Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Sepertinya Salah Orang.


__ADS_3

“Lebih baik aku pulang saja.” Tambahnya lagi.


🕊️🕊️🕊️


Agatha kembali ke kursi karena ponselnya masih tergeletak di sana. Sementara orang yang menolong Agatha telah terlebih dulu pergi menuju mobil. Dia takut Agatha mengenalinya. Karena saking terburu-buru, hingga tak sadar lukisan setengah jadi itu tercecer di jalan. Sesampainya di mobil, dia segera melepaskan masker serta jaketnya. Bergulat dengan preman itu membuat badannya keringatan.


“Untung saja dia tidak mengenaliku.” Ucapnya sambil menyalakan mesin mobil.


Di kursi, Agatha meraih ponselnya dan kembali menghembuskan napasnya.


“Terima kasih Tuhan untuk hari ini. Apapun yang terjadi, biarlah semuanya terjadi dan berlalu. Aku tau, di mana ada awal, di situ juga ada akhir. Di mana ada duka, di situ juga ada suka. Semuanya pasti akan indah seturut kehendakMu.” Ucapnya dengan tangan mengatup.


Sebelum meninggalkan kursi itu, Agatha kembali melihat sang preman yang terbaring di atas rumput. Dia masih saja setia meringkuk akibat pergulatannya tadi.


“Hahaha. Rasain lo preman empang. Untung ada malaikat tak bernama. Keok kan lo.” Ucap Agatha sembari menendang kaki preman itu.


Akhirnya Agatha pun meninggalkan tempat itu dan menyusuri jalan yang sama dengan orang yang menolongnya. Di tengah-tengah Agatha berjalan, Agatha melihat ada sesuatu di depan langkahnya. Dia menghampiri dan memunguti kertas lukisan itu.


“Apa ini?” ucap Agatha dan menarik kertas itu di atas bunga-bunga.


“Apakah ini punya orang yang menolongku tadi ya?” tambahnya lagi.


Karena penasaran, akhirnya Agatha membuka lipatan lukisan itu. Betapa terkejutnya dia setelah melihat hasil lukisan tersebut. Walaupun masih setengah jadi, namun sudah nampak jelas bahwa itu adalah wajah dirinya.


“What? Bagaimana bisa orang itu melukis wajahku?” Agatha terkejut karena wajahnya terpampang di sebuah lukisan.


“Apakah orang itu adalah orang yang sama ketika aku dan Welson ke sini waktu itu?” Agatha mengibas-ngibaskan lukisan itu ke wajahnya.


Agatha membolak-balikkan lukisan itu ingin mencari apakah ada inisial orang yang ngelukis itu, namun tak satupun yang dia temui di kertas itu. Tidak ada tulisan kecuali lukisan.


“Ah. Yasudahlah. Siapapun itu, berarti dia kenal dan dekat dengan diriku. Sekali lagi, terima kasih telah menolongku.” Ucap Agatha kemudian berlalu pergi menuju mobil.


Di dalam mobil, ternyata Mang Judas masih saja tertidur dengan gaya mangap, sampai-sampai kedatangan Agatha pun tak disadarinya. Agatha mengetuk kaca mobil untuk membangunkan orang yang ada di dalam sana.


Tok..tok..tok!


“Mang Judas, bangun! Bukain pintunya!” Agatha sedikit berteriak Agatha berdiri dari luar.


Mang Judas hanya mendengar panggilan Agatha dengan samar-samar. Panggilan Agatha membuat Mang Judas mengubah posisi tidurnya. Agatha yang kesal karena Mang Judas malah berubah posisi, kini kembali mengetuk kaca mobil.


Tok..tok..tok!


“Ini orang tidur apa gimana? Dipanggil-panggil gak bangun-bangun?” dengus Agatha kesal.


Saking kesalnya, Agatha mengetuk-ngetuk kaca mobil untuk yang kesekian kalinya. Jika saja kaca mobil itu setipis kertas, sudah dipastikan kaca itu akan retak karena diketuk-ketuk Agatha.


“Hoaahaaamm!” Mang Judas bangun sambil mengumpulkan nyawanya yang setengah masih tertinggal.


Alangkah terkejutnya Mang Judas ketika melihat keluar mobil sudah mendapati pemandangan yang luar biasa. Ya. Agatha kesal. Agatha mendekapkan tangannya dengan memasang wajah yang sama sekali tak enak dilihat. Mang Judas merasa kikuk dengan ulahnya sendiri.


“Astaga. Gawat ini. Wajahnya sudah berubah jadi sangar.” Gumam mang Judas di dalam sambil membuka pintu mobil.


“Eh, Non sudah kembali ya? Kenapa gak bangunin saya, Non?” ucap mang Judas seolah tak melihat kekesalan nona kecilnya itu.


“Belom. Agatha masih gentayangan.” Jawab Agatha kesal.


“Itu Mang Judas di dalam, tertidur apa lagi lomba manjat tebing? Diketak-ketok sekian kali kagak bangun-bangun? Bukannya bangun, yang ada malah berubah posisi.” cetus Agatha lagi.

__ADS_1


“Hehe. Maaf, Non. Saya ketiduran. Habisnya Non lama sekali di sana.” Jawab mang Judas kikuk sembari menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.


“Yasudah, Mang. Ayo kita pulang.” Ucap Agatha membuka pintu mobil.


“Jangan, Non!” cegah Mang Judas karena Agatha membuka sendiri pintu mobilnya. Namun ucapannya terpotong karean Agatha telah memotong perkataan Mang Judas.


“Apa, Mang? Mang Judas ngelarang aku pulang, gitu?” Agatha melotot.


“Aduhhh, bukan gitu maksud saya, Non.” Ucap mang Judas.


“Lalu apa jika bukan ngelarang aku pulang, Mang?” tanya Agatha lagi.


“Kesambet apa orang ini tadi?” batin Mang Judas.


“Anu, Non. Makanya jangan dipangkas dulu pembicaraan saya, Non.” Jawab Mang Judas.


“Pangkas-pangkas. Emangnya tanaman dipangkas?” dengus Agatha.


“Bukan gitu maksudnya, Non. Pintunya biar saya aja yang bukain.” Ucap Mang Judas dan melirik ke arah pintu mobil.


“Yaelah. Cuma gitu doang kayak ngelarang karena ada binatang buas aja, Mang.” Ucap Agatha dan masuk ke dalam mobil.


“Salah lagi kan?” batin Mang Judas yang masih setia berdiri.


“Mang, mau pulang apa mau jadi model manekin di situ?” seru Agatha dari dalam mobil.


“Eh. Maaf, Non. Iya kita pulang. Lagian mana ada yang mau menyewa saya, kecuali jadi manekin orang-orangan sawah.” Balas Mang Judas dan membuka pintu mobil.


“Hmmm, ada-ada saja ulahnya.” Batin Agatha.


🕊️🕊️🕊️


“Lah, ke mana perginya? Apa aku salah liat ya?” batinnya.


“Non, kenapa melamun? Ntar kemasukan loh? Bahaya, Non.” Tegur Mang Judas.


“Siapa yang ngelamun sih, Mang?” alih Agatha.


“Itu tadi kenapa jika bukan melamun, Non? Apa lagi sakit perut ya?” tanya Mang Judas.


“Kagak. Lagi sakit penglihatan.” Ketus Agatha.


“Emangnya penglihatan bisa sakit ya, Non?”


“Ya bisalah. Apalagi kalo ngeliat Mang Judas pake daster. Hahaha.” Ledek Agatha yang membuat Mang Judas garuk-garuk kepala.


“Ah. Non bisa aja. Mana mungkin saya pakai daster? Kan belum Agustusan.” Jawab Mang Judas santai.


Sejenak Mang Judas mengingat-ingat kejadian di dapur waktu dia meminum kiranti.


“Eh, Non. Kok saya jadi ingat kiranti ya?” ucap Mang Judas.


“Ada apa dengan kiranti, Mang? Pacar Mang Judas ya?” tanya Agatha.


“Huss! Bukan, Non. Yang benar saja pacaran sama kiranti? Gak mungkin, Non.” Hardik Mang Judas.


“Lalu kenapa dengan kiranti, Mang? Apa dia menjahili Mang Judas?” Agatha kembali bertanya.

__ADS_1


“Gini ceritanya, Non. Kemaren kebetulan di meja makan ada botol minuman. Dan saat itu, Bi Momon sedang mencuci piring. Karena saya sedang haus, lalu saya meminum yang ada di botol itu. Rasanya agak seger, tapi dominan kunyit. Saya kira itu jus buatan Bi Momon, eh tau-taunya itu kiranti buat wanita haid.” Jelas mang Judas, seketika tawa Agatha pecah.


“Buahahaha. Mang, Mang.” Agatha tertawa sambil memegang perutnya.


“Emang gak dibaca itu botol keterangannya apa, Mang?” tanya Agatha masih dengan gelak tawanya.


“Hehe. Itu dia yang jadi masalahnya, Non. Karena saking haus, jadi langsung saya sikat sampai ludes, tanpa proses baca membaca lagi.” Jawab mang Judas kikuk sendiri.


“Haha. Baru kali ini aku mendengar laki-laki jantan meminum kiranti, Mang.” Jawab Agatha terkekeh.


“Lupakan, Non. Saya malu. Lagian mana ada lelaki betina.” Pungkas Mang Judas.


“Ada-ada saja, Mang.” Agatha menggelengkan kepalanya.


🕊️🕊️🕊️


Saking asyik mengobrol, tanpa terasa mereka telah tiba di depan rumah. Mang Judas menekan remot kontrol gerbang rumah supaya mereka bisa masuk. Agatha turun dan melihat garasi, namun mobil kedua orang tuanya belum terparkir sama sekali yang menandakan bahwa mereka belum juga pulang. Semakin hari semakin sibuk. Keluhan dan ungkapan dari hati Agatha waktu itu seolah angin lalu di telinga kedua orang tuanya. Dia melangkah gontai memasuki rumahnya. Rumah yang begitu luas, semakin menambah kesunyian. Dia merebahkan tubuhnya di atas sofa dengan masih memakai seragam sekolah.


Sementara di dapur, Bi Momon tengah menyiapkan hidangan makan malam untuk keluarga William. Sebenarnya percuma saja menyiapkan makan malam, toh yang makan kadang-kadang hanya Agatha. Tapi karena tak ingin lalai dari tugasnya, Bi Momon tetap menyiapkan makan malam. Mana tau tiba-tiba tengah malam ada yang keroncongan, pikirnya.


“Hmmm, sudah beres. Tinggal di eksekusi lagi.” Ucap bi Momon ketika melihat meja makan sudah tersedia hidangan makanan.


“Sepertinya Non Agatha sudah pulang.” Tambahnya lagi dan menuju ke arah tangga.


Langkah Bi Momon terhenti ketika melihat Agatha merebahkan diri di sofa. Bi Momon menghampirinya.


“Non, kenapa terdampar di sini?” tanya Bi Momon.


Namun panggilan Bi Momon tak terjawab karena Agatha sudah tertidur.


“Astaga! Dia tertidur.” Batin bi Momon.


“Kasihan sekali kamu, Non. Sampai-sampai tertidur di sini.” Gumamannya.


Tak berapa lama, terdengar deru mesin mobil di luar rumah. Bi Momon mendekati pintu dan membukanya. Tampak Tuan Thomas sudah berdiri di depan pintu.


“Malam, Tuan.” Sapa Bi Momon hormat.


“Malam kembali, Bi.” Jawab Tuan Thomas dan berlalu ke dalam.


Sepeninggalan Tuan Thomas, kini mobil Nyonya Daria memasuki gerbang rumah.


“Huhhh. Kenapa kagak barengan aja sih nyampenya?” batin bi Momon.


Nyonya Daria turun dari mobil dan memasuki rumah.


“Malam, Nyonya.” Sapa Bi Momon ramah.


“Iya, Bi. Malam.”


Sampai di ruang keluarga, Nyonya Daria kaget mendapati Agatha yang tertidur di sofa.


“Kenapa dia malah tidur di situ? Mana seragamnya belum diganti.” Gumam nyonya Daria, berlalu ke kamar.


🕊️🕊️🕊️


Dukung karya Author dengan meninggalkan jejak, like, komen, rate, serta vote (bagi yang ikhlas saja)😊.

__ADS_1


__ADS_2