
🕊️🕊️🕊️
Di kediaman seseorang.
Dia berbaring menatap langit-langit kamarnya. Senyuman terus mengembang di bibirnya yang manis itu. Sesekali melihat potret Agatha di ponselnya. Sungguh, gadis itu telah membuatnya tersenyum-senyum sendiri.
“Walaupun aku bukan yang pertama mengenalmu, mengisi hati dan hari-harimu, namun aku ingin hidup selamanya bersamamu. Menuai masa tua, menata dan mengisi hati yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Suatu saat aku akan menunjukkan siapa aku dan bagaimana Welson memperlakukanmu. Namun, sebelum aku memberi tau tentang itu, ku harap kau telah lebih dulu mengetahui yang sebenarnya. Aku tak ingin menjadi perusak di antara kita, tetapi aku tak sanggup melihatmu diperlakukan seperti itu.” Gumamnya sambil memandangi wajah Agatha di layar ponselnya.
🕊️🕊️🕊️
Sementara di rumah Agatha, kedua orang tuanya baru saja tiba dari bekerja. Mereka berdua mengistirahatkan tubuh lelahnya di sofa ruang keluarga.
“Pa?” Nyonya Daria memulai percakaapan.
“Hm, ada apa Ma?” tanya suaminya sambil melonggarkan kerah kemejanya.
“Apa Papa tidak tau jika Agatha kecelakaan?” Nyonya Daria berujar dengan hati-hati.
“Jangan bercanda, Ma. Mana mungkin dia kecelakaan.” Ucap Tuan Thomas tak percaya.
“Aduh Papa ini gimana sih? Mana mungkin Mama bercanda. Dokter bilang, dia mengalami depresi ringan, sehingga membuatnya kehilangan konsentrasi.” Jawabnya pada sang suami.
“Lalu kondisinya gimana, Ma? Tidak terlalu parah kan?” tanyanya pada sang istri.
“Tidak apa-apa. Tadi cuma pingsan kata Bi Momon. Oiya Pa, mama mau kita sama-sama meluangkan waktu buat Agatha.” Tutur nyonya Daria hati-hati.
“Mama ini yang benar saja. Mana mungkin Papa meninggalkan pekerjaan di kantor. Mama sendiri kenapa malah sibuk sana-sini? Toh di panti kan ada pengurusnya, kita hanya donatur, Ma. Lebih baik Mama yang selalu stay buat Agatha, dan Papa juga akan sediakan waktu juga untuk kalian.” Jawab suaminya panjang lebar.
“Lah, kok Papa malah nyalahin Mama sih? Asal kamu tau ya Pa, Mama bekerja juga buat Agatha, buat masa depan dia juga.” Kini Nyonya Daria tersulut emosi.
“Apa usaha dan kerja keras Papa selama ini tidak cukup buat menuhin nafkah keluarga kita, sampai-sampai Mama juga ikutan menyibukkan diri? Papa tau niat Mama itu baik, tapi tak seharusnya Mama kurang memperhatikan Agatha.” Ucap suaminya, kemudian berlalu pergi ke ruang kerjanya.
Dalam kondisi yang sama-sama lelah, memang tidak sebaiknya membicarakan hal-hal yang serius jika ujung-ujungnya menimbulkan konflik semata. Seperti halnya pasangan suami istri ini. Kini nyonya Daria bergegas ke kamar dan membersihkan diri.
Selesai membersihkan diri, Nyonya Daria mondar-mandir di kamarnya. Sudah cukup lama dia menunggu suaminya ke kamar, namun tidak ada tanda-tanda apapun yang muncul di balik pintu. Dia berniat menyusulnya ke ruang kerja, namun langkahnya terhenti ketika gagang pintu tiba-tiba bergerak, dan masuklah suaminya. Dia menghampiri suaminya ingin membujuk supaya tidak marah.
“Pa, maafin Mama ya.” Ucapnya sambil mendekap tubuh suaminya dari belakang.
Dekapan itu belum mendapatkan respons apapun dari sang suami, sehingga membuat tangannya kini membuat pola yang tak beraturan di dada suaminya. Semakin lama semakin menjadi. Tanpa isyarat lagi sang suami kini mengangkat wajah istrinya.
“Kau menggodaku, Ma?” ucap sang suami berbisik, yang membuat tubuh sang istri menegang kaku. Padahal niatnya cuma membujuk agar tak marah lagi, namun sinyal-sinyal sang suami berkehendak lain.
“Ti-tidak, Pa.” Wajah Nyonya Daria memerah.
Dalam hitungan detik, sang suami membawa istrinya mendekati meja rias. Dia mencium istrinya dengan rakus tanpa memberi ampun hingga membuat Nyonya Daria seperti kehilangan napas.
“Apa boleh, Ma?” tanya sang suami meminta izin ketika ciuman itu berakhir.
“Mmm, gak bisa Pa. Mama lagi palang merah. Maaf ya, Pa.” Ucap Nyonya Daria menjelaskan.
“Sampai kapan?” tanyanya, ada raut kecewa di wajah sang suami.
“5 hari lagi, Pa. Tahan-tahan dulu. Hihi.” Ucap nyonya Daria cekikikan dan sedikit menahan malu.
“Apa tidak bisa dibatalkan palang merahnya?” tukasnya dengan wajah menahan hasrat.
__ADS_1
“Papa ini ada-ada saja. Emangnya naik odong-odong bisa dibatalkan?” Nyonya Daria mencubit perut sang suami dengan gemas.
“Jangan menggodaku lagi, Ma.” Ucapnya lirih. Wajah Tuan Thomas semakin memerah menahan hasratnya.
“Hahaha. Papa lucu ih.” Nyonya Daria menertawakan suaminya. “Sini deh Pa, biar arisannya Mama yang kocokin biar Papa gak capek.” Tambahnya lagi.
Mendengar itu, membuat mata lelaki itu berbinar meskipun masa bercocok tanam harus tertunda karena palang merah. Dan, kini kocokan arisan pun dikuasai oleh sang istri, hingga keluarlah siapa pemenangnya.
“Nama siapa yang keluar, Pa?” ledek istrinya.
“Awas aja nanti Ma, gak diberi ampun.” Ancam suaminya dan berlalu membersihkan diri di kamar mandi.
🕊️🕊️🕊️
Di dapur, Bi Momon tengah menyiapkan makan malam untuk keluarga William. Tuan Thomas dan Nyonya Daria kini menuju meja makan. Kedua pasangan suami istri itu terkejut melihat tingkah kocak asisten rumah tangganya. Tuan Thomas keheranan melihat Bi Momon menyiapkan piring sambil bergoyang ala-ala artis.
“Ma, itu Bi Momon kerasukan apa?” Tuan Thomas bertanya pada istrinya dengan mengkerutkan keningnya.
“Apa Mama lagi mengadakan konser antar perumahan?” tambahnya lagi.
“Kerasukan sinden ronggeng kali, Pa.” Jawab nyonya Daria dan langsung menggeser kursi.
Bi Momon kaget ketika Nyonya Daria tiba-tiba duduk sambil berdehem.
“Kabur kodok loncat.” Bi Momon berlari karena kaget.
“Astaga, Bi. Mana ada kodok di rumah ini. Yang ada sinden ronggeng.” Sindir Nyonya Daria.
“Hehe. Maaf, Nyonya.” Ucap bi Momon menundukkan kepala.
“Agatha mana, Bi? Apa sudah tidur?” tanya Nyonya Daria.
Kini Tuan Thomas yang ikut berbicara. “Tolong panggilkan ke atas, Bi! Ada yang mau kami bicarakan.” Pungkas Tuan Thomas.
“Baik, Tuan, Nyonya.” Bi Momon menjawab, dan berlalu ke arah tangga.
Di atas, Bi Momon mengetuk-ngetuk pintu kamar Agatha. Namun tak ada jawaban apapun dari sang pemilik kamar itu. Karena tidak ada jawaban, akhirnya Bi Momon memutuskan untuk membuka sendiri pintunya. Ternyata sang pemilik sudah tertidur dengan pulasnya. Akibat kecelakaan ringan itu, membuatnya merasa lelah dan mengantuk. Bi Momon tak tega membangunkannya. Namun jika tidak dibangunkan, takutnya Tuan Thomas bakalan marah padanya.
“Ini gimana ya? Mau dibangunkan takut non ngambek, tidak dibangunkan takut Tuan marah. Itung-itung kalau dibangunkan biar mereka bisa kembali kayak dulu lagi.” Gumam Bi Momon.
“Aduh. Delima euy. Eh, mulut ini gimana sih? Dilema, Momon Blakutak.” Tambahnya lagi dan memukul mulutnya sendiri.
Akhirnya Bi Momon membangunkan Agatha dengan menoel pipi dan kakinya. Agatha yang merasa terganggu, segera menepis tangan yang mengganggu tidurnya dengan mata yang masih terpejam dan mulut yang menganga bak singa meminta makan.
“Non...Non. Ayo bangun! Tuan dan Nyonya sudah menunggu di meja makan, Non.” Ucap Bi Momon karena Agatha tak kunjung bangun.
Agatha kesal hingga akhirnya bangun.
“Ada apa sih, Bi? Ganggu orang tidur aja.” Agatha berucap sambil menguap.
“Ini, Non. Tuan dan Nyonya katanya mau bicara. Tapi Bibi kurang tau juga apa yang mau dibicarakan.” Bi Momon menjelaskan.
“Tumben sekali? Jangan bilang kalau mereka mau marahin aku, Bi.” Ucap Agatha lirih.
“Jangan begitu, Non. Lebih baik Non temui mereka dulu, baru bisa menilai.” Jawab Bi Momon memberikan pengertian, supaya Agatha mengikuti perintahnya.
__ADS_1
“Hmm. Yaudah, Bi. Aku cuci muka dulu. Bibi turunlah terlebih dulu!” perintah Agatha.
“Jangan lama kayak bekicot ya, Non.” Bi Momon berlalu dari kamar Agatha.
Sepeninggalan Bi Momon, Agatha seperti sedang memikirkan sesuatu dan menatap wajahnya di cermin, keningnya masih menunjukan ada benjolan di sana.
“Tumben amat ya?” gumamnya.
“Ahhh. Daripada aku penasaran, lebih baik aku temui aja mereka.” Tambahnya.
Kemudian dia bergegas keluar menemui orang tuanya di meja makan.
“Ada apa Mommy dan Daddy memanggilku?” Agatha bertanya sambil menarik kursi, lalu tersenyum.
“Apa benar kamu kecelakaan, sayang?” tanya daddy nya.
“Hanya sedikit kok, Dadd.” Jawabnya menundukkan kepala.
“Nah, itu berarti benar, sayang. Apa masih terasa sakit keningnya?” tanya daddy nya lagi.
“Udah nggak kok. Daddy sama Mommy gak usah khawatir sama Agatha.” Jawab Agatha menatap kedua orang tuanya.
“Yaudah. Mulai sekarang, kamu jangan menyetir sendiri lagi ya. Ke manapun kamu pergi, harus Judas yang mengantar kamu. Jangan nakal dan ngelawan perintah Daddy. Okay?” tutur daddy nya.
“Baiklah, Dadd.” Agatha menjawab dan mengangguk.
“Momm, Dadd? Bolehkah Agatha meminta sesuatu pada kalian?” tanya Agatha sendu, seakan-akan ingin menangis.
“Apa itu, sayang?” jawab keduanya serentak.
“Jika boleh, Agatha mohon Daddy sama Mommy jangan terlalu sibuk bekerja. Agatha kesepian terus menyendiri tanpa kalian. Setiap pagi selalu sarapan sendirian, apa-apa juga sendirian. Agatha ingin kita yang dulu, Momm Dadd. Kita sudah tidak punya waktu buat mengobrol walaupun sebentar. Agatha tau Daddy sama Mommy bekerja juga buat kebutuhan keluarga, buat Agatha juga.” Ucap Agatha, kini matanya mengeluarkan benda bening yang sudah memenuhi area wajahnya.
“Ya nggak bisa gitu dong, sayang. Kamu kan tau jika perusahaan Daddy sekarang makin berkembang. Jadi, Daddy gak mungkin lalai, sayang.” Daddy nya memberi pengertian.
Lagi-lagi yang dipikir mereka adalah kerja dan kerja.
“Seharusnya Mommy kamu yang gak usah kerja, jadi dia bisa memiliki waktu bersamamu.” Tambah daddy nya lagi.
“Lah, Papa nyalahin Mama lagi?” cetus Nyonya Daria.
“Kan memang seperti itu, Ma. Apa yang selama ini Papa berikan tidak cukup? Mama minta mobil, Papa kasih. Ini dan itu juga sama. Jadi lebih baik Mama gak usah kerja lagi. Toh Mama hanya sebagai motivator kan?” ujar suaminya panjang lebar.
Mendengar adu mulut dari orang tuanya, kini Agatha menengahi.
“Stop Momm! Stop Dadd! Agatha hanya meminta, kenapa kalian jadi beradu mulut? Apa kalian keberatan hanya meluangkan sedikit waktu saja untuk Agatha? Jika kalian keberatan, tak masalah. Agatha minta maaf jika selama ini banyak nuntut dari kalian. Tak banyak yang Agatha minta pada kalian, Agatha hanya butuh waktu, butuh kasih sayang. Harta dan fasilitas tidak menjamin Agatha mendapatkan kasih sayang dari kalian. Harta hanyalah titipan Tuhan, kelak semuanya akan kembali pada Tuhan. Namun, apakah kalian tidak tau betapa pentingnya kasih sayang?” tutur Agatha panjang lebar.
Agatha mendorong kursi ke belakang dan bangkit berdiri meninggalkan kedua orang tuanya di meja makan. Perkataan Agatha membungkam mulut orang tuanya.
“Papa liat sendiri kan gimana kelakuannya sekarang? Beraninya dia mengajari orang yang lebih tua darinya. Bikin malu saja.” Ucap Nyonya Daria pada suaminya.
“Sudah jelas-jelas ini salah kita, Ma. Kenapa Mama menyalahkan Papa? Kamu malu punya anak dari Papa, Ma?” kini Tuan Thomas juga menaikan volume suaranya.
“Sudah-sudah. Mama cape, Pa. Papa selalu saja nyalahin Mama.” Nyonya Daria berdiri dan meninggalkan suaminya.
Di kamar, kini Agatha kembali menangis. Betapa sulitnya bagi dia mengembalikan keharmonisan keluarganya seperti dulu. Pada saat-saat seperti ini, dia rindu mencurahkan hatinya pada sang pacar, tapi niatnya diurungkan. Biarlah hanya dia yang menjalani semuanya tanpa membebankan orang lain, pikirnya.
__ADS_1
To be continued.
Special thanks to : Chandrarella Princess Virgo and Princess. Thanks for your participation.