
"Nyonya Riska?" tanya mereka.
"Iya, saya Riska" jawab Riska.
"Ada apa ya?" tanya Riska kemudian.
"Anda ditangkap atas tuduhan prostitusi" seru orang yang paling depan.
Sementara yang lain meringsek masuk untuk mengamankan lokasi.
"Eh...eh...siapa kalian? Berani-beraninya masuk tanpa seijinku" Riska berusaha menghalau para tamu tak diundang itu.
"Stop" teriak Riska. Tak mungkin membiarkan mereka masuk, sementara laki-laki yang kencan dengannya sedang tidur pulas tanpa sehelai benang pun.
"Dia suamiku" seru Riska.
"Boleh lihat identitas kalian berdua?" telisik para petugas.
Dengan ragu Riska menyerahkan identitasnya demikian juga laki-laki yang masih polos tanpa pakaian dan bersembunyi di bawah selimut itu.
"Bagiamana suami istri tinggal dengan alamat yang berbeda? Dan di sini juga diterangkan status kalian, Nyonya Riska status anda janda mati. Sementara tuan ini statusnya menikah. Gimana ini? Bisa dijelaskann?" ulas sang penyidik semakin memojokkan mereka berdua.
Teriakan Riska barusan membuat para tetangga kamar ikutan keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Suasana penggrebekan menjadi topik utama di lantai di mana kamar Riska berada.
"Tunggu...tunggu...bukankah anda adalah pejabat atasan mereka semua?" tanya Riska ke arah laki-laki yang masih duduk di ranjang itu.
"Ayo usir mereka! Enak saja menuduh orang sembarangan" sergah Riska.
Riska semakin dibuat geregetan karena laki-laki itu masih diam tak bergeming.
"Siapa yang anda maksud nyonya?" tanya sang petugas penyidik.
"Dia lah. Siapa lagi?" tandas Riska menunjuk kepada laki-laki yang menjadi pasangan kencannya. Karena menurut info dari mommy, orang yang akan berkencan dengannya adalah seorang pejabat yang berpengaruh. Apalagi saat berangkat tadi dirinya juga dijemput oleh dua orang anggota.
"Owh, orang ini? Yang berkencan dengan anda?" tanya penyidik.
"Heemmm, di identitas dia status pekerjaannya pedagang nyonya" jelas penyidik.
"Hah? Kau menipuku" Riska melotot ke arah laki-laki yang telah bertukar peluh dengannya tadi.
"Aku bukan atasan mereka" katanya dengan gugup.
"Lalu siapa kau?" hardik Riska.
"Aku orang yang memesan kamu. Bukannya tarif kamu lima ratus ribu an?" tanyanya dengan sangat enteng.
"Hah? Lima ratus ribu gundulmu" jawab sengit Riska, dan melempari orang itu dengan bantal yang ada.
"Sial....sial..." Riska mengacak rambutnya kasar. Apa dia salah kamar, tapi itu nggak mungkin. Dan bagaimana bisa laki-laki itu masuk begitu saja dalam kamarnya. Otak Riska sedang memikirkan semua itu.
"Shiitttttt...aku pasti dijebak" terka Riska.
Umpatan demi umpatan keluar dari mulut Riska.
Untuk kesekian kalinya dia harus ikut ke kantor para penyidik lagi.
Riska dan laki-laki tadi digelandang mengikuti langkah para penyidik dan menjadi perhatian utama para tamu hotel.
"Awas saja kau Mom, kupastikan kau akan kuseret serta dalam kasus ini" gerutu Riska sambil naik mobil dinas itu.
Riska dihadapkan dengan kasus jaringan prostitusi kali ini.
.
Beno dan anak buahnya yang mengaku bernama Anton saat di salon tadi telah sampai rumah sakit.
"Bos, bos besar apa sakit? Ngapain kita ke sini?" tanya Anton.
"Bisa diam nggak sih lo?" tegas Beno.
"Bisa bos, asal diberi makan. Lapar bos" seru Anton.
__ADS_1
"Makan aja lo pikir yang pertama" olok Beno.
"Itu penting bos. Karena pangan itu masuk kebutuhan pokok selain sandang dan papan" tanggap Anton.
"Lagak lo kayak guru sosial aja" Beno menimpali.
"Ayolah bos, nasi goreng boleh. Kalau nggak ada mie goreng tambah boleh. Nggak ada juga, nasi kucing aja dech" Anton masih saja berceloteh bagai beo yang sedang kelaparan.
"Apaan nasi kucing?' sela Beno.
"Dasar bos, nasi kucing aja nggak tahu. Nasi kucing tuh, nasi yang porsinya kecil dan biasanya di jual di warung-warung angkringan pinggir jalan" terang Anton.
"Apalagi tuh angkringan?" Beno masih belum ngeh arah anak buahnya bicara.
"Repot juga bicara dengan bos yang sudah kaya. Ntar cari aja di ponsel mu bos, apa itu angkringan. Yang penting sekarang aku beliin makanan bos, nggak dengar apa kalau perutku sudah demo sedari tadi?" Beno aja malas mendengar celoteh Beno, tapi mulut Anton malah terus saja bicara tanpa bisa direm.
Bunyi ponsel Beno lah yang menghentikan suara Anton.
"Halo bos" sapa Beno.
"Beno, beliin gue makanan. Laper nih!" suruh Raditya.
"Hah? Makanan? Lo belum makan?" tanya Beno.
"Belum. Boleh deh bebek penyet, pakai lalapan yang banyak" pinta Raditya.
"Bebek penyet? Gue nggak salah denger? Bukannya lo nggak suka menu itu?" tanya balik Beno karena merasa heran.
"Nggak usah banyak nanya, beliin aja. Lapar kali aku nih" tukas Raditya dan langsung menutup panggilan.
"Alhamdulillah. Dapat rejeki nomplok nih sepertinya. Minta nya nasi kucing, eh dapetnya bebek penyet" seru Anton dari belakang Beno.
"Lo diam, baru dapat makanan. Sekali lo ngomong lagi, perjanjian batal" ancam Beno.
Beno dan Anton masuk di depan ruang rawat inap Rania, setelah mendapat persetujuan Raditya.
"Gimana keadaan istri lo?" tanya Beno.
Arah mata Beno memerintahkan Anton untuk mengeluarkan apa yang dipesan oleh Raditya.
Anton memilih duduk selonjoran di lantai saat makan. Bahkan nasi yang diordernya dua bungkus untuk dirinya sendiri. Dan kini dia asyik dengan makannya.
Raditya dan Beno tetap duduk di kursi.
"Sejak kapan lo suka ini?" tanya Beno.
"Sejak hari ini" tukas Raditya sembari melahap bebek goreng yang masih hangat itu dengan mencocol ke sambal.
Beno sampai heran melihatnya.
"Eh, bentar...bentar..." sela Beno menghentikan makan Raditya.
"Apaan?" tanya Raditya.
"Jangan-jangan Rania hamil lagi?" tanya Beno dengan kepala mendekat ke arah Raditya. Mencoba menunggu jawaban jujur Raditya.
"Heeemm, emang. Istri gue hamil hampir delapan minggu" terang Raditya.
"Waaahhh topcer juga lo" olok Beno.
"Harus lah" jawab Raditya sembari tersenyum.
Sambil makan Beno melaporkan hasil penyelidikan yang didapat oleh Anton hari ini.
Di tivi ruangan itu, muncul sekilas info. Di sana memberitakan tentang kesuksesan petugas membongkar sindikat prostitusi besar di ibukota.
Beno dan Raditya pun mekihat ke arah tivi itu.
"Eh, bukannya itu istri Mahendra?" ucap Beno.
"Yaaapppp benar tuh" imbuh Raditya.
"Wah, ganas juga dia. Bisa-bisanya menjajakan diri" seru Beno.
__ADS_1
"Mau nyoba?" sindir Raditya.
"Enggak bos. Suerrr. Gue udah tobat tau" tukas Beno terbahak.
"Hussssst, jangan keras-keras. Istri gue baru tidur" larang Raditya.
Dan Beno langsung menutup mulutnya secara reflek.
"Sori...sori..." ucap Beno.
"Lanjut kan laporan lo" suruh Raditya.
"Anton sudah ngedapetin titik terang tentang Dimas dan teman-temannya" ujar Beno memulai laporan.
"Terang aja kita tak bisa menemukan Dimas dimanapun, karena wajahnya telah bertransformasi. Demikian juga Mahendra, dia juga telah berganti identitas dan juga wajah. Ada seorang dokter yang membantu mereka, dia berasal dari luar negeri. Namanya dokter Lee" jelas Beno.
"Jadi yang waktu itu ketemu gue dan Rania di mall adalah Mahendra?" tanggap Raditya. Dan Beno pun mengiyakan.
"Brilian juga ide mereka" jelas-jelas Raditya memuji trik tak masuk akal komplotan mereka
"Lalu siapa dokter Lee itu?" lanjut Raditya.
"Dia yang punya ide dan melakukan operasi perombakan wajah" imbuh Beno.
Raditya manggut-manggut mendengar penjelasan Beno. Ide mereka sungguh di luar nalar Raditya.
"Lantas apa hubungan Dimas dengan mereka? Apa dia tetap akan mencampuri Samudera Grub?"
"Akan kuselidiki motif masing-masing bos" janji Beno.
"Sekalian dokter Lee juga. Ada misi apa dia ke sini dan membuka sebuah usaha ilegal?" lanjut Raditya
"Siap bos que" jawab Beno menyanggupi.
Beno menoleh ke arah Anton, "Sudah tahu kan apa tugas kamu? Segera saja laksanakan!" perintah Beno kepada anak buahnya yang barusan menyelesaikan suapan terakhirnya.
"Oke bos" jawab Anton sambil mengangkat jempol yang belepotan dengan sambal itu.
.
"Yank, kamu di mana? Ngobrol sama siapa?" terdengar suara Rania memanggil sang suami.
"Iya, aku di ruang sebelah nih. Ngobrol sama Beno" beritahu Raditya.
Raditya beranjak mendekati Rania.
"Ada apa?" telisik Raditya karena Rania mendadak terbangun.
"Mimpi buruk?" tukas Raditya asal menebak. Eh malah Rania mengangguk.
"Mau kutemenin? Kan kusuruh Beno pergi. Biar besok dia kembali ke sini jemputin aku" ujar Raditya dan disetujui oleh Rania.
Raditya menyuruh Beno secepatnya untuk mencari jawaban teka teki yang diutarakan tadi.
Raditya kembali mendekat ke arah Rania dan mengecup lembut kening sang istri.
Rania malah meminta dielus-elusin perutnya.
"Nyaman sekali bila kau pegang yank" bilang Rania.
"Rasa tak nyaman dan kadang melilit hilang begitu saja, saat tangan Raditya mampir ke sana.
.
Di salon, mereka berempat sedang terlibat pembicaraan serius.
Bukan lagi topik awal yang mereka bicarakan waktu awal kerjasama, tapi sebuah konsep tentang tata cara peredaran obat bius yang ditawarkan oleh dokter Lee.
Bahkan keuntungan mereka lumayan besar. Sangat besar malah.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
to be continued, happy reading
__ADS_1