
Keesokan paginya.
Cahaya yang mencuri-curi menerobos masuk melalui kaca jendela kamar, hingga membuat Agatha menggeliat karena cahaya matahari menyilaukan matanya. Agatha meregangkan tubuhnya ketika terbangun. Menguap beberapa kali sambil mengucek-ngucek matanya. Namun, ketika melihat jam weker di atas nakas, betapa terkejutnya ia melihat jarum jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Ia berteriak.
“Aaaaaaaa bagaimana ini?” teriakan itu menggema di seluruh penjuru kamar miliknya.
“Kenapa aku bisa kesiangan sih? Bisa terlambat kalo kayak gini.” Rutuknya.
Setelah bergumam, Agatha segera bergegas ke kamar mandi. Membasuh wajahnya di wastafel dengan cepat kilat seperti kekuatan seribu tangan. Jika saja wajahnya hanya sebuah tempelan bisa dipastikan wajah cantik itu akan terkelupas. Bagaimana tidak? Ia takut terlambat ke sekolah. Entah, apakah ia akan cepat sampai tepat waktu atau malah sebaliknya, lalu di hukum guru piket mengelilingi lapangan sekolah 10 kali putaran lamanya.
Pagi ini ia tidak mandi. Sesudah membasuh wajahnya, ia segera mengambil seragam sekolah yang berada di walk in closet. Saking terburu-buru, kini ia sudah lengkap dengan segala keperluan dan atribut sekolah.
Sementara di ruang tamu, Bi Momon tengah membersihkan pernak-pernik yang tertata di situ. Bi Momon menyenandungkan sebuah lagu agar semangat menjalankan aktivitasnya. Ketika mendengar derap sepatu yang berasal dari langkah kaki Agatha, Bi Momon menghentikan aktivitasnya.
Tak..tuk..tak..tuk!
Agatha menuruni tangga dengan cepat. Namun sayang, ketika hampir sampai di lantai dasar, tanpa sengaja ia menyangga kakinya sendiri dan otomatis hal itu membuatnya terjerembab ke lantai.
“Ahhhh! Sialan.” Gerutunya.
“Udah bangun kesiangan, ternyata ada bonusnya lagi, ciuman sama lantai.” Gumamnya lagi.
Sontak hal tersebut memancing gelakan tawa dari sang asisten rumah tangganya, siapa lagi jika bukan Bi Momon si ratu somplak. Agatha hanya bisa meringis kesakitan karena kepalanya membentur lantai marmer itu dan berusaha bangkit berdiri dan melanjutkan aksinya. Ketika melewati Bi Momon yang tengah asyik cekikikan, Agatha hanya mendengus kesal.
“Bibi ngejekin aku ya? Senang banget kayaknya?” cetus Agatha.
“Eh, siapa yang ngejekin, Non.” Elak Bi Momon.
“Etdahhhh. Bilang aja kalo ngejekin aku, Bi. Mau aku jitak pakai centong?” seru Agatha lagi.
“Eh, bukan. Bukan itu, Non.” Jawab Bi Momon.
“Ini, Non. Bibi ngetawain boneka kucing yang melambai-lambaikan tangannya, Non.” Tambahnya lagi, padahal yang jelas masih mentertawakan nona kecil itu.
“Ishhh, bikin kesel deh.” Agatha cemberut.
Bi Momon yang menyadari adanya sebuah kejanggalan dari penampilan Agatha, sontak membuat jiwa keponya bertanya.
“Non mau kemana, lagian udah jam tujuh lewat loh?” tanya bi Momon yang hampir saja tertawa.
“Mau konser ke empang mbah Kocan.” Jawab Agatha asal.
“Ya mau sekolahlah. Udah tau pake nanya segala.” Tambahnya.
“Upssss!” Bi Momon menutup mulutnya.
“Tapi kok pakaian Non compang camping? Roknya seragam sekolah, sementara bajunya baju tidur? Hahaha.” Tanya bi Momon yang sudah pecah dengan tawanya.
“Huhhh. Semprul. Bagaimana bisa sekolah pake baju tidur?” Agatha masih pada pendiriannya, karena belum menyadari penampilannya.
“Haha. Coba Non perhatikan lagi bajunya di kaca jika tidak percaya!” perintah Bi Momon dan langsung diikuti Agatha.
Dan, setelah mengamati penampilannya, Agatha terkejut bukan main.
“Oh my God! Kenapa bisa kayak gini sih?” serunya meraba baju yang dia kenakan.
“Hahaha. Non ada-ada saja.” Pungkas Bi Momon.
“Puas ngetawain aku, Bi?” ketus Agatha kesal.
“Belum, Non. Eh, maaf. Udah puas kok, Non.” Jawab Bi Momon memegangi perutnya yang serasa dikocok akibat ulah sang nona kecilnya itu.
“Stop gak ngetawain aku? Apa Bibi mau liat kemoceng terbang indah?” ancam Agatha kesal karena Bi Momon masih saja mentertawakan ulahnya sendiri.
“Hehe. Maaf, Non. Abisnya Non lucu sekali pagi ini.” Jawab bi Momon berusaha mengendorkan saraf tawanya.
“Eh, kok Bibi baru dengar ya kalo kemoceng bisa terbang?” tanya bi Momon dengan polos.
“Ya bisalah. Apa Bibi mau liat?” serunya meyakinkan Bi Momon.
“Bolehlah kalo gratis tanpa biaya apapun, Non.” Jawab bi Momon serius.
Yang mana hal itu membuat Agatha tertawa lepas karena pertanyaan konyol Bi Momon.
“Hahahahaha.” Agatha tertawa.
“Lah, kok malah ketawa sih, Non?” Bi Momon bingung.
“Huff huff huff.” Agatha mengambil napas.
“Haha. Tapi, apakah Bibi siap menanggung resikonya?” tanya Agatha.
“Kok? Ada resikonya juga ya, Non?” tanya bi Momon lagi.
“Astaga Tuhan!” Agatha menepuk jidatnya, pasal Bi Momon masih saja belum mengerti apa yang dia maksud.
“Apa Bibi mau aku lempar pake kemoceng?” tambahnya.
__ADS_1
“Ya gak maulah, Non. Sakit tau.” Ujar bi Momon.
“Nah, itu dia yang aku maksud, Bi. Dasar kepiting sungai.” Dengus Agatha.
“Lagian siapa suruh Non pake bahasa terbang menerbang. Kayak pesawat terbang aja.” Ucap bi Momon menggarukan kepalanya.
“Bibi nya aja sih yang kolot. Gimana mungkin gak nyambung mulu dari tadi.” Seru Agatha.
Agatha kemudian melirik jam dinding di ruang tamu itu, sungguh ia tak habis pikir telah menghabiskan waktu puluhan menit bersama Bi Momon.
“Tuh kan, udah jam segini. Mana belum ganti baju seragam lagi.” Agatha cemberut.
“Lagian Bibi sih ngajakin aku ngomong mulu.” Tambahnya lagi.
“Lah, kok nyalahin Bibi, Non? Lagian Non mau sekolah ke mana hari minggu kayak gini? Non mau sekolah minggu? Atau Non mau belajar di pangkalan ojek?” tanya Bi Momon.
“Yang benar saja ini hari minggu, Bi?” Agatha tak percaya.
“Liat tanggal di lavender aja kalo gak percaya, Non!” tukas Bi Momon.
“What? Apa hubungannya lavender sama hari minggu, Bi?” tanya Agatha tak mengerti.
“Upss, salah Non. Kalender maksudnya.” Jawab Bi Momon.
Agatha membulatkan matanya. Nyatanya, hubungan kalender sama lavender menurutnya sangat jauh. Dari nama hari kenapa bisa jadi nama bunga, pikirnya.
“Astaga, Bi. Jauh sekali bedanya.” Ucap Agatha.
“Ya salah siapa penyebutannya hampir mirip, Non. Kalender sama lavender kan sama-sama ada kata 'ender' nya, Non.” Ucap Bi Momon dan mengambil kalender yang ada di meja.
“Nih, Non. Kalendernya.” Titah bi Momon.
Karena penasaran, apakah Bi Momon benar atau dirinya yang keliru, akhirnya Agatha menyambar kalender yang dititah Bi Momon. Seketika bola matanya membulat melihat tanggal dan hari saat ini.
“Astaga. Kenapa aku sampai lupa sih, Bi.” Gerutu Agatha.
“Ya, makanya Non jangan kebanyakan melamun. Kayak gini kan jadinya.” Protes Bi Momon dan meletakkan kalender ke tempat semula.
“Sungguh menyebalkan!” ucap Agatha kesal.
“Kok badanku gemetaran ya?” batinnya.
Karena semalam melewati jam makan malamnya, Agatha kini merasakan badannya lemas, kepalanya pusing, gemetaran, dan pandangannya pun tak jelas. Di sekelilingnya seolah benda-benda berputar kesana kemari. Tanpa jeda sedikit pun, akhirnya Agatha terkulai dengan pakaian yang beda pasangan. Ya, Agatha pingsan. Bi Momon yang semula sudah mengibas-ngibaskan kemoceng di meja, seketika berteriak karena mendapati Agatha yang sudah tersungkur.
“Non, Non kenapa?” teriak Bi Momon panik.
“Ada apa, Bi? Lagi main kejar-kejaran sama siapa?” tanya Mang Judas.
Bi Momon membulatkan matanya, pasalnya Mang Judas malah bercanda.
“Ayo cepat masuk!” perintah Bi Momon.
Tanpa menjawab, akhirnya Mang Judas mengikuti Bi Momon dari belakang. Jika keadaan mendesak, Bi Momon seakan tak bisa berbuat apa-apa selain memasang wajah panik, dan itu juga sudah diketahui oleh Mang Judas. Sesampainya di tempat Agatha tersungkur, Mang Judas menajamkan matanya ketika melihat yang sebenarnya terjadi.
“Pantas saja Bi Momon sangat panik.” Batin Mang Judas.
“Eh kupret, kenapa malah bengong? Ayo cepat angkat ke sofa!” ujar Bi Momon memerintah.
“Iya, sebentar.” Jawab Mang Judas, kemudian mengangkat tubuh Agatha ke sofa sesuai perintah Bi Momon.
Setelah Agatha terbaring di sofa, kini Bi Momon mencari minyak kayu putih untuk merangsang supaya Agatha cepat tersadar dari pingsannya.
“Tolong jagain sebentar. Saya mau ambilin minyak kayu putih.” Ucap Bi Momon dan berlalu pergi.
“Siap!” saut Mang Judas.
Bi Momon mondar mandir karena benda yang dia cari sama sekali tidak ketemu. Akhirnya dia menemui Mang Judas yang tengah menjaga Agatha.
“Ada apa, Bi? Apa sudah ketemu minyak kayu putihnya?” tanya Mang Judas.
“Nah itu dia masalahnya. Udah dicari ke mana-mana tidak ketemu juga. Apa digondol tikus ya?” ucap Bi Momon yang membuat Mang Judas tertawa.
“Hahaha. Yang benar saja, Bi.” Mang Judas terkekeh.
“Dasar amoeba kamu. Orang lagi panik malah tertawa.” Bi Momon hampir saja menjitak Mang Judas.
“Salah siapa bilang digondol tikus.” Ketus Mang Judas.
“Yasudah, lupakan. Kita pikir gimana caranya menyadarkan non Agatha. Saya khawatir jika ada hal aneh terjadi.” Ujar Bi Momon yang sudah menepuk-nepuk pipi Agatha.
“Saya tau, Bi. Sepertinya itu adalah cara yang jitu kayak di sinetron-sinetron.” Ucap mang Judas yang sudah membuka sepatunya.
“Bukannya mikir, kenapa malah buka sepatu?” cetus Bi Momon melotot.
“Heleh, matanya jangan bulat-bulat gitu, Bi. Ntar copot loh.” Jawab Mang Judas.
“Dibilangin malah nyolot. Ayo buruan cari solusi!” hardik Bi Momon.
__ADS_1
“Ini, Bi.” Seru Mang Judas sambil memberikan sepatunya pada Bi Momon.
“Kamu nyuruh saya bertanya pada sepatu?” Bi Momon melotot.
“Yang benar saja, saya gak bisa bahasa sepatu, Judas.” Timpal Bi Momon lagi.
“Gitu aja kagak tau maksudnya. Apa Bibi pernah nonton sebelumnya?” Mang Judas kesal karena idenya belum terkoneksi sama pikiran Bi Momon.
“Jangan berbelit kayak arus sungai. Cepat kasih solusi!” perintah Bi Momon lagi.
“Ya itu dia caranya, Bi.” Tunjuk Mang Judas pada sepatunya.
“Bagaiman bisa? Baru kali ini saya dengar minta solusi sama sepatu?” jawab Bi Momon yang masih saja belum paham maksudnya.
“Astaganaga, Bi Momon Pokemon.” Mang Judas menepuk jidatnya.
“Denda pengalihan nama! Dulu Suromon, sekarang Pokemon.” Ketus bi Momon.
“Ya ampun Gusti. Kenapa masih saja belum paham maksud saya sih?” Mang Judas membatin.
“Mau tau caranya, Bi? Sepatu itu didekatkan sama hidung orang yang lagi pingsan, sama kayak pakai minyak kayu putih.” Jelas Mang Judas.
Karena ide konyol dari Mang Judas, Bi Momon memegang perutnya karena mual membayangkan aroma sepatu.
“Huekkkk!” Bi Momon memegang perut dan menutup mulutnya.
“Lah, kenapa Bibi juga ikutan sakit?” Mang Judas bertanya keheranan.
Pasalnya, yang satu saja belum sadarkan diri, malah Bi Momon juga ikut-ikutan.
“Bukan sakit, Bongsor! Tapi saya lagi bayangin aroma sepatu kamu yang jorok itu.” Jawab Bi Momon.
“Lalu gimana, Bi? Apakah kita biarkan dia begitu saja? Bisa-bisa ditumbalin kita Bi sama tuan dan nyonya.” Ujar Mang Judas panik.
“Lagian ide kamu jorok sekali. Jangan lakukan itu! Jika saja non Agatha tau, kita bakalan disambelin sama dia.” Tukas Bi Momon yang tak kalah paniknya dengan Mang Judas.
“Yasudah. Sini sepatu saya, Bi!” pinta Mang Judas.
“Lebih baik kita panggilkan dokter keluarga saja, Bi.” Usulnya lagi.
“Nah. Coba dari tadi bilang seperti itu, jadi gak bertele-tele.” Ucap Bi Momon kesal.
“Namanya juga manusia, Bi. Kadang ingat, dan kadang gak ingat sama sekali karena lupa.” Jawab Mang Judas.
“Yasudah. Sekarang saya hubungi dokternya.” Saut Bi Momon.
Namun ketika hendak menghubungi dokter keluarga, Agatha sadarkan diri. Mang Judas yang melihat itu, segera memanggil Bi Momon.
“Bi, nona Agatha sudah sadar.” Seru Mang Judas.
Bi Momon membatalkan panggilan itu, dan bergegas mendekati Agatha.
“Syukurlah. Non sudah sadar.” Ucap Bi Momon mengusap kening Agatha, mana tau juga Agatha sedang meriang pikirnya.
“Emang aku kenapa tadi, Bi?” tanya Agatha bingung karena ucapan Bi Momon.
“Oh, tadi Non tersungkur di lantai. Kayaknya Non kelelahan deh.” Jawab Bi Momon.
“Oh gitu ya, Bi? Apa ada makanan, Bi?” tanya Agatha memegangi perutnya.
“Non lapar?” Bi Momon balik bertanya.
“Enggak. Aku ngorok.” Cetus Agatha, padahal kepalanya masih saja pusing.
“Ya lapar lah, Bi. Makanya nanya ada makanan apa enggak. Kan gak mungkin aku nanya kembang.” Tambahnya lagi.
“Oh, kirain Non mau makan kembang.” Jawab Bi Momon.
“Bawa sini, Bi! Kepalaku masih pusing nih.” Seru Agatha.
“Siap, Non. Mohon ditunggu ya!” jawab Bi Momon.
“Don’t be long!” perintah Agatha.
“Oke boss.” Saut Mang Judas spontan.
“Stop! Bukan ngomong sama Mang Judas.” Tegas Agatha.
“Lah, salah lagi. Nasib-nasib.” Batin Mang Judas.
“Oke, Non. Saya bakalan diam.” Jawab Mang Judas.
To be continued.
Note:
For information. Visual akan Author masukin di chapter pertama ya. Jadi, silakan liat beberapa hari lagi. Thanks.
__ADS_1
Dukung terus karya Author ya dengan cara tinggalkan jejak like, vote, rate, dan komen😊.