Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Senyum Tulus.


__ADS_3

Sementara di tengah kepanikan yang melanda Alzio, nyatanya berlawanan dengan Agatha. Agatha nampak bersemangat menari layaknya seorang Disc Jockey (DJ) seolah tanpa beban di hatinya. Sesekali ia menari-nari menyenggol orang di samping kiri kanannya hingga membuat yang lain risih, tetapi ia sama sekali tak mempedulikannya. Ia ingin bebas, ingin menikmati dunia, ingin melepaskan penat di hati, pikiran di kepala, juga rasa sakit yang mendera.


“Yuhuuuuuu!!! Ternyata dunia ini memang indah, ya!” seru Agatha di tempatnya sambil merentangkan kedua tangannya. Hiruk pikuk manusia yang menari-nari mengikuti hentakan musik terasa begitu membahagiakan Agatha. “Betul nggak, Kak?” Agatha menepuk-nepuk punggung Bernard. “Let’s dance together, Kak!” Agatha semakin bersemangat, sementara jam terus memutarkan jarumnya menuju pukul sebelas malam.


“Kamu apakan minumannya tadi?” tanya Andrew pada Cath. Ia sedikit penasaran kenapa Agatha menjadi seperti orang gila, padahal ini kali keduanya Agatha mabuk.


Cath hanya mengangkat kedua bahunya. “Just kidding, Drew. Tapi kayaknya Bernard deh yang atur minumannya adik kecil itu.”


“Udah, cukup, Agatha! Kamu udah mabuk berat. Ayo, kami antar pulang!” Andrew menggenggam tangan Agatha. Agatha berdiri sempoyongan masih sambil bersandar pada Bernard.


“Nggak! Aku nggak mau pulang, Kak. Aku kan udah minggat dari rumah. So, aku nggak mau lagi kembali ke rumah itu! Ayo Kak Bernard, kita menari kembali…”


“Apa yang dia katakan? Minggat? Bercanda, ya?” Cath tersenyum geli seraya menatap pada Andrew.


“Ooohh, no! Ya Tuhan, kenapa Zio ke sini? Gawat! Ada Zio kemari! Jangan bilang mau jemput aku pulang…Kenapa dia sampai ke sini? Aku nggak mau dia menyeretku pulang. Kakak-kakak, help me! Tolong lindungi aku…” Agatha berjongkok di antara Andrew dan Bernard sambil menjerit ketakutan.


“Zio? Zio yang mana? Zio siapa, Agatha? Kakakmu, bukan?” tanya Bernard celingukan. Agatha menggeleng-geleng, lalu mulai menangis.


“Cowok yang pake baju hitam itu! Itu, yang pake baju hitam. Dia jalan kemari!” Agatha meracau.


Andrew, Bernard, juga Cath saling pandang dengan wajah bingung. Pasalnya, tidak ada orang seperti yang diucapkan Agatha sedang menghampiri mereka. Tidak ada cowok berbaju hitam seperti yang Agatha maksud.


“Heii, Tha. Kamu cuma berhalusinasi! Nggak ada Zio yang kamu maksudkan itu!” bentak Andrew. “Kamu taruh apa di dalam minumannya?” tanya Andrew berpaling pada Bernard.


“Nggak diapa-apain. Gue cuma tuang berkali-kali wiski ke dalam gelasnya. Udah, nggak apa-apa. Jangan suka membesarkan masalah, deh!” jawab Bernard santai.


“Sekarang kita apakan dia?” tanya Cath pada kedua temannya.


“Ya kita antar dia pulang! Bernard, bantu gue membopong dia!” pinta Andrew pada Bernard sedikit ketus.


“Hei, kita mau ke mana lagi? Ke rumah kalian, ya, Kak?” tanya Agatha ngelantur.


“Nggak! Kami nggak punya rumah. Kami terbiasa tidur di emperan toko, trotoar, bawah tol!” jawab Andrew ketus.


“Kalo gitu, kita sama, Kak. Aku ikut kalian aja! Pleaseee…”


“Gue mau anterin dia pulang. Kalian ikut gue nggak?” Andrew berbalik pada kedua temannya. Baik Bernard maupun Cath, tidak ada yang bergeming. Mereka enggan untuk mengantar Agatha.


“Ya udah kalo gitu. Jawabannya, kalian nggak ikut gue anterin dia pulang.” Andrew mendelik melihat kedua temannya itu. Ia segera membawa Agatha. Tangan Agatha ia tautkan di lehernya supaya mudah mengimbangi langkah Agatha yang sudah mabuk berat.


“Hati-hati, ya, Drew!” ujar Bernard mengantar kepergian Andrew dan Agatha.


“Lepasin aku, Kak! Aku bisa sendiri!” Agatha menyentak tangan Andrew, lalu melepaskan tangannya yang mengalung di leher Andrew. Terpaksa Andrew harus mengawal Agatha dari belakang sampai menuju parkiran di mana mobil Agatha terparkir. Sebelumnya, ia memang pergi menggunakan taksi, tapi setelah ia pikir ada baiknya jika ia menyuruh Mang Judas untuk mengantar mobilnya. Dan Mang Judas pun terpaksa menuruti keinginan majikan kecilnya.


“Kak, kita nggak pulang, kan?” tanya Agatha saat duduk di dalam mobil. Andrew tidak menjawab dan ia terus berkonsentrasi menyetir.


Karena Andrew mengacuhkan pertanyaannya, Agatha kesal. “Kita mau ke mana, KAK? Kakak harus bilang padaku!” teriak Agatha keras-keras hingga membuat Andrew menoleh ke arahnya dengan wajah yang kesal.


“Ya, pulang! Ke rumahmu! Memangnya kita mau ke mana lagi?”


“Please, Kak. Jangan! Aku nggak mau pulang! Hentikan mobilnya!” Agatha menjerit histeris dan berusaha meraih setir dari tangan Andrew. Terjadi perebutan setir di antara mereka. Agatha berusaha membelokkan mobilnya.


“Hehhhh, kamu ini apaan? Mau mati, ya? Jangan ganggu orang lagi nyetir!” tangan Andrew yang kiri berusaha menghalau tangan Agatha, sedangkan tangan kanannya terus berusaha menyetir dengan benar.

__ADS_1


TIIINNNNN…TIIINNNN!!! Sebuah mobil menglakson mereka dengan keras dan panjang. Tak lupa juga sang pengemudi mengumpat pada Andrew.


“KAK, aku kasih pilihan sekarang. Berhenti sekarang atau aku akan melompat dari jendela ini?” ancam Agatha sambil membuka perlahan kaca mobil. Andrew seketika tak berdaya dan tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia terpaksa menepikan mobil di bahu jalan dan berhenti.


“Okay, sekarang maumu apa, hmm?” tanya Andrew dengan kesal. “Damn! Ini beneran sial. Kenapa juga aku tadi ngurusin kamu, sih? Dasar anak manja tak tau berterima kasih.”


Agatha hanya menangis. Ia menangis dalam keadaan yang masih mabuk. Ia benar-benar tak ingin pulang ke rumah. Ditambah lagi Andrew membentak-bentaknya seperti itu. “Kakak jahat! Aku memang sengaja kabur dari rumah. Jadi, sekarang aku udah nggak punya tempat untuk tinggal. Aku nggak tau harus ke mana, tapi kakak malah nyuruh aku pualng, bentak-bentakin aku lagi… Memang kamu siapa, Kak? Haaa? Jangan bawa aku pulang….”


Andrew menatap Agatha dengan lekat. Ada rasa bersalah yang muncul di hatinya. Ia juga menyesal telah berkata kasar pada Agatha. Ia juga tak menyangka bahwa sedari tadi yang Agatha katakan di club adalah sungguh-sungguh, bukan hanya racauan.


“Ya udah.” Andrew mengusap kepala Agatha dengan lembut. “Aku minta maaf udah bentakin kamu dan berkata kasar. Kita nggak akan pulang. Hapuslah air matamu. Sekarang, aku akan membawamu ke suatu tempat. Oke? Apakah aku dimaafkan?” Andrew kembali menyalakan mesin mobil dan kali ini mereka melesat di tengah kegelapan malam setelah sepakat.


Andrew mengendarai mobil melewati jalanan yang terasa semakin sepi. Di sisinya, hanya ada lampu-lampu taman sebagai penerangan dan tampak sebuah sungai yang mengalir dengan tenang. Andrew lalu menghentikan mobil di dekat jejeran pohon cemara kipas.


“Ayo turun! Kita udah sampai,” ajak Andrew yang sudah duluan berada di luar.


“Ini di mana, Kak?” tanya Agatha datar dengan mata menyipit.


“Tempat yang indah,” jawab Andrew dengan singkat.


“Ini surga? Apakah aku berada di surga sekarang? Itu artinya aku akan ketemu Yesus, Kak?”


Andrew hanya memutar bola matanya. Ia tak menduga bahwa Agatha terus mencari Yesus. “Anak ini sudah benar-benar gila. Ya, dia sungguh gila,” batin Andrew.


Agatha dengan kesadaran yang minim akhirnya keluar dari dalam mobil. Ia dapat merasakan dinginnya hembusan angin malam menusuk-nusuk hingga ke tulang-belulangnya.


“Ayo!” Andrew mengulurkan tangannya pada Agatha. Baru saja Agatha menyambut uluran tangan itu, tiba-tiba ia merasakan mual di perutnya dan langsung memuntahkan isi di dalam perut.


“Uhhh, God!” Andrew langsung memalingkan wajahnya. Untung saja ia belum terkena semburan dari muntahan Agatha. “Kamu nggak apa-apa?” Andrew menepuk-nepuk punggung Agatha dengan sabar.


Andrew mengangguk. “Ya namanya juga mabuk, perutnya pasti mual, kepala pusing.” Andrew terus memperhatikan Agatha yang masih menahan mual. Berkali-kali Agatha mengucapkan kata maaf pada Andrew.


“Udahlah. Udah mendingan?” Andrew lalu mengeluarkan sepucuk sapu tangan dari saku celana jeansnya. “Kamu kedinginan? Ini…” Andrew melepaskan jaket jeans dari tubuhnya dan meletakkannya ke pundak Agatha. Agatha menerimanya tanpa berucap apa-apa, hanya sebuah senyum kecil yang bisa ia lukiskan. Agatha juga dapat merasakan kehangatan dari kebaikan hati Andrew. Ia pun baru menyadari bahwa di lengan kanan Andrew terdapat sebuah tattoo burung merpati hinggap di ranting.


“Ini tempat apa, Kak?” tanya Agatha bingung seraya berusaha melepaskan pikiran ngeri tentang penampilan teman barunya itu. Walaupaun rambutnya berwarna ungu cerah dan juga ada sebuah tattoo di lengan kanannya, namun Andrew termasuk pemuda yang tampan. Hanya saja penampilannya itu yang membuat Agatha sedikit bergidik ngeri.


Andrew tersenyum. Jika diingat-ingat, rasanya senyum itulah merupakan senyum pertama yang ditunjukkan Andrew dengan sangat tulus pada Agatha. “Udah kubilang, ini adalah tempat yang indah. Ayo ke sana!” Andrew menuding hamparan rumput hijau yang luas di tanah yang menanjak. Jika Agatha dalam keadaan yang sedikit sadar, ia pasti menyadari bahwa tempat yang ia pijaki bersama Andrew sekarang, pernah ia datangi bersama Dirgo waktu itu.


Agatha dan Andrew berjalan naik ke sana. Berdiri di atas yang sedikit lebih tinggi, anginnya terasa lebih kencang dan mereka dapat melihat ke segala penjuru kota. Kemerlapan lampu-lampu kota bagaikan cahaya lilin yang bertebaran di bawah kaki mereka. Sungai yang mengalir dengan tenang tampak memantulkan cahaya rembulan dengan sempurna. Rembulan itu baru saja muncul dari peraduannya. Suasana begitu menenangkan dan romantis juga rasanya.


“Woooww…!” seru Agatha kegirangan. “Amazing, man!”


“Amazing, kan? Di sini kita bisa teriak sepuas-puasnya. Mau memaki-maki orang, marah-marah, kek! Atau mau menyatakan cinta juga nggak akan ada orang yang denger…!!” Andrew sedikit berteriak ke udara. Sang angin malam seolah dapat menelan suaranya begitu saja.


“WOOOOII…!!!” Agatha berteriak sambil melengkungkan kedua telapak tangannya di sekeliling mulut. “AKU BENCI JADI DIRIKU! KENAPA AKU HARUS JADI AKU, TUHAN? KENAPA? KENAPA JUGA AKU HARUS HIDUP, TUHAN?”


Andrew menatap Agatha sekilas sambil mengulum senyum. “Cantik-cantik tapi sangar juga nih cewek,” batinnya. “TUHAN, AKU LEBIH BENCI JADI DIRIKU!” timpal Andrew. “JIKA ENGKAU SUNGGUH-SUNGGUH ADA, BICARALAH PADA KAMI!”


Sesaat saja angin berhembus semakin kencang dan daun-daun beguguran dari rantingnya. Seolah hanya itulah jawaban dari Tuhan atas jawaban dari pertanyaan Andrew. Kini, giliran Agatha yang menatap aneh pada Andrew.


“Tuhan itu ada, masa Kakak nggak tau, sih?” ujar Agatha sinis. “Apa Kakak dulu nggak pernah diajarin di Sekolah Minggu?”


“Sekolah Minggu? Kamu gila, ya? Aku nggak pernah percaya Tuhan itu ada! Aku dulu emang pernah Sekolah Minggu, tetapi isinya hanyalah dongeng belaka menurutku. Aku sungguh tidak percaya!”

__ADS_1


Agatha melotot, seolah ingin menelan Andrew bulat-bulat begitu saja. “Sinting nih orang,” batinnya. “Lalu itu apa, Kak?” Agatha menunjuk kalung salib di leher Andrew dengan dagunya yang lancip.


“Ini? Oh, ini hanya trend!” jawab Andrew dengan santai. Agatha tak berkata-kata lagi, karena memang aneh menurutnya. Mengenakan kalung salib tapi tidak tau dan tidak percaya Tuhan.


“Berarti Kakak nggak tau maknanya?” tantang Agatha. Ia tak menyangka kenapa menanyakan hal itu padahal ia sendiri juga tidak tau banyak mengenai arti salib itu.


“Tau,” jawab Andrew. “Aku kan udah bilang, dulu aku pernah ikut Sekolah Minggu. Yesus itu orang yang berani mati, bukan? Ia rela di salibkan untuk menebus dosa manusia. Iyakan?”


“Mungkin!” ucap Agatha tanpa bisa berkata-kata apa lagi. Ia juga tak tau harus menjawab apa, pengetahuannya tentang Alkitab juga Yesus tidaklah banyak.


“AKU BENCI NADINE! SAHABAT PENGKHIANAT! AKU BENCI WELSON SI BRENGSEK KEPALA ULAR! AKU JUGA BENCI KALIAN, DADDY MOMMY! TEGAAA! KENAPA KALIAN SEMUA SETEGA ITU PADAKU?!” Agatha terengah-engah habis berteriak, lalu tangisnya pun meledak.


“Ayo, ikuti aku,” pinta Andrew. “F*CK YOU ARE!!”


“F*CK YOU….!!”


“AAAAAAAARGGGHHH…!!” jerit Andrew dan Agatha bersamaan. Selama beberapa menit mereka terus menjerit, meluapkan kekesalan di hatinya, ketika kekesalan rasanya tidak dapat diucapkan lagi dengan kata-kata. Ketika kosakata maki-memaki rasanya sudah mereka borong dan sudah tidak ada kata yang tepat untuk diucapkan dari kamus mereka berdua.


Setelah lelah menjerit dan berteriak, mereka merebahkan tubuhnya di hamparan rerumputan. Mereka tertawa sampai menangis. Mereka melihat indahnya gemerlapnya bintang-bintang dan berusaha menghitungnya satu per satu. Tangan-tangan mereka terangkat ke udara sambil menunjuk-nunjuk sang bintang.


“Satu, dua, tiga, empat …. tujuh belas, delapan belas …” hitung Agatha. Sementara Andrew yang di sampingnya menghitung tanpa bersuara. Andrew menghitungnya dengan menggunakan bahasa kalbu.


“Andai saja aku bisa mengambil salah satu bintang yang indah di sana…” ujar Agatha sambil tangannya terus terulur menunjuk bintang di langit.


“Andai aku juga bisa tinggal di bulan atau bintang…” ujar Andrew pula. Ia merentangkan kedua tangan dan kakinya seperti membentuk sebuah bintang.


“Kalo nanti ada bintang jatuh, Kakak mau minta apa?” tanya Agatha.


“Entahlah! Masa sih kamu percaya yang begituan?”


“Ya nggak masalah kan punya harapan. Kakak sendiri? Emang Kakak nggak punya keinginan?” cecar Agatha.


“Nggak. Bagiku, menjalai kehidupan ya seperti ini. Jalani aja setiap proses yang ada.”


“Jadi anak Punk? Itu kan juga termasuk tujuan hidup, Kak.”


“Maybe…” Andrew lalu memejamkan matanya. “Kalo ada bintang jatuh, aku akan minta supaya aku bisa tinggal di bintang aja. Bisa nggak, ya? Lalu aku mengajakmu untuk tinggal bersama di sana, selamanya.” Tanpa disadari, kalimat terakhirnya lolos begitu saja, entah apakah gerangan.


“Ya, mungkin bisa…” Agatha tersenyum pada bintang-bintang. “Kalo aku…aku ingin waktu berputar kembali. Aku benar-benar menyesal…”


“Apa yang ingin kamu perbaiki dan kamu ubah?” Andrew berpaling pada Agatha. “Tidak semua hal di dunia ini bisa kita perbaiki dan ubah.”


“Aku ingin jadi Tuhan…” ujar Agatha dengan asal.


“Wow!” komentar Andrew sambil tersenyum lucu.


“Tuhan pasti sibuk, ya, Kak .... buktinya, Ia tak pernah menjawab semua doa-doaku. Sekarang, Dia sedang apa, ya? Apakah Tuhan sudah tidur jam segini? Atau masih memberi makan lima ribu orang? Menyembuhkan orang sakit? Atau, masihkah Dia ingat denganku?”


“Lupakan!” Andrew lalu bangun dari posisinya yang terbaring sejak tadi. “Sekarang, kamu mau ke mana?”


“Aku ikut denganmu saja, Kak.” Agatha juga ikut bangun, lalu memeluk lututnya dengan erat.


“Yakin?” tanya Andrew dengan mata yang berbinar-binar. Ya mau bagaimana lagi, pikirnya. Agatha hanya mengangguk mantap. Perlahan Andrew memeluk Agatha dari belakang. Sontak membuat Agatha kaget.

__ADS_1


🕊️🕊️🕊️


To be continued…


__ADS_2