Aku Yang Terlupakan

Aku Yang Terlupakan
Menjenguk Nadine 2.


__ADS_3

Agatha dan Memey mendekat ke arah sofa setelah disambut dengan kejadian yang mengejutkan. “Nad, lo kenapa?” tanya Agatha dan Memey bersamaan. Mereka panik dan sekaligus khawatir pada kondisi sahabatnya itu.


FLASHBACK


Dua jam sebelum Agatha dan Memey sampai di rumah Nadine, tibalah Welson di rumah Nadine. Setelah mendapat izin masuk dari ART Nadine, Welson langsung menuju kamar Nadine dan diikuti oleh ART. “Nad. Kamu tidur?” sapa Welson dari luar.


Mendengar suara Welson, Nadine segera membuka pintu kamarnya. “Kenapa?” tanya Nadine dengan sinis. “Mau apa kamu kemari?”


Melihat raut wajah Nadine yang tidak bersahabat dan terus dengan tatapan sinis, Welson memberanikan diri untuk meraih tangan Nadine. Welson dibuat tercengang oleh sikap Nadine saat ini. Belum sepenuhnya tangan Nadine ia angkat, tiba-tiba saja Nadine mengibaskan tangannya dengan keras supaya terlepas dari genggaman. Welson mendesah berat menghadapi Nadine. “Heii. Kamu kenapa sih? Kenapa tiba-tiba marah sama aku, salahku apa? Aku datang ke sini itu karena aku khawatir sama kamu.” Welson menatap Nadine dengan tatapan serius. Tangannya kembali mencoba untuk meraih tangan Nadine, namun hal yang sama kembali terjadi.


“Please! Jangan kayak gini, Nad. Cerita kalau ada apa-apa,” ucap Welson.


“Pergi dari sini!” bentak Nadine yang diikuti dengan gerakan tangannya menunjuk pintu keluar.


Bingung dan bingung, terlihat jelas dari wajah tampan Welson. Pasalnya, Nadine tidak pernah seperti ini kalau Welson sedang berada di dekatnya. “Arrrggggghhh!” Welson mengacak rambutnya karena bingung bagaimana cara membujuk Nadine. “Nad, sebenarnya aku salah apa hingga kamu kelihatan sangat benci padaku? Apa aku pernah menyusahkanmu?” Tatapan Welson memelas.


“Apa kamu bilang?” Nadine tersenyum kecut. “Kamu masih belum menyadari kesalahanmu di mana, hah?” sinis Nadine. Tangannya ia naikan ke dada dan membentuk silang di sana.


“Tapikan aku gak pernah merasa bersalah sama kamu. Sebenarnya apa yang kamu pikirkan, Nad?” Welson memegang pundak Nadine, namun Nadine menyentakkan tangannya.


“Gara-gara kamu...” Nadine menghentikan ucapannya. Dadanya terasa sesak, tatapannya nanar. Perlahan tapi pasti, muara di pelupuk matanya kini basah. Tetesan air matanya menetes beriringan dengan isakan tangisnya.


“Iya, aku kenapa, hm? Kenapa kamu jadi nangis kayak gitu?” tanya Welson dengan lembut.


Mendengar jawaban Welson yang sama sekali seolah bersikap bodoh, Nadine menghentikan tangisnya agar mampu bersuara. “Gara-gara kamu, masa depanku hilang. Ada yang hilang dari dalam diriku karenamu. Aku kotor bahkan melebihi sampah. Aku benci pada diriku sendiri,” ucapnya tanpa menatap Welson.


“Tunggu dulu. Aku masih belum paham yang kamu bicarakan. Aku...” ucapannya langsung disanggah oleh Nadine.


“Cukup! Kamu itu memang mau nikmatnya saja. Habis manis sepah dibuang. Apa kamu tau, malam itu dan di villa itu kamu merampas semuanya. Mengubah segalanya. Aku begini juga karena ulahmu. Kalau aku hamil gimana, hah?” ucap Nadine dengan emosi yang sudah menyala-nyala di kepalanya.


Welson mengangguk mengerti arah pembicaraan Nadine. “Kamu tenang saja. Itu gak akan mungkin terjadi. Percaya sama aku,” ucap Welson dengan santai.


Nadine kembali menangis. Betapa sakitnya hati dan pikirannya saat ini. Ditambah lagi badannya yang panas, membuatnya tak kuasa untuk meluapkan tangisnya. Ia menangis tersedu-sedu sampai bersandar pada dinding dan terduduk.


Welson tak tega melihatnya menangis seperti itu. Ia membawa tubuh Nadine untuk bangkit berdiri dan memeluknya. Nadine semakin menangis di dalam pelukannya. “Kamu tenang aja. Itu gak bakalan terjadi,” ucap Welson dengan tangannya mengusap lembut kepala Nadine.


Welson membawa Nadine duduk di sofa ruang tamu setelah Nadine puas menangis. “Kamu di sini dulu. Aku ambilin minum dulu buat kamu.” Welson berjalan ke dapur tanpa persetujuan Nadine.


Ketika bayangan Welson sudah menghilang di dalam dapur, Nadine berusaha berdiri untuk menuju toilet. Kepalanya terasa pusing dan berat. Mungkin saja itu efek dari menangis dan juga demam.


Bruuukkkk!! Bunyi benturan kepala Nadine menghempas meja di depannya. Nadine jatuh tersungkur karena hilang kendali. Bertepatan dengan itu, muncullah Agatha dan Memey.


FLASHBACK OFF


“Nad, bangun. Jangan tinggalin kami. Hiksss...hiksss.” Memey menangis sambil menggoyang tangan Nadine.


Pletakk!! Agatha menjitak kepala Memey pelan karena ucapannya seolah Nadine sudah mendahului mereka. “Semprul. Jaga ucapan lo. Dia enggak meninggal, ini cuma pingsan.”


“Gue khawatir tau gak lo,” ucap Memey.


“Iya tau yang lo pikirkan. Gue juga khawatir. Emangnya lo aja yang punya rasa khawatir, hah?” bentak Agatha pada Memey. “Bantuin gue angkat Nadine ke sofa!”


Takut Agatha semakin marah padanya, ia akhirnya menuruti ucapan Agatha dengan mulut mengatup. Dengan susah payah mereka berdua mengangkat Nadine ke sofa, akhirnya berhasil juga.


“Loh, kalian? Kapan datang? Si Nadine kenapa?” tanya Welson dengan tangannya membawa gelas berisi air putih.


“Baru aja sampai. Eh pas di depan pintu langsung disuguhkan dengan Nadine yang pingsan menghempas meja. Tuh liat, jidat putihnya aja benjol,” ujar Memey.


“Untung aja baru datang. Kalau dari tadi bisa ketahuan deh,” batin Welson.


“Yang lain kemana, Yank? Kok cuma kamu doang di sini?” tanya Agatha.


Welson tanpa sadar meneguk air putih yang ia pegang. Sambil terus meneguk, ia mencari alasan untuk pertanyaan Agatha. “Mereka udah pada balik. Aku ketinggalan karena lagi ngambilin minum ke dapur,” jawab Welson sekenanya.

__ADS_1


Agatha dan Memey tak menaruh kecurigaan sama sekali pada Welson karena fokus pada Nadine yang masih terkapar karena pingsan. Memey terus mengguncang tubuh Nadine berharap cepat sadarkan diri. Hampir satu jam lamanya, Nadine siuman karena hidungnya diolesi minyak angin oleh Agatha. Pandangan matanya belum jelas, perlahan Nadine mengerjapkan matanya. “Ka...kalian di sini juga?” tanya Nadine terbata-bata. Tangannya memegang kepala yang berdenyut. “Kenapa kalian kelihatan panik, gue kenapa? Auuuuw!” Nadine meringis kesakitan ketika tanpa sengaja tangannya meraba bagian kening.


“Lo barusan siuman dari pingsan.” Agatha menatap wajah Nadine dengan prihatin. “Lo sakit apa? Sudah makan?”


“Gu...gue hanya demam biasa. Kepala gue pusing banget,” ucapnya, “nafsu makan enggak bersahabat.”


Agatha segera mengeluarkan kue dan buah-buahan yang ia beli untuk Nadine. Kue pertama yang Agatha sodorkan pada Nadine adalah kue kesukaan Nadine. Mata Nadine menatap kue itu dengan berbinar. Namun, kini wajahnya nampak sayu. Melihat kebaikan Agatha, ia sangat merasa bersalah karena telah mengkhianatinya. Air matanya kembali mengalir membasahi pipinya. “Thanks.” Hanya kata itu yang mampu ia ucapkan pada Agatha. Hatinya sakit menyibak semua perasaan yang berkecamuk di kepalanya. Haruskah ia memilih dan mengalah?


“Lo makan gih. Gue tau lo belum makan sama sekali.” Agatha kembali menyodorkan kue itu pada Nadine, namun Nadine menggeleng. “Loh, lo gak suka sama kuenya? Makan kue ini dulu kalau gak selera sama nasi. Ntar tambah sakit.”


“Iya, Nad. Yang diucapkan Agatha itu memang benar. Kita semua gak mau lo masuk rumah sakit karena kasus kelaparan,” ucap Memey. Lagi-lagi Agatha menyentil telinga Memey karena ucapan Memey yang sembarangan.


Sudah berapa kali Agatha dan Memey membujuk Nadine supaya mengisi perutnya, namun tetap tidak berhasil. Hingga pada akhirnya Welson juga membujuk, itu pun masih susah. Dengan segala cara mereka bertiga membujuk, sampai-sampai bahasa anak kecil pun mereka bawa-bawa.


Telinga Nadine penuh dengan ocehan dan bujukan dari ketiga orang yang sedang bersamanya. Ia memilih mengalah dan memakan kue dari Agatha. “Iya-iya. Gue makan,” ucapnya dengan kesal.


Setelah dirasa Nadine sudah dalam keadaan membaik, Agatha, Welson, dan Memey pamit undur diri dari rumah Nadine. “Kalau ada apa-apa, kabarin gue. Biar gak panik kayak gini,” kata Agatha dan diangguki oleh Nadine.


“Thanks, ya.” Nadine mengulas senyum singkat di bibir tipisnya.


🕊️🕊️🕊️


Perjalanan pulang berjalan dengan mulus tanpa hambatan, hingga Agatha lupa mengantar Memey ke rumahnya. Memey ikut pulang bersama ke rumah Agatha dan ia tercengang ketika sadar bukan berada di depan rumah miliknya. “Loh, ini kan bukan rumah gue? Lo salah alamat, ya? Masa dengan cepat lo lupa alamat gur?” ucap Memey.


“Astaga. Gue lupa nyinggahin lo tadi. Gue kira lo gak bareng gue.” Agatha menepuk keningnya dan tertawa dengan ulahnya sendiri. “Yasudah, lo di rumah gue aja nemenin gue.”


Memey tak langsung menjawab usulan Agatha karena ia takut mama dan papanya marah karena kelayapan. “Ntar kalau mama papa gue nyariin gimana?” ucapnya.


“Tinggal telpon dan bilang aja di rumah gue kok susah?” ucap Agatha, “ayo turun! Gue laper!”


“Iya-ya. kok gue lupa kalau sekarang zaman serba modern, ya?” Memey tertawa. “Lo duluan aja. Gue mau hubungin mama papa dulu, biar gak nyariin gue kemana-mana.”


“Yakin nyuruh duluan? Ntar lo susah nyari kamar gue. Yang ada lo malah masuk ke kandang macan. Haha.”


“Eh-eh. Yasudah, tungguin gue,” ucap Memey. Ia segera menelepon orang tuanya dan memberikan informasi kalau ia sedang berada di rumah orang yang terpandang dan kaya. Panggilan pun berakhir setelah berbincang dengan orang tuanya.


Sesampainya di dalam rumah, Agatha dan Memey langsung menerobos menuju dapur tanpa ke kamar terlebih dahulu hanya sekedar berganti pakaian. Bi Momon baru saja menyajikan masakannya di atas meja makan, meja yang sama ketika Memey makan bersama orang tua Agatha setelah dari kota L. Aroma masakan Bi Momon menyeruak di segala penjuru dapur. “Aromanya bikin laper.” Memey menghirup aroma masakan Bi Momon.


“Eh, tumben udah di mari aja, Non?” tanya Bi Momon pada Agatha ketika sadar nona kecilnya ada di meja makan.


“Iya, Bi. Aku laper. Bibi masak apa? Aromanya sangat menggoda loh,” ucap Agatha.


“Masak sambal balado, trus sup kesukaan Non. Ada ikan pepes, jamur saus tiram sama gulai kambing,” jawab Bi Momon.


Telinga Memey langsung menangkap kata sambal balado. Menurutnya, itu seperti sebuah lagu dari penyanyi dangdut Ayu Ting Ting.


“Sambala, sambala, bala sambalado. Terasa pedas, terasa panas. Sambala, sambala, bala sambalado. Mulut bergetar, lidah bergoyang...” Tiba-tiba Memey bernyanyi dengan gelas sebagai mic-nya.


“Aseeeekkk. Lanjut, Neng!” Bi Momon mulai nyambung dengan kekonyolan Memey.


“Di dalam lidahmu itu. Mengandung bara api. Yang membakar hati. Di dalam lidahmu itu. Mengandung racun tikus. Yang mematikannya.”


Ruang makan menjadi ricuh karena kekonyolan Memey dan Bi Momon. Memey bernyanyi dan Bi Momon sebagai pejogetnya. Apron dan spatula juga tidak dilepaskan Bi Momon saking serunya. Agatha setengah kesal dan setengah menahan tawa melihat sahabat dan asistennya yang sangat kompak sekali.


“Waduh. Sadis amat ya, Neng?” ucap Bi Momon sambil berjoget.


“Apanya, Bi?” tanya Memey.


“Itu loh. Bibi ngeri mendengar kata yang lidahnya mengandung bara api. Apa gak melepuh tuh mulut?”


“Ah sudah, Bi. Itu cuma perumpamaan. Ayo lanjut lagi!” Memey kemudian melanjutkan lagunya yang sempat terpotong karena Bi Momon. Mereka berdua kembali berjoget bersama.


Tiba-tiba Mang Judas muncul di balik ruang tamu. “Wah-wah. Ada acara apa ini?”

__ADS_1


“Maklumin saja, Mang. Itu anak lagi ketemu sama induknya,” kata Agatha. “Bibi, Memey, stop. Ayo kita makan. Laper nih.”


Mendengar teriakan dari Agatha, akhirnya aksi Bi Momon dan Memey pun berakhir dan makan bersama. Mereka bertiga-Mang Judas, Bi Momon, dan Memey makan dengan saling melemparkan canda tawa. Berbeda dengan Agatha yang wajahnya sulit ditebak. Yang ada di dalam pikirannya kembali mengenang keharmonisan keluarganya yang dulu. Agatha menyudahi makannya. Perutnya terasa kenyang dengan sendirinya ketika mengingat momen hangat bersama orang tuanya. “Bibi, Mang judas. Aku pamit ke kamar ya.” Agatha berdiri dan membawa tasnya.


“Eh, Non. Udah kenyang? Tadi katanya laper, kok belum habis udah selesai aja makannya?” tanya Bi Momon.


“Aku udah kenyang, Bi. Mey, lo makan dulu, nanti nyusul gue ke atas, ya!” Agatha segera bergegas menuju kamarnya.


“Bi? Boleh nanya?” ujar Memey di sela makannya.


“Nanya apa, Neng? Jangan nanya jodoh, ya. Bibi gak mau nikah,” ucap Bi Momon dengan santai.


“Haha. Bibi lucu deh. Tapi bukan itu yang pengen aku tanyain, Bi.” Memey mulai serius.


“Terus?”


“Tapi Bibi harus jawab, ya!” perintah Memey.


“Terus?” ucap Bi Momon seperti juru parkiran mall.


“Ih, Bibi. Serius loh aku nih.” Memey cemberut.


“Hahaha. Bi Momon emang suka bikin kesal, Neng. Makanya non Agatha biasanya malas sama Bi Momon,” adu Mang Judas pada Memey.


Bi Momon memelototkan matanya pada Mang Judas. Satu kartu terbongkar, padahal Memey juga sudah tau kalau Agatha juga sering bercerita padanya.


“Bi, apa benar Agatha akhir-akhir ini sering diabaikan om sama tante?” tanya Memey dengan hati-hati. Ia takut jika Bi Momon mengiranya mencampuri urusan keluarga yang bukan menjadi haknya.


Mengambil napas berat untuk Bi Momon bisa menceritakan semuanya. Dadanya terasa tercekat bila sudah mengungkit orang tua Agatha. Tanpa ragu lagi Bi Momon menceritakan semuanya pada Memey. Bi Momon berpikir, siapa tau dengan menceritakannya pada sahabatnya itu, Agatha bisa dirangkul dan disemangati olehnya-Memey. Mulai dari keharmonisannya dulu hingga muncullah kerenggangan antara orang tua dan anak, semuanya Bi Momon ceritakan. Raut wajah Memey nampak sendu. Ia juga bisa merasakan apa yang Agatha alami saat ini. “Begitu ceritanya, Neng.” Bi Momon mengambil selembar tissue untuk mengelap wajahnya yang basah.


“Kasihan sekali Agatha, ya, Bi.” Memey juga mengelap wajahnya.


“Iya, Neng. Mungkin di sekolah ia terlihat ceria, namun sebenarnya ada kesedihan di dalamnya. Maafkanlah non Agatha apabila ada kata-kata yang mungkin menyakiti perasaan Neng dan teman-temannya yang lain,” ujar Bi Momon.


“Iya, Bi. Aku paham kok. Tadi di mobil, Agatha juga bercerita tentang orang tuanya. Makanya aku mau bertanya sama Bibi dengan sedetailnya. Tapi di sekolah, ia banyak diamnya ketimbang ceria, Bi.” Memey menceritakan keseharian Agatha di sekolah.


“Jangan tinggalin non Agatha sendiri, ya, Neng!” timpal Mang Judas.


“Iya, Mang. Gak bakalan ninggalin ia sendirian. Aku siap menjadi tempatnya untuk berbagi kisah, setidaknya bisa meringankan beban pikiran untuknya. Ya walaupun aku kadang selalu bikin ia kesal, sih. Hehe,” jawab Memey.


“Nah. Itu baru persahabatan yang bagus. Jangan datang di saat butuh dan pergi jika sudah tidak butuh. Kalian masih muda, harus sama-sama saling support, Neng.” Mang Judas mengacungi jempolnya pada Memey.


“Memangnya mereka kuman, kok disemprot?” tukas Bi Momon dengan serius.


“Astaga. Lebih baik Bibi diam jika tidak bisa bahasa Inggris,” ucap Mang Judas.


Bi Momon malah tertawa mendengar bahasa Inggris. Ia kembali mengingat pada saat ia menonton film berbahasa Inggris di kamar tamu.


“Yasudah, Bi, Mang. Aku ke atas dulu ya.” Memey berpamitan pada Bi Momon dan Mang Judas.


“Iya, Neng. Terima kasih, ya.” Bi Momon tersenyum hangat pada Memey. “Oh iya, nama Neng siapa?”


“Namaku Memey Welandi, Bi.” Memey tersenyum.


“Seperti tidak asing dengan namanya. Kamu artis, ya?” tanya Bi Momon spontan.


Pertanyaan Bi Momon membuat Memey bingung. Bagaimana mungkin ia seorang artis? Suaranya saja seperti ayam berkokok jika bernyanyi. Jangankan bernyanyi, bernapas saja sumbang, pikirnya. “Haha, Bibi. Aku bukan artis loh,” ucap Memey tertawa. “Bibi pasti mengira aku ImeyMey, ya?” terka Memey.


“Haaa, itu dia. Oh, jadi kamu bukan artis, ya, Neng?” Bi Momon tertawa. “Pantas saja suaranya tadi kayak kapal pecah sama kayak Bibi.”


“Hahah. Bibi kalau ngomong suka benar deh,” ucap Memey.


Mang Judas yang mendengar itu segera bergegas keluar dari meja makan. Jika lama-lama, bisa dipastikan ia akan bosan mendengar kekonyolan Bi Momon. Mang Judas kembali keluar, sementara Memey naik ke atas menuju kamar Agatha. Sedangkan Bi Momon mengemasi dan membereskan sisa makanan dan piring-piring kotor.

__ADS_1


🕊️🕊️🕊️


To be continued...


__ADS_2