Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Susun Strategi


__ADS_3

Mahendra memegang wajah yang menurutnya tampan itu.


"Urusan dengan tuan Rahardian, akan dibicarakan kemudian. Tunggu info berikutnya" seru mereka lagi.


Mahendra dibawa ke suatu tempat, di mana Mahendra sendiri tak mengenal tempat itu.


"Turun!!!!" gertak salah satu nya kepada Mahendra.


"Siapa lo, nyuruh-nyuruh gue" tukas Mahendra sengit.


Mahendra masuk ke dalam sebuah tempat yang mirip salon kecantikan.


"Tempat apa ni? Bukannya ini salon?" tanya Mahendra, merasa aneh.


"Masuk sana! Ada orang yang menunggumu" sergah laki-laki bertopeng yang memindahkan Mahendra tadi.


Saat akan masuk, Mahendra melihat layar tivi yang sedang menayangkan berita kecelakaan beruntun. Bahkan berita itu juga menyebutkan jika tawanan yang hendak dipindahkan meninggal di tempat dengan menyebutkan nama Mahendra.


Mahendra memegang pipinya bergantian. Takutnya berita itu benar adanya.


Tidak itu saja, Mahendra juga mencubit lengannya sendiri. Dan ternyata sakit.


Rupanya aku dilibatkan dalam permainan tingkat tinggi ini. Gumam Mahendra dalam hati.


Tiba-tiba saja ada yang menepuk bahu Mahendra dari belakang.


Seoarang laki-laki yang lebih mirip dengan cewek.


"Tuan Mahendra?" sapa nya dengan sok anggun.


"Iyaaaa" tukas Mahendra.


"Mari ikut dengan saya, ada yang sudah menunggu anda di dalam" seru nya.


"Kirain kamu yang menunggu aku" tukas Mahendra bercanda.


"Ha...ha...abis anda menemui tuan yang satu ini, boleh dech sama aku" sambutnya.


"Hiiiiii...." Mahendra begidik ngeri dan langsung melangkah ke ruangan yang ditunjukkan oleh laki-laki tulang lunak itu.


"Se...selamat siang" sapa Mahendra saat masuk ruangan. Didapatinya seorang laki-laki yang sedang duduk membelakangi pintu saat Mahendra masuk tadi.


"Selamat siang" jawab nya tegas meski tak melihat kedatangan Mahendra.


Mahendra menautkan alis. Suara orang ini sepertinya aku kenal. Batin Mahendra.


"Duduklah!" suruhnya, dan tak menunggu lama kursi besar itu pun berbalik mengikuti roda yang berputar di bagian bawah kursi.


Mereka saling berhadapan, tapi sampai saat ini Mahendra belum ingat siapa yang ada di hadapannya saat ini.


"Aku Dimas" ucap laki-laki itu, dan membuat Mahendra terlonjak karena kaget.


"Tuan Dimas?" tanya Mahendra menegaskan.


"Iya, Dimas yang kamu khianati" seru nya.


"Tapi tenang, aku tak akan bunuh kamu. Asal....!" Dimas menjeda ucapannya. Dimas yang telah melakukan beberapa perubahan di wajah tentu saja membuat Mahendra tak lagi mengenalnya.

__ADS_1


"Asal apa?" kejar Mahendra terhadap Dimas.


"Asal kamu bantu aku mendapatkan kembali Veronica, anak dari tuan Rahardian yang beberapa hari lalu menemui kamu di lapas" bilang Dimas.


"Loh, bukannya pelarian ku ini karena ulah tuan Rahardian juga yang memerintahkan?" tandas Mahendra.


"Ha...ha...kamu masih saja bodoh" ujar Dimas terbahak.


Mahendra menggaruk kepalanya yang tak gatal. Tebakan nya ternyata melenceng semua. Kedua orang di depan tadi jelas-jelas bilang kalau mereka suruhan tuan Rahardian.


"Lantas apa yang harus aku lalukan!" sergah Mahendra.


"Rubah wajah dan penampilan kamu, baru kita bisa bicarakan rencana selanjutnya" suruh Dimas.


.


Di mansion, Rania kaget juga saat diberitahu bu Marmi jika Mahendra meninggal saat akan dipindahkan lapas karena kecelakaan beruntun.


Meski sebenci-bencinya Rania, Mahendra tetaplah ayah dari almarhum anak pertamanya.


"Semoga dia tenang di sana ya bu" ucap Rania menanggapi.


"Mungkin itu jalan terbaik yang diberikan oleh yang di Atas kepada tuan Mahendra" sambung bu Marmi.


"Cuman tak nyangka aja bu, jika kematiannya akan setragis itu" tandas Rania.


Ayah dan ibu yang masih tinggal di mansion juga telah dikabarin oleh bu Marmi.


"Mungkin itu sudah digariskan. Nasib Mahendra berhenti sampai di sini" bilang ayah.


"Kita makan aja yuk, kebetulan aku sama bu Marmi tadi masak makanan kesukaan kamu" sela ibu.


Tanggapan berbeda di berikan Raditya saat Beno memberitahu kejadian meninggalnya Mahendra. Saat mereka dalam perjalanan menuju ErDua yang menjadi kantor kedua Raditya setelah Samudera Grub.


"Kecelakaan beruntun itu pasti ada faktor kesengajaan. Dan mayat yang ditemukan itu pastilah bukan Mahendra" ulas Raditya.


"Kok sepertinya lo yakin sekali?" imbuh Beno.


"Tebak aja. Aku yakin ada ulah seseorang di balik semuanya ini" kata Raditya.


"Dan mereka semua musuh lo" tandas Beno.


"Bisa jadi" tukas Raditya. Raditya masih menerka siapa yang jadi dalang di balik kejadian ini.


"Lo harus selidikin kejadian ini Beno. Takutnya Mahendra benar-benar masih hidup, tentunya akan membahayakan istriku" kata Raditya yang menjadi perintah bagi Beno.


Tak saben hari Raditya beraktivitas di sana, pedusahaan ErDua. Berhubung sedang ada masalah, mau tak mau Raditya harus membahas dengan beberapa staf yang kompeten di ErDua.


"Adam, apa sudah kamu siapkan semua?" tanya Raditya.


"Sudah bos, teman-teman juga sudah pada kumpul" terang Adam.


Beda dengan Samudera Grub, staf di ErDua adalah anak-anak muda seusia Raditya.


Raditya mengkondisikan suasana kerja di ErDua juga santai. Rapat pun layaknya sedang ngobrol biasa.


Tak ada sebutan tuan, atau apapun itu.

__ADS_1


Yang sering kedengaran malah panggilan bos, bro atau panggilan kekinian lainnya.


"Bos, kita mulai dari mana?" tanya Adam saat Raditya barusan duduk di kursi ruang rapat.


"Mulai aja dengan pembagian snack nya bro" sela Beno menimpali.


"Sekarang kita mulai aja" ajak Raditya.


"Emang mau ke mana sih bos? Buru-buru amat" sela Adam dan bahkan staf yang lain pun ikutan mengolok sang bos.


"Hhmmm dia sudah ada yang nungguin pulang" olok Beno.


"Pertama kita bahas tentang pasar kita yang menurun. Langkah strategis apa yang perlu kita tempuh?" kata Raditya membuka sesi rapat.


"Hhhmmmm kalau nurunin tarif, nggak mungkin lah bos. Kita ini sudah sangat low budget" seru Anton sang akuntan.


"Benar apa kata lo. Tapi bagaimana mungkin perusahaan sebelah bisa?" sela Raditya.


"Makanya itu bos, aku juga merasa aneh" sela yang lain.


"Untuk karyawan-karyawan kita?" sela Beno.


"Terjamin lah. Bayaran mereka sudah sesuai aturan kok" jelas Adam.


"Coba lo telusuri sistem penggajian di mereka. Kita bisa mulai serang dari sana" saran Raditya.


"Buat karyawannya pindah kah? Apa kita sanggup menggajinya?" tutur Beno menimpali.


"Ya nggak begitu juga kali. Buat mereka demo lah. Dengan tuntutan para karyawan, otomatis mereka akan menaikkan gaji. Gaji yang naik, belanja perusahaan pasti naik. Dari mana mereka dapat dana, kalau tidak dari kenaikan tarif jasa pengiriman" jelas Raditya.


Semua manggut-manggut mendengarkan.


"Caranya?" sela Adam.


"Para karyawan kita di lapangan biar bergerak. Suruh buat isu penggajian di perusahaan kita" Raditya menambahi penjelasannya.


"Ide brilian bos" seru semuanya memuji Raditya.


"Oh ya, jangan itu saja. Perbaiki kinerja anak buah kita. Usahakan barang-barang yang dikirim pun tepat waktu. Kepuasan pelanggan jadikan prioritas utama" saran Raditya.


"Siap bossssssss" jawab mereka semua kompak.


Raditya tersenyum puas. Senang juga dengan kekompakan mereka semua.


"Sudah ya, gue pulang. Start mulai besok, semua tadi yang kuperintahkan" tandas Raditya, sembari beranjak dari duduk.


"Siapppppp bosssss" jawab mereka bersamaan. Raditya terbahak mendengarnya.


Pak Supri telah menunggu sang bos di lobi saat Raditya keluar dari ruang rapat.


Sementara Beno dan yang lain masih meneruskan obrolan. Maklum lah mereka belum ada yang menunggu di rumah.


Saat di jalan ponsel Raditya berdering. Kali ini papa Andrian lah yang menghubungi.


"Raditya, mampirlah di hotel xx bentar aja" pinta papa.


"Oke Pah, ini kebetulan searah dengan hotel yang papa maksud" bilang Raditya tanpa menanyakan maksud papa menyuruh ke sana. Apalagi tujuan papa jika bukan untuk menyiapkan tempat pesta pernikahan Raditya dan Rania.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading


__ADS_2