
Agatha memandangi cowok itu beberapa saat dengan tatapan kangen. Cowok itu mengernyit di dalam mobilnya, ia lalu keluar. Tetesan air hujan yang semakin banyak dan deras, membasahi wajah keduanya. Pakaian cowok itu yang semula kering, kini telah basah kuyup karena guyuran hujan.
“Aa…Agatha…?!” terka cowok itu. Agatha langsung menangis, entah mengapa ia bahagia sekali rasanya.
“Zi…Zio…” Agatha hampir tidak bisa berkata apa-apa setelah melihat sepupunya.
“Puji Tuhan! Syukur deh, ketemu kamu di sini, Cupit…,” ucap Alzio dengan riang gembira. “Sekarang kamu mau ke mana? Aku kangen sama kamu, tau! Dasar suka bener bikin orang susah…” Alzio mengomel dan langsung memeluk sepupunya itu.
“Meong…!” Pitha mengeong sekali. Tampaknya ia juga ingin dikenal oleh Alzio.
“Haii, lucuu! Terima kasih kau telah menjaga sepupuku!!” Alzio mengelus-elus si Pitha. “Mari pulang bersama kami. Kau beruntung bertemu dengan si Cupit nakal ini, karena dia memang penyayang binatang.” Alzio seolah mengadu kepada Pitha bahwa sepupunya nakal.
🕊️🕊️🕊️
Alzio membawa Agatha ke restoran karena ia melihat Agatha sudah seperti orang yang sudah tak makan seminggu. Awalnya ia ingin langsung membawa Agatha pulang ke rumah, tetapi ia tidak mau jika sepupunya itu mati kelaparan di jalan.
“Kamu mau makan apa?” tanya Alzio sembari fokus menyetir, namun Agatha hanya menggeleng.
“Segeralah untuk mengisi perutmu! Kamu sudah seperti orang yang kehabisan tenaga dan aku akan membawamu ke restoran favoritmu jika kamu mau.”
“Suka sekali memaksa! Baiklah jika kamu memaksaku untuk makan, kita ke restoran China yang terkenal di kota ini.”
“Aku bukan memaksamu, tapi aku hanya nggak mau sepupuku yang nakal ini mati kelaparan,” jawab Alzio santai.
“Huhhh! Itu sama aja namanya memaksa secara nggak langsung,” dengus Agatha kesal. Baru saja ketemu, Agatha sudah dibikin kesal sama sepupunya itu. “Tapi aku memang laper, sih, hehehe…”
“Tuh, ngaku juga akhirnya. Okay, kita meluncur…!” Dengan kecepatan sedang, Alzio memacu mobilnya menelusuri jalanan kota yang ramai. Meskipun cuaca sedang hujan, namun nampaknya para pengemudi tak ada lelahnya. Alzio merasa bersyukur akhirnya sepupunya ditemukan juga secara tidak sengaja, karena memang dirinya baru saja membeli peralatan pribadinya di mall.
Untuk mengiringi perjalanan menuju restoran China, Alzio memutar lagu. Lagu yang ia putar adalah When You Believe yang dipopulerkan oleh Mariah Carey dan Whitney Houston. Namun yang ia putar sekarang merupakan hasil coveran oleh One Voice Children's Choir. Lagu ini memiliki makna pengharapan yang menggambarkan bahwa akan ada “keajaiban” yang akan terjadi di balik apa yang kita imani atau percaya. Menggambarkan kondisi di mana banyak malam yang kita gunakan untuk berdoa menyampaikan segala harapan tanpa ada bukti siapapun bisa mendengar atau mengetahuinya.
Ia memilih lagu itu karena menurutnya sesuai dengan keadaan di mana bisa menemukan Agatha dengan kebetulan. Sudah banyak malam yang ia gunakan untuk berdoa memohon keajaiban agar sepupunya segera kembali, dan doa tersebut terjawab sudah.
“Many nights we prayed, with no proof, anyone could hear. In our hearts a hopeful song, we barely understood. Now we are not afraid, although we know there's much to fear, we were moving mountains, long before we knew we could…” (Siang malam kita berdoa, tanpa seorang pun mendengarnya. Hati kita menyenandungkan harapan, senandung yang tak kita mengerti. Kini kita tak lagi takut, meski tahu banyak yang menakutkan. Kita mampu menggerakkan gunung, jauh sebelum kita tahu kita mampu).
Keduanya tampak menikmati lagu. Agatha sempat meneteskan air matanya karena terhanyut suasana lirik demi lirik.
“There can be miracles, when you believe. Though hope is frail, It's hard to kill. Who knows what miracles, you can achieve. When you believe, somehow you will. You will when you believe…” (Keajaiban mungkin terjadi, saat kau mempercayai. Meski asa begitu rapuh, ia tak mudah dibunuh. Tak ada yang tahu keajaiban yang mungkin terjadi. Saat kau percaya, entah bagaimana. Saat kau akan percaya…)
Seperkian menit kemudian, mereka berdua sampai juga di restoran China. “Kita udah sampai. Ayo…”
Cukup lama Agatha menatap wujud restoran yang sudah lama tak ia kunjungi selama minggat dari rumah. Beruntung saja sepupunya yang nyebelin itu bisa mengerti keinginannya.
“Buruah, ahhh. Jangan termenung gitu, nanti kesambet!”
Dengan dandanan yang masih menunjukkan bahwa dirinya adalah anak punk dadakan selama beberapa hari, ia melangkah bersama Alzio memasuki area restoran. Banyak mata memandangnya dengan tatapan aneh. Cantik rupa, namun penampilannya seperti berantakan, tak terurus. Ditambah lagi dengan warna rambutnya yang abu-abu, semakin memberikan kesan tak sedap dipandang mata. Ada sedikit keraguan di hatinya. Ia malu dengan dirinya yang sekarang.
Alzio membawa sepupunya memilih tempat yang sedikit kosong oleh pengunjung. “Duduklah! Jangan hiraukan pandangan orang padamu!” tegur Alzio seolah bisa merasakan perasaan sepupunya yang baru saja ditemukan. Agatha segera duduk dengan wajah tertunduk.
“Kamu mau makan apa?” tanya Alzio setelah pelayan menyerahkan buku menu. “Makanlah apa yang ingin kamu makan. Aku akan membayarnya!”
Setelah menyebutkan menu yang ia pilih, pelayan mengulangi pesanan lalu meninggalkan mereka berdua. “Kamu pasti nggak tau jika Memey baru saja berduka….” Alzio menatap sepupunya yang masih tertunduk. “Kakaknya Memey sudah tiada kemarin.”
Agatha tak menunjukkan respon apa pun selain matanya yang mengeluarkan cairan bening. Tadinya Alzio berharap sepupunya akan terkejut dengan semua yang terjadi, tetapi Agatha malah diam dan menangis.
__ADS_1
“Kenapa menangis? Apa ada yang salah dengan ucapanku?”
Agatha menggeleng pelan lalu menjawab, “Aku udah tau. Dan, aku orang yang pertama kali melihat Kak Carlos tiada…”
“Maksudmu?” tanya Alzio penasaran.
“Kami satu kelompok. Dan Kak Carlos sangat baik padaku. Ia melindungiku layaknya seorang Kakak,” jawab Agatha. “Lalu suatu ketika, dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena terpukul dengan kepergian salah satu anggota kelompok kami, ia meninggal karena overdosis.”
“Jangan-jangan kamu…,” ucap Alzio terpotong karena Agatha sudah mencegahnya.
“Udah kubilang kalo Kak Carlos menjagaku dengan baik. Kamu jangan berpikir yang aneh-aneh, kita bisa periksa kalo kamu nggak percaya.”
“Baiklah. Aku hanya mengujimu, lagi pula mana mungkin aku nggak percaya pada sepupuku yang jelek ini,” usil Alzio. Agatha ingin membalas ejekan sepupunya yang selalu saja membuatnya kesal, tetapi terhenti di saat pelayan meletakkan pesanan mereka di atas meja.
🕊️🕊️🕊️
Selesai menikmati makan, Alzio membawa sepupunya untuk segera pulang ke rumah. Alzio ngeri melihat penampilan dan keadaan sepupunya, lebih kurus dan kucel dari biasanya. Di rumah, Bi Momon sudah menunggu kedatangan majikan kecilnya itu dengan haru dan suka cita.
“Non… Ini beneran Non Agatha, Den Zio?” tanya Bi Momon meminta penjelasan Alzio. Alzio mengangguk dan memberikan senyumnya yang manis.
“Iya, ini Agatha, Bi.” Agatha berhambur memeluk Bi Momon yang sedang berkaca-kaca. “Maafkan aku, Bi, udah bikin kalian panik dan mencariku sepanjang hari.”
“Yang penting sekarang, Non sudah kembali ke rumah. Kasian kamarnya dianggurin tiap malam. Ya sudah, sekarang segera membersihkan diri, biar nggak kumal dan kucel seperti ini.”
“Cupit, ayo ke atas,” timpal Alzio.
Setelah Agatha mandi dengan bersih, mereka lalu duduk di sofa panjang di kamarnya beberapa menit. Tak saling bicara, tak saling melihat. Agatha masih memandangi seluruh isi kamarnya yang selalu bersih dan rapi, yang menandakan bahwa Bi Momon memang setiap hari membersihkannya dan berharap dirinya kembali.
Alzio bingung harus melakukan apa. Terlalu banyak hal yang ingin ditanyakan Alzio pada sepupunya saat ini. Mereka hening beberapa saat. Keheningan itu membawa Agatha kembali dalam kesedihannya. Alzio melihat air mata Agatha dan rasanya itu cukup mewakili segalanya. Alzio bisa menebak bahwa segalanya sedang tidak baik-baik saja.
“Seperti yang kamu lihat,” jawab Agatha. “Zio, sekarang aku harus gimana? Aku pengen mati saja…”
“Kamu selalu aja bilang begitu! Apa nggak ada kata-kata lain yang bisa kamu ucapkan selain mati? Selamanya, itu nggak pernah bisa menyelesaikan persoalan. Dewasalah sedikit!”
“Mudah bagimu bilang begitu, karena kamu bukan aku. Kamu nggak pernah ngerasain apa yang aku rasakan…” Air mata Agatha terus mengalir dengan deras bak air hujan. “Aku sebenarnya udah merasakan hidup senang dan punya keluarga baru…, tapi aku harus terima keadaan. Aku harus kehilangan mereka begitu cepat. Teman-teman baruku semuanya pergi…”
“Sahabat-sahabatmu, semuanya mengkhawatirkanmu,” jelas Alzio. “Ya sudah, aku minta maaf. Sekarang kamu mau gimana? Apa yang terjadi?” lanjut Alzio dengan lembut.
Setelah Alzio bermanis-manis dan berhasil mengambil hati Agatha, Agatha pun bersedia menceritakan segalanya yang terjadi selama ia berkeliaran di jalanan. Semua kisah hidupnya ia ceritakan, yang paling tragis sekalipun. Mulai dari ia masuk ke komunitas punk, punya nama baru – Loury, balapan maut yang menewaskan Bernard, Cath dan Carlos yang meninggal karena OD, sampai ditahannya Andrew. Termasuk hamilnya Nadine gara-gara mantan kekasihnya tidak lagi disembunyikan Agatha. Ia kecewa, sangat kecewa dan betul-betul kecewa.
Alzio memejamkan matanya sesaat. Rasanya tak percaya jika sepupunya menjalani kehidupan yang seperti ini. Pasti sangat sakit mengalami banyak kekecewaan seperti itu. Alzio tak tahu harus berkata apa.
“Aku nggak tau apa gunanya aku hidup…,” ujar Agatha sambil menatap ke langit-langit kamarnya. “Nggak seorang pun menyayangiku….”
“Kamu salah! Aku, sepupumu dan yang lainnya sangat menyayangimu. Jika aku nggak menyayangimu, aku nggak akan membawamu kembali ke rumah,” jawab Alzio. “Yang pasti, Tuhan itu ada dan sayang juga padamu. Dia pasti mau memelukmu jika kamu datang pada-Nya.”
“Benarkah?” Agatha menangis. Kenapa ia selalu merasa bahwa Tuhan jauh darinya. “Sekarang, Dia ada di mana?”
“Di sini,” Alzio mengarahkan tangannya ke dada. “Dia mau masuk ke hatimu kalo kamu mengundang-Nya.”
“Menjadi manusia baru?” Agatha menerka-nerka apa yang dimaksudkan sepupunya.
“Iya. Dulu kan aku hampir pernah bicara soal itu, kan? Apa sekarang kamu mau denger?”
__ADS_1
Agatha mengangguk pelan. “Ceritakan aja, kalo memang itu bisa membawaku ke surga.”
Alzio tersenyum. Ia lalu mengambil Alkitab di meja belajar Agatha yang nampaknya Alkitab itu sudah lama tak Agatha sentuh. “Gini, ya. Menjadi manusia baru atau lahir rohani itu adalah saat di mana seseorang menerima Tuhan Yesus sebagai juruselamat secara pribadi, mengakui, berbalik, dan meninggalkan semua dosa-dosanya serta mengundang Tuhan masuk ke hatinya untuk selamanya. Menjadi manusia baru berarti orang itu dilharikan kembali secara rohani,” terang Alzio panjang lebar. “Nggak ngerti, ya? Okay, akan kita pelajari pelan-pelan.”
“Ooo…,” ucap Agatha singkat.
“Hakikat manusia pada awalnya atau sejak semula adalah berdosa. Sejak dilahirkan pun kita udah membawa yang namanya dosa turunan dari Adam dan Hawa. Belum lagi dosa yang kita perbuat sendiri, entah dilakukan secara sadar ataupun nggak sadar.”
“Lalu?” tanya Agatha dengan ekspresi yang serius. Tampaknya ia tertarik dengan topik bahasan ini.
“Padahal semua orang yang berdosa nggak mungkin bisa masuk surga. Karena apa? Karena upah dari dosa adalah maut. Artinya, semua orang yang berdosa ditetapkan untuk binasa. Syarat untuk bisa masuk ke surga adalah sempurna, tanpa dosa, dan tak bercacat cela. Standar dari Tuhan itu harus seratus. Seorang Bunda Theresa pun pernah berbuat dosa juga.”
“Kenapa Tuhan begitu kejam?”
“Tunggu dulu. Ada solusinya, kok. Semua manusia tau bahwa untuk mencapai surga harus sempurna, tapi mereka nggak tau gimana caranya supaya bisa sempurna. Jadi, mereka mulai mengusahakan surga dengan cara mereka sendiri-sendiri. Ada yang beramal sebanyak-banyaknya…”
“Wah, Mommy banget,” sela Agatha.
“Melakukan kebajikan, ada yang taat beribadah, mencari ilmu dan pengetahuan setinggi-tingginya. Mmm, pokoknya banyak usaha yang dilakukan manusia, tetapi semua itu tetap nggak bisa menyelamatkan. Karena itu semua hanyalah sia-sia di hadapan Tuhan. Tapi, ada tapinya nih. Karena Tuhan begitu mengasihi kita manusia, maka Ia bisa mengampuni dan berusaha menyelamatkan kita.”
“Jadi?”
“Jadi, keselamatan itu adalah sebuah anugerah dari Tuhan, hadiah yang diberikan secara cuma-cuma, gratis. Bukan berarti kalo gratis terus kita bisa menyimpulkan itu adalah barang murahan. Itu salah! Justru sebaliknya. Keselamatan itu mahal banget harganya. Sampai-sampai nggak sanggup dibayar dengan apapun! Nggak ada manusia di dunia ini yang sanggup membeli keselamatan dengan uang, atau bahkan nyawanya sekalipun! Karena keselamatan itu telah dibayar dengan darah-Nya yang kudus. Nggak cukup dengan perak atau hanya emas intan saja. Ingat, jangan meremehkan kemurahan Tuhan!”
“Ooo gitu…” Agatha mengangguk.
“Iya. Kamu mau nggak percaya sama Tuhan Yesus?”
“Apa Dia mau menerimaku?” tanya Agatha lemah.
“Kenapa nggak?” Alzio balas bertanya.
Agatha tertawa dengan paksa. “Tapi Dia nggak tau siapa aku, nggak tau gimana aku.”
“Dia pasti tau!”
Agatha terdiam. Ia tak dapat berkata-kata. “Sungguhkah Tuhan Yesus mengasihiku begitu dalam?”
“Ya, Dia mengasihimu. Mengasihi kita yang percaya pada-Nya.”
“Nggak seorang pun di dunia ini yang mengasihiku lagi,” ucap Agatha. Ia mulai menangis. “Aku nggak berharga buat siapa pun!”
“Kamu salah! Kamu nggak seorang diri. Kamu pasti berpikir nggak ada seorang pun yang peduli dan merasakan sakit hatimu, iyakan? Mulai saat ini kamu harus ingat, ya, ada satu pribadi yang mengasihimu tiada batas. Kamu dan kita semua berharga di mata-Nya. Jangan lewatkan hidupmu begitu saja. Hidupmu punya nilai bagi-Nya.”
“Aku manusia berdosa. Aku nggak layak…. Ada dosa yang telah kulakukan dan nggak seorang pun tau. Aku nggak kudus di hadapan Tuhan. Aku udah…” Entah mengapa Agatha ingin sekali rasanya mengakui yang telah dilakukannya bersama Welson, tapi ia begitu malu. Ia ingin ada yang menolongnya. Ada sesuatu yang mendorongnya, dan ia berharap semoga saja sepupunya itu tak menghakiminya.
“Udah, akui saja di hadapan Tuhan. Dia pasti mengampunimu jika kamu bersedia datang pada-Nya. Apa kamu lupa? Tuhan Yesus juga datang dalam kehinaan, Ia lahir di kandang domba meskipun Ia seorang raja. Ia mati juga dengan cara yang paling hina, paling kejam. Ia disalibkan padahal Ia nggak berbuat dosa. Kamu pikir kenapa Tuhan Yesus selalu mengambil tempat yang paling rendahdan paling hina?”
Agatha hanya mampu memandang sepupunya dengan wajah yang penuh dengan linangan air mata.
“Supaya orang-orang yang merasa paling nggak layak seperti kita, paling hina sekalipun dapat datang pada-Nya,” lanjut Alzio.
🕊️🕊️🕊️
__ADS_1
To be continued…