
“Kak… Kak Andrew, nanti aku mau bicara…,” ucap Agatha. Air matanya terus saja mengalir, begitu juga Andrew.
Tak mampu lagi menahan air matanya yang terus mengalir melihat kepergian teman-temannya, juga melihat betapa terpukulnya Andrew saat ini, Agatha bergegas keluar mencari tempat di mana udara bisa dihirupnya dengan bebas. Rongga dada dan kerongkongannya terasa kering karena masih shock dan terus menangis. Ia menyusut air matanya dengan kedua telapak tangannya. Dibukanya kembali dompet Carlos yang ia simpan di saku celananya.
CARLOS WELANDI. Nama lengkap Carlos tertulis dengan sempurna di kartu identitasnya. Tanpa disadari, kebersamaannya dengan Carlos yang singkat, membuat perasaan Agatha menjadi aneh walaupun Carlos selalu memanggilnya dengan sebutan adik. Hatinya begitu sakit.
“Arrghhhh…kenapa semuanya terjadi begitu cepat?!” pekik Agatha. Ia sungguh tak terima dengan semuanya. Baru saja rasanya kemarin ia mendapat keluarga baru, dengan cepat kilat keluarga itu berantakan seperti sekarang. Bernard yang meregang nyawa karena kecelakaan adu balap liar, Cath dan Carlos yang meregang nyawanya karena overdosis, membuat Agatha terduduk lemas di lorong pintu utama gudang tua.
“Aku tau apa yang harus aku lakukan!” gumamnya. Ia lalu membuka ponselnya yang selama ini ia sembunyikan. Ia menyalakan ponselnya, sementara daya ponselnya tinggal dua puluh persen. Saat sedang memainkan ponselnya dengan tangan yang bergetar, tiba-tiba Andrew menghampirinya.
“Hei, apa yang kamu lakukan?” tanya Andrew bingung.
“Astaga! Kakak mengagetkanku!” Agatha seketika menyentuh dadanya yang terasa berdegub.
“Kamu sedang apa?”
Agatha lalu memberikan kartu pengenal milik Carlos pada Andrew. “Ini! Coba Kakak lihat!”
“Tanda pengenal?” tanya Andrew dengan tatapan bingung. “Untuk apa ini?”
“Kakak perlu tau suatu hal…” Agatha menghela napasnya sebelum melanjutkan ucapannya. “Kak Carlos Welandi adalah kakak dari salah seorang sahabatku, Memey Welandi. Begitu aku melihat nama lengkapnya, hatiku makin terasa sakit. Aku tak bisa membayangkan perasaan sahabatku itu juga orang tuanya karena telah kehilangan Kak Carlos untuk selamanya. Aku nggak kuat, Kak. Aku sungguh nggak kuat membayangkannya, hikss…hiksss…” Tangis Agatha kembali pecah.
Andrew tertegun. Sungguhkah ini suatu kebetulan atau memang dirinya berhalusinasi saja? Keadaan sekarang membuatnya juga bingung harus berbuat apa. Ia juga turut menangis kembali. Perlahan ia mendekat pada Agatha yang tengah menangis, lalu memeluknya.
“Aku tau apa yang kamu rasakan. Kita juga kehilangan teman-teman kita. Berjanjilah untuk terus memperjuangkan kehidupan. Jadi, apa yang harus kamu lakukan dengan kakak sahabatmu itu?” Andrew terus menepuk-nepuk belakang Agatha dengan lembut.
Agatha menggeleng, ia masih belum bisa berpikir dengan jernih. Andrew menguraikan pelukannya, memberi Agatha ruang untuk bernapas. “Kamu masih menyimpan ponselmu?” tanya Andrew.
“Jika bukan karena Kak Carlos, aku hampir saja menjual mobil juga ponselku ini. Dia tak setuju dengan usulan Cath yang terus mendesakku untuk menjual semua barang-barang mewahku.”
“Maaf…,” ucap Andrew.
“Maaf untuk apa?”
“Sudahlah, lupakan!”
“Aku ingin menghubungiku sahabatku. Kuharap Kakak setuju dengan apa yang aku katakan.”
__ADS_1
“Lakukan saja! Dia masih memiliki keluarga. Setidaknya, Carlos bisa dimakamkan dengan hormat oleh keluarganya. Aku…akan membantumu dan kita akan melihat proses pemakamannya. Ini, pakai saja SIM Card ku, lalu setelah itu, buanglah!”
“Terima kasih, Kak. Tapi aku nggak mau memperlihatkan diriku di sana. Sudah pasti sahabat-sahabatku juga sepupuku datang untuk menghantarkan Kak Carlos di peristirahatannya yang terakhir.”
“Okay, aku mengerti. Sekarang, ayo kita beritahu keluarganya.”
Agatha dan Andrew dengan cepat memberikan informasi kepada keluarga Memey. Difotokannya tubuh Carlos yang terkulai lemas, lalu mengirimkannya pada Memey lengkap beserta alamat kejadian. Agatha dan Andrew akan bersembunyi di tempat lain sebelum kedatangan keluarga Memey.
🕊️🕊️🕊️
Memey dan juga kedua orang tuanya shock dengan chat yang baru saja masuk di ponsel Memey. Kepala mama Memey mendadak pusing dan hampir tersungkur pingsan. Tak menyangka anak lelakinya pergi begitu cepat. Menurutnya, ini memang salah dirinya dan suami yang selalu memaksa kehendak dan menentang keinginan Carlos. Memey segera menghubungi pihak ambulance Rumah Sakit Sta. Elizabeth untuk menjemput jenazah kakaknya. Sebelum dibawa ke rumah duka, pihak keluarga meminta jenazah anaknya untuk divisum. Hasil visum menyatakan bahwa Carlos meninggal karena overdosis obat-obatan. Selanjutnya, jenazah di antar ke rumah duka untuk dimandikan juga didoakan.
“Hikss…hiksss....” Memey terus menangis di sisi peti kakaknya. Tak lama, muncullah Maria dan Stevanie, lalu disusul oleh Dirgo juga Yadi. Yang terakhir turut berbela sungkawa, muncul Bi Momon, Mang Judas serta Alzio.
“Mey, lo yang kuat, ya….” Maria dan Stevanie juga turut menangis. Mereka memeluk Memey berusaha memberi penghiburan.
“Gu..gue nggak kuat…. Sahabat kita mengilang nggak tau ke mana, lalu kakak gue harus pergi untuk selama-lamanya. Gue…hikkssss…”
“Non yang sabar. Semua yang bernyawa pasti akan kembali pada-Nya. Yang kuat, ya,” timpal Bi Momon lalu memeluk Memey. Bi Momon menangis lantaran dua hal, menangis karena melihat keluarga Memey yang sedang berduka dan menangis karena nona kecilnya belum juga kembali ke rumah.
Satu jam berlalu, prosesi pemakaman telah usai. Pihak keluarga dan para pelayat telah kembali ke tempat masing-masing, begitu juga dengan Dirgo cs. Agatha dan Andrew masuk ke dalam makam dengan membawa bunga. Ditatapnya salib yang tertancap di atas makam Carlos. Mereka berduka kembali menangis.
“Kak Carlos, yang tenang di sana, ya. Aku takkan pernah melupakan kebaikan Kakak padaku. Aku senang Kakak memanggilku dengan kata adik. Coba sekali lagi Kakak memanggilku dengan kata adik, aku ingin mendengarnya sekali lagi… Bisa, Kak? Coba ulangi sekali lagi…!!” Air mata Agatha menetes dengan deras. Andrew mengusap-usap kepala Agatha yang begitu histeris. Tak tega rasanya melihat Agatha yang rapuh kembali.
“Udah, jangan menangis lagi. Carlos pasti sedih jika melihatmu terus menangis. Carlos di sana akan menjadi pendoa bagi kita semua. Ayo, kita pulang. Sebentar lagi sepertinya akan turun hujan.” Agatha dengan terpaksa mengikuti perintah Andrew. Mereka pulang dan kembali ke gudang tua lagi. Cath sudah dimakamkan oleh dinas sosial kota yang datang beserta dengan penjemputan jenazah Carlos.
🕊️🕊️🕊️
Agatha merasa kehidupan ini semakin keras padanya. Awalnya, semuanya ia pikir akan lebih menyenangkan jika terus bersama-sama dengan teman-teman barunya, tapi kenyataan membuat Agatha tak habis pikir. Semua teman-temannya direnggut satu per satu darinya. Rasanya Tuhan begitu kejam. Ia juga berpikir bagaimana jika Andrew juga direnggut oleh Tuhan.
“Ahhh….tidak, tidak!” Agatha segera menepis pikiran negatifnya.
Agatha saat ini tengah termenung di sebuah halte bersama Pitha, kucing terlantar yang ditemukan di jalanan saat ia mengamen. Ia sedang menunggu Andrew datang menemuinya, karena mereka berpisah jalan saat pergi mengamen. Hari menjelang malam, tapi Andrew belum juga kembali menemui Agatha. Katanya, ia dan kelompok anak punk lainnya sedang menjalankan bisnis. Bisa dibilang bisnis yang sangat menguntungkan, yaitu mengedarkan obat-obat terlarang secara ilegal. Agatha tau bahwa bisnis itu merupakan bisnis yang berbahaya, tetapi apa lagi yang bisa mereka perbuat? Mengharapkan dari hasil mengamen, terkadang tidak cukup untuk membeli dua bungkus nasi beserta air mineral.
“Kamu anggota kelompok Badai?” Tiba-tiba Agatha dikagetkan oleh kedatangan seorang punker.
“Iya, kenapa?” jawab Agatha sekaligus bertanya sambil mengelus-elus lembut bulu Pitha.
__ADS_1
“Gawat! Baru aja ketuamu ditangkap polisi.”
“WHAT? Maksudmu Kak Andrew…?!”
“Iya, benar Andrew. Yang ditangkap ada tiga orang. Sumpah, aku nggak bohong…”
Agatha benar-benar tak mengerti, mengapa semua ini terjadi begitu cepat atas kehidupannya. Ia galau dan ia merasa ingin mati saja. Bagaimana mungkin ia bisa hidup seorang diri tanpa ditemani orang lain untuk menopangnya?
“Ini sudah resikonya. Apa kamu mau bergabung bersama kami?” tanya punker itu.
“Nggak! Kamu pulanglah… aku pengen sendiri…”
Malam pun bersambut. Agatha menyusuri jalanan sambil tertatih. Pitha tetap berada di dadanya, digendong begitu erat. Ia tak tau arah ke mana yang akan ia tuju saat ini. Setelah lelah menyusuri jalanan, Agatha merasa lelah. Ia mengantuk dan memilih emperan toko yang sudah tutup untuk ia dan juga Pitha untuk beristirahat.
🕊️🕊️🕊️
Awan kelabu siang itu nyaris sempurna menggelap membuat hati Agatha keruh semakin tak karuan. Agatha sudah mendengar kabar tentang Andrew dari koran bahwa ia dijatuhi hukuman dua tahun penjara. Rasanya berat sekali. Agatha terus melangkahkan kakinya dengan lemah seolah ada beban seberat ratusan kilo yang melilit di kaki jenjangnya.
Agatha berjalan tak tentu arah dan tujuan. Ia bingung mau ke mana, sementara Pitha masih setia mengikutinya dari belakang. Agatha berjalan di jalan raya tanpa melihat kiri kanan. Kendaraan yang melintas terus membunyikan klakson berkali-kali. Mereka tidak hanya terganggu oleh ketololan Agatha, tetapi juga karena mengingat cuaca yang sepertinya akan hujan. Tampak dari semua orang yang ingin segera tiba di tempat tujuan masing-masing. Bahkan, seorang pengemudi truk bahan bakar ada yang memaki-maki Agatha.
“Wah…gerimis!” celetuk seorang gadis SMA sambil membuka payung lipat berwarna biru dengan centilnya. “Ayo, cepet! Nanti kita kehujanan!” Gadis itu menggandeng temannya untuk ikut berpayung bersama dengannya. Seorang mahasiswa yang sepertinya baru selesai sidang skripsi berlari-lari menuju sebuah bus yang berhenti sambil meletakkan tas di atas kepalanya.
Agatha memperhatikan semua itu tanpa berkedip dan tak bergeming. Pandangan matanya sayu. “Mengapa semua orang begitu sibuk dengan dirinya sendiri?” pikir Agatha. “Apa mereka punya orang lain yang mereka simpan di hatinya untuk dicintai? Apa mereka tetap mengasihi orang itu sekalipun mungkin pada suatu saat nanti orang itu berhenti mencintainya? Apakah mereka akan memaafkan jika dirinya dikhianati? Berapa banyak yang akan bertahan?”
Agatha hendak berbelok ketika ada sebuah mobil yang sedang tergesa-gesa berbelok juga ke arahnya.
CRIIIIITT!!! Belum sempat mobil itu menyentuh Agatha seujung rambut pun, mobil itu dengan cepat berhasil dikendalikan oleh pengendaranya. Ia berhenti dan menurunkan kaca jendela mobilnya.
“Astaga, TUHAN. Untung masih bisa dikuasai,” ucap cowok itu. “Sorry, hampir aja kamu ketabrak.”
Agatha memandangi cowok itu beberapa saat dengan tatapan kangen. Cowok itu mengernyit di dalam mobilnya, ia lalu keluar. Tetesan air hujan yang semakin banyak dan deras, membasahi wajah keduanya. Pakaian cowok itu yang semula kering, kini telah basah kuyup karena guyuran hujan.
“Aa…Agatha…?!” terka cowok itu. Agatha langsung menangis, entah mengapa ia bahagia sekali rasanya.
🕊️🕊️🕊️
To be continued….
__ADS_1