Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Nungguin Daddy.


__ADS_3

🕊️🕊️🕊️


“Gleo, bawa saja mobilku,” Ny. Daria menawari pria itu, tetapi pria yang dipanggil Gleo itu menolak.


“Why, Mommy? Kenapa Mommy melakukan ini?” tanya Agatha untuk ke sekian kalinya menuntut jawaban dan penjelasan dari Ny. Daria.


“Diam! Masuk ke kamar sekarang!” jawab Ny. Daria dengan tegas seraya melayangkan tangannya mengarah ke kamar Agatha.


“Mommy nggak pernah benar-benar sayang sama Agatha. Semenjak Mommy menyibukkan diri di luar, Mommy makin berubah. Dan, Agatha pikir Mommy benar-benar kerja, ternyata asyik mendua. Mendua dari daddy.”


“Jangan bikin Mommy semakin marah padamu. Sikapmu yang seperti ini yang membuat Mommy marah!”


“Akan Agatha laporin sama daddy!”


“Kamu ngancam Mommy?”


“Yesss! Itu Mommy tau.”


“Silakan sayang! Kamu pikir daddymu percaya sama apa yang kamu katakan?”


“Okay! Mommy tunggu saja.”


“Sejak kapan Mommy takut sama kamu, sayang? Benar-benar anak nakal!”


Agatha berlalu meninggalkan ruang keluarga, menyisakan mommynya yang sedang mondar-mandir. Agatha merasa dirinya terhenti di sebuah bukit yang di keliligi oleh jurang kelam. Maju salah, mundur salah, kanan kiri juga salah. Bisa-bisa ia terjatuh ke dasar jurang. Agatha tidak punya bukti mengenai perbuatan mommynya karena di ruang keluarga tidak di pasang CCTV, apalagi mengingat daddynya juga yang jarang di rumah.


Setelah mencapai lantai atas, Agatha kembali melihat ke bawah, melihat mommynya yang masih saja mondar-mandir. “Kenapa Mommy tega melakukan itu di rumah ini?” teriaknya pada Ny. Daria.

__ADS_1


“Tutup mulutmu! Jadilah anak yang berbakti!” Ny. Daria kemudian menuju kamarnya. Bi Momon yang sedari tadi hanya bisa melihat dan mendengarkan dari ruang makan keluarga, berhambur menuju Agatha di lantai atas. Nona kecilnya masih mematung di tempat.


“Non, Non nggak apa-apa?” tanya Bi Momon ketika dirinya sampai di tempat Agatha dengan napas tersengal karena menaiki puluhan anak tangga. “Ini kenapa Non sampai basah kuyup gini? Jangan bilang disiram sama Nyonya? Yaudah, buruan Non ganti baju, takut masuk angin.”


Agatha hanya menggelengkan kepalanya dan tatapan matanya menerawang. “Hanya Bi Momon yang peduli padaku…”


🕊️🕊️🕊️


Malamnya, Agatha memang sengaja belum tidur. Ia mau menunggu daddynya pulang, walaupun jam di dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ia setia menunggu sambil termenung seorang diri di ruang keluarga. Bi Momon yang semula berniat ingin menemaninya, ia suruh untuk segera kembali ke kamarnya, karena tidak ingin Bi Momon mengantuk lalu tertidur di sofa. Televisi ukuran besar yang ada di hadapannya pun hanya ia simak sesempatnya saja. Di balik riuhnya suara televisi yang menyala, samar-samar ia mendengar deru mesin mobil papanya memasuki garasi.


Agatha dengan pasti meyakini bahwa yang baru saja datang adalah daddynya. Agatha melihat ke dinding, yang rupanya jam sudah menunjukkan pukul sebelas lebih tiga puluh menit, tinggal tiga puluh menit lagi memasuki tengah malam.


Dua menit kemudian terdengar derap langkah kaki memasuki rumah, Agatha malah merasa tegang. Bagaimana tidak tegang, sudah lama rasanya ia tidak melihat wajah daddynya. Rasanya ia juga kangen dengan sosok daddynya itu. Jika pagi hari, daddynya sudah berangkat ke kantor sebelum ia bangun, jika malam ia sudah tertidur di saat daddynya pulang, dan bahkan sering kali daddynya menginap di kantor. Itu semua membuat ruang mereka terasa sangat jauh. Tetapi malam ini ia memang sengaja menunggu kepulangan daddynya dari kantor.


“Kenapa belum tidur, Sayang?” sapa daddynya ketika melihat Agatha. Raut wajah Tn. Thomas kelihatan lelah. Dasinya ia longgarkan supaya kerah bajunya bisa leluasa dibuka sedikit.


“Nungguin Daddy pulang,” jawab Agatha tersenyum.


“Pengumumannya tiga hari ke depan lagi, Dad…”


Tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi, Tn. Thomas lalu masuk ke ruang kerjanya. Agatha yang melihat itu, hanya menghembuskan napasnya dengan kasar. Susah sekali rasanya untuk mengobrol dengan daddynya itu. Agatha ragu apakah ia akan menyusul daddynya ke ruang kerja atau tidak. Tidak mungkin juga rasanya sang daddy masih harus terus lanjut bekerja setelah pulang selarut ini. Jika memang benar lanjut bekerja, Agatha tak habis pikir dengan daddynya. Raga yang lelah seharusnya diistirahatkan, toh memang malam sudah larut.


“Daddy, Daddy sudah makan? Jika belom, biar Agatha siapin untuk Daddy…” tanya Agatha saat berdiri di ambang pintu ruang kerja daddynya.


“Kamu masih belum pergi tidur juga, Agatha?” tanya daddynya mulai ketus.


Jawaban dari daddynya membuat Agatha tertegun. Rasanya kecewa memang jika dijawab dengan ketus. “Daddy masih ada kerjaan, ya? Agatha buatkan kopi, mau?”

__ADS_1


“Kamu kenapa lagi, Agatha? Udah waktunya tidur bukannya tidur, malah begadang nungguin Daddy pulang.” Daddynya mulai mendengus kesal. Ia memandang pada anaknya yang masih berdiri di ambang pintu. “Kamu mau ganti mobil lagi? Atau kamu perlu uang lagi? Memangnya tidak cukup uang saku bulanan yang Daddy berikan?”


“Tidak, Dad. Agatha cuma pengen ngobrol aja sama Daddy,” ujar Agatha dengan tenang. Entah apa yang merasukinya sehingga ia tidak marah-marah seperti pada mommynya. Sudah lelah rasanya marah-marah tetapi hasilnya tetap nihil, yang ada tenaganya yang habis terkuras sia-sia. Kali ini Agatha mencoba ingin mendapatkan simpati dari daddynya. Agatha merindukan keharmonisan keluarganya seperti dahulu, bukan yang sekarang. “Apa salah jika seorang anak semata wayang ingin mengobrol dengan Daddynya?” Agatha menatap daddynya sambil tersenyum kecil. Perih memang jika harus berpura-pura senyum seperti itu.


Setelah melontarkan pertanyaan itu, Agatha berlalu pergi dari ruang kerja daddynya walaupun ia hanya berdiri di ambang pintu. Seraya berlalu pergi meninggalkan daddynya, Agatha berpikir bahwa ini memang bukan waktu yang tepat untuk menceritakan tentang perselingkuhan mommynya. Mungkin apa yang dikatakan mommynya benar bahwa daddynya tidak akan percaya dengannya, bahkan mendapatkan simpati dari daddynya pun tidak.


🕊️🕊️🕊️


Di jalanan yang cukup ramai, Agatha memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang, melaju dengan kencang seolah sedang berlomba-lomba dari balik kaca jendela mobilnya. Pemandangan ini merupakan pemandangan yang sudah tidak asing lagi jika pagi hari, karena arus lalu lintas sangat sibuk dan penuh hiruk-pikuk. Mulai dari pasangan anak SMA yang berboncengan tanpa pengaman kepala, para kepala keluarga mengantar ketiga anaknya sekaligus dengan satu motor, hingga alat transportasi umum yang penuh sesak hingga membuatnya sedikit oleng.


Saat ini Agatha bukan hanya kecewa, tetapi ia juga frustasi dengan semua yang telah terjadi padanya. Semua yang terjadi padanya, seolah membuat langit runtuh dan dunia rasanya mau kiamat. Malas rasanya jika harus pergi keluar rumah jika tidak ada keperluan. Tetapi hari ini ia harus pergi ke universitas hanya sekedar meninjau tempat belajarnya kelak ketika lulus tes seleksi masuk perguruan tinggi, yang sejatinya tiga hari ke depan pengumumannya akan disebarkan melalui website.


🕊️🕊️🕊️


Selesai dari bakal calon universitasnya, Agatha tampak murung. Ia benar-benar murung. Ia menenggelamkan dirinya di jok mobil dan sesekali memperhatikan taman kota ketika mobilnya melintasi area tersebut. Sisa-sisa hujan yang mengguyur kotanya masih meninggalkan bekas, membasahi jalanan beraspal tebal itu, sehingga menimbulkan kesan licin jika dilihat. Matanya tanpa sengaja melihat sekumpulan anak-anak jalanan, mungkin yang tepat ketika melihat penampilan anak-anak jalanan tersebut adalah dengan sebutan anak punk. Ini sama persis dengan yang pernah ia jumpai sewaktu berangkat sekolah kala itu. Rambutnya ada yang dikepang-kepang, separuh maupun seluruhnya, mewarnai rambutnya, memakai anting-anting hanya sebelah kuping, memakai pakaian serba hitam, menggunakan sarung tangan, dan memakai ikat pinggang berpaku dan juga rantai.


Di tengah mobilnya berhenti tepat di sebuah perhentian lampu merah, Agatha sempat menghitung jumlah anak jalanan tersebut, jumlahnya sekitar sepuluh orang. Yang Agatha lihat, tiga orang sedang asyik bercengkerama di pinggiran trotoar, yang lainnya ada yang masih tidur dan ada juga yang sedang menyodorkan topi sebagai tempat menampung uang dari hasil ngamennya. Kedua anak jalanan yang berambut dikepang dan diwarnai menghampiri mobilnya. Yang rambutnya dikepang memainkan gitar sambil bernyanyi, dan yang rambutnya diwarnai bertepuk tangan sambil membawa topi.


Mang Judas membuka kaca jendela mobil ketika kedua anak punk itu berada di dekat mobil. Agatha meminta Mang Judas untuk memberikan uang, entah berapa pun itu. Mereka berdua membungkukkan badannya tanda terima kasih. Agatha yang menyaksikan itu, sampai heran. Ternyata mereka tau cara berterima kasih juga, pikirnya. Kepalang penasaran dengan anak punk itu, ketika mobilnya melesat menjauhi area itu pun Agatha masih memperhatikan mereka dengan menolehkan kepalanya ke belakang.


“Non, apa yang dapat kamu pikirkan ketika melihat anak-anak itu?” tanya Mang Judas menghentikan aktivitas Agatha yang masih saja menoleh ke belakang.


“Meskipun mereka hanya anak jalanan yang sepertinya terlantar, tetapi mereka masih mempunyai hati dan tau cara berterima kasih, Mang,” jawab Agatha sekenanya saja. Mang Judas hanya menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang dikatakan olehnya.


“Non mau mampir ke suatu tempat atau kita langsung pulang saja?”


“Langsung pulang aja, Mang.”

__ADS_1


🕊️🕊️🕊️


To be continued…


__ADS_2