akan cepat sampai tujuan kalaupun terjadi macet di jalan. Sejenak ia kembali mematutkan dirinya di depan cermin. Ia tampak membuat segurat senyuman mengingat ia akan segera bertemu dengan Agatha, orang yang bisa dibilang ia cintai dalam diam.


“Bertemu dengan orang spesial, style juga harus spesial!” Dirgo menatap dirinya yang berada di dalam pantulan cermin. Ia mengenakan kemeja hitam sedikit ngepres di tubuhnya sehingga membuat otot-otot yang ada padanya nampak mengeluarkan bentuk. Tak lupa juga dipadu-padankan dengan celana pensil berwarna sedikit abu serta sepatu sneakers putih yang membuat penampilannya semakin cool dan segar.


🕊️🕊️🕊️


Agatha yang sudah tiba di sebuah café, bergegas mencari keberadaan Dirgo sesuai isi pesan WhatsApp yang dikirimkan padanya. Dari jauh, Agatha dapat melihat bahwa ada seseorang yang juga tengah mencari keberadaannya. Agatha menghentikan langkahnya sebentar saat memastikan orang tersebut adalah Dirgo. Agatha kembali terkagum. Senyuman kembali terlukis di wajah cantiknya. Agatha semakin tak sabar, kemudian segera menuju kursi di mana Dirgo menunggu. Dirgo melambaikan tangannya, membuat Agatha salah tingkah.


“Haii. Udah lama nunggu?” tanya Agatha pada Dirgo ketika sudah berada di mana Dirgo duduk.


“Haii. Baru sekitar dua menit yang lalu, gak lama.”


Agatha segera mendaratkan bokongnya pada kursi, berhadapan dengan Dirgo. Keduanya saling beradu pandang. Suasana nampak canggung memang, apalagi Dirgo. Kapan lagi coba bisa punya waktu berduaan sama Agatha, pikirnya dalam hati.


“Makin cantik!” dua kata lolos begitu saja dari mulut Dirgo, membuat Agatha sedikit terperangah. Suasana kembali kikuk, lambat laun wajah Agatha merona merah. Agatha terus menundukkan kepalanya menatap meja.


“Tha, kamu gak pa-pa?” tanya Dirgo, menyadari Agatha yang tampak tersipu dan merona.


“Ii-iya.” Belum apa-apa sudah dibuat merona oleh Dirgo. Semerbak parfum mulai kembali menusuk indra penciuman Agatha.


“Mau pesan apa?” Dirgo melihat pada Agatha yang masih terpaku menatap meja.


“Gue ngikut lo aja, deh,” jawab Agatha yang matanya masih menatap meja. Agatha belum berani menatap Dirgo karena wajahnya masih terasa merona.


“Memangnya yang bertanya denganmu ada di bawah meja sampai kamu gak mau menatap aku?” goda Dirgo karena Agatha masih saja fokus dengan tatapannya pada meja.


“Oh, iya. Sorry, ya.”


“Santai! Oh ya, mau bahas apa nih?” Dirgo kembali menatap Agatha, berusaha memecah kecanggungan supaya Agatha leluasa mengobrol dengannya.

__ADS_1


Pesanan yang telah Dirgo pesan, sudah mengisi meje mereka. Tampak tersedia dua gelas vanilla-latte dan dua wadah croissant. Keduanya menikmati pesanan tersebut seraya berbincang.


“Gue boleh nanya?” Agatha memulai pembicaraan.


“Bebas! Kamu mau nanya apa?” sejenak Dirgo berpikir tentang apa yang akan ditanyakan Agatha. Dia menjadi sedikit gugup, siapa tau Agatha bertanya tentang dirinya selama ini.


“Once again, thank you, ya,”


“Buat?” tanya Dirgo penasaran.


“Ini!” Agatha mengarahkan tangan kanannya yang sedang memakai jam tangan, hadiah dari Dirgo.


“Kamu suka?” Dirgo tersenyum.


“Iya, suka banget! Makasih, ya,”


“Syukurlah kalo kamu suka.” Dirgo menatap Agatha dengan senyuman, tangannya tanpa aba-aba memegang tangan Agatha. Namun dengan cepat Agatha menarik tangannya.


“Hehe. Gak usah pegangan tangan juga dong,” Agatha kembali merona.


“Maaf, refleks,” Dirgo segera menarik tangannya mendengar ucapan Agatha. Kemudian ia menyesapkan perlahan vanilla-latte di depannya untuk mengurangi rasa gugup.


“Ini lukisan lo yang bikin?” tanya Agatha dengan menunjukkan lukisan yang telah ia keluarkan dari dalam tasnya.


Dug!! Serrr!! Pertanyaan yang memang sengaja tak ingin dipikirkannya malah keluar begitu saja dari bibir Agatha, membuat aliran darahnya menjadi tak karuan rasanya. Dirgo tampak kebingungan. Memikirkan bagaimana caranya ia menjelaskan hal itu kepada Agatha yang sedang bertanya. Ia tak ingin apa yang dilakukannya selama ini diketahui sekarang juga oleh Agatha. Ia berpikir, masih ingin memperhatikan Agatha dari jauh dan dalam diam terlebih dahulu sampai tiba saatnya untuk mengatakan yang sebenarnya.


“Kok bengong?” Agatha menyadarkan Dirgo yang tampak sedang kebingungan. “Kenapa? Ada yang salah dengan pertanyaan gue?”


Dirgo menggeleng meyakinkan Agatha bahwa ia sedang baik-baik saja. “Oh ya, lukisan itu aku nyuruh temen yang bikin,” ucap Dirgo berbohong.


“Wah, ahli ya temen lo!”


“Gimana? Bagus, kan?”


“Iya, bagus. Boleh dong ajak gue kapan-kapan,”


“Ajak ke mana?” Dirgo menyipitkan matanya.


“Ketemu temen lo yang ngelukis, lah. Bisa kan?”


“Mmm, bisa sih,” jawab Dirgo dengan ragu.


“Yaudah, ntar kabarin gue, ya. Sebenarnya gue tempo itu pernah nemu lukisan yang mirip ini juga, sempat ngeliat orangnya langsung sih, tapi gak jelas karena jauh. Itu temen lo mungkin,”

__ADS_1


“Hehe, mungkin.” Dirgo semakin kelagapan dengan beberapa penuturan Agatha, seolah dirinya merasa diinterogasi. Tapi ia berusaha semampu mungkin menutupinya supaya Agatha tak lagi menaruh curiga padanya.


To be continued…


__ADS_2