Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Aroma Parfumnya...


__ADS_3

Dirgo yang sudah lama berada di dalam mobilnya, seketika ia menundukan badannya supaya tak terlihat oleh kedua teman sekelasnya yang baru saja salah satunya ia temui dan ia bantu ketika hampir saja jatuh. Pakaiannya yang semula sudah diketahui oleh Agatha, segera ia ganti dengan pakaian yang serba hitam, mengenakan masker, kacamata, dan topi rajut layaknya seorang preman jalanan. Hal itu ia lakukan supaya Agatha tak semakin curiga dengan apa yang telah ia lakukan hingga sejauh ini. “Entah sampai kapan aku terus seperti ini? Akankah apa yang telah kuperjuangkan akan berbuah manis ke depannya? Ntahlah, akupun tak bisa menebak hal itu.” Gumaman Dirgo pada dirinya sendiri sambil menghela napas panjang.


Sementara di barisan parkiran depan, tampak Agatha dan Memey sudah mulai menyalakan mesin mobilnya untuk segera bergegas pulang menuju rumah, mengingat besok pagi harus bersiap ke sekolah. Perlahan, mobil Agatha dan Memey mulai meninggalkan area parkiran restoran bintang lima itu, dan tak lama kemudian mobil dirgo pun mulai mengikuti mobil Agatha dari belakang. Jalanan malam itu terasa lengang, tak ramai dan tak sepi juga. Di keheningan perjalanan, Memey mulai membuka suara karena teringat sesuatu yang dikatakan oleh Agatha sewaktu balik dari toilet.


“Eh Tha.” Dengan volume suara yang cukup keras, suara Memey mengejutkan Agatha yang tengah fokus menyetir, dan hal itu membuat Agatha refleks menginjak rem secara mendadak.


Gubraaakkkk!!! Keduanya sama-sama kaget. Untung saja kepala mereka tak membentur mobil. Di belakang mobil Agatha yang hanya berjarak kurang lebih 10 meter, Dirgo juga memperhatikan mobil Agatha yang tengah berhenti.


“Lo gila ya, Mey?” Ucap Agatha sambil mengelus dadanya yang terasa hampir copot dan terbelah dua.


“Enak aja bilang gue gila. Masih waras dan cantik jelita gini malah dikira gila.” Jawab Memey sambil cemberut, namun ia sama sekali tak mengerti apa yang telah ia lakukan sehingga membuat Agatha rem mendadak.


Melihat tingkah Memey yang sama sekali tak mengerti apa yang ia maksudkan, tiba-tiba Agatha memajukan wajahnya dan mendekati kuping Memey. “Lain kali kalo ngomong jangan keras-keras, bikin orang kaget aja. Lo pikir gue tuli apa?” Bisik Agatha ke telinga Memey dengan penuh penekanan.


“Hihi… Jangan bisik-bisik gitu juga dong, ngeri tau. Lagian siapa juga yang bilang lo kuli.” Jawab Memey asal.


Agatha hanya bisa menggelengkan kepala dan tertunduk mendengar jawaban Memey. Lagi-lagi telinga Memey terjadi korsleting. “Yaudah! Serah lo mau jawab apa. Sekarang gue tanya, emang lo tadi mau ngomong apa?” Tanya Agatha kesal.


“Oooohhh itu, hehe.” Memey terkekeh. “Tadi kan lo bilang ada cowok yang nolongin lo pas ke toilet. Memangnya itu siapa? Lo kenal? Dah berapa lama? Kok gak cerita ke gue? Trus -- ” Pertanyaan Memey terpotong ketika melihat wajah Agatha yang bisa dibilang sudah ingin lepas dari tempatnya. Seketika Memey terdiam.


“Dasar kepo!” Cerca Agatha tegas. Agatha tak menggubris pertanyaan Memey sehingga membuat Memey penasaran. “Udah yuk balik, ntar kemalaman.” Sesegera mungkin Agatha kembali meraih setir mobilnya, dan perlahan mulai melaju.

__ADS_1


Tanpa menjawab, Memey bergumam dalam bahasa kalbunya. “Huhhh dasar! Suka bikin penasaran. Tadi bilang gue gila, trus nuduh gue bilang kuli, sekarang malah bilang gue kebo. Gini amat ya punya teman, sahabat, dan lawan debat.”


🕊️🕊️🕊️


Kurang lebih sudah sekitar 30 menit di perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah. Dengan sigap Mang Judas membuka gerbang rumah karena nona kecilnya sudah tiba. Setelah mobil masuk ke tempat di mana semestinya mobil itu berada (garasi), Mang Judas segera menghampiri Agatha dan Memey, lalu berkata, “Non, sebelum Non balik, Tuan sama Nyonya mengirimi saya pesan. Mereka bilang, malam ini mereka nginap di kantor karena besok pagi ada client penting dari perusahaan Wertz.” Ucap Mang Judas hati-hati.


“Ohh.” Jawab Agatha singkat, kemudian menyodorkan pesanan pizza yang dipesan oleh Mang Judas. “Ini pesanan Mang Judas!” Kemudian mereka masuk ke dalam meninggalkan Mang Judas.


“Jawabannya sangat simple. Baiklah, mungkin stok kata-katanya sedang menipis.” Mang Judas bergumam sendiri sambil mondar-mandir menikmati pizza pesanannya. Sedangkan di luar pagar, Dirgo kembali menyetir untuk segera kembali ke rumahnya.


🕊️🕊️🕊️


Agatha dan Memey segera menuju dapur di mana tempat Bi Momon berada. Dengan melangkah pelan-pelan, Agatha berniat ingin mengagetkan Bi Momon. Bi Momon yang tengah fokus merapikan cucian piring dan gelas, tiba-tiba ia merasa geli dan bergidik. Sambil menutup mata dan menghentikan pekerjaannya, Bi Momon bersuara, “ini bukan malam jumat. Tetapi kenapa malah terasa horor.” Seketika Bi Momon mengusapkan tengkuk dan telinganya yang sedang ditiup-tiup oleh Agatha. “Jika ini hantu, tapi kok wangi? Wanginya seperti wangi Non Agatha. Apa jangan-jangan?” Ucap Bi Momon seraya membayangkan hal-hal yang di luar dugaan. Passalnya ia mengira telah terjadi kecelakaan antara mobil Agatha dan mobil orang lain.


“Hahah. Bibi kocak amat sih!” Celetuk Memey.


“Ssssttt, jangan bersuara!” Telunjuk Bi Momon langsung menempel di mulutnya memberi isyarat, namun itu membuat Memey semakin menjadi.


“Ini pesanan Bibi.” Agatha meletakkan cake red velvet sama boba yang di pesan Bi Momon ke atas meja makan. “Okay, Bi. Kami ke atas dulu, ya. Cape! Mau istirahat. Bibi jangan lupa istirahat!” Agatha dan Memey bergegas menuju tangga untuk bisa mencapai kamarnya.


Mendengar ucapan yang baru saja nona kecilnya itu dilontarkan, Bi Momon bingung sendiri. “Apa? Sejak kapan wanita bisa istri empat? Wanita harusnya bersuami, bukan beristri. Ah, Nona Agatha ada-ada saja.”

__ADS_1


Di kamar.


Agatha dan Memey yang sudah berada di kamar, sedang membersihkan diri supaya istirahatnya nyenyak tanpa kendala apapun. Sembari menyisir rambut, Agatha menceritakan kepada Memey tentang apa yang Memey tanyakan pada saat mereka berada di dalam perjalanan pulang, yang hampir membuat kepala mereka kejedot mobil. Agatha menceritakannya tanpa kurang satu katapun kepada Memey, dan beruntungnya Memey sedang tidak kumat, sehingga ia cepat memahami apa yang Agatha ceritakan.


“Hmm menurut lo ini kebetulan ketemu atau--?” Memey menggantungkan ucapannya.


“Ntahlah. Gue juga kurang tau. Tapi ada satu hal yang bikin gue penasaran dan curiga.” Jawab Agatha.


“Apa?”


“Sebenarnya, tadi sejak kita berhenti di jalan, di belakang kita ada mobil yang juga berhenti. Tapi gue gak kenal sama mobil itu, dan lagi pakaiannya serba hitam.” Jawab Agatha.


“Oh. Gue juga liat sih sebenarnya. Apa itu Dirgo?” tukas Memey.


“Sepertinya bukan sih. Soalnya Dirgo udah duluan balik dari kita, dan kita juga gak tau dia naik apa ke restoran,” Agatha menjelaskan kepada Memey. “Yuk ah tidur. Pusing gue.”


“Hayukkkkk.”


Malam sunyi berlalu ditemani dinginnya pendingin ruangan, begitu juga di rumahnya Dirgo. Suasana malam yang sunyi membuat semuanya tertidur dengan lelap dan pulas. Bi Momon dan Mang Judas juga telah kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.


🕊️🕊️🕊️

__ADS_1


To be continued…


__ADS_2