
Bi Momon mendekati Agatha yang nampak termenung. “Non kenapa?” tanya Bi Momon. Sontak Agatha mengusap matanya dengan selimut. Ia tidak ingin Bi Momon mengetahuinya, namun Bi Momon telah lebih dulu melihat wajah Agatha yang basah. “Apa Non bermimpi? Mimpi buruk, ya?”
Agatha menggeleng. “Enggak apa-apa, Bi,” kilahnya. Bagaimana pun ia menyembunyikannya, namun Bi Momon bisa merasakan apa yang nona kecilnya itu rasakan. Bisa mengetahui lewat raut wajahnya. “Oh iya, Bi. By the way, kapan aku kembali ke atas? Kok tiba-tiba ada di kamarku? Padahal aku semalam ketiduran di sofa bawah loh,” tanya Agatha yang baru menyadari kehadirannya saat ini.
“Non mau liburan ke Pulau We, ya?” tanya Bi Momon.
“Memangnya kapan aku bilang mau liburan ke Pulau We, Bi? Ada-ada saja ih.” Agatha kembali membaringkan tubuhnya di ranjang. “Bibi belum jawab pertanyaanku!”
“Oh, berarti Bibi salah dengar, Non. Hehe.” Bi Momon membuat jari-jarinya membentuk huruf V. “Pertanyaan yang mana lagi, Non?”
“Bibi mah emang selalu salah,” jawab Agatha. “Kenapa aku bisa tiba-tiba berada di kamarku, Bi? Apa aku semalam sedang mengigau?”
“Astaga. Non semalam di dorong Judas, Non. Makanya bisa sampai di sini,” jawab Bi Momon sembarangan.
Mata Agatha membulat sebesar kerupuk yang sedang di penggorengan. “What? Di dorong? Benar-benar keterlaluan.” Agatha berteriak memecah kamarnya. Bi Momon menutup kupingnya yang terasa sudah menjadi tempat bersarangnya lebah hutan. “Bisa jelaskan kenapa aku sampai didorong, Bi?” Agatha menatap wajah Bi Momon.
“Aduhh, Non. Masih pagi jangan teriak-teriak. Ntar dikira orang sedang melahirkan loh,” protes Bi Momon.
“Bodo! Ayo jelaskan padaku kenapa bisa di kamar dan kenapa aku didorong.” Agatha memegang gulingnya dan bersiap untuk melemparkan gulingnya.
“Sabar, Non. Jangan emosi dulu. Orang sabar makin disayang pacar loh,” goda Bi Momon. “Mau dikasih tau gak nih?
“Bisa aja Bibi mah. Yasudah, ayo jelaskan!” pinta Agatha.
“Jelaskan yang mana lagi, Non?” tanya Bi Momon.
“Astaga, Bibi. Ini aku tiba-tiba bisa di atas, kenapa? Lalu kenapa juga Mang Judas mendorongku?” ucap Agatha dengan menambahkan volume suaranya.
“Astaga. Bukan dorong, Non, tapi bopong. Maafkan mulut Bibi yang mirip burung beo, Non,” jawab Bi Momon tersenyum cengir.
“Bukan mirip, tapi memang kembarannya burung beo,” celetuk Agatha. “Jangan-jangan aku digendong Mang Judas?” Agatha menerka-nerka.
“Lah, kok tau, Non?”
“Emang siapa lagi kalau bukan Mang Judas? Emangnya Bibi mampu?” tanya Agatha, “lagian orang yang aku tunggu-tunggu kehadirannya entah di mana.” Mata Agatha kini nampak sembab.
“Yang sabar, Non. Kalau begitu, Non buruan mandi gih, nanti terlambat ke sekolah. Sarapan sudah siap untuk Non eksekusi,” ucap Bi Momon. Agatha langsung mengindahkan perkataan Bi Momon. Ia langsung beranjak turun dari ranjang dan berlalu ke kamar mandi.
“Sampai kapan kamu akan seperti itu, Non? Semoga saja kebahagiaan akan menyelimuti dan menghampirimu nona kecil,” ucap Bi Momon. Bi Momon segera menyiapkan seragam sekolah yang akan dipakai Agatha.
“Non, Bibi ke bawah ya. Seragamnya sudah di atas ranjang. Jangan salah pakai lagi,” teriak Bi Momon supaya Agatha mendengar ucapannya.
Belum beberapa anak tangga yang Bi Momon pijak, terlihat di bawah, tuan dan nyonya-nya sudah bersiap-siap untuk pergi bekerja. Ke meja makan hanya untuk mengambil sarapan dan memakannya sembari berjalan keluar rumah. Tentunya Bi Momon tidak terkejut atas sikap majikannya itu, karena memang setiap hari selalu seperti itu, tidak ada perubahan sama sekali. Mereka lebih mengutamakan pekerjaannya dibandingkan keluarganya. Padahal, untuk Nyonya Daria tidak perlu repot-repot dan berpanas-panasan di luaran rumah dan bisa memberikan waktunya untuk Agatha. Tetapi, ini malah sebaliknya, Nyonya Daria memilih ke panti asuhan dan sesekali arisan bersama rekan-rekannya.
Waktu sarapan selesai. Agatha kembali menikmati sarapan hanya seorang diri dengan ditemani Bi Momon yang sedang mencuci piring di wastafel. Mang Judas telah bersiap-siap, menyiapkan mobil baru untuk mengantar Agatha ke sekolah. Fasilitas yang tidak pernah Agatha minta, namun ternyata malah dibelikan oleh daddy-nya.
“Bi, aku berangkat.” Agatha bangkit berdiri setelah mengelap mulutnya dengan tissue.
“Iya, Non. Hati-hati di jalan. Sekolah yang benar, biar bisa masuk universitas yang Non impikan,” ucap Bi Momon dengan mengukir senyuman.
Agatha melangkahkan kakinya menuju pintu utama. Di depan mobilnya, nampak Mang Judas tengah berkaca di kaca mobil sambil bersiul-siul ria.
“Suittt-suitt! Ternyata aku tetap tampan walaupun sudah tiga puluhan,” ucap Mang Judas mengedipkan matanya ke arah pantulan dirinya di kaca mobil.
Agatha yang mendengarnya rasanya ingin mual dan memuntahkan sarapannya. “Uhuk!” Agatha terbatuk. “Mang Judas mau kemana?” tanya Agatha.
Mang Judas yang tengah asyik berkaca, sontak memutarkan badannya karena kaget. “Eh, Non. Sudah siap?” tanya Mang Judas.
Agatha menyilangkan kedua tangannya di dada. “Memangnya Mang Judas mau kemana?” Agatha kembali bertanya.
“Mau nyari calon bini, Non,” jawab Mang Judas keceplosan, “mau antarin Non ke sekolah lah!”
__ADS_1
“Sini!” Agatha mengulurkan tangannya meminta kunci mobil.
Mang Judas menatapnya heran. “Tangannya kenapa, Non? Kram? Pulang sekolah aja minta tolong sama Bi Momon, biar diurut.”
“Huum. Iya, Mang. Kram nih udah lama gak pernah bawa mobil. Hmm, kira-kira itu kunci bisa aku pegang gak ya? Gimana sih rasanya?” sindir Agatha dengan sangat mulus.
“Rasanya hambar, Non. Terus teksturnya juga keras, jadi gigi Non gak akan kuat,” jawab Mang Judas.
“Ya Tuhan ku penebusku. Ampunilah dosa dan kesalahan Mang Judas. Berikanlah...”
Belum sempat Agatha menyelesaikan ucapannya, langsung dipotong oleh Mang Judas. “Berikanlah saya pendamping yang berbudi serta penyayang.”
“Hahaha. PD-nya kebangetan, Mang. Padahal itu tadi doa sakratul maut loh.” Agatha tertawa terbahak-bahak. “Astaga. Sakit perutku, Mang.” Agatha tetap tertawa sambil memegang perutnya yang serasa dikocok.
“Ya Tuhan. Saya masih segar bugar, Non. Gak mungkin secepat itu berkelana ke dunia lain.”
“Hahaha. Umur gak ada yang tau, Mang. Jika Tuhan berkehendak, kita takkan mungkin bisa menolaknya. Yasudah, sini kunci mobilnya. Aku menyetir sendiri, Mang. Mang Judas istirahat saja sambil jaga rumah,” ucap Agatha.
“Ta-tapi, Non.” Mang Judas tidak menyetujui permintaan nona kecilnya, Agatha.
“Enggak ada tapi-tapi! Sini kuncinya!” pinta Agatha.
Mang Judas masih saja tidak mengindahkan permintaan Agatha. “Tapi, Non. Nanti tuan marah jika Nona menyetir sendiri.”
“Sudah kubilang enggak ada tapi-tapi. Mang Judas tenang saja, mereka tidak akan marah. Toh mereka saja tidak mempedulikan aku sama sekali,” ujar Agatha. Akhirnya, benda yang ia minta sudah beralih ke dalam genggamannya. Raut wajahnya berbinar karena keinginannya untuk berangkat sendiri terpenuhi. Sebenarnya, ia merasa risih jika harus terus menerus diantar jemput setiap hari. Tetapi, karena berusaha menuruti semua keinginan orang tuanya, mau tidak mau ia harus diantar jemput.
“Kalau begitu, hati-hati di jalan, Non. Ingat! Jangan ngebut nanti malah semaput,” pesan Mang Judas untuk nona kecil itu.
“Siap. Thanks, Mang. May God always blessing me wherever I go.”
“Amen.” Mang Judas mengangkat kedua tangannya ke dada membentuk sembah sujud.
Mobil Agatha perlahan meninggalkan pelataran rumahnya untuk menuju ke sekolahnya. Pagi ini, ia berniat untuk menjemput Memey dan berangkat bersama-sama ke sekolah. Sambil menyetir, salah satu tangannya mengambil ponselnya untuk menghubungi Memey.
“Gue di rumah. Bentar lagi berangkat. Ini sambil nungguin ojol, gue malas bawa motor. Kenapa?” tanya Memey. Ojol yang sedang ia tunggu ternyata sudah sampai di depan rumahnya.
“Oh. Mey, lo berangkat bareng gue ya. Bisakan?”
“Tapi...ojolnya barusan tiba di depan tuh. Gak mungkin gue batalin dan gue gak mau mati tertimpa ojol karena batalin pesanan,” jawab Memey.
“Etdah. Emang berapa biayanya?”
“Wait. Gue cek dulu.” Memey menurunkan ponsel dari telinganya untuk mengecek nominal biaya ojol yang ia pesan. “Hmm, cuma 15.000, Tha.”
“Oke. Lo bilangin ke mas ojolnya, batalin aja. Lo bayar dulu 100.000. Nanti gue ganti duit lo pas di mobil. Gue sedang menuju ke rumah lo,” jawab Agatha.
“Astaga. Oke deh kalau gitu.” Memey pasrah dan tak bisa menolak. Ia menghampiri sang ojol untuk memberi uang yang Agatha minta sekaligus untuk meminta maaf karena telah membatalkan pesanan. Obrolan Memey dan sang ojol terdengar jelas di telinga Agatha karena sambungan telepon masih tersambung.
“Udah, kan?” tanya Agatha sembari fokus ke jalanan yang ia susuri. “Lo tungguin gue di situ. Jangan kemana-mana!”
“Udah. Oke. Jangan lama, nanti kita keliling lapangan kalau terlambat.”
“Oke. Udah dekat kok.” Agatha mematikan panggilannya supaya lebih fokus.
Lima menit kemudian, tibalah Agatha di depan rumah Memey. Ternyata orang yang akan ia jemput sudah mondar-mandir ke sana kemari seperti setrikaan. Agatha berpikir, Memey pasti tidak ingin datang terlambat sehingga membuatnya nampak gelisah.
Tin, tin!! Tet, tot!!
Suara klakson mobil Agatha menyadarkan Memey. Ia menoleh ke sumber suara klakson. Orang yang sedang ia tunggu-tunggu akhirnya menampakkan wajahnya, kepala Agatha muncul dari kaca jendela mobil. Melihat Memey yang masih saja mematung, Agatha sedikit berteriak. “Mey, ayo jalan! Katanya takut keliling lapangan.”
Memey masih mematung memperhatikan mobil yang sedang Agatha pakai. “Mobil baru? Kok gue baru liat, ya? Gue yang ketinggalan informasi atau gue yang lupa sih?” gumam Memey.
__ADS_1
Tin, tin!! Tet, tot!!
Agatha kembali membunyikan klaksonnya. “Woi. Lo mau jadi patung di situ apa mau sekolah, sih?” teriak Agatha karena jengkel.
“I-iya, sabar.” Memey segera berlari mendekati mobil Agatha. Tanpa ragu, Memey langsung membuka pintu mobil dan masuk ke dalam.
“Lama amat jadi orang,” dengus Agatha. “Lo ngapain bengong?”
“Mmm, enggak apa-apa kok.” Memey mengatur napasnya yang sempat terengah-engah karena berlari.
“Nih duit lo.” Agatha memberikan dua lembar uang pecahan seratus ribu pada Memey.
Memey yang tengah mengatur napasnya, menatap Agatha dengan tatapan bingung. Kerutan di keningnya ibarat ombak yang sedang bergulung. “Kok banyak dari yang gue kasih ke mas ojol itu?”
“Udah. Ambil aja, enggak apa-apa kok.” Agatha tetap memberikan uang itu pada Memey. “Malah bengong lo. Ambil aja!”
“Oke gue ambil. Tapi seratus aja sesuai yang gue kasih tadi,” jawab Memey.
Agatha menghentikan mobilnya ketika Memey menolak permintaannya. Memey terkejut karena tiba-tiba kakinya tertendang oleh kakinya sendiri. “Gila. Lo mau kita mati dadakan kalau kayak gini,” ketus Memey.
“Ambil uangnya atau gue turunin lo di sini?” Agatha sedikit mengancam Memey agar menerima uang darinya.
Memey tak mempunyai pilihan. Jika ia menolak, maka Agatha akan benar-benar menurunkannya di pinggir jalan dan membiarkannya seperti gelandangan. Jika ia menerimanya, ia merasa tidak nyaman pada Agatha. Belanja di kota L saja untuk dirinya sudah mencapai puluhan juta, ini ditambah lagi dengan uang gara-gara ojol itu. “Iya-iya gue ambil. Yang satunya lo yang pegang ya,” ucap Memey berusaha menolak.
“Turun!” usir Agatha. Namun sebenarnya hanya untuk mengancam, bukan serius.
“Ishh. Lo mah suka benar ngancam gue. Gue delima tau, gak?” ucap Memey dengan memelas.
“Delima ada di toko buah dan di toko bunga.”
“Dilema maksud gue. Tapi sungguh, gak usah sebanyak itu loh. Jangan berlebihan!” ucap Memey.
“Kenapa sih?” tanya Agatha.
“Gue gak enak sama lo. Kemarin aja di kota L, total belanjaan gue udah puluhan juta loh,” jawab Memey apa adanya.
“Kenapa ngungkit itu? Lagian gue ikhlas traktir kalian bertiga. Daddy sama mommy juga enggak marah.” Tanpa pikir panjang, Agatha menyimpan uang itu di dalam tas Memey dengan ditambah satu lembar lagi uang seratus ribu. Jika sudah seperti itu, Memey tidak bisa menolak. Menolak pun percuma saja.
Agatha kembali menyalakan mesin mobilnya untuk melanjutkan perjalanan menuju sekolah. mata Memey nampak berkaca-kaca. “Thanks, ya. Lo udah baik banget sama gue. Gue gak mungkin bisa balas kebaikan lo sama gue. Gue doain, semoga lo, om dan tante selalu diberi kesehatan dan umur yang panjang. Rezekinya selalu lancar. Amin.” Memey mengusap matanya dengan tissue karena terasa basah.
“Amin. Apa lo tau? Daddy sama mommy gue emang baik kalau hal memberi dan melayani. Gue bersyukur sekali akan hal itu. Tetapi, di sini gue yang jadi sasarannya. Gue sering diabaikan, dicuekin. Setiap hari gue merasa ada yang hilang jika sudah di rumah. Sarapan dan makan malam juga gue sendiri. Kadang Bi Momon dan Mang Judas gue paksa untuk makan bersama hanya sekedar untuk mengobati rasa rindu gue pada mereka.” Agatha tampak mengusap pipinya.
“Lo yang sabar, ya. Gue yakin, mereka tidak akan selamanya seperti itu.” Hanya kata-kata itu yang mampu Memey ucapkan pada Agatha. Memey juga bisa ikut merasakan suasana hati Agatha saat ini.
“Yes, I hope so.”
“Udah ah. Jangan mewek lagi. Lo harus semangat. Ada gue di sini. Jangan sungkan jika ada hal yang mengganjal di hati. Gue emang kayak gini, kadang enggak nyambung sama kalian. Gue akan serius jika hal itu serius,” ujar Memey.
“Thanks, Mey.”
Tak terasa mereka sudah berada di depan gerbang sekolah. Mereka kira hanya mereka berdua yang baru saja datang. Dari jauh, Agatha dapat melihat bahwa Welson sedang berboncengan. “Mey, lo liat itu?” tunjuk Agatha pada orang yang berada di depan mobilnya sebelum diparkirkan.
“Itukan Welson. So, what the matter with that?” tanya Memey.
“Yes, I know that. Tapi, siapa orang yang Welson bonceng?”
“Oh iya, ya. Gue baru sadar loh. Siapa ya? Gue juga enggak tau kalau enggak liat wajahnya langsung.”
“Kupret. Kalau liat langsung mah gue gak bakal nanyain lo. Gue juga bisa.” Agatha memajukan mobilnya untuk diparkirkan.
Di luar mobil, Pak Satpam sekolah tengah mengetuk jendela mobil Agatha karena salah parkiran. Parkiran yang ia tempati sekarang adalah khusus para guru. Akhirnya Agatha pun melaju menuju parkiran khusus siswa. Welson yang sedang mereka amati ternyata sudah hilang di depan mata. “Siapa sih yang ia bonceng?” batin Agatha.
__ADS_1
🕊️🕊️🕊️
To be continued...