
Bulan April merupakan bulan yang begitu mendebarkan bagi para murid kelas XII. Bulan ini juga berhasil membuat Agatha dan sahabat-sahabatnya merasa panik dengan ujian yang akan dihadapi. Waktu menimba ilmu di bangku SMA yang ditempuh selama tiga tahun, hanya ditentukan dan dipertaruhkan hanya beberapa hari saja, berturut-turut. Rasanya memang tidak adil, tapi memang begitu adanya. Di manapun bersekolah, tetap saja waktu selama tiga tahun hanya dibayar dengan 4 hari atau lebih. Bulan April juga merupakan bulan tragedi-tragedi dunia yang cukup populer, di antaranya adalah bulan terbunuhnya Abraham Lincoln, Kapal Titanic menabrak gunung es sehingga membuatnya karam, serta bulan kelahiran dan kematian Adolf Hitler dan William Shakespeare.
Tiga hari sebelum menjelang ujian, para murid sibuk membicarakan tentang proses dan pelaksanaan ujiannya kelak. Ada yang berharap mendapatkan angin surga seperti kode dan jawaban ujian, dan lain sebagainya. Tampak di kantin sekolah, tengah berkumpul Agatha dan sahabat-sahabatnya, sudah pasti mereka sedang membahas tentang ujian tersebut. Kadang serius, kadang bercanda. Itulah yang dilakukan mereka saat di kantin.
Memey dan Dirgo yang terbilang otaknya cukup encer walaupun ada jiwa kesomplakan dan ketulalitan dari Memey. Mereka berdua sudah diwanti-wanti para sahabatnya untuk berbagi jawaban. Cukup macam kode-kode yang mereka sepakati untuk berbagi jawaban ujian nanti.
“Eh, Dir, Mey!” Yadi memanggil kedua nama itu di sela-sela mengaduk semangkok bakso.
“Apa?” keduanya menjawab serentak.
“Ntar bagi jawaban ya, pas ujian. Hehe.”
“Ogah gue!” jawab Memey tanpa mempedulikan wajah Yadi yang sengaja dipasang begitu memelas meminta kasihani.
“Sama sahabat sendiri gak boleh pelit-pelit!” Yadi dan Memey memang tidak pernah cocok. Apalagi Memey tau jika Yadi menyimpan rasa untuknya, tetapi Memey tidak pernah peduli dengan itu.
“Gimana caranya?” timpal Dirgo. Mendengar jawaban Dirgo, membuat yang lainnya juga ikut bertanya-tanya.
“Gampang kok. Kalo misalkan jawabannya A nyentuh mata kanan, jawaban B nyentuh mata kiri, jawaban C nyentuh hidung, jawaban D nyentuh telinga kanan, dan jawaban E nyentuh telinga kiri.”
“Buahahahaha…” Mereka semua tertawa dengan ide gila dan konyol dari Yadi.
Tak sedikit dari mereka berharap supaya ujian kelulusan segera dimusnahkan saja, tetapi itu hal yang mustahil mengingat ujian kelulusan merupakan syarat wajib untuk menentukan berhasil atau tidaknya para murid meninggalkan jenjang SMA.
🕊️🕊️🕊️
Hari pertama melaksanakan ujian kelulusan, murid kelas X dan XI sudah diliburkan supaya ujian kelulusan kakak kelasnya berjalan kondusif, hanya ada murid kelas XII yang bersekolah. Kali ini, ujian kelulusan membuat mereka tidak bertemu dengan wali kelasnya yang tampan, Pak Matias. Pak Matias harus mengawas di sekolah lain dan bertukar posisi dengan guru di sekolah tempatnya mengawas.
__ADS_1
Murid-murid pintar sejagad sekolah mendadak menjadi incaran, sudah seperti buronan saja. Bagaimana tidak, mereka mendekati yang lebih pintar dengan tujuan supaya diberi jawaban. Solidaritas juga mendadak tinggi, apalagi XII IPA (kelas Agatha) dengan XII IPA 1 juga menjadi akrab.
“Pokoknya, apapun yang terjadi, kita harus solid!” teriak ketua kelas XII IPA di depan teman sekelasnya. “Kita masuk sama-sama, dan lulus juga harus sama-sama.”
“XII IPA!” timpal Memey yang juga berteriak semangat.
“Yeayy.. Yeayy.. Yeayy!” teriak semua kelas XII IPA. Teman sekelasnya seolah mengerti yang dimaksudkan Memey.
Otak dan pikiran manusia memang biasanya bisa berfungsi lebih kreatif ketika sedang berada dalam zona merah, ada yang sudah menyiapkan contekan dengan berbagai versi. Namun, itu semua hanya angan saja karena ujian kelulusan kali ini dijaga dengan ketat.
Ujian kelulusan berlangsung selama beberapa hari kemudian, hingga akhirnya selesai sudah. Ekspersi dan senyum lega seketika terpampang di raut wajah seluruh murid kelas XII, tak terkecuali Agatha dan konco-konconya. Tepat pada hari terakhir, di saat pengawas ujian memberi tahu waktu mengerjakan soal sudah habis, disusul dengan dentingan bel pulang berbunyi, kontan para murid kelas XII IPA berterik, “akhirnyaaaaaaa!” secara serempak tanpa memperhatikan pengawas yang masih berada di kelas. Sang pengawas hanya bisa menggelengkan kepala menyaksikannya.
Selesai ujian kelulusan, bukan berarti masa perperangan mereka telah usai begitu saja, mereka masih menunggu hasil ujian kelulusannya. Masih ada SNMPTN yang harus dipersiapkan untuk bisa berperang di jenjang perkuliahan. Hari terakhir ujian pun disambut dengan penuh ucapan syukur oleh seluruh penduduk kelas XII IPA, dan tak lama lagi mereka akan melepaskan statusnya sebagai seorang pelajar.
“Yesss! Horeee! Sekarang kita bebas. Sekarang sudah bebas…” Welson bersorak ria dengan senang sambil menyanyikan sepenggal lagu rohani. Tak heran apabila Welson dan sahabat-sahabatnya senang bukan kepalang.
“Tentu saja, dong, sayang. Kita akan pergi ke tempat yang menyenangkan,” jawab Welson seraya tersenyum lebar. Mendengar ucapan Welson, tak urung membuat Agatha semakin mengencangkan gelayutannya pada lengan Welson, sudah seperti orang utan saja.
Dirgo dan yang lainnya hanya bisa menyumbangkan seulas senyum menyaksikan sepasang insan yang tengah kegirangan. Dari sudut mata Dirgo, ia melihat Nadine tersenyum sambil mengepalkan tangannya.
“Mau dirayain di mana nih, Guys?” celetuk Memey.
“Nanti malam, khusus gue sama pacar gue,” jawab Welson. “Untuk yang selanjutnya, gue rencana mau ngajak kalian semua muncak, gimana?” ujarnya lagi.
Semua menjawab dengan anggukan kepala tanda setuju atas apa yang diusulkan Welson. Dirgo sebenarnya sempat bimbang antara ikut serta atau tidak. Mengingat ini merupakan momen yang mungkin saja momen mengesankan bersama yang lainnya. Ada rasa khawatir apabila dirinya tak menyempatkan diri untuk bergabung. Khawatir jika saja Welson menyakiti Agatha, akhirnya ia memutuskan untuk bergabung.
🕊️🕊️🕊️
__ADS_1
Gemerlap lampu clubbing membuat mata Agatha terasa buram. Ternyata tempat yang menyenangkan menurut Welson adalah sebuah club. Agatha memandang sekeliling dengan penuh tanya. Dirinya khawatir dengan ucapan yang pernah Welson katakan dulu. Teringat akan hal itu, membuat Agatha berpikir yang macam-macam terhadap pacarnya. Sebelum pergi, Agatha sempat membalas chat dari Dirgo yang menanyakan ke mana Welson akan membawanya. Namun Agatha hanya menjawab dengan kata ‘gue gak tau’ karena memang sebelumnya Welson masih tidak memberitahunya.
“Ini maksudmu tempat yang menyenangkan?” tanya Agatha dengan ekspresi mengernyitkan alis dan wajah kecut. Bahkan wajahnya sengaja ia buat sekecut dan seasam mungkin. Matanya terus memandang sekeliling dengan tatapan aneh.
“Loh, kenapa sayang?” tanya Welson tak mengerti.
Bagaiman Agatha tidak dongkol dan menatap heran pada club malam yang ada di depannya, tadinya Agatha berharap bahwa dirinya akan dibawa Welson ke taman yang berdanau, makan sepuasnya di restoran Cina, pergi ke bioskop, atau ke tempat lainnya yang lebih menyenangkan dari club. Tapi faktanya? Welson malah mengajaknya ke clubbing yang isi di dalamnya penuh dengan hiruk pikuk musik dan orang mabuk seperti zombie. Agatha membatin, “apa sih yang dipikirkan otak anak ini? Dasar idiot! Mungkin saja otaknya sudah error level 100.”
Welson perlahan meletakkan tangannya di pundak Agatha. “Apa sayang lupa dengan janji kita dulu?” bisik Welson dengan nada lirih. Agatha melirik lewat ekor matanya.
“Maksudmu apa? Pikiranmu selalu saja mesum!”
“Tapi kita dulu sudah berjanji, ketika lulus kita akan melakukannya,” ujar Welson menatap Agatha.
“Aku belum sempat memikirkan itu. Jangan macam-macam!” wajah Agatha tampak serius.
“Bukankah janji adalah hutang, hmm?”
“Itu prinsipmu!” Plakkk!! Satu tamparan keras berhasil membuat Welson terjengit. Agatha berlalu pergi meninggalkan Welson yang masih terpaku di depan club.
🕊️🕊️🕊️
Dirgo yang kembali penasaran dan muncul rasa khawatir, segera mungkin ia putar otak untuk menguntit lagi. Dia bergegas mengenakan pakaian serba hitam, kemudian berjalan ke garasi menuju mobil yang biasa ia pakai untuk memperhatikan Agatha dari jauh. Tak memakai motor karena Agatha sudah mengenalinya di saat mereka makan malam di restoran Cina. Ia sudah tau tempat di mana Welson mengajak Agatha pergi, karena di balik kata ‘menyenangkan’ seorang Welson, sudah pasti tempatnya beraroma dunia malam. Tepat di saat ia berhenti di depan club, ia menyaksikan Agatha sedang menampar Welson. Kemudian Dirgo mengamati Agatha yang mungkin sedang menunggu sebuah taksi untuk mengantarnya pulang.
Hingga sebuah taksi datang, Agatha masuk ke dalam. Dirgo segera melajukan mobilnya mengikuti taksi Agatha dari belakang. Untung saja Agatha memilih untuk langsung kembali ke rumah, sehingga membuat Dirgo merasa lega.
To be continued…
__ADS_1