Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Liburan Hari Pertama.


__ADS_3

Di ambang pagi di ufuk timur, surya terbit memancarkan sinarnya. Sinarnya yang begitu mencuri pandang bagi mata Agatha. Agatha bangun lebih awal karena sudah puas mengarungi dunia mimpinya. Tak hanya sang surya yang menambah kehangatan pagi itu, burung-burung juga berkicau ria di angkasa raya dan deburan ombak menambah indahnya suasana pagi di villa itu. Agatha berjalan keluar dari kamarnya dan menuju balkon villa yang menghadap langsung ke tepian pantai. Kota L pagi ini sangat sejuk dan cerah.


Perlahan Agatha membuka pintu balkon itu lalu melenggang ke sana. Semilir angin pun berhembus lembut menyapu kulit halus Agatha serta menyibakkan rambutnya. Agatha memejamkan matanya menghirup udara segar yang berasal dari villa itu. Villa yang masih dikelilingi oleh tanaman-tanaman sehingga menambah keasriannya.


“Uhhh, indah sekali pagi ini!” ucap Agatha seraya tersenyum.


Sementara di bawah, Dirgo telah menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga teman-temannya. Sarapan yang ia buat adalah omelet serta sandwich, karena memang itu adalah sarapan kesukaannya. Pagi hari ini, memang sengaja Dirgo yang ambil alih tugas penjaga villa karena sang penjaga villa sudah disuruhnya pergi berbelanja ke pasar untuk keperluan mereka dua hari kemudian. Kebetulan hari ini adalah hari pertama mereka berlibur di villanya.


Selesai menyiapkan sarapan untuk dirinya dan teman-temannya, Dirgo memberanikan diri melangkah ke atas. Tangannya tidak lupa membawa omelet dan sandwich serta susu hangat untuk Agatha. Dirgo tau bahwa Agatha sudah terbangun karena ia mendengar suara pintu balkon terbuka ketika ia sedang menyiapkan sarapan di dapur. Teman-temannya yang lain masih terlelap di kamar masing-masing sehingga Dirgo lebih leluasa menemui Agatha dan memberikan sarapannya.


Setibanya di atas, Dirgo tersenyum ketika melihat Agatha sedang berdiri di balkon. Ia berpikir bahwa memang perkiraannya tak salah lagi. Perlahan Dirgo melangkah mendekati Agatha di sana.


“Hi, morning, Tha.” Dirgo menyapa Agatha ketika sudah di belakang Agatha. Agatha menggeliat kaget mendengar orang menyapanya.


“Loh, Dirgo. Ngapain lo ke sini?” tanya Agatha basa-basi tanpa menjawab sapaan Dirgo.


“Jawab dulu sapaanku, baru aku ngomong.” Dirgo tersenyum tanpa ragu.


“Yahhh, malah senyum gak jelas lo, Dir,” ketus Agatha.


“Hmm, sabar Dirgo. Kamu pasti bisa!” Dirgo menyemangati dirinya dalam hati.


“Dih, kok bengong aja lo?” tanya Agatha lagi.


“Nih, aku bawain kamu sarapan. Biar kamu segar.” Dirgo meletakkan nampan yang berisi susu hangat serta omelet dan juga sandwich yang dibawanya di atas penyangga balkon.


“Wow! Thanks, Dirgo.” Agatha tersenyum ke arah Dirgo, lalu mengambil sarapannya dan memasukkan sarapan itu ke dalam mulut.


“Ya, sama-sama, Tha. Itu spesial untukmu.” Dirgo tersenyum.


Agatha menikmati sarapannya yang begitu nikmat apalagi ditambah dengan suasana pagi yang begitu mendukung. Sayup-sayup angin kembali menyibakkan rambut Agatha.


“Gimana, Tha? Enak?” tanya Dirgo menyipitkan matanya, mana tau Agatha malah melepeh makanan yang baru saja masuk di dalam mulutnya. Namun, hal itu tak juga Dirgo temukan, hingga sandwich juga sudah Agatha sikat.


“It’s so yummy, Dir,” ujar Agatha.


“Really, girl?” tanya Dirgo tak percaya, “itu semua aku yang bikin kok,” lanjut Dirgo.


Agatha yang baru saja meneguk beberapa kali susu hangat itu, hingga membuatnya tersedak saat mendengar pengakuan Dirgo tentang sarapan yang baru saja ia santap.


“Uhuk...uhuk!” Agatha tersedak, untung saja susu hangat itu tidak tertumpah.


Dirgo terkejut karena Agatha tersedak. Buru-buru Dirgo mengelus belakang Agatha tanpa berpikir Agatha akan marah atau bagaimana selanjutnya. Namun, karena rasa khawatirnya, ia buang jauh-jauh pikiran itu untuk membantu Agatha, padahal hanya tersedak susu hangat saja. Tetapi Dirgo malah panik luar biasa.


“Tha, kamu enggak apa-apa? Pelan-pelan dong minumnya, jangan terburu-buru!” ucap Dirgo seraya masih mengelus belakang Agatha.


“Uhuk! Gue enggak apa-apa. Gue hanya kaget mendengar lo yang nyiapin sarapannya,” jawab Agatha jujur.


“Ah, biasa aja itu, Tha. Aku kan terbiasa di rumah jika sedang ingin sarapan itu.” Dirgo memberikan senyuman ramah pada Agatha.

__ADS_1


“Ekhem! Tangan lo, Dir.” Agatha melihat ke arah Dirgo, seketika Dirgo menurunkan tangannya dari belakang Agatha.


“Hm, sorry, Tha. Aku khawatir soalnya,” ucap Dirgo.


“Jangan ngomong aku kamu kayak gitu, Dir. Kesannya kaku banget deh!” protes Agatha pada Dirgo.


“Maunya gimana?” tanya Dirgo berpura-pura tak mengerti.


“Ya seperti yang lainnya. Lo gue, kan bisa.” Agatha kembali meminum susunya yang masih tersisa.


“Kalau aku enggak mau?” tanya Dirgo lagi.


“Hm, terserah lo aja deh. Yang penting jangan manggil gue kupu-kupu malam atau nenek sihir,” jawab Agatha sekenanya.


Dirgo mengamati wajah natural Agatha pagi ini karena memang belum terpoles apapun di wajah Agatha, Dirgo tersenyum. Cantiknya begitu sempurna di mata Dirgo, hingga tanpa sadar saat ia tersenyum, Agatha menatapnya dengan tatapan heran.


“Cantik sekali!” batin Dirgo serta senyumnya yang terus mengembang.


“Aneh sekali nih orang. Lo mikirin apa sih sampai senyum-senyum gak jelas kayak gitu?” ucap Agatha membuyarkan aksi Dirgo. Lantas Dirgo gelagapan karena ketahuan tersenyum pada Agatha.


“Tidak apa-apa. Oh iya, nanti siang kita mau ngapain aja? Kamu ada usulan enggak?” tanya Dirgo mengalihkan pembicaraan.


“Gimana ya?” ucap Agatha, “gue juga bingung nih,” lanjutnya.


Tak lama mereka berbincang, tiba-tiba Memey keluar dari kamar mendapati Agatha dan Dirgo seperti tengah membicarakan sesuatu. Saking penasarannya, Memey mendekati mereka dan mengagetkan mereka dengan suaranya yang cempreng, dengan rambut yang semerawut dan wajah yang polos karena baru saja terbangun. Dan mungkin saja belum cuci muka.


“Holla, Guys. Selamat pagi.” Memey menyapa mereka dengan sedikit berteriak. Lantas Agatha dan Dirgo menoleh ke arah sumber suara yang tak lain adalah suara Memey.


“Astaga! Lo cewek tapi kok kusut amat, Mey?” tanya Dirgo yang tak kalah terkejut dari Agatha.


“Huss! Lo berdua malah ngatain gue. Apa kalian lupa cara menjawab sapaan yang baik dan benar sesuai kaidah Bahasa Indonesia?” tutur Memey panjang lebar dan hal itu mengundang gelak tawa dari Agatha dan Dirgo.


“Hahaha. Pagi-pagi udah dapat bimbingan belajar gratis dari Ibu Memey Welandi,” ujar Dirgo bercanda.


“Makanya jangan berani-berani mencoba bermain bersama Ibu Memey Welandi yang superhero ini,” tukas Memey yang tak ingin kalah dari Dirgo.


“Hihihi. Sejak kapan Ibu Memey Welandi jadi superhero?” tanya Agatha cengengesan.


“Sejak pagi hari ini, di villa ini, dan disaksikan para muridku yang ketoprak,” jawab Memey.


“Koplak, dodol!” sergah Agatha.


“Ihh, udah ah! Ngapain bahas hal yang enggak ada gunanya, sih?” sambung Memey.


“By the way, lo punya usulan gak, Mey, buat acara kita nanti siang. Ya untuk ngisi waktu liburan aja, sih, biar enggak terlalu membosankan.” Dirgo bertanya pada Memey, tampak Memey sedang memikirkan sesuatu.


“Hm, apa ya? Oh, gue hampir lupa. Lo berdua belum menjawab sapaan gue. Jahat amat, sih kalian!” ujar Memey.


Karena jengah dengan Memey, akhirnya Agatha dan Dirgo menjawab sapaan Memey.

__ADS_1


“Pagi juga, Memey rempong.”


“Pagi kembali, Memey ompong,” timpal Dirgo.


“Menyebalkan!” Memey bersidekap, “tapi syukurlah, udah dijawab!”


Kini mereka bertiga kembali fokus pada rencana untuk nanti siang. Saling lempar pendapat dan argumen yang sama-sama berbeda. Tidak ada satupun pendapat yang masuk akal ketika Memey mengutarakan pendapatnya. Bagaimana mungkin pada saat liburan seperti itu Memey malah mengajak mereka untuk tiduran selama menunggu senja tiba.


“Daripada enggak ada yang nyambung, lebih baik kita rundingkan dulu sama yang lainnya juga.” Agatha memberi jalan keluar.


“Ogah ah! Gue enggak mau bergunjing!” jawab Memey tidak nyambung.


“Bukan bergunjing, kutu air!” ucap Agatha, “tapi berunding.” Agatha menoyor kepala Memey.


“Aduh!” Memey mengusap kepalanya yang ditoyor Agatha.


“Gue gak bawa tas jinjing!” ucap Memey.


“Ampun dah nih orang. Lama-lama gue lempar dari balkon ini, mau?” Agatha melotot pada Memey.


“Wow, matanya. Gue congkel pakai linggis, mau?” Memey tak mau kalah.


“Onde mande, takajuik ambo!” ucap Agatha dalam bahasa Minang.


“Onde-onde enak tuh!” ucap Memey yang langsung menyecapkan indra pengecapnya.


“Itu nampan apaan?” tanya Memey lagi ketika melihat sebuah nampan yang tergeletak di penyangga balkon.


“Soal makanan emang nomor satu lo, Mey.” Agatha mendengus.


“Itu nampan sarapan buat Agatha.” Dirgo menimpali, Memey langsung cemberut lantaran hanya Agatha saja yang dibawakan sarapan, sedangkan dirinya tidak.


“Jika mau sarapan, ayo kita ke bawah!” ajak Dirgo.


Mereka bertiga akhirnya turun ke bawah meskipun Agatha sudah selesai dengan sarapannya. Tak lupa juga Memey membangunkan Nadine ketika melewati kamar mereka supaya ikut serta untuk sarapan bersama. Setibanya di bawah, mereka berempat sudah menemukan Welson dan Yadi yang sudah berada di ruang tamu tempat di mana kejadian Memey memergoki Welson dan Nadine. Lantas Dirgo mengajak Welson dan Yadi supaya ikut bergabung ke dapur untuk sarapan, karena memang dirinya juga belum sarapan.


Sarapan semuanya sudah selesai. Namun, Welson memasang wajah dengan penuh tanya. Yang lainnya sarapan tetapi kenapa Agatha hanya duduk saja di saat semuanya menyantap sarapan masing-masing.


“Sayang, kamu kok enggak sarapan? Nanti sakit loh!” tanya Welson. Tangannya sudah hampir mengambil sandwich, namun dicegah Agatha.


“Aku udah sarapan kok, Yank!” ujar Agatha tersenyum meyakinkan Welson.


“Ekhem! Serasa jadi nyamuk deh!” celetuk Memey ketika melihat dan mendengar Welson yang memanjakan Agatha.


“Tuh! Di sana ada Baygon semprot kok!” tunjuk Welson ke sembarang arah.


“Manusia setengah genre!” dengus Memey.


Seusai sarapan, mereka berunding akan rencana apa yang akan mereka buat untuk mengisi liburan yang hanya tiga hari saja itu. Kini mereka berencana akan mengunjungi kebun binatang yang ada di kota L. Di sana terdapat berbagai jenis hewan yang hampir saja punah. Mereka pun menyetujui itu semua.

__ADS_1


🕊️🕊️🕊️


To be continued...


__ADS_2