
...Jika kita disakiti dan dikecewakan, jalan terbaiknya adalah ikhlas. Karena, mengikhlaskan lebih baik dari pada menyakiti ataupun tersakiti....
...– Author –...
🕊️🕊️🕊️
“Cupit, nonton The Nun, yuk.” Alzio baru saja selesai mandi, naik ke atas lalu masuk ke kamar Agatha ingin mengajaknya nonton. Ia membawa laptopnya dan juga beberapa camilan yang dibelinya sewaktu pulang dari luar.
Alzio mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamar milik Agatha. Tak ada tanda-tanda kehidupan. “Loh, kok sepi, sih?” Sekali lagi ia menatap sekeliling dan tetap tak mendapati keberadaan Agatha. Ia mencari dari sudut kanan hingga ke sudut kiri, tak juga ia menemukan Agatha teronggok di pojokan ataupun merayap di dinding. Tidak mungkin juga ia merayap di langit-langit kamarnya. Ia menyibak gorden jendela, juga tak ditemukan Agatha bersembunyi di baliknya.
“Cupit, di mana kamu? Jangan ngerjain aku, deh. Nggak lucu, tau! Ini bukan main petak umpet!” Ia bermonolog sendiri sambil terus mencari keberadaan sepupunya. “Apa jangan-jangan ada di kamar mandi, ya?” Setelah diperiksa, ternyata nihil. Kamar mandi menunjukkan sedang tidak dipakai Agatha.
“Ke mana, sih?” Alzio menggaruk kepalanya yang mulai terasa gatal karena mulai panik. Sepintas ia mengendus dan mengintip meja rias Agatha, ternyata isi di meja rias tersebut sudah berkurang jumlahnya. Ada beberapa kuas untuk melukis wajahnya dengan bedak, terlihat berantakan. Alzio mulai merasakan ada sesuatu yang ganjil pada sepupunya itu.
“Kok penghuninya berkurang?” Alzio menyentuh dagunya seolah ada janggut di sana, padahal masih mulus, putih bersih. “Apa mungkin Agatha ikut camping, ya? Tapi rasanya dia udah kurang lebih dua tahun nggak ikut camping lagi, deh.” Karena ada yang janggal di meja rias, Alzio lalu mendekati lemari pakaian Agatha yang tingginya hampir dua meter lebih dan membuka pintunya. Isinya memang tidak ludes sesuai dengan pikirannya, mengingat pakaian Agatha yang memang terbilang banyak, tetapi isinya seperti sudah diaduk-aduk dan berantakan. Beberapa baju dan tank top terlihat berjuntai-juntai. “Aneh, seperti sedang kemalingan…” gumamnya.
Alzio lalu mengecek lemari sebelahnya tempat di mana pakaian branded favorit Agatha. Ternyata di lemari sebelah, baju-bajunya tidak ada di sana. Batinnya mengatakan bahwa sepupunya memang sedang bepergian, tapi entah ke mana rimbanya dan kenapa juga tidak pamit-pamit pada orang rumah. Alzio memutuskan untuk berkeliling menyusuri semua sudut rumah. Semua ruangan di lantai atas, sudah ia telusuri semua. Hasilnya nihil. Ia turun ke bawah, lalu menyusuri mulai dari kamar orang tua Agatha, melongok sampai ke bawah meja makan, mencari Agatha di kolam renang juga gazebo, mencari di gudang, juga bagasi. Masih tetap nihil. Alzio kemudian menemui Bi Momon yang berada di ruang laundry. Bi Momon sedang menyetrika.
“Bi, liat Agatha, nggak?” Alzio bertanya pada Bi Momon dengan suara yang panik.
“Non Agatha? Lah, bukannya dari tadi di kamar, Den? Bibi nggak liat Non Agatha sama sekali, Den,” jawab Bi Momon sambil menyetrika sebuah dress bermerek dengan warna peach. Alzio bisa mengira, itu adalah dress milik sepupunya.
“Ooo, gitu ya, Bi? Ya udah, deh. Mungkin aja dia lagi ke supermarket langganannya, ujar Alzio asal meski ia tak bisa membayangkan sepupunya ke supermarket sambil membawa-bawa tas pakaian juga tas kosmetiknya.
“Ah, nggak mungkin, Den. Non Agatha kalo butuh sesuatu, pasti nyuruh Bibi.”
“Iya, ya…bener juga, Bi. Berarti, ke mana gerangannya, ya? Jalan-jalan? Atau nginep di rumah temennya?”
Karena rasa penasarannya belum terjawab, Alzio pergi menemui Mang Judas yang biasanya berada di beranda depan rumah. Harapannya kali ini hanya Mang Judas. Tak mungkin rasanya ia bertanya pada om dan juga tantenya, karena semenjak mereka bercerai, sudah sangat jarang berada di rumah. Mereka seolah tak peduli lagi dengan Agatha. Semuanya sibuk sendiri, dan Ny. Daria akhir-akhir ini sedang bersiap-siap untuk pindah ke rumah kekasih barunya atau lebih tepatnya adalah selingkuhannya.
__ADS_1
“Mang, tadi ada liat Agatha?” tanya Alzio.
“Iya, Den, ada. Memangnya kenapa dengan Non Agatha, Den?” Mang Judas balik bertanya, ia tak mengerti.
“Dia nggak ada di kamarnya, Mang. Zio udah cari ke mana-mana, nggak ketemu. Sampe nyari di bawah meja makan, tetap nihil.”
Mang Judas menutup mulutnya menahan tawa. Bisa-bisanya sepupu majikan kecilnya itu menduga Agatha sembunyi di kolong meja, seperti kucing yang sedang mencuri ikan saja, pikirnya.
“Ohh, tadi katanya ke rumah tetangga, Den.”
“Ooo, Agatha deket sama tetangga, ya? Memangnya ke rumah siapa, Mang?” tanya Alzio memancing Mang Judas. Sulit dipercaya jika Agatha dekat dengan tetangganya, ya walaupun sebenarnya Agatha bukan tipikal orang yang sombong. Tapi jujur, sanksi rasanya.
Mang Judas nampak berpikir sesaat sebelum menjawab pertanyaan Alzio. “Wah, kalo itu Mang Judas nggak tau, Den. Non Agatha nggak bilang, cuma bilang ke rumah tetangga saja. Tapi Non Agatha pergi sambil bawa tas ransel, Den.”
“Tas ransel? Kok kayak orang yang mau minggat aja, sih? Apa mungkin dia ikutan kursus untuk masuk universitas?” Alzio terus bertanya-tanya dalam hatinya. Melihat semua fakta yang ada, mungkin saja hal itu yang akan terjadi, Agatha minggat. Tetapi ia tidak ingin berpikir yang bukan-bukan.
“Kalo gitu, Zio kembali ke dalam, Mang. Makasih banyak, Mang.” Alzio kembali masuk ke dalam. Sambil berjalan, ia terus berpikir ke mana gerangan sepupunya itu.
Alzio memperhatikan buku-buku yang berserakan di atas meja belajar. Ada sebuah novel dan beberapa komik juga buku panduan ujian seleksi masuk perguruan tinggi. “Kapan terakhir kali Agatha menyentuh meja belajar ini, ya?” gumamnya. Alzio kali ini tak tertarik dengan komik dan novel milik Agatha. Ia hanya melirik sekilas lalu beralih pada lemari kecil di bawah meja belajar. Ketika tangannya ingin membuka lemari kecil itu, ternyata terkunci. Ia meraba-raba laci di meja belajar, terdapat beberapa buah memo juga kamus bahasa Prancis. Ia masih tak yakin sepupunya itu mempelajari kamus itu dengan sungguh-sungguh. Ia menarik dua buah memo dari tempatnya yang terlihat imut, khas anak cewek.
“Isinya apa, ya?” Alzio sempat berpikir, apa mungkin memo yang ia ambil semacam buku harian. Jika benar, rasanya akan sangat bersalah sekali jika sampai membuka apalagi jika sampai membacanya. Namun, rasa penasarannya mengalahkan kenyataan. Ia membuka memo pertama yang berwarna biru muda. “Arrghh, ternyata dugaanku benar. Ini memang benar buku harian..” ujar Alzio pada dirinya sendiri. Memo pertama yang ia buka adalah mengenai masa lalunya.
Alzio beralih pada memo kedua setelah memo pertama berhasil ia buka hingga halaman terakhir. Memo kedua bergambar dua hati yang saling bertautan. Gambar itu ia lukis dengan tangannya sendiri. Dan ternyata, setelah Alzio membuka memo itu, hanya separuh yang sudah terisi. Tanggal terakhir adalah tanggal hari ini. Dengan hati yang berdebar, Alzio membaca apa yang ditulis oleh sepupunya itu.
...“Ini luar biasa. Memang benar-benar LUAR BIASA GILA!! Kenapa orang tuaku melakukan ini semua padaku? Bukankah aku ini darah daging mereka? Lalu, aku salah apa? Teganya!! Rasanya tidak bisa diterima oleh akal sehat… Bilang saja kalo mereka tidak pernah mencintaiku, tidak pernah menyayangiku… Bilang saja kalo selama ini aku hanya menjadi beban yang berat buat mereka… Ah, tapi untuk apa aku mengeluh, takkan ada yang peduli lagi padaku selain sepupuku yang rese, Bi Momon, Mang Judas, juga sahabat-sahabatku. Okay, malam ini aku akan minggat dari rumah ini! Aku tidak mau mereka mengatur hidupku. Aku juga tidak mau mereka memaksaku untuk menuruti kemauan mereka. Apalagi jika aku benar-benar kuliah di Beijing, aku beneran tak sudi. So, jalan keluarnya adalah AKU HARUS MINGGAT malam ini. Tapi, sepupuku yang biasa menjadi Pastor dadakan itu, jangan sampai tau. Pokoknya dia jangan sampai tau. Tapi, aku harus ke mana?☹️”...
“Agatha…Agatha,” Alzio hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Jadi dia benar-benar minggat, padahal dia sama sekali tak tau ke mana arah yang akan ditujunya.
“Dasar sepupu tolol!” Alzio lalu berpikir hal apa yang harus ia perbuat. Yang jelas, om juga tantenya harus lebih dahulu tau tentang hal ini. Semoga dengan begitu, om dan tantenya bisa mengubah pendirian mereka perihal menguliahkan Agatha di Beijing. Alzio membuka ponselnya, lalu menghubungi tantenya.
__ADS_1
“Hallo, Aunty. Agatha minggat dari rumah…” ucap Alzio setelah panggilan tersambung.
“Agatha minggat?” nada suara Ny. Daria di seberang sana tampak biasa-biasa saja setelah Alzio mengabarinya lewat telepon. “Yang benar saja, Zio? Dari mana kamu tau dia minggat? Ini kan belum dua kali dua puluh empat jam, Zio. Mungkin dia sedang keluyuran.”
“Dia…” Belum sempat Alzio berbicara, tantenya sudah bicara lagi.
“Sudahlah, Zio. Kamu jangan pusing mikirin hal yang tidak perlu seperti itu. Tujuanmu ke sini untuk liburan, jangan rusak liburanmu. Sekarang, cepatlah istirahat. Aunty nggak pulang, ya.”
TUT!! TUT!! TUT!! Panggilan diputuskan oleh Ny. Daria. Alzio hanya terbengong-bengong dengan sikap tantenya itu.
“Ha…hallo, Aunty,” Alzio mencoba, namun sama sekali panggilan sudah berakhir. Ia tidak tau harus berbuat apa. Ia sungguh tidak paham mengapa tantenya itu bisa tidak peduli dengan masalah yang menyangkut pada putri satu-satunya itu. Belum menyerah juga, Alzio lalu menghubungi nomor omnya.
“Hallo, Uncle, ada kabar buruk. Agatha kabur dari rumah, Uncle,” ujar Alzio memberi kabar begitu panggilannya diangkat.
“Agatha? Anak itu kabur dari rumah? Kamu yakin, Zio?”
“Iya, Uncle. Pakaiannya sebagian nggak ada, Uncle.”
Tn. Thomas menghela napas panjang di seberang sana. “Sepupumu itu hanya merajuk saja. Biasa anak manja. Dan kamu tau sendiri gimana dia. Nanti dia pasti balik lagi ke rumah, kamu jangan terlalu khawatir, Zio. Hanya itu saja yang mau kamu sampaikan, Zio?”
“Emm, Uncle, gimana nih? Jadi…”
“Sudah, biarkan saja dulu. Uncle masih ada rapat, Zio. Sudah selesai?”
“Ooo…iya. Maaf, Uncle. Selamat malam…” Pembicaraan pun berakhir. Alzio benar-benar bingung mengapa bisa begini jadinya. Malang sekali si sepupunya itu. Alzio memperhatikan jam di dinding, sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ke mana Agatha jam segini belum kembali, pikirnya. Harusnya lima menit ke depan sudah kembali, Alzio berharap. Harap-harap cemas.
“Pokoknya jika sampai jam sebelas belum juga kembali, berarti Agatha benaran minggat. Aku harus meminta bantuan Dirgo untuk mencarinya besok.” Alzio bergumam sendiri sambil mondar-mandir di kamar sepupunya.
🕊️🕊️🕊️
__ADS_1
To be continued…