Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Tunggu Saja Saatnya.


__ADS_3

Welson masih bergeming, seolah tak percaya apa yang baru saja Agatha lakukan padanya. Baru kali ini dirinya mendapat sebuah tamparan dari pacarnya. Tamparan yang cukup keras, membuat tangan kirinya terangkat mengusap bekas tamparan itu. Welson tersenyum kecut seraya mengusap wajahnya. Ia merogoh ponsel di dalam saku jaketnya, lalu menekan log panggilan. Di tatapnya layar ponsel yang menyala, lalu mencari nomor Agatha dan menekan ikon panggilan. Nomor yang ia hubungi ternyata tidak aktif. Berkali-kali ia mencoba menghubungi nomor pacarnya, berkali-kali pula operator memberi tahu bahwa nomor tidak aktif. Mengirim chat juga sama, hanya ceklis satu.


“Arrghhhhh, sialan!” teriaknya frustasi. Kakinya terayun menendang yang ada di depannya. Untuk yang ke sekian kalinya ia mencoba menghubungi dan mengirim chat pada Agatha, hasilnya tetap sama. “Please, jangan marahhh!” ucapnya bermonolog. Para pengunjung club malam menatap heran padanya. Ia sudah seperti orang gila saat ini.


Kadung frustasi, Welson bergegas menuju motornya yang berada di parkiran club. Setiap orang yang melintas, yang ia rasa menghalangi langkahnya, ia tepis begitu saja supaya langkahnya tak terhalang. Ada yang marah, ada yang menatap kagum karena ketampanannya, dan bahkan ada juga yang mengucapkan sumpah serapah padanya.


Motornya ia pacu dengan kecepatan di atas batas wajar. Keinginannya yang selama ini sudah dinanti-nantikan pupus begitu saja karena Agatha menolak permintaannya. Bagaimana mungkin Agatha menerima permintaannya dengan begitu mudah, sedangkan permintaan itu begitu banyak resiko setelahnya. Apabila Agatha menerima dan diketahui oleh publik dan orang tuanya, harga diri dan reputasi keluarganya yang menjadi sasaran.


“Tunggu saja nanti! Cepat atau lambat, aku akan segera mendapatkan apa yang aku inginkan!” ucapnya dengan senyum menyeringai.


🕊️🕊️🕊️


Agatha kesal. Kesal dan marah juga kecewa menjadi satu. Emosinya yang sudah memuncak berhasil membuat dirinya berani melayangkan sebuah tamparan pada Welson. Agatha kembali mengingat perkataan Welson yang sangat tidak masuk akal, ia menggeram. Setelah mendudukkan dirinya di kursi penumpang taksi, dengan cepat gadis itu mematikan ponselnya supaya Welson tak bisa menghubunginya. Untung saja Welson tak menarik tangannya ketika ia beranjak meninggalkan Welson. Entah apa yang akan terjadi apabila Welson menarik tangannya, mungkinkah Welson juga memberinya tamparan, memberinya dekapan, atau malah memaksa meminta yang sudah diinginkan. Agatha sendiri pun tak tau membayangkannya.


Baru saja tangannya membuka pintu utama dengan lebar, Agatha melihat sudah ada Memey yang menunggunya di ruang keluarga dengan posisi membelakangi. Agatha menatap bingung mengapa tiba-tiba saja Memey sudah berada di rumahnya.


“Mey?” panggilnya setengah menaikan tone suara.


Menyadari ada yang memanggil namanya, dengan cepat Memey memutar kepalanya ke arah datangnya sumber suara. Ternyata Agatha sudah berada di depan matanya.


“Ehh, udah balik lo?” Dengan cermat Memey memperhatikan seluruh tubuh Agatha, takut terjadi apa-apa pada sahabatnya tersebut. Memey bisa mengartikan dari raut wajah Agatha bahwa yang bersangkutan sedang berada dalam posisi ingin mengeluarkan tanduk.


Tanpa menjawab pertanyaan Memey, Agatha balik bertanya, “kok lo di sini? Dari kapan?”


“Dari tadi, sekitar 30 menit yang lalu.”


“Ohhh. What’s wrong?”


“Gue dapat pesan dari nomor baru,” jawab Memey. Kemudian menyodorkan ponselnya pada Agatha.


Nomor baru tersebut mengingatkan Agatha pada waktu dirinya berkirim pesan dan berkomunikasi dengannya waktu itu. Ia membuka tasnya, mengambil ponselnya dan menyalakan benda pipih persegi tersebut. Setelah ponselnya kembali menyala, sudah banyak panggilan tak terjawab dan pesan masuk dari Welson. Agatha mengabaikannya. Ia segera mencari nomor baru yang pernah menghubunginya, kemudian membandingkan dengan nomor baru yang masuk ke ponsel Memey. Ternyata nomor tersebut sama dengan nomor yang ada di ponselnya.


“Menurut lo siapa?” tanya Memey penasaran. “Setelah gue dapat chat itu, gue langsung ke sini. Gue khawatir kalo lo kenapa-kenapa,” sambungnya.


“Ntah, gue gak tau. Mungkin dia pengagum rahasia gue.”


“Lo berantem sama Welson?” Memey kembali bertanya.


“Iya. Langsung gue tampar tuh wajah.”


“Apa yang ngebuat lo bisa nampar dia?” tanya Memey menyelidik, manik matanya menatap manik milik Agatha, dengan harapan bahwa Agatha mengatakan yang sebenarnya terjadi.


“Biasa, otak mesum. Awalnya gue ngira dia bakal bawa gue makan-makan atau keliling kota. Eh ternyata clubbing. Apa coba maksudnya ngajak gue ke club? Kalo gue mabuk udah pasti habis gue dinikmatinya. Dasar gila!”


“Hmm,” Memey menepuk jidatnya. “Tapi syukurlah lo gak kenapa-kenapa, dan gue akui kalo lo keren udah berani nampar dia, biar tau rasa,” ujar Memey seraya mengacungkan jempolnya pada Agatha.


FLASHBACK


Nomor baru: “Mey, sibuk?”


“Nggak. Ini siapa?” balas Memey.

__ADS_1


Nomor baru: “Gue orang,”


“Oh gue kira orang-orangan sawah!”


Nomor baru: “Serius gue nanya, lo sibuk gak sekarang?”


“Udah gue bilang nggak. Emangnya kenapa? Harus gtiu kepoin kesibukan gue?”


Nomor baru: “Ini penting!”


“Apanya yang penting? To the point aja ngapa..”


Nomor baru: “Lo ke rumah Agatha, SEKARANG!”


Tanpa membalas chat itu kembali, membuat Memey terkesiap mematung melihat isi chat terakhir. Di dalam pikirannya bahwa Agatha sedang dipukuli oleh orang tuanya karena sudah berbuat zinah dengan Welson. Kejadian antara Welson dan Nadine di villa milik Dirgo di saat mereka liburan, membuat Memey sangat yakin bahwa hal yang sama akan dilakukannya pada Agatha, yang mungkin akan berakhir dengan melakukan hubungan badan.


FLASHBACK END


🕊️🕊️🕊️


Pagi ini, Agatha masih mogok bicara dengan Welson, walaupun sudah Welson bujuk rayu dengan berbagai cara, tetap saja tidak mempan. Telepon tak diangkat, dan chat hanya dibacanya saja. Tinggal beberapa jam lagi Agatha dan sahabat-sahabatnya akan pergi ke puncak dan menginap di sana selama 1 malam satu hari, karena keesokan sore mereka harus kembali. Mereka semua pergi dengan menggunakan dua mobil, mobil Dirgo dan juga mobil Welson.


Agatha yang menjadi tujuan terakhir dijemput, tengah bersiap menunggu kedatangan para sahabat di ruang tamu. Sepuluh menit kemudian, terdengar klakson mobil yang menggema di luar rumah. Agatha berpamitan dengan Bi Momon dan segera menuju mobil yang sudah menunggu.


“Sayang…” panggil Welson dengan lembut, tak ada jawaban dari Agatha. “Sayang masih marah sama aku?”


“Gak usah ngomong!”


“Sayang, jangan marah dong. Sini aku bawa kopernya,” ujar Welson menawarkan pertolongan.


“Yank, ayolah. Jangan marah-marah lagi,” refleks tangan Welson merangkul Agatha yang disambut dengan penolakan oleh Agatha.


“Jangan sentuh aku!”


“Bro, biarkan dia dulu. Biarkan pikirannya tenang,” timpal Dirgo. Welson mengangguk, apa yang diucapkan Dirgo memang benar adanya. Apalagi masalah ini memang berasal dari dirinya.


Kedua mobil itu melaju meninggalkan pelataran rumah Agatha. Mobil yang diisi Agatha adalah mobil milik Dirgo. Di bagian depan, ada Dirgo yang menjadi juru kemudi dan Yadi berada di sebelahnya, disusul kursi bagian belakang ada Agatha dan Memey. Agatha memang sengaja tidak ikut dengan mobil Welson karena dirinya masih mogok berinteraksi dengan Welson. Di mobil Welson ada tiga gadis, Nadine, Maria, dan Stevanie, dan satu bujang bertanduk sang pemilik mobil.


“Masih marahan sama Welson?” Dirgo memulai percakapan dengan Agatha yang duduk di belakang Yadi.


“Tau ah…”


“Jangan gitu. Nggak baik marah lama-lama. Kamu berhak melindungi diri jika kamu merasa nggak aman. Yang penting ambil hikmahnya saja,” Dirgo berusaha memberikan pengertian pada Agatha. Agatha hanya mengangguk dan tampak memikirkan sesuatu tentang apa yang diucapkan Dirgo memang benar adanya.


🕊️🕊️🕊️


Malam ini di villa puncak menjadi malam yang tak kalah mengejutkan bagi Agatha, sama seperti di saat Welson mengajaknya pergi ke club malam. Welson tiba-tiba saja masuk ke kamar Agatha dan memintanya kembali untuk tidur bersama dengannya. Agatha sama sekali tidak pernah memikirkan ini lagi semenjak dirinya menampar Welson, baginya permintaan Welson itu sudah hilang. Tetapi sampai detik ini pun Welson selalu saja memintanya. Agatha memang mengakui bahwa gaya pacaran mereka terbilang sudah cukup berani, tetapi untuk melakukan yang satu itu, ia merasa belum saatnya untuk melakukannya. Toh mereka masih remaja dan cuma sebatas pacaran saja.


“Sayang, jadi kapan?” tanya Welson dengan begitu mulus. Welson langsung berkuasa memeluk tubuh Agatha.


“Apa? Apa kamu sudah gila, sayang?” sentak Agatha. Agatha melepaskan diri dari dekapan dan pelukan Welson.

__ADS_1


“Heii, kamu kenapa sih, Yank, kayak bukan pacarku aja,” ujar Welson yang tak kalah sengit.


“Jangan berbuat macam-macam, ya! Kalo berani, aku bakalan teriak,” Agatha mengancam Welson.


“Oke, oke, oke!” Welson mundur selangkah dari Agatha. “Sayang, kamu kenapa sih? Aku ini pacarmu kan?”


“Pacar? Heh. Memang, kamu memang pacarku. Tapi bukan berarti kita bisa berbuat seenaknya. Sana! Get out!”


Baru beberapa jam yang lalu dirinya memaafkan Welson, kini sudah dibuat naik pitam lagi. Sungguh Agatha tak habis pikir.


“Kamu kok gitu, sih? Apa udah nggak sayang sama aku lagi? Kamu itu kolot, tau nggak? Aku ngajak kamu dan yang lainnya ke puncak, ya supaya kita bisa berbuat sebebas-bebasnya!” Welson sudah tersulut emosi.


Agatha sungguh tercengang dengan ucapan Welson. Bisa-bisanya Welson mengatakan bahwa dirinya kolot.


“So?” ucap Welson meniru gaya Agatha dengan nada bicara yang dibuat-buat. “Ambil keputusan sekarang! Atau aku akan memaksamu!”


“Of course, aku udah ambil keputusan sekarang!”


“Yaudah, ayo!”


“Keputusannya tetap nggak!”


“Sayang, kamu udah gak sayang sama aku, ya?” tanya Welson seraya menatap kedua bola mata Agatha dengan intens.


“Itu perbuatan yang belum saatnya kita lakukan. Itu gak bener!”


“Tapi kenapa kamu gak mau melakukannya denganku, hm?”


“Wels, sayang! Apa kamu sadar dengan apa yang kamu minta? Resikonya besar!” tatapan mata Agatha tampak emosi.


“Kamu gak percaya sama aku? Gak mungkin juga aku ninggalin kamu. Aku sayang banget sama kamu!”


“Sekarang memang mudah untuk kamu mengatakannya!”


“Aku tau, kamu memang gak pernah benar-benar sayang aku, kan? Kamu gak pernah percaya sama aku!” Welson berbalik badan dan hendak beranjak pergi.


“Sayang!” Agatha memegang tangan pacarnya. “Please, jangan bikin aku terjepit! Kamu ngambek, ya?”


“Cukup, Agatha! Lebih baik kita udahan!” Welson menyentak tangan Agatha dengan keras.


“What?” Agatha sungguh terkejut mendengar kata ‘putus’ dari mulut Welson.


“Kurang jelas? Ya, kita putus aja!”


“Sayang, denger dulu! Sekarang kita harus mementingkan dan memikir masa depan. Gak lama lagi hasil kelulusan kita akan keluar. Kita akan berkuliah. Jadi, bisakah kamu menunggu sampai kita masuk kuliah?” ujar Agatha dengan sendu.


“Maksudmu?” tanya Welson. Senyumnya sedikit mengembang karena merasa ada peluang.


“Listen to me, oke! Aku, aku sama sekali gak pernah memikirkan permintaanmu, dari dulu. Sorry…, tapi jika kamu merasa melakukan itu penting buat hubungan kita, oke akan kita lakukan nanti saat kita masuk kuliah,” ucap Agatha. Tanpa terasa bulir-bulir bening dari kedua bola matanya lolos begitu saja tanpa aba-aba. Dirinya sudah tak tahan lagi mengatakannya, hanya isakan tangis yang bisa dilakukannya setelah mengatakan hal konyol kepada pacarnya. Hati Agatha hancur, remuk dengan perkataannya sendiri. Saking sayangnya dengan Welson, membuatnya terjebak dalam perangkap. Perangkap yang bisa menghancurkan masa depannya.


Welson membatin, “lama amat?” Namun hatinya senang karena bisa meluluhkan hati pacarnya.

__ADS_1


🕊️🕊️🕊️


To be continued…


__ADS_2