
“Loh, kenapa? Udah sarapan belom?” tanya Welson.
“Hm, males, Yank. Sebenarnya aku kurang enak badan, meriang.” Jawab Agatha, lalu melihat ke arah bagian yang lecet.
Sebenarnya ia malu mengatakan hal itu pada Welson. Namun jika tak disampaikan, yang ada Welson malah seenaknya memperlakukannya jika mereka ketemu nanti.
“Kok bisa meriang?” tanya Welson, “atau lagi merindukan kasih sayang, ya?” Welson terkekeh di ujung sana.
“Bukan itu ih, Yank. Ini, itu aku....sakit, memar dan lecet, makanya badanku meriang, Yank.” Tukas Agatha dengan memelankan suaranya.
“What? Serius?” Welson kaget karena ulahnya bisa membuat pacarnya jadi tidak enak badan.
“Kamu, sih, nakal!” dengus Agatha memanjakan suaranya, “gimana dong?” lanjutnya.
“Khilaf, Yank, hehe.” Welson terkekeh.
“Khilaf, khilaf. Awas aja kalo diulangi lagi!” Agatha cemberut, “jadi gimana, Yank?” tambahnya.
“Yaudah, kita ke dokter, ya!” tawar Welson.
“Haa, dokter? Gak mau ah, aku malu tau.” Agatha terkejut karena masalah seperti itu mau dibawa berobat oleh Welson.
Karena Agatha tak mau diajak ke dokter, Welson sempat bingung apa yang harus dia lakukan. Bayangkan saja, jika sampai terjadi apa-apa sama pacarnya, mamanya sendiri yang akan menghajar Welson. Akhirnya muncullah satu solusi yang dia rasa itu akan bisa membuat lecet Agatha sembuh.
“Hmm, yaudah. Kita keluar beli obat. Ayo!” ajak Welson seolah-olah dia sudah berada di depan rumah Agatha.
“Loh, emang kamu lagi di mana?” tanya Agatha kebingungan.
“Di rumah.” Jawab Welson singkat.
“Katanya mau ngajak keluar beli obat? Kok masih di rumah?”
“Iya-iya. Aku ke sana. Tunggu ya!” jawab Welson.
“Okay. Aku siap-siap dulu. See you, honey.” Agatha langsung mengakhiri sambungan telepon.
“Dihh, belum di jawab udah dimatiin aja teleponnya” Welson mendengus, “see you too,” jawab Welson menatap layar ponselnya.
Sebelum menjemput Agatha, Welson membuka mesin pencari (browsing) sesuatu yang berhubungan dengan lecet di bagian sensitif Agatha karena ulahnya yang tak bisa dikendalikan. Ada beberapa referensi salep yang bisa dan biasa dipakai untuk mengobati luka lecet seperti yang Agatha alami sekarang, bahkan ada juga obat yang langsung diminum untuk menurunkan panas pada tubuh.
Obat atau salep yang dia browsing, ternyata banyak tersedia di apotik-apotik, jadi tidak harus pergi ke dokter. Toh sebenarnya dia juga malu jika harus menangani masalah tersebut dengan bantuan dokter. Sebelum berangkat, Welson mengubungi beberapa temannya supaya bisa ikut keluar sekedar untuk menghilangkan kepenatan atau kebosanan jika terus berada di rumah. Beruntungnya, teman-temannya juga mau diajak keluar bersama-sama, tak lupa juga si Memey dan Yadi, lalu mereka akan jalan-jalan bersama sesuai yang Welson inginkan.
__ADS_1
🕊️🕊️🕊️
Tak butuh waktu yang lama, kini sebuah mobil yang tak kalah mewah dari mobil Agatha, telah tiba di depan perumahan mewah keluarga William, yang tak lain adalah orang tuanya Agatha, dan mobil itu adalah mobilnya Welson.
“Yeeee, sudah sampai.” Sorak Memey kegirangan.
“Norak amat lo, Mey.” Ketus Welson.
“Gak usah ngegas kali, Bro.” Celetuk Yadi yang tak habis pikir mereka langsung ribut-ribut di dalam mobil.
“Lah, lo juga ngapain coba ikut ngegas-ngegas segala?” protes Memey pada Yadi.
“Emangnya mau naik motor?” ketus Yadi kesal pada Memey.
“Woii, bisa diam gak sih lo berdua?” teriak Welson meneriaki Memey dan Yadi.
“Dihhh, santai aja kali, Wels.” Memey mendengus karena kesal pada dua cowok di depannya.
“Lo juga santai, kupret!” teriak Welson dan Yadi bersamaan.
“Ishhhh, sebel.” Memey keluar dari dalam mobil, lalu menelepon Agatha.
Agatha yang sedang merapikan rambutnya di depan meja rias miliknya, kaget ketika ponselnya berdering.
“Duh, siapa lagi sih?” gumam Agatha sebelum melihat siapa yang meneleponnya.
Karena dering ponselnya membuat kebisingan, akhirnya Agatha meraih ponselnya lalu melihat nama siapa di sana.
“Oh, si Memey,” ucapnya, “hallo, Mey?” sapanya setelah menjawab telepon itu, menyapa Memey yang sedang berada disambungan teleponnya.
“Hallo, Tha. Lo di rumah, ya?” tanya Memey kepada Agatha, padahal dia sendiri juga berada di depan rumah Agatha.
“Bukan. Gue di kolong jembatan,” dengus Agatha, “ada apa, Mey?” tanya Agatha.
“Ishhh, galak benar. Selow kali, Tha,” ujar Memey, “jalan-jalan yuk?” ajaknya pada Agatha.
“Hahaha, kayak gitu lo bilang galak, Mey?” tanya Agatha yang belum merespon ajakan Memey.
“Dihh, diajakin malah gak dijawab. Gimana sih lo?” ucap Memey sembari menggaruk kepalanya dan menoleh ke arah mobil.
“Apa tadi, Mey? Hihi,” tanya Agatha terkekeh.
__ADS_1
“Yaelah, kupret!” dengus Memey kesal.
“Lo yang kupret. Santai aja ngapa?” balas Agatha.
“Iya-iya deh, mohon mangap eh maaf. Eh, by the way, kita jalan yuk! Ke cafe apa gitu sama yang lainnya juga kok,” ajak Memey dengan memelas dan penuh harap, padahal dia dan Yadi yang diajak oleh Welson untuk menemani mereka.
“Mangap-mangap. Mangap aja sono ke tepi pantai biar kemasukan air laut!”
“Dih, galak amat sih lo, Tha? Yaudah, gimana? Mau apa enggak?” tanya Memey dengan penuh harap.
“Hmm, boleh. Gue mah oke-oke aja. Lagian gue sama Welson juga mau keluar kok. Lo mau ke sini apa gimana?” ucap Agatha panjang lebar, dia tak mengetahui bahwa sebenarnya Memey sudah di depan rumahnya, yang mana jawaban Agatha membuat Memey tersenyum sumringah.
“Jadi gimana? Lo mau, kan?” tanya Memey memastikan, siapa tau Agatha membatalkan niatnya.
“Iya dodol. Lo ke sini aja dulu, ntar kita berangkat bareng,” ujar Agatha.
“Eh, wait! Lo sekarang di mana coba? Biar enak jemputnya nanti,” tambah Agatha.
“Gue di bawah, depan rumah lo. Bukain pintu gih!” jawab Memey dengan konyolnya, “cape nih gue berdiri sejak tadi,” tambah Memey.
“Ngapain aja coba? Gak bilang dari tadi sih bocah!” Agatha mendumel.
Mendengar Memey yang sudah tiba di depan rumahnya, segera Agatha memutuskan sambungan telepon sepihak, bergegas ke bawah apakah Memey benar atau hanya membohonginya saja. Dan, ternyata memang benar adanya, Memey sudah berkacak pinggang menunggu di depan rumahnya, atau lebih tepatnya di halaman persis dengan mobil Welson. Agatha terperangah ketika Welson dan Yadi keluar dari mobil, ternyata Memey dan Yadi sudah di jemput Welson. Agatha berjalan menuju ke arah mereka bertiga.
“Kenapa gak bilang kalo udah ke sini bareng Welson?” tanya Agatha, lalu tangannya dengan sengaja mencubit kecil tangan Memey.
“Ihhh, kok nyubit sih? Emang gue anak kecil apa?” Memey meringis memegang tangannya yang dicubit Agatha.
“Gue sama yang lainnya kan mau bikin lo terkejut. Haha,” tambah Memey dengan gelak tawanya.
“Udah siap belom, Yank?” celetuk Welson tiba-tiba.
“Mmm, udah kok. Tinggal izin dulu sama Bi Momon. Daddy sama mommy kayaknya belom bangun, jadi izin sama Bi Momon aja,” jawab Agatha.
“Ok. Izin dulu sana!” perintah Welson.
“Huahaha. Emang bisa izin sama ikan salmon?” tanya Memey sambil tertawa, begitu senangnya tertawa tanpa tau Welson menatapnya dengan tatapan yang tak bisa ditebak.
“Kupret lo, Mey!” hardik Welson dengan matanya yang membulat sebesar pentol bakso.
“Idih, mukanya serem amat!” ucap Memey, kemudian mengalihkan pandangannya dari Welson.
__ADS_1
Agatha kembali masuk ke rumah ingin meminta izin pada asistennya setelah mendengar Welson dan Memey bercakap-cakap.
To be continued.....