Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Meriang.


__ADS_3

(Hal terindah di dalam hidup adalah ketika kita mampu bersyukur atas apa yang telah kita capai)


-By Author-


🕊️🕊️🕊️


Sang malam telah berlalu, kini bersambut dan berganti dengan sang pagi. Pagi ini, Agatha tidak juga bangun karena ia merasa sangat lelah. Kebanyakan menangis membuat matanya menjadi bengkak. Sang mentari di luar telah menyambut pagi dengan senyuman merekahnya memberikan kehangatan di pagi hari. Bagi kebanyakan orang, pagi hari adalah awal dari memulai semuanya, memulai aktivitas serta kegiatan lainnya.


Bertepatan sekali hari ini adalah hari minggu, yang mana seperti biasanya banyak orang-orang yang pergi beribadah, ada juga yang beribadah pada sore hari sesuai dengan jadwal yang telah disediakan. Yang pastinya sesuai dengan kesibukkan masing-masing, jika dirasa saat sore hari akan ada kegiatan, maka mereka memilih beribadah di pagi hari dan begitu juga sebaliknya.


Di rumah keluarga William, yang mana pagi ini Bi Momon sudah selesai dengan doa singkatnya di pagi hari. Bi Momon keluar dari kamarnya sembari menyanyikan sebuah lagu ucapan syukur pada Tuhan yang telah memberikan kesempatan untuk bisa kembali bangun menghirup segarnya udara pagi. Sungguh betapa nikmatnya jika kita mampu bersyukur dengan apa yang telah Tuhan berikan dalam hidup kita, itu juga yang sedang Bi Momon rasakan saat ini.


“Surya bersinar udara segar, terima kasih.


Di tepi pantai ombak berderai, terima kasih.


T’rima kasih seribu (o t’rima kasih seribu)


Pada Tuhan Allahku (o pada Tuhan Allahku)


Aku bahagia karena dicinta, terima kasih.


Melati wangi kutilang nyanyi, terima kasih.


Serimba raya dengungkan lagu, terimakasih.


Hati manusia pandai mencinta, terima kasih.


Setiap waktu bisik hatiku, terima kasih.


Panjatkan doa setinggi surga, terima kasih.

__ADS_1


Sepanjang masa terucap kata, terima kasih.”


Sebuah untaian lagu telah selesai Bi Momon nyanyikan dengan perasaan yang penuh rasa bersyukur. Lantas Bi Momon segera melakukan kegiatan rutinnya di dapur menyiapkan sarapan untuk keluarga William. Tak butuh waktu lama kini sarapan telah terhidang di tempatnya karena Bi Momon sudah sangat cekatan dalam melakukan aktivitasnya. Selesai menata beberapa makanan untuk sarapan di meja makan, sekilas Bi Momon menoleh ke arah tangga yang mengarah ke kamar Agatha. Belum ada tanda-tanda apapun yang nampak di sana.


Alhasil Bi Momon melangkah ke arah tangga dan menaikinya hingga tiba di kamar Agatha. Beberapa kali Bi Momon mengetuk pintu, namun juga tak ada jawaban sedikitpun dari balik kamar.


Tok.. Tok.. Tok.. Bi Momon mengetuk pintu berulang kali.


“Non, bangun!” ucapnya, “udah hampir siang nih.” Tambah Bi Momon di sela-sela mengetuk pintu.


Karena tak mendapat jawaban, Bi Momon memutar gagang pintu lalu mendorong pintu itu ke dalam. Di atas ranjang ternyata Agatha masih meringkuk seperti orang yang lagi sakit. Bi Momon berjalan menghampiri ranjang kekuasaan Agatha, lalu mematikan pendingin ruangan.


“Wah, anak gadis masih meringkuk!” ucap Bi Momon seraya menyibak selimut berbulu milik Agatha. Namun ketika tangan Bi Momon tanpa sengaja menyentuh lengan Agatha, dia kaget karena suhu tubuh Agatha kini tak seperti biasanya yang tak lain adalah panas (demam). Alhasil itu membuat Agatha tersadar dengan mengucek-ngucek matanya karena yang ia lihat hanya menampakkan bayangan buram.


“Kenapa, Bi?” Agatha bertanya sembari menguap karena kesadarannya belum terkumpul sempurna, “udah siang, ya?” tambahnya.


“Aduh, Non. Bibi kira kamu kedinginan, ternyata kurang enak badan,” gumamnya, “tunggu sebentar ya, Bibi ambilkan pengompres dulu!” lanjut Bi Momon.


“Auhhhh!! Kenapa ini perih sekali sih?” ucapnya meringis ketika tangannya menyentuh bagian yang nyeri. Ia segera bangkit dari ranjang dan berjalan menuju meja riasnya, ia ingin memastikan apa yang terjadi pada dadanya. Ia membuka sedikit kancing baju tidurnya dan mendapati bagian itu terlihat lecet dan kemerahan. Ia terkejut.


“Ini pasti gara-gara Welson kemaren.” Gumamnya lalu menutup kancing baju karena di pintu sudah menunjukkan bahwa Bi Momon telah sampai dengan wadah air pengompres serta handuk kecil. Agatha kembali berbaring ke ranjangnya.


“Non, Bibi kompres dulu ya, supaya panasnya cepet turun.” Ujar Bi Momon yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Agatha.


Mendapat persetujuan dari Agatha, segera Bi Momon mengompresnya tanpa mengulur waktu lagi. Mata Agatha terpejam semenjak dikompres, alhasil ia tak mengetahui jika Bi Momon menatap nanar ke arahnya.


“Non yang kuat dan bersabar ya. Memang, hidup tak selamanya berjalan sesuai harapan kita. Namun kita harus bisa berdiri tegar menghadapi semuanya dengan ketulusan hati,” Bi Momon membatin, “seharusnya anak seusia non tidak boleh merasakan apa yang sedang non rasakan seperti saat ini.” Tambahnya, yang tanpa terasa air mata kini sudah mengalir bebas di wajah Bi Momon.


Karena takut Agatha mengetahuinya yang sedang menangis, lantas Bi Momon meraih selembar tissue yang terletak di nakas samping tempat tidur Agatha. Mengelap air matanya secepat mungkin. Namun belum sempat selesai mengelap air matanya, Agatha tiba-tiba mengagetkan aktivitas Bi Momon.


“Bi, Bibi kenapa?” tanya Agatha kebingungan yang mendapati Bi Momon memegang selembar tissue dengan tangan mengarah ke wajahnya.

__ADS_1


“Bibi sakit flu, ya?” sambung Agatha lagi.


“Eh eng..nggak kok, Non,” jawab Bi Momon tergagap, “ini karena Bibi membayangkan film azab kok.” Bi Momon berdalih.


“Yaelah, Bi. Ngapain nonton yang kayak gitu? Bibi mau keok tertimpa sapu lidi karena sering nyapu, gitu?” ucap Agatha ketika tangannya mengangkat handuk pengompres.


“Wehhh, enggak ada kayak gitu, Non. Bibi enggak pernah loh nonton ikan terbang.” Jawab Bi Momon sedikit terkekeh.


“Up to you lah, Bi.” Celetuk Agatha, kemudian menarik selimutnya kembali hingga menutupi setengah dari tubuhnya.


“Non, jangan bercanda! Bibi enggak paham bahasa linggis,” ucap Bi Momon serius, “ tapi kalau bahasa kalbu itu mah mainan Bibi,” sambungnya dengan sedikit tertawa.


“Welehhhh, palingan bahasa kalbu dari sang diva, iyakan Bi?” terka Agatha.


“Nah itu tau, Non,” jawabnya, “yaudah Bibi ke bawah ya.”


“Iya, Bi. Thanks ya.” Agatha tersenyum simpul.


Pagi ini rasanya ia sangat malas melakukan aktivitas, baik sekedar turun ke bawah hanya untuk sarapan ataupun yang lainnya, namun sang bantal dan selimut berhasil mempengaruhinya supaya bermalas-malasan. Apalagi ditambah karena meriang. Ia menatap nakasnya mencari keberadaan ponselnya di sana, lalu meraihnya ketika benda itu ditemukan.


Tak selang waktu lama, tanpa ia menghubungi Welson, kini ponselnya berdering yang langsung menampilkan nama pacarnya. Matanya berbinar bagaikan sedang mendapat butiran mutiara.


Tanpa membuang waktu lagi, ia segera menjawab panggilan itu dengan tersenyum.


“Hallo, pagi sayang,” sapa Welson di ujung sana, “lagi ngapain nih?”


“Hallo juga jelek kesayangan,” jawab Agatha tersenyum, “aku lagi malas mau ngapa-ngapain, Yank,” lanjutnya.


“Loh, kenapa? Udah sarapan belom?” tanya Welson.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2