
Hari ini, merupakan hari di mana Agatha dilahirkan ke dunia dengan tapak kaki merah yang mungil, kulit putih mulus yang masih bercampur dengan darah, dan suara tangis kecil yang lucu. Hari ini juga merupakan hari spesial dan harusnya menjadi hari bahagia untuk Agatha, karena ini adalah merupakan hari ulang tahunnya. Hari ini juga usianya kini bertambah satu tahun, dan genap berusia 18 tahun. Kemarin, orang tuanya sudah menyiapkan rangkaian acara dan hadiah spesial untuk pesta ulang tahun anaknya, putri semata wayang.
🕊️🕊️🕊️
Minggu siang tepat pukul 12:00, Lanchen Hotel tampak ramai karena dipadati oleh anak-anak muda yang seusia dengan Agatha. Ini sudah menjadi tradisi bagi keluarga William mengingat Agatha merupakan anak sulung sekaligus anak tunggal, sudah sepatutnya acara tersebut dirayakan besar-besaran. Namun, hal ini terkadang membuat Agatha jenuh, karena pasalnya, menurutnya pesta ulang tahun tak jauh dari ritual di hotel, restoran berbintang, panti asuhan, hadiah mewah, dan harus memasang senyum yang indah, walaupun sebenarnya banyak hal yang terjadi di dalam dirinya dan keluarganya.
Tampak Agatha dan Memey tengah menunggu para sahabatnya dan juga sang pacar datang ke lokasi pesta ulang tahunnya. Tengah asyik berbincang dengan Memey sembari menunggu kedatangan tamu spesial dari sahabat dan pacarnya, tamu-tamu lain berdatangan menuju Agatha untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya.
“Haii, Agatha! Happy birthday, ya! Muachhh..muachhh. Tambah cantik dan mempesona…”
“Hallo,, Agatha. Lama banget deh ya kita gak ketemu? Uhhh gemesss, kamu gak berubah ya? Tetap imut dan cantik kayak dulu.”
“Met ultah, ya. Makasih udah ngundang.”
“Hallun, Agathaaa!” Agatha terperangah kaget melihat yang sedang menyapanya yang sama sekali tak berubah dari dulu, yaitu Franky, seorang pemuda tampan namun sedikit melambai. Franky merupakan rekan kursus balet sewaktu dia Sekolah Dasar dulu.
“Hi, Tsayyy!” sapanya juga kepada Memey dengan lambaian tangan yang khas. Memey yang menyadarinya juga memberikan respons yang sama terhadap Franky, seolah sudah akrab.
“Holla, Tsayy!” balas Memey.
Agatha hanya menggelengkan kepala melihat aksi keduanya. “Cucok ya, tsayy!” sergah Agatha.
Tanpa menghiraukan suara Agatha, Franky kembali bersuara. “Ya ampyun! Udah beda banget ya dari dulu. Pangling dech aku! Aku ingat dulu kamu suka makan permen sewaktu kita kursus, suka pake tas pink. Iya kan? Udah punya cowok kan, wah pasti tampan. Kenalin dong entar...” ucap Franky panjang kali lebar kali alas sambil tangan lentiknya mencubit pipi Agatha.
“Adoooohh!” Agatha mengaduh kesakitan karena Franky yang tanpa aba-aba sudah mencubitnya, sehingga membuat suasana semakin riuh.
Di sela Agatha menyentuh pipinya yang dicubit oleh Franky, Dirgo dan Yadi yang disusul oleh Maria dan Stevanie, datang menghampiri Agatha dengan membawa kado masing-masing untuknya. Maria dan Stevanie langsung berhamburan memeluk Agatha sekaligus memberikan kado. Ada terpancar senyuman manis ketika Agatha melihat ke arah Dirgo yang tengah memperhatikan sahabat gadisnya sedang berpelukan.
“Arghh cantik banget sih sahabat gue di hari spesialnya ini. Tuhan berkati selalu ya,” Maria cipika-cipiki dengan Agatha.
“Ultah yang ke berapa nih?” goda Stevanie. “Makin disayang Welson ya,” timpalnya lagi.
“Happy birthday, Tha. Jangan galak-galak ya, udah gede juga.” Kini giliran Yadi yang mengucapkan selamat dan memberi pelukan sebagai seorang sahabat.
“Udah! Lepas! Jangan lama-lama,” Dirgo segera menarik kerah kemeja Yadi, dan disusul dengan gelakan tawa dari Agatha, Memey, Maria, dan Stevanie.
Sebelum berpelukan dan mengucapkan selamat seperti yang lainnya, Dirgo terlebih dahulu memberikan kado yang dibungkus dengan ciamik menggunakan kertas kado berwarna pink bergambar hati dan mawar dengan pita gold.
“Ini kado buatmu. Terima ya! Semoga suka.” Tutur Dirgo dengan lembut sambil menyunggingkan seulas senyuman manisnya. “Happy birthday, Agatha William. Semoga kita bisa tetap terus bersama!” lanjut Dirgo dengan memberikan pelukan hangat. Jantungnya berdegup ketika berpelukan dengan gadis yang sekarang sudah berusia 18 tahun, gadis yang juga menjadi sosok yang sering diikuti dan diawasinya dari jauh.
JLEBB! Dug…dug!!! Jantung Agatha seolah terpacu dengan sendirinya ketika mendengar ucapan Dirgo serta pelukannya yang hangat dan menenangkan. Ada satu hal yang tak pernah Agatha lupa, aroma parfumnya Dirgo. Ya, aroma parfumnya masih dapat Agatha ingat ketika pertama kali Agatha yang tanpa sengaja menabrak tubuh Dirgo di saat hendak pulang sekolah.
“Hmmm. Ini aroma parfum yang sangat kusuka,” Agatha membatin sambil tersenyum, yang membuat ke-empat orang sahabatnya yang lain saling bertatap wajah satu dengan yang lainnya.
__ADS_1
“Dengan senang hati. Thanks, ya, Dir.” Agatha berucap seolah tak ingin melepas pelukan dari Dirgo.
“Ekhemm…”
Ke empat orang sahabatnya berdehem secara bersamaan, membuat pelukan antara Agatha dan Dirgo lepas begitu saja, karena terkejut. Dirgo dengan sengaja menyibak rambutnya sendiri karena gugup, padahal rambutnya masih tertata dengan sangat rapi.
“Ahh elahh. Giliran gue lo tarik-tarik. Udah kayak emak-emak lagi ngantri sembako aja lo!” sindir Yadi dengan kesal.
“Yeeee biarin. Gue kan tampan!” Dirgo dengan PD berucap seperti itu dan memasang gaya yang cool.
“Idihhh, narsis!” ucap Yadi dan Memey bersamaan.
“Cuit-cuittt. Cocok banget dua sejoli. Haha,” ledek Maria dan Stevanie. Bersamaan dengan itu, mereka tertawa bersama. Yadi mengambil sikap senyum-senyum, sedangkan Memey cemberut karena jadi bahan tertawaan sahabatnya.
Saat tamu undangan dan sahabat-sahabatnya itu menikmati pesta, Agatha terus mencari keberadaan Welson dan Nadine, kalau-kalau mereka sudah datang. Dua orang itu juga sedang ditunggu juga kehadirannya oleh mereka. Semalam, Welson berkata jika dirinya tak akan datang terlambat. Hingga saat ini, hidung belangnya saja belum kelihatan. Sudah lebih setengah jam dari waktu yang seharusnya, Welson dan juga Nadine belum juga datang. Agatha nampak tak bergairah. Agatha merogoh tasnya, mencari handphone untuk menghubungi Welson, namun dimatikan.
Menyadari Agatha yang tampak gusar, dan seolah tau apa yang sedang Agatha pikirkan, Diirgo menenangkannya dengan memberi pengertian mana kala Welson dan juga Nadine terjebak macet di jalanan, ban mobilnya kempes, dan lain sebagainya. Ada sedikit rasa tenang, namun raut wajah Agatha tak bisa disembunyikan. Lagi-lagi Agatha mencoba menghubungi Welson maupun Nadine. Tetapi ponsel keduanya sama-sama mati.
“Damn! (Sialan!) Emang apa sih yang lebih penting dari pacarnya sendiri?” rutuk Agatha dalam hati.
Padahal, situasi dan keadaan sudah cukup parah mengingat ketidakhadiran sang daddy dan mommy nya. Daddy nya yang tadi pagi melakukan perjalanan dinas ke California, sedangkan mommy nya sibuk mengunjungi panti-panti. Mommy nya juga berjanji kepada Agatha bahwa dia akan datang walau telat, atau bahkan acaranya tengah berlangsung. Agatha memahami dan memaklumi, dia juga menghargai janji sang mommy.
Sudah hampir satu jam lamanya, orang yang ditunggu-tunggu belum juga memberikan sinyal kedatangannya. Karena bosan dan sedikit kecewa dengan hal tersebut, Agatha akhirnya memberikan kode kepada MC pesta ulang tahunnya untuk memulai acara. Waktu yang diberikan untuk mentoleransi kedatangan Welson dan juga mommy nya sudah cukup panjang. Terdengar arahan MC membuka acara pesta ultah, yang disambut dengan lampu-lampu mulai dipadamkan, kue ulang tahun dibawa naik ke atas panggung, dan lagu kebesaran pesta ulang tahun “Happy Birthday” dilantukan oleh seluruh tamu undangan, Agatha hanya menatap sendu lilin yang berbentuk angka satu dan delapan di atas kue ulang tahunnya.
“Aku yakin. Welson dan Nadine saat ini tengah bersama.” Dirgo membatin dan menatap geram ke arah pintu masuk.
Bertepatan di saat lagu Happy Birthday selesai dinyanyikan oleh seluruh tamu undangan yang berada di sana, Agatha melihat dua sosok yang dikenalinya datang dengan tergesa-gesa, mencari keberadaan Agatha dan yang lainnya. Welson dan Nadine, ya mereka baru saja datang. Mereka berdua menerobos tamu undangan lainnya untuk dapat tempat di depan, dekat dengan sang pacar dan sahabatnya. Tubuh mereka berkeringat dan wajahnya sama-sama memerah seperti habis dikejar-kejar massa karena ketahuan maling.
“Ya Tuhan. Mereka dari mana aja, sih? Kok datangnya bisa barengan?” gumam Agatha setelah melihat keduanya datang.
Hati Agatha merasa lega, walau minus kedua orang tuanya. Dan, tanpa sadar, ulasan senyumnya mengembang di wajah cantiknya. Kedua orang yang baru saja datang itu juga tersenyum ke arah Agatha. Agatha kemudian meniup dua buah lilin yang berbentuk angka satu dan delapan itu sambil meminta sebuah harapan (make a wish). Potongan kue pertamanya, ingin dia berikan untuk orang tuanya. Mengingat mommy nya yang belum juga muncul, potongan kue tersebut ia simpan dahulu. Potongan kue selanjutnya, ia berikan kepada Welson, sang pacar. Welson mengecup pipi kiri dan kanan Agatha, kemudian memberikan ciumannya untuk Agatha.
“Happy birthday, Honey....” hati Agatha langsung melayang ketika mendengar ucapan sang pacar. Ada raut tak senang di wajah Nadine, dan raut tak senang tersebut dilihat oleh Dirgo serta Memey. Keduanya saling pandang, kemudian seolah tak melihat apa yang sedang terjadi.
Sesudah selesai acara inti, kemudian MC memberikan arahan bahwa acara selanjutnya adalah acara bebas. Agatha menarik tangan Welson untuk mencari tempat supaya bisa berduaan. Sahabatnya yang lain tengah menikmati acara dan membaur dengan tamu-tamu undangan lainnya. Nadine juga bergabung bersama sahabatnya.
“Tadi ke mana aja sih kamu?” tanya Agatha dengan manja. “Sampe keringatan kayak gitu.” Agatha mengambil sapu tangannya dan mengusap-usap sapu tangannya ke wajah Welson.
“Sorry, Honey. Tadi aku kejebak macet di jalan. Terus, karena udah telat, aku inisiatif lari-lari dari area parkiran sampe lantai tujuh ini,” jawab Welson menjelaskan.
“Kan ada lift! Kok gak naik lift aja?”
“Gak pake lift, lift full soalnya.” Welson sedikit membuka kancing kemejanya.
__ADS_1
“Oh ya? Kalo Nadine gimana? Apa kejebak macet juga, ya?” tanya Agatha lagi.
“Mungkin.” Welson mengangkat kedua bahunya. “Yang jelas aku sama Nadine tadi sama lari-larian di tangga. Ditambah Nadine pake dress kayak gitu, bisa bayangin gak gimana riweuhnya?” Welson dan Agatha tertawa bersama membayangkan bagaimana ribetnya Nadine saat menaiki anak tangga sampai ke lantai tujuh.
Welson merasa sedikit lega karena pacarnya (Agatha) tak menginterogasinya lebih jauh tentang keterlambatan dua orang itu. Pada dasarnya, yang menyebabkan mereka terlambat ialah karena Welson menjemput Nadine, yang berdandan kurang lebih melebihi jam pelajaran di sekolah.
“Honey! Aku punya kejutan untukmu,” Welson menarik wajah Agatha untuk menatapnya.
“Mmm, sungguhkah?”
“Close your eyes, honey!” pinta Welson pada Agatha. Agatha dengan wajah berseri dan senyum yang merekah langsung menutup kedua matanya
“Jangan curi kesempatan!” Agatha memperingatkan Welson karena pacarnya yang suka mencuri-curi kesempatan untuk menciumnya.
“Tunggu, ya. Jangan dibuka matanya sebelum aku selesai hitung tiga kali.” Welson kemudian meminta petugas acara di sana untuk menyiapkan hadiah yang akan diberikannya untuk Agatha.
“One…two…three!” hitungan Welson selesai.
Agatha membuka kedua matanya ketika mendengar hitungan Welson sudah selesai. Agatha melihat melihat serangkaian mawar pink dan bunga anggrek segar di tangan Welson, yang disodorkan tepat di depan wajah cantiknya.
“Wahhh, thank you, honey. Indah dan harum banget!” Agatha membelalakkan matanya melihat pemandangan di depan matanya.
“Sepuluh tangkai anggrek dan delapan tangkai mawar pink sesuai dengan umurmu, sayang.” Bunga tersebut langsung Agatha raih. Dia langsung memeluk Welson dengan erat, dan Welson mencium puncak kepala Agatha dengan mesra. Agatha merona ketika Welson mencium puncak kepalanya.
Saat Agatha tengah terkagum-kagum dengan bunga pemberian pacarnya, tiba-tiba ponsel Agatha berdering. Telepon masuk dari sang mommy. Dia mencari tempat yang agak sunyi, menjauh sedikit dari Welson dan menjawab telepon dari mommy nya.
“Sayang, Mommy minta maaf. Forgive me, Agatha sayang…”
“Don’t say anything!” hardik Agatha dengan penuh penekanan sebelum sang mommy sempat menyelesaikan kalimatnya. “Jangan bilang kalo Mommy gak bisa datang!” nada kecewa terdengar jelas dari kalimat Agatha.
“Sayang, Mommy mohon pengertianmu. Mommy…”
“Aku sudah cukup banyak memberikan pengertian untuk Mommy dan juga Daddy. Apa kali ini saja Mommy gak bisa meluangkan waktu untukku? I need your time, Mommy!” terdengar hening di seberang sana.
“Kalo Mommy gak bisa datang, kenapa Mommy sama daddy bikinin aku pesta kayak gini? Aku gak pernah minta kalian ngadain pesta untukku!”
“Mommy benar-benar minta maaf, Sayang. Pekerjaan Mommy…”
“Ahh, persetan dengan semua itu, Mom!” hardik Agatha dengan tegas. Jiwa kekecewaannya sudah membuncah.
🕊️🕊️🕊️
To be continued...
__ADS_1
Berikan dukungan berupa rate, like, vote, dan sebagainya ya. Hehe. Author ga ngemis, cuma minta kok wkwk