
Riska datang saat Raditya dan Rania pamitan dengan tuan Handono. Sementara papa Andrian dan mama juga telah balik ke hotel terlebih dahulu.
"Biar aku yang ngadepin" kata Raditya.
"Tuan, apa yang kamu lakukan pada suami aku?" tanya nya ketus.
"Emang apa yang aku lakukan?" tanggap Raditya.
"Kenapa Mahendra digelandang pihak berwajib?" seru Riska.
"Untuk bertanggung jawab apa yang dilakukannya" terang Raditya.
"Emang apa yang dilakukannya?" tukas Riska.
"Tanya pada suami kamu" suruh Raditya.
Raditya menggandeng Rania untuk segera ke mobil.
Riska mencengkeram bahu Rania.
"Wanita sialan, karena kamu Mahendra melakukan semuanya" umpat Riska.
Rania berhenti dan menepis kuat tangan Riska.
"Karena Mahendra masih menyukai kamu Rania. Bahkan dia tak mau biayai anaknya sekarang" kata Riska tetap menghalangi jalan Rania.
"Cih...itu urusan kamu" timpal Rania.
"Sombong ya kamu. Mentang-mentang sudah bersuamikan orang kaya" kata Riska menimpali.
"Sayang, ayo balik. Ngapain kamu ladenin?" ajak Raditya menggandeng Rania. Bahkan sebutan sayang sudah meluncur mulus dari bibir Raditya.
Rania sampai memandang aneh ke arah suami yang baru saja selesai mengikrarkan ijab kabul hari ini.
"Ayo...kok malah mandangin aku? Terpesona ya?" kata Raditya dengan mengurai senyum terindah untuk Rania.
"Apaan sih?" ujar Rania tersipu.
Riska memandang jengah ke arah pasangan baru yang tak memperdulikan dirinya saat itu.
Dengan kalap Riska mencengkeram bahu Rania, membuat Rania meringis menahan sakit.
Beno datang menghampiri dan memegang erat tangan Riska.
"Kamu tidak tahu siapa yang kamu hadepin, jangan neko-neko" jelas Beno dengan tetap memegang erat tangan Riska.
"Ha...ha...hanya wanita yang suka selingkuh saja, aku tak takut dengan kamu Rania" Riska semakin menjadi.
Raditya menghentikan langkah. Dan memandang tajam ke arah Riska. Seandainya dia bukan wanita, Raditya pasti sudah menghajarnya tanpa ampun.
"Apa tuan? Nggak terima? Emang itu kenyataannya" kata sengit Riska terucap.
"Beno, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan" kata Raditya ke arah Beno.
"Apa perlu kejadian delapan bulan lalu, saat seorang wanita mencampurkan sesuatu ke minuman nyonya Rania kita laporkan? Buktinya sudah cukup untuk membuatnya mendekam di balik jeruji besi" kata Beno.
Riska yang mendengar akhirnya diam.
Raditya berlalu begitu saja dari hadapan wanita licik itu dengan tetap menggandeng sang istri.
Sepeninggal Raditya dan Rania, barulah Beno melepas genggaman tangannya.
"Kalau tuan Raditya mau, kamu sudah menyusul kemana tempat suami kamu berada sekarang" seru Beno di depan Riska.
Riska menatap tajam Beno.
"Awas saja kalian. Beraninya membuat aku menderita" ancam Riska.
"Ha...ha...wanita sepertimu tak layak untuk mengancam kami. Enyah kamu dari sini" usir Beno.
__ADS_1
Riska pergi berlalu dengan rasa yang menggondok dan mengganjal di tenggorokannya.
Saat Riska akan naik ke mobil, sebuah tarikan tangan memaksanya untuk ikut dengannya.
Riska menatap tak percaya siapa yang menariknya saat ini.
"Musuh kita sama, sebaiknya kita kerjasama. Aku dapat Raditya dan Mahendra juga aman bersama kamu" katanya dengan culas.
Bagai menemulan jalan terang, Riska pun langsung menyetujui apa yang dibisikkan oleh wanita yang ternyata belum pergi dari acara itu.
.
Tuan Handono menghampiri Beno yang saat itu masih tersisa dengan beberapa anak buah yang membantu menyelesaikan acara beres-beres di rumah tuan Handono.
"Apa sebenarnya yang terjadi Beno?" tanya nya.
"Oh iya tuan...ini lho..." kata Beno.
"Panggil ayah aja, seperti Raditya memanggilku. Kamu juga anakku. Makasih telah bantu kami semuanya" imbuh tuan Handono sembari menepuk bahu anak muda yang menjadi asisten menantunya itu.
"Sama-sama ayah" tukas Beno.
"Lekas ceritain, apa yang sebenarnya terjadi?" lanjut tuan Handono.
"Bos Raditya belum cerita Yah?" sela Beno.
"Sudah sih, tapi hanya beberapa penggal aja" jelas nya.
"Ya begitulah Yah. Intinya kejadian lahirnya kembar itu semua ada sangkut pautnya antara Mahendra dan Riska" terang Beno.
"Aksi jebak menjebak itu?" tukas tuan Handono dan Beno pun mengangguk.
"Lantas apa benar Mahendra mengkhianati anakku duluan?" tanya tuan Handono penasaran, dan ingin memastikan apa anak Riska juga anak Mahendra. Tuan Handono teringat akan usia kehamilan Riska yang diralat saat itu.
"Apa harus kujelaskan Yah. Nanti ujungnya menggibah dong" ungkap Beno.
"Yah, karena sudah selesai boleh kita pamit" ucap Beno.
"Silahkan aja" terang tuan Handono menyetujui Beno.
.
Sore hari keluarga besar akan berkumpul di penthouse Raditya yang baru beberapa hari lalu dibeli olehnya.
Tuan Handono dan nyonya dijemput khusus oleh pak Supri.
"Pak, kalau melihat nih mobil. Aku tebak ini pasti mobil mewah" kata nyonya Handono.
"He...he....benar bu" tukas pak Supri.
"Interior bagus, wangi lagi" lanjut ibu Rania.
"Berapa harganya pak?" tanya ibu Rania penasaran membuat pak Supri garuk kepala.
"Berapa ya bu? Mungkin lima milyaran" jelas pak Supri.
"Wooooowwww...benarkah? Aku nggak bisa bayangin kayanya mertua Rania" decak kagum dari suara ibu Rania terdengar jelas.
"Biasa saja bu. Tuan Andrian sangatlah sederhana, dan tak senang memperlihatkannya" jelas pak Supri.
"Benar itu pak. Nyatanya tuan Andrian mau saja mempunyai besan macam kami" sela tuan Handono.
"Jangan merendah tuan" tukas pak Supri.
Sampai di apartemen tempat Raditya tinggal, ibu Rania semakin dibuat kagum.
"Pak, anakku tinggal di lantai berapa?" tanyanya semakin penasaran.
"Heemmmm berapa ya nyonya?" pak Supri balik bertanya dengan tangan menggaruk kepala nya yang tak gatal.
__ADS_1
"Lho kok malah balik nanya sih?" sahut nyonya Handono.
"Saya nggak hafal bu. Yang saya tahu, tuan muda tinggal di lantai teratas" terang pak Supri.
Rania menyambut kedatangan ibunya dengan senang. Sebuah dress cantik polos warna marun membuatnya nampak anggun nan cantik.
"Yah, Rania cantik sekali ya?" puji nyonya Handono dengan bertanya ke sang suami.
"Jelas lah. Anak ayah" tukas tuan Handono sambil tertawa.
Ibu Rania hanya mencebikkan bibir karena jawaban suaminya barusan.
"Oh ya Rania, mana cucu-cucu ibu?" tanyanya.
"Di kamar bu. Ayo kalau mau ke sana" ajak Rania.
"Ayah di sini aja sama Radit, ngobrol" tukas Raditya yang baru keluar kamar.
"Segar sekali muka kamu Raditya?" ledek tuan Handono.
"Aura pengantin baru nih Yah" seloroh Raditya bercanda.
"Ha...ha...pengantin yang dianggurin" ledekan ayah mertua kembali terdengar.
Raditya tersenyum kecut menangapi sang ayah.
"Sabar Raditya, orang sabar itu subur" nasehat tuan Handono.
Ayah mertua nya tak tahu, jika beberapa waktu yang lalu bagaimana Raditya susah payah menahan godaan kala membantu Rania membuka kebaya yang sangat pas nempel di badan.
Punggung mulus bak pualam tersaji indah di pelupuk mata. Hanya saja saat ini hanya fatamorgana bagi Raditya. Yang membuat buram pandangan netranya.
Itu baru punggung, belum yang lain.
Raditya geleng-geleng dengan otak mesum nya saat ini.
"Kenapa geleng-geleng? Ada yang salah dengan kata-kata ayah?" tanya tuan Handono.
"Eh, enggak kok Yah" sahut Raditya salah tingkah.
Tak lama setelah itu papa dan mama Raditya pun datang ke sana.
Tuan Andrian nimbrung dengan besan barunya, sementara mama menyusul Rania dan ibu yang berada di kamar si kembar.
"Raditya, segera saja kamu legalkan status kembar" suruh tuan Andrian.
"Rencanaku juga begitu Pah. Selepas balik ke ibukota, akan segera kuurus" terang Raditya.
"Kapan kalian rencana pergi?" ada rasa berat di suara tuan Handono.
"Jangan kuatir ayah, pintu rumah kami akan selaku terbuka untuk kedatangan ayah dan ibu" kata Raditya.
"Harusnya kamu yang sering mendatangi orang tua Raditya. Bukan malah menyuruh orang tua" sela tuan Andrian.
"Kan malah bisa kumpul bersama di rumah aku Pah. Seperti ini" kata Raditya menimpali.
"Begini Yah, aku akan memboyong Rania ke ibukota. Kalau urusan ku di sini telah kelar" terang Raditya.
"Apa urusan Mahendra dan kawan-kawan?" tanya tuan Handono.
Raditya menatap papanya.
"Benar, karena ulah mereka perusahaan kami mengalami kerugian yang lumayan besar" kata papa Andrian menengahi.
Tuan Handono mengangguk dan tak mau membahas lagi tentang Mahendra.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
__ADS_1