Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Cafe XY.


__ADS_3

🕊️🕊️🕊️


Jalanan yang terasa lengang membuat mereka berempat cepat sampai ke tempat tujuannya. Tujuan mereka adalah cafe XY yang sangat terkenal di kota mereka. Pengunjung dari cafe itu, mulai dari yang tua maupun yang muda, sama seperti mereka berempat saat ini. Mereka turun dari mobil lalu memasuki lobby cafe itu. Agatha dan Welson jalan sambil bergandengan tangan, yang mana itu membuat Memey semakin meronta-ronta dibuatnya. Lain halnya dengan Yadi, Yadi terus saja berusaha ingin meraih tangan Memey agar bisa ia gandeng. Berkali-kali Yadi ingin meraih tangan Memey, namun berkali-kali juga Memey menangkisnya. Alhasil itu membuat Memey kesal pada Yadi.


“Woi kampret! Bisa gak lo gak gangguin gue?” teriak Memey kesal. Teriakan itu berhasil membuat Agatha dan Welson menoleh ke belakang. Mereka berdua geleng-geleng kepala melihat perbuatan Memey dan Yadi.


“Apaan sih kalian berdua? Malu-maluin aja dah!” celetuk Agatha dari depan.


“Ini nih, si kutu bahola gangguin gue aja dari tadi. Apaan coba maksudnya mau gandengin gue?” dengus Memey membela diri.


“Emang lo gak mau kayak mereka berdua?” tanya Yadi sambil menunjuk Agatha dan Welson yang berada di depannya.


“Tapi gue gak mau gandengan sama lo. Mending gue gandengan sama kura-kura ninja daripada lo.” Jawab Memey dengan santainya. Karena Memey masih sama bersikap jutek pada Yadi, Yadi semakin gencar untuk menjahili Memey.


“Ayo sini tangannya!” ucap Yadi sambil memberikan tangannya pada Memey.


“Ogah! Kalau lo gak bisa diam, gue tendang masa depan lo!” ancam Memey pada Yadi, seketika Yadi mengapitkan kedua pahanya, lalu menutup area itu dengan kedua tangannya.


“Teganya hatimu padaku, sayang.” Ucap Yadi dengan melantunkan lagu lawas.


“Aku tak peduli!” jawab Memey, kemudian melangkah mengikuti Agatha dan Welson. Karena fokus pada jalannya sendiri, hingga tak sadar Memey menabrak Welson yang tengah berhenti di depannya.


Gubrak!!!!


Memey yang menabrak belakang Welson, berhasil membuat dirinya mengumpat, karena kepalanya tengah berkunang-kunang akibat kecerobohannya sendiri.


“Aduhhhh!” Memey memegang kepalanya yang terasa pusing, “kenapa lo rem mendadak sih kupret?” lanjutnya.


“Ckck. Lo nya aja yang norak, Mey. Jalan gak liat-liat.” Jawab Welson.


“Udah gue bilang, kan? Lo mah harus gue gandengin biar gak ceroboh kayak gitu.” Ucap Yadi ingin mencari kesempatan.


“Apaan lo? Modus tau gak?” hardik Memey langsung.

__ADS_1


“Ayolah! Cuma gandengan doang loh, kok gak mau?”


“Gue bukan anak kecil lagi!” ucap Memey seperti iklan di televisi.


Banyak mata yang menyaksikan kedatangan mereka berempat, terlebih lagi karena ulah Memey dan Yadi yang berhasil membuat para pengunjung yang lainnya geleng-geleng kepala juga. Welson yang menyadari itu, sampai bersujud-sujud dan membungkukkan badannya meminta maaf pada pengunjung lain. Tingkah teman-temannya itu selalu saja membuat orang melihat ke arahnya.


Tak tahan karena mereka berdua (Yadi dan Memey) yang masih saja terus berdebat karena hal sepele, akhirnya Welson sedikit mengancam mereka berdua.


“Kalau masih ribut, gue daftarin lo berdua ke kandang macan,” ancam Welson.


“Biarin! Gue gak takut, lagian di cafe ini kan gak ada kandang macannya.” Saut Memey dengan santainya.


“ Dasar blakutak lo, Mey.” Welson menggelengkan kepalanya karena Memey selalu saja bisa menjawab ancamannya maupun omongannya.


Mengingat sekarang mereka telah memasuki area meja, Welson memilih tempat duduk yang tak jauh menghadap ke belakang cafe. Di belakang cafe itu terdapat taman kecil yang sangat menarik mata pengunjung. Agatha dan Welson telah mendaratkan tubuhnya di kursi, namun Memey dan Yadi kembali berulah memperebutkan tempat duduknya.


“No! Gue mau yang di situ!” seru Memey karena Yadi mengambil alih kursi incaran Memey.


Karena takut memancing pandangan para pengunjung cafe yang lain, akhirnya Yadi mengalah pada Memey.


“Nah gitu dong. Sekali-sekali kek ngalah sama cewek cantik macam gue. Hihi.” Tukas Memey penuh kemenangan dan cekikikan.


“Hmmmmmm,” Agatha menghela napas kasar, “ada-ada aja lo berdua.” Ucap Agatha sambil memutar bola matanya karena jengah melihat Yadi dan Memey.


Pelayan cafe itu mengunjungi meja mereka berempat sambil membawa list menu yang berada di tangannya. Setibanya di meja pengunjungnya, yakni Agatha dan teman-temannya, pelayan itu menyapa mereka dengan sangat ramah.


“Hallo, Mbak, Mas. Selamat pagi dan selamat berkunjung di cafe XY ini.” Sapa pelayan itu ramah.


“Terima kasih, dan selamat pagi juga, Mbak.” Ucap mereka berempat serentak. Mereka yang menyadari kenapa bisa sekompak itu, saling pandang satu sama lain dan mengangkat bahunya masing-masing.


“Wow, kompak sekali kalian!” ujar pelayan itu ramah dan terkejut.


“Hehe, kebetulan, Mbak.” Celetuk Memey dengan cengengesan.

__ADS_1


“Oh seperti itu?” pelayan itu menunjukkan senyum terbaiknya.


“Oh iya. Ini list menunya! Silakan dipilih sesuai selera, karena jika orang yang memilihnya takkan bisa sama dengan selera kita. Apalagi itu pendamping hidup.” Tambah sang pelayan dengan melawak.


“Haha. Mbak bisa saja deh.” Tukas Yadi.


“Maafkan teman-teman kami ya, Mbak. Mereka memang seperti itu kelakuannya.” Agatha meminta maaf pada sang pelayan, yang langsung disambut dengan senyum dan anggukan kepala oleh pelayan itu


Mereka berempat masing-masing memilih makanannya sesuai selera. Agatha, Welson, dan Yadi telah menentukan pilihannya masing-masing. Namun, Memey masih saja membolak-balik list menu itu karena makanan yang dia cari tidak tersedia di list menu itu. Mereka bertiga dan sang pelayan saling pandang karena ulah Memey yang seperti orang tidak bisa membaca. Lantas, hal itu membuat Agatha refleks menginjak kaki Memey di bawah meja.


“Gue pilih.....” ucap Memey terpotong karena kakinya terasa tertindih oleh sepatu, yakni diinjak Agatha.


“Aishhhhhhh sakit dodol!” Memey memekik kesakitan.


Sang pelayan cafe itu kebingungan lantaran makanan yang dipilih oleh Memey tidak masuk dalam list menu cafe itu. Padahal Memey hanya memekik dan mengumpat karena kakinya terinjak, namun sang pelayan itu beranggapan bahwa yang diucapkan Memey adalah makanan yang sedang dicari Memey.


“Maaf, Mbak. Makanan yang Mbak maksud tidak ada di sini. Apakah bisa mengganti dengan pesanan yang baru?” tanya sang pelayan.


“Loh, emang siapa bilang kalau gue udah milih makanan, Mbak?” protes Memey.


“Barusan Mbak bilang ‘aishhh sakit dodol’ dan makanan yang Mbak maksud memang tidak ada di sini.” Ucap sang pelayan menjelaskan karena belum mengetahui yang sebenarnya.


Agatha, Welson, dan juga Yadi hanya geleng kepala melihat tingkah pelayan itu yang sama persis dengan Memey. Mereka berpikir, kenapa orang koplak seperti itu bisa diterima bekerja di tempat terkenal seperti itu.


“Dasar ketoprak gosong! Itu tadi karena kaki gue keinjak sama teman gue, Mbak.” Jelas Memey.


“Yaudah deh, Mbak. Gue pesan nasi campur, ya! Minumnya beras kencur.” Pinta Memey. Mereka bertiga dan pelayan cafe itu berhasil membulatkan matanya karena pesanan Memey yang melenceng dari apa yang tertera di list menu.


“Apa-apaan pesanan lo kayak gitu? Jangan malu-maluin oi!” hardik Agatha.


“Iya, Mbak. Di sini tidak menyajikan makanan lokal, kami hanya menyediakan makanan luar. Dan untuk makanan lokal, biasanya ada hari tertentu. Berhubung hari ini minggu, jadi kami hanya menyediakan makanan luar saja.” Sambung sang pelayan menjelaskan.


“Yaudah deh, samakan saja dengan teman gue yang cewek itu ya, Mbak!” perintahnya.

__ADS_1


Sang pelayan mengangguk tanda bahwa ia mengerti dengan ucapan pengunjungnya. Sebelum pergi dari meja pengunjung, dia mencatat dan menyebutkan ulang pesanan pengunjung itu.


To be continued....


__ADS_2