Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Anak Punk.


__ADS_3

...Tuhan tidak meminta kita untuk mengerti semua, namun Dia meminta kita percaya bahwa Dia sudah merancangkan yang terbaik untuk masa depan kita. –By Author–...


🕊️🕊️🕊️


“Heh, liat deh gadis itu,” ujar salah seorang dari mereka yang mengenakan jeans sobek-sobek dan rantai yang disampirkan pada celananya. Rambutnya dengan gaya yang khas dicat dengan warna ungu cerah. “Merana banget, ya? Pasti habis diputusin pacar!”


“Yupss, udah kayak di drama-drama aja. Pake nangis-nangis segala, iyuuuhhh” timpal salah seorang lagi. Ia memakai gelang rantai sebesar jari kelingking orang dewasa dengan bandol dua buah mirip taring binatang, di lidahnya dipakaikan anting bulat. Rambut model Mowhak dicat dengan warna hijau menyala.


“Sssttt! Jangan terlalu banyak komentar! Ayo kita dekati dia.” Seorang cewek dengan rambut ikal setengah bahu berwarna pink, anting di hidung sebelah kiri, memakai rok mini memberi komando kepada kedua temannya itu yang sibuk mengomentari Agatha.


Ketiga anak punk itu sudah berada di depan Agatha, tetapi Agatha sama sekali tidak menyadari kehadiran mereka bertiga. Ia terus saja berceloteh dan mengomeli tentang kebrengsekan Welson, mengomeli Nadine dan juga calon bayinya. Kemudian ia menenggak lagi botol wiski yang di genggamannya sampai tersedak.


“Ahahaha… Ini gila! Ini benar-benar gila! Kenapa bisa begini? Nadine hamil? Haha gila! Yang benar saja Welson papa dari anaknya? Hamil dari pacarku yang ditikung…”


“Oh wow, dikhianati sang pacar,” bisik cowok yang mengenakan jeans sobek-sobek yang memiliki rambut berwarna ungu cerah.


“Ternyata cinta banyak sisi, upss cinta segitiga. Klasik banget!” timpal si cewek berambut pink memakai rok mini.


“Betapa malang nasibku. Mana mungkin di dunia ini udah nggak ada orang yang mencintaiku lagi? Oh Tuhan, siapa aku di dunia ini?” Agatha berusaha berdiri walau sambil sempoyongan. Beberapa mata memperhatikannya sesaat, ada yang mengacuhkannya, ada juga yang marah karena Agatha berlagak seperti orang gila. Ketiga anak punk itu hanya tertawa geli melihat tingkah Agatha yang menyedihkan itu. Karena pasalnya, Agatha menyapa tiap pemuda di sana dengan sebutan TUHAN.


“TUHAN! Engkau Tuhan ku, bukan? Katanya Engkau sungguh baik pada semua orang, kan? Iya bukan? Tapi kenapa Engkau mengizinkan semua ini terjadi padaku, oh Tuhan Yesus ku?” Agatha berbicara saambil berlutut di depan cowok kuliahan berbadan atletis yang datang bersama kekasihnya. Kekasihnya menatap bingung karena pacarnya disapa sebagai TUHAN oleh Agatha.


“Bisakah Engkau memberikan mujizat kepadaku sekali saja, Tuhan? Ah, sungguh malang sekali nasibku, Tuhan…” sesal Agatha, kemudian ia berdiri setelah puas berlutut. Pasangan kekasih itu berusaha menghindar dari Agatha seraya menutup hidung karena mulut Agatha berbau alkohol.


“Tuhan yang mahakasih, kasihanilah daku!” Agatha kembali berlutut di depan pria berjas dan berdasi seumuran daddynya. Tangan kirinya menggandeng seorang gadis, entah anaknya atau pemuas birahinya. Tipe-tipe seperti itu biasanya suka mesum di kantoran. Apabila anak punk yang memakai anting di lidah tidak segera mencegah Agatha, hal buruk pasti akan terjadi padanya. Karena pria berjas dan berdasi itu tampak menggigit bibir bawahnya melihat Agatha yang berlutut padanya.


“Adik kecil! Hei, hei, sadarlah! Dia bukan Tuhan. Di tempat seperti ini mana ada Tuhan?” teriak anak punk itu berusaha mengalahkan keriuhan hiruk-pikuk club.


“Jadi, lo percaya Tuhan ada di tempat lain?” tanya anak punk cewek sambil melipat tangannya di dada.


“Nggak. Ini cuma buat nyadarin adik kecil ini aja.”


“Kalo gitu, Tuhan ada di mana? Bisa antar saya ketemu Dia sekarang?” tanya Agatha sambil melingkarkan kedua tangannya dengan manja di leher anak punk yang menyadarkannya tadi.


“Jangan bertemu Tuhan dulu. Jangan! Katanya, kalo mau ketemu Tuhan, orang-orang harus mati dulu. Jangan bodoh, ya! Masa mau mati masih muda begini demi bertemu Tuhan yang kamu maksud? Entah benaran ada atau nggak. Kalopun ada, mungkin Dia sudah mati beribu-ribu tahun yang silam.”

__ADS_1


“Stop! Jangan menjelek-jelekkan agama gue terus,” hardik si anak punk yang cewek pada temannya.


“Hehehe, okay. Sorry sobat, peace!”


“Hmmm adik kecil, rumahmu di mana? Biar kami antar pulang. Bahaya pulang sendirian dalam keadaan mabuk seperti ini.” Cowok berambut ungu cerah yang sedari tadi diam melihat teman-temannya sedikit berdebat karena menyadarkan Agatha. Ia menanyai Agatha soal alamat rumahnya sambil menepuk-nepuk kedua pipi Agatha.


Dengan salah satu tangannya yang masih menggaet leher anak punk berambut hijau menyala, Agatha berusaha merogoh tasnya mengambil kunci mobil, kemudian melambai-lambaikan kunci mobilnya ke udara. Tasnya ia lempar begitu saja ke meja yang ada di dekatnya. “Ini! Apa ini? Saya bawa mobil kok. Aku mau pulang sendiri. Tolong minggir!”


Agatha berjalan dengan susah payah karena kepalanya terasa pusing dengan diiringi tatapan bingung dari ketiga anak punk itu. Agatha bahkan lupa jikalau dirinya belum membayar pesanannya dan meninggalkan tasnya begitu saja di atas meja.


“Dik! Eh, hei!” panggil cowok berambut ungu cerah hendak mengingatkan Agatha akan tasnya, namun Agatha sama sekali tak menghiraukannya dan terus berjalan keluar club.


“Guys, adik kecil itu belum membayar minumannya. Bisa tolong bayarkan?” seorang pelayan club menghampiri ketiga anak punk itu.


“Aduhhhh…” si cewek berambut pink menepuk jidatnya.


“Eitss, udah. Jangan bodoh! Coba periksa tasnya. Siapa tau ada duit di sana,” si rambut hijau menyala menunjuk tas Agatha dengan dagunya.


Cowok berambut ungu cerah segera memeriksa tas Agatha. Ia terkejut melihat isi tas itu. Ia segera mengambil sejumlah uang sesuai yang disebutkan oleh pelayan club untuk membayar minumannya.


🕊️🕊️🕊️


“Heii, kenapa sampai begini?” Dirgo semakin mengeratkan pelukannya.


“Tuhan, apakah Engkau Tuhan yang aku cari? Tolong kasihani aku, Tuhan,” ucap Agatha sembarangan yang masih di dalam pelukan Dirgo.


Tanpa menjawab, Dirgo segera melepaskan pelukannya lalu membopong Agatha masuk ke dalam mobil. Ia akan mengantar Agatha dengan mobil milik Agatha, mobilnya sengaja ia tinggal di club karena ia tak mau suatu hal yang buruk akan terjadi pada pujaan hatinya.


Agatha terus meracau sepanjang perjalanan dengan menyebut-nyebut nama TUHAN. Dirgo yang tengah menyetir hanya bisa mengelus dadanya sendiri karena Agatha. Sebelum turun dari mobil, Dirgo memasang masker di wajahnya lalu menutupi kepalanya dengan hood (topi kupluk yang ada pada hoodie, yang selanjutnya disebut hoodie—bahasa informal). Ia membuka pintu mobil lalu memapah Agatha keluar.


“Aku bisa sendiri.” Cegah Agatha pada Dirgo, tetapi ia tidak mengenali pemuda yang sedang bersamanya. Karena Agatha menolak, Dirgo pun mengalah. Ia segera memesan taksi untuk mengantarnya ke club mengambil mobil yang ia tinggalkan di sana. Setelah beberapa menit, taksi datang, ia berpamitan pada Mang Judas dan segera keluar menuju mobil taksi yang sudah dipesannya.


🕊️🕊️🕊️


“Cupit! Dari mana saja kamu?” tanya Alzio tegas begitu Agatha masuk ke rumah.

__ADS_1


Agatha tak menjawabnya. Ia hanya tersenyum lalu dengan sengaja merebahkan dirinya ke pelukan Alzio.


“Heh, kamu minum, ya?” tanya Alzio lagi sambil mereka berjalan menuju kamar Agatha di lantai atas.


“Yah, upss! Ketahuan deh sama Pastor,” goda Agatha.


“Tha, kamu sadar nggak sih sama perbuatanmu ini?” tanya Alzio dengan prihatin melihat sepupunya.


Sambil terus memapah Agatha dengan susah payah menaiki tangga, Alzio terus mengomeli sepupunya. Agatha yang setengah sadar tidak terlalu menggubris ocehan dan omelan sepupunya. Tiba di kamarnya, Agatha langsung mual-mual. Alzio dengan cepat membawa sepupunya itu menuju kamar mandi. Alzio sendiri sampai merinding mendengar sepupunya itu muntah-muntah. Alzio sangat mencemaskan keadaan saudara sepupunya itu.


“Tha, kamu kan bisa cerita kalo kamu ada masalah. Nggak usah sampai begini juga. Bisa merusak dirimu.”


Agatha terus memuntahkan sisa-sisa alkohol di dalam perutnya sampai tuntas hingga membuatnya lemas. Alzio kembali memapah sepupunya ke ranjang lalu melepaskan sepatu dari kaki Agatha. Dibaringkannya Agatha layaknya orang sakit. Ia mengambil tissue basah kemudian mengelap wajah Agatha yang kusut kusam itu. Agatha langsung terlelap setelah dibaringkan Alzio. Alzio yang terlalu mencemaskan sepupunya, memutuskan untuk tidur di kamar Agatha di atas sofa panjang.


Saat hendak membaringkan tubuhnya di sofa, tiba-tiba pintu kamar Agatha diketok. Ia bangkit kembali untuk membuka pintu, Bi Momon muncul di sana.


“Non Agatha baik-baik aja, Den Zio?” tanya Bi Momon cemas.


“Dia baik-baik aja, Bi. Dia hanya mabuk karena meminum minuman beralkohol. Dan sekarang dia sudah terlelap,” jelas Alzio.


Bi Momon mengelus dadanya. “Syukurlah jika begitu, Den Zio.”


“Coba Bibi dengar sendiri, sampai ngorok begitu kayak kebo.”


Bi Momon terkekeh karena ucapan Alzio.


“Malam ini Zio tidur di sini, Bi. Takut terjadi apa-apa sama sepupu jelek itu.”


“Iya, Den. Kalau begitu, Bibi pamit. Bibi sudah ngantuk berat, seberat badan Bibi.”


Alzio menutup pintu kamar sambil tertawa karena Bi Momon. Ia kembali merebahkan tubuhnya setelah selesai berdoa.


🕊️🕊️🕊️


To be continued…

__ADS_1


__ADS_2