
Melihat apa yang Memey tunjukkan padanya, Yadi tiba-tiba ingin menjahili Memey. Yadi seketika mengembangkan senyumnya tatkala membayangkan dirinya menggenggam tangan Memey yang lentik dan mulus.
“Kamu mau kayak gitu juga?” tanya Yadi, sontak membuat Memey menoleh ke sampingnya menatap Yadi.
“Ya maulah. Tapi pasangannya gak ada. Hikss!” ucap Memey dengan raut wajah yang menggemaskan buat Yadi.
“Hm, aku bisa juga kok kayak gitu.” Ujar Yadi dengan penuh percaya diri.
Lain halnya dengan Agatha dan Welson di depan, mereka berdua cengar-cengir melihat ulah Memey dan Yadi di belakang yang nampak iri dengan mereka.
“Uhuk-uhuk!” Agatha pura-pura batuk, seolah batuk itu adalah batuk musiman.
“Lo kenapa, Tha?” tanya Memey dengan ekspresi bingung.
“Palingan keselek liurnya sendiri.” Celetuk Yadi.
“Jorok amat lo, Yad.” Dengus Memey sembari memukul tangan Yadi.
“Jangan dipukulin dong! Genggamin aja kayak mereka itu, kayaknya nyaman deh.” Ucap Yadi dengan tersenyum. Nyaris membuat mata Memey membulat seketika.
“Maksud lo apaan kutu air? Lo modus ya?” tukas Memey.
“Siapa yang modus? Gue serius!” jawab Yadi.
“Lo berdua berisik amat sih? Bisa diam gak?” hardik Welson dengan tangannya yang masih fokus menyetir.
“Gue lagi usaha, Wels. Hahaha.” Seru Yadi sambil tertawa.
Mereka berhenti sejenak ketika lampu merah berhenti pada posisinya. Tepat pada saat itu, apotik sudah tidak jauh lagi dari lampu merah itu. Welson merasakan panas di tubuh Agatha sudah membaik dari sebelumnya, namun lecet di bagian sensitif itu masih saja menimbulkan rasa nyeri dan perih.
“Yang itu masih sakit, Yank?” tanya Welson pada Agatha.
“Hu um, masih, Yank.” Jawab Agatha.
Memey yang baru mendengar Agatha sakit, membuatnya terkejut. Padahal, yang ia lihat Agatha sedang baik-baik saja. Ia bingung, sebenarnya penyakit apa yang menimpa sahabatnya itu.
“Haaaa. Lo sakit apa, Tha?” teriak Memey. Yadi yang berada di samping Memey seketika menutup kupingnya karena teriakan Memey.
“Woii, santai aja, Mey. Lebay amat lo.” Dengus Agatha di depan.
“Bisa gak sih jangan teriak? Gendang telinga gue hampir pecah tau.” Tukas Yadi.
“Lo juga ngapain balas teriak?” balas Memey dengan kesal.
CUP!! Welson mencium bibir Agatha. Agatha yang mendapat serangan tiba-tiba seperti itu membelalakkan matanya. Bagaimana pun, mungkin saja ia malu jika berciuman di depan kedua sahabatnya yang di belakang tengah berdebat. Saking asyik mereka berdebat, mereka berdua melupakan keberadaan Agatha dan Welson yang berada di depan kini tengah berciuman dengan sangat mesra. Namun tiba-tiba Memey menoleh ke depan dan langsung menutup matanya. Ia melihat dengan sangat jelas apa yang Agatha dan Welson lakukan sekarang.
__ADS_1
“Uhuk! Mataku ternodai.” Ucap Memey seraya menutup matanya dan memberi celah sedikit supaya bisa mengintip kecil-kecil.
Karena menyadari bahwa yang di belakang mereka telah mengetahui kegiatan Agatha dan Welson, akhirnya mereka berdua menyudahi aksi itu. Agatha merona merah karena malu. Ini semua gara-gara Welson, pikirnya.
“Yank, kamu sih.” Agatha merengek.
“Santai aja kali, Yank. Biar jiwa kejombloan mereka bergejolak.” Ucap Welson dengan santainya.
“Kalian tega,” ucap Memey, “ku menangis,” tambahnya.
“Hiyaaaa. Lanjut!” ujar Yadi.
“Membayangkan, betapa kejamnya dirimu atas diriku.” Lanjut Memey.
“Terus?” ucap Yadi agar Memey meneruskan lagunya.
“Dihh, lanjutin aja sendiri. Gue gak hafal!” dengus Memey kesal.
“Songong. Kalo gue tau gak mungkin nyuruh lo lanjutin.” Ucap Yadi yang tak kalah kesal.
“Noh! Banyak di google. Lo googling aja sendiri.” Saut Memey yang mana langsung mengambil ponselnya.
“Ogah gue!”
“Yasudah! Biar lo kepikiran. Haha.” Tukas Memey penuh kemenangan.
Traffic light kini bergeser warna dari merah ke hijau, yang berarti mereka atau pengemudi lainnya boleh melanjutkan jalannya kembali.
Tak berselang waktu lama, kini Welson menepikan mobilnya di depan apotik untuk membeli obat atau salep untuk Agatha. Memey seketika memasang wajah bingung kenapa tiba-tiba berhenti di depan apotik.
“Loh, kok berhenti di sini? Emangnya di apotik ada cafe atau restoran ya?” tanya Memey heran.
“Dasar dodol lo, Mey. Gue mau belikan salep dulu, baru kita jalan lagi.” Tukas Welson, lalu turun dari mobil.
“Jangan ke mana-mana! Tunggu aja di mobil!” tambah Welson.
Dengan langkah pasti dan cool, Welson memasuki apotik itu sambil tersenyum. Banyak mata yang terperangah melihat ketampanan Welson, apalagi apoteker perempuan sampai tak berkedip melihatnya.
“Permisi! Kak, ada salep untuk luka lecet?” tanya Welson langsung pada intinya. Namun orang yang ditanya sedang asyik memandangi wajah Welson.
“Hallo, kak. Apakah ada salep untuk luka lecet?” ulang Welson sekali lagi dengan menjentikkan tangannya di depan wajah sang apoteker. Seketika apoteker itu terkejut.
“Eh, ada apa, Mas? Mas nyari apa?” tanya sang apoteker.
“Mau nyari sayur kol,” ucap Welson sembarangan karena kesal pada apoteker itu, “gue nyari salep khusus luka lecet,” sambungnya.
__ADS_1
“Oh, ada, Mas. Ini nama salepnya povidone iodine.” Jawab apoteker dan langsung mengambil salep yang sering digunakan kebanyakan orang.
“Salep ini memiliki sifat antiseptik dan antimikroba yang berfungsi untuk menghambat perkembangan bakteri, sehingga resiko infeksi dapat ditekan. Salep ini umum digunakan untuk berbagai jenis luka ringan, termasuk luka gores/lecet, luka sayat, dan luka bakar. Jadi saran saya, Mas nya beli yang ini saja!” jelasnya dengan wajah yang tak berhenti menatap Welson.
“Yasudah, yang itu saja, Kak.” Jawab Welson, lalu mengeluarkan lembaran uang dengan nominal yang besar dan tak sebanding dengan harga salep itu yang mungkin harganya hanya belasan ribu.
“Waduh. Banyak amat ini, Mas.” Tukas sang apoteker.
“Ambil saja kembaliannya. Mana salepnya?” tanya Welson.
“Wah, udah ganteng, baik lagi. Tapi sayang, dinginnya luar biasa.” Batin sang apoteker.
“Ini, Mas. Semoga cepat sembuh.” Tambahnya.
“Thanks.” Ucap Welson singkat.
Belum sempat sang apoteker perempuan itu menjawab, Welson segera bergegas ke pintu keluar setelah barang yang ia cari telah berada dalam genggamannya. Ia menuju mobilnya kembali karena mereka akan kembali melanjutkan tujuannya ke tempat lain.
“Ada salepnya, Yank?” tanya Agatha ketika Welson sudah masuk ke dalam mobil.
“Astaga. Ada, Yank.” Jawab Welson, tangannya merogoh saku celana yang ia jadikan sebagai penyimpanan salep sementara.
“Nih salepnya!” titahnya pada Agatha.
Agatha langsung meraih apa yang Welson sodorkan padanya. Lantas Agatha memasukkan salep itu ke dalam tas kecil miliknya.
“Mau aku olesin salepnya?” tanya Welson dengan senyum menyeringai penuh maksud.
“Tuh, kan, mulai lagi nakalnya. Aku bisa sendiri, dan gak mungkin aku oles di sini.” Agatha mendengus, melipatkan tangannya di dada.
“Ngambek ya?” goda Welson.
“Bodo!”
“Ishh, kapan sih kita jalan lagi?” celetuk Memey yang sudah tak sabaran.
“Sabar kali, Mey.” Tukas Yadi.
“Apa lo?”
“Stop! Kalo masih ribut kita gak akan jalan.” Ancam Welson di depan.
Mendengar itu, tiba-tiba Memey langsung duduk diam karena takut jika tak jadi jalan-jalan. Karena situasi di dalam mobil kini sudah aman dan kondusif, akhirnya Welson menyalakan mesin mobilnya, lalu segera meninggalkan apotik itu. Sifat kekanak-kanakan Memey seolah meronta ingin menjerit senang karena bisa jalan-jalan, namun ia tahan karena takut Welson akan memarahinya ataupun menurunkannya di pinggir jalan. Apalagi jika hanya sendirian, bisa jadi ia digondol para preman-preman jalanan.
🕊️🕊️🕊️
__ADS_1
To be continued....