Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Hilang.


__ADS_3

🕊️🕊️🕊️


Di saat dirinya membuka pintu kamar dengan perlahan, Welson melihat Agatha sudah tertidur pulas seraya memeluk guling seperti yang biasa ia lakukan di rumahnya sendiri. Welson berjalan mengendap mendekati ranjangnya yang terdapat Agatha di sana. Seraya mengendap, Welson menyunggingkan sebuah senyum, entah senyuman untuk apa, author pun tidak tau.


Melihat Agatha yang tertidur begitu pulas, tangan Welson pun terangkat untuk mengusap wajah dan kepala Agatha secara halus. Rasanya, Agatha begitu menggoda ketika sedang tertidur seperti saat ini. Bukan Welson namanya jika dia tak pandai mencuri kesempatan dalam peluang. Ya, Welson mencuri bibir lembut nan manis milik Agatha. Jika saja Agatha dalam keadaan bangun, sudah pasti aksi Welson mendapat serangan dari Agatha.


Puas mencuri kesempatan untuk mencium Agatha, Welson melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi. Dirinya berniat membersihkan diri karena badannya terasa lengket, kepalanya terasa penuh hasrat semenjak menghujani Agatha dengan ciuman.


Sementara Agatha yang tertidur di ranjang, mengerjapkan matanya kemudian memutar badannya menghadap pintu kamar mandi. Sayup-sayup Agatha mendengar gemericik air yang berasal dari kamar mandi, membuat matanya semakin enggan terbuka.


🕊️🕊️🕊️


Agatha terbangun di saat tangan dingin menyentuh pipinya. Ia membuka matanya, dan Welson sudah berada tepat di depannya, tanpa busana dan hanya handuk yang menempel di tubuhnya. Aroma khas Welson sehabis mandi, seolah menyita indra penciuman Agatha. Tatapan mata mereka saling mengunci satu sama lain. Dengan tubuh yang hanya terbalut handuk, membuat cetakan nyata tubuh Welson terpampang indah begitu saja di depan mata Agatha.


“Mau apa?” tanya Agatha ketika Welson menundukkan kepalanya untuk mencium Agatha.


“Mau kamu!” jawabnya dengan mengedipkan mata jelalatannya.


Agatha menyembunyikan dirinya di balik selimut ketika mendengar jawaban spontan dari Welson. Jawaban yang tersirat akan hasrat, yang membuat jiwanya terasa tersesat. Agatha merutuki dirinya, entah kenapa Welson selalu saja bisa membuatnya terpikat. Menyadari Agatha yang masih saja bersembunyi di balik selimut, Welson menarik selimut yang menutupi tubuh Agatha, sehingga nampaklah Agatha di balik selimut itu.


“Yahhh, malah tidur lagi,” dengus Welson. Padahal sebenarnya Agatha hanya berpura-pura supaya dirinya tidak mendapat gangguan dari Welson.


“Sayang, bangun!” Welson membangunkan Agatha dengan mengguncang-guncang tubuh Agatha layaknya seseorang yang sedang jatuh pingsan. Namun Welson tak berhasil melakukannya. Ia kesal, lalu memeluk Agatha begitu saja yang sontak membuat Agatha membuka matanya selebar uang koin.


“Haha… Kena juga kan?” Welson terkekeh.


“Sana pakai baju!”

__ADS_1


Bukannya menjawab dan menuruti perintah Agatha, Welson malah kembali memeluk Agatha. “Kamu sengaja menggodaku?”


“Siapa yang menggoda? Aku nyuruh pake baju, bukan menggoda,” jawab Agatha yang masih dalam dekapan Welson.


“Sayangggggg….”


“Apa?”


“Masih ingat janjimu waktu itu?”


“Janji yang mana?” tanya Agatha dengan mengerutkan keningnya, padahal ia sudah tau arah pertanyaan Welson.


Sial! Agatha hanya bisa kembali merutuki dirinya yang begitu bodoh dan begitu mudah mengobral janji pada singa yang sedang kelaparan. Kini, matilah dirinya sekarang. Hal sepenting itu bisa dengan mudahnya dia berkata akan melakukannya nanti. Hati dan pikirannya sekarang sedang beradu, kasihan pada dirinya sendiri dan mengutuk dirinya karena terlalu bodoh.


“Tenang, honey! Rumah sepi kok. Papa mama sedang pergi, ART sedang ke pasar.” Welson menatap Agatha dengan kelembutan yang meningkat sepuluh kali lipat untuk menaklukan hati gadis yang menjadi pacarnya.


Air mata yang berasal dari mata Agatha, perlahan keluar dengan sendirinya. Ternyata, Welson memang berniat untuk merenggutnya. Bukankah cinta saling menjaga? Pernyataan seperti itu tak lagi menjamin, semuanya kandas dan hanya meninggalkan bekas.


“Masih nggak percaya sama aku?”


Agatha memalingkan wajahnya dari tatapan Welson. Percuma saja berargumen dengan sesorang yang bernama Welson. Dengan napas yang berat, Welson langsung melayangkan sebuah sentuhan yang membuat Agatha terjengit. Welson langsung menghujaninya dengan ciuman. Sekujur tubuh Agatha sudah habis dijalari oleh ciuman panas Welson. Agatha ingin memberontak, tetapi nihil karena tenaga Welson lebih kuat dari dirinya.


Keduanya sudah bebas tanpa sehelai benang di tubuh mereka. Welson tersenyum penuh kemenangan sebelum kembali melancarkan aksinya, berbeda dengan Agatha yang hanya menampakkan wajah datarnya tanpa ekspresi apapun. Air matanya kembali membasahi pelupuk matanya. Dengan lembut, Welson mengusap air mata itu seraya mengucapkan kata-kata romantis supaya Agatha bisa lebih tenang. Lambat bin laun, kedua insan tersebut sudah berada dalam kenikmatan masing-masing. Olahraga mereka sore ini membuat suasana kamar terasa panas mengalahkan suhu air conditioner. Suara erangan khas cabang olahraga yang satu ini semakin membuat kedua insan ini terbawa dalam rasa dan suasana layaknya pengantin yang baru saja nikah.


“Arrghhh!!” teriak keduanya ketika sama-sama mencapai puncak dari olahraga ini.


“Thanks, sayang,” ucap Welson dengan napas terengah-engah, kemudian mencium kening Agatha.

__ADS_1


Agatha tak bisa menjawab karena lidahnya terasa kelu. Ia terhipnotis dengan kharisma yang dimiliki Welson sehingga membuatnya kehilangan sesuatu yang berharga yang sejatinya belum pantas ia dan Welson lakukan sekarang. Dirinya yang dulu sudah hilang. Hilang bersama erangan khas yang sudah terjadi pada mereka.


🕊️🕊️🕊️


Agatha melangkah gontai ketika sudah memasuki rumahnya. Bola matanya menelisik seisi rumah seolah mencari sesuatu. Sesuatu yang ia cari, ternyata tak menampakkan wujudnya. Ia tatap satu per satu sudut dan seisi rumah, tetap saja tidak ada. Yang ada hanya Bi Momon dan juga Mang Judas. Dengan langkah yang terkulai, Agatha menghampiri Bi Momon yang sedang berkutat di ruang makan keluarga.


“Eh, Non sudah pulang,” seru Bi Momon ketika Agatha duduk di meja makan.


“Daddy sama mommy mana, Bi? Belum pulang?”


“Ya seperti biasa, Non. Mereka belum pulang,” jawab Bi Momon dengan tatapan iba pada gadis yang berada di depannya. “Muka Non Agatha kenapa kucel sekali seperti itu?”


Agatha tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Bi Momon. Pikirannya kalut layaknya sedang dibalut oleh kabut yang tebal. Agatha lantas berdiri dan meninggalkan Bi Momon seorang diri yang tengah menatapnya iba. Agatha terus melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Ia membanting pintu kamarnya keras-keras dan melemparkan tasnya ke lantai. Ia merebahkan dirinya di ranjang dan membenamkan wajahnya dengan bantal. Dirinya hancur hanya dengan kata janji yang pernah diucapkan. Ingin sekali rasanya ia menangis keras-keras karena perbuatannya sendiri.


Menangis sekeras mungkin sampai air mata kering kerontang pun sudah tidak ada gunanya lagi. Sekali hancur, ya tetap hancur layaknya nasi sudah menjadi bubur. Agatha sendiri pun tidak mengerti perasaannya saat ini. Dirinya merasa tak berguna lagi dan merasa tersiksa. Ia bahkan merasa dirinya tidak lagi dicintai. Welson, orang yang ia anggap bisa mengerti dan memahaminya, bahkan sama sekali jauh dari kata itu. Rasanya ingin sekali ia mengutuk Welson jika saja dirinya seorang penyihir dari negeri Inggris. Tapi apa daya, dirinya terlalu mencintai Welson dan tak bisa hidup tanpanya.


Semenjak Agatha tidur dengan Welson, ia merasa tak semakin bersatu dengan Welson seperti apa yang diucapkan Welson sebelumnya. Agatha justru merasa dirinya kotor, cacat, berdosa, dan hina. Sesuatu yang berharga telah hilang dari dirinya. Sempat ia berpikir, bagaimana jika kedua orang tuanya tau tentang hal itu. Tetapi rasanya memang tidak mungkin, bisa saja dalam keadaan seperti ini mereka hanya bisa memarahinya.


Agatha kembali meneteskan bulir air matanya di balik bantal yang membekap wajahnya. Mengapa dirinya begitu bodoh. Ia menjambak-jambak rambutnya dan kemudian beralih ke kasurnya. Betapa kacaunya Agatha. Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya, apakah Welson bersungguh-sungguh dengan perkataannya?


“Kenapa? Kenapa aku dengan begitu mudahnya melepaskan sesuatu yang teramat berharga? Kenapa juga aku menukarnya dengan kata-kata yang sulit dipercaya? Ya, kata cinta. Apa itu cinta? Apa arti dari semuanya itu?” ratap Agatha dengan linangan air mata.


🕊️🕊️🕊️


Sementara Welson yang berada di rumahnya, tertawa bahagia penuh kemenangan setelah dirinya bisa menaklukkan Agatha dengan begitu mudah. Ketika ia kembali mengingat olahrga yang baru saja terjadi, ia tersenyum-senyum sendiri bak orang gila. Di mana nuraninya? Seenaknya saja tertawa dan tersenyum, sementara kekasihnya merasa terpukul atas perbuatannya.


“Hahaha.. Sudah kubilang, aku pasti bisa mendapatkanmu, Agatha sayang,” ucapnya tanpa berdosa sedikit pun.

__ADS_1


🕊️🕊️🕊️


To be continued…


__ADS_2