Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Memberikan Kesaksian


__ADS_3

Hari ini Raditya dan Beno akan menghadap penyidik untuk memberikan kesaksian terkait kasus yang Beno laporkan sebelumnya.


"Sayang, hari ini aku sama Beno akan ke penyidik. Mungkin setelah kasus ini selesai kita akan segera pindah ke ibukota" beritahu Raditya.


Panggilan Raditya sudah berganti aja untuk Rania.


Rania yang sedang sibuk dengan si kembar, menghentikan aktivitasnya sejenak.


"Ke penyidik?" tukas Rania.


"Heemmm, kasus Mahendra dan teman-temannya yang aku laporin sebelumnya. Penggelepan dan penipuan uang perusahaan" jelas Raditya.


Rania yang selama ini pernah hidup bersama Mahendra, "Apa mungkin Mahendra melakukan semua itu?" tanya Rania.


"Kamu meragukan aku?" telisik Raditya.


"Bukan seperti itu?" geleng Rania.


"Lantas?" balas Raditya.


"Kalaulah memang dia melakukan, aku lihat Mahendra tetap saja seperti itu. Rumah, mobil dan semuanya tak ada yang berubah. Masih sama dengan waktu kita joinan beli" terang Rania.


"Padahal kalau bisa menuntut itu termasuk gono gini. Tapi ya sudahlah. Gono gini dari kamu waktu itu plus sisa tabungan sudah lebih dari cukup buatku" imbuh Rania.


Uang seratus juta yang sangat kecil bagi Raditya, ternyata sangat bermanfaat buat wanita yang sekarang jadi istrinya itu.


"Maaf" ucap lirih Raditya.


"Untuk kamu tahu, tidak ada sisa rasa sedikitpun untuk Mahendra. Dan sekarang aku berusaha belajar untuk menerima kamu. Aku juga minta maaf untuk itu, beri aku waktu" ucap Rania.


Raditya mengangguk.


Sungguh aku harus bisa menakhlukkan hatinya. Janji Raditya dalam hati.


Sementara Rania kembali sibuk dengan urusan kembar.


Saatnya kedua bayi mandi pagi.


Sedikit-sedikit Rania mulai tak bergantung dengan para perawat yang ditugasi oleh Raditya.


"Sini aku bantuin, ambilin apa nih?" tanya Raditya.


"Heemmm, baju ganti sama popok sekali pakai aja" beritahu Rania.


"Oke, siap ratuku" tukas Raditya dengan canda.


Rania sedikit menyunggingkan senyum untuk papa si kembar.


"Wah, popoknya tinggal sedikit nih. Selesai dari penyidik, kita belanja aja" ajak Raditya.


"Biar dibeliin bu Marmi aja" kata Rania untuk menolak halus permintaan Raditya.


"Ayolah sayang, kemarin-kemarin kita sudah buat repot bu Marmi terus. Biar bu Marmi istirahat, kita aja yang beli" rayu Raditya.


Rania terdiam.


"Bagaimana? Kamu siap-siap aja. Mungkin aku tak akan lama di depan penyidik" Raditya menunggu jawaban Rania.


Rania mengangguk mengiyakan permintaan sang suami. Bagaimanapun juga Raditya adalah imamnya sekarang.


Tak menunggu lama, Raditya telah memeluk Rania dari belakang. Rania yang kembali sibuk dengan urusan kembar.


"Makasih" cium Raditya di tengkuk Rania membuat bulu kuduk Rania meremang.


Bagaimanapun juga pelukan Raditya selalu memberikan efek tersendiri buat jantung Rania. Jantung yang akan berdetak lebih cepat dari normal.


Dengan tetap memeluk sang istri, "Oh ya sayang, anak-anak kita sebaiknya dikasih nama siapa? Sudah ada ide?" tanya Raditya.


Rania berbalik untuk menatap Raditya.

__ADS_1


"Kalau kamu?" tanya balik Rania.


Raditya yang ditatap sedemikian rupa malah tak fokus dengan pertanyaan Rania. Raditya jadi gemas sendiri dengan bibir merah merona. Rasanya ingin menggigit saja.


Reflek Raditya mencium nya. Rania yang tak siap dengan pergerakan Raditya malah tertegun, memberikan kesempatan Raditya untuk mengeksplornya.


Setelah puas, "Maaf aku tak tahan" bilang Raditya.


Rania masih saja terdiam. Terjadi pergolakan batin. Hati yang berusaha menolak, tapi fisik nyatanya merasa nyaman dengan setiap sentuhan laki-laki yang sekarang sudah sah menjadi suaminya itu.


"Akan aku tunggu sampai kamu siap. Aku tak akan memaksa. Lagian kamu masih nifas kan?" tukas Raditya.


Bilangnya tak mau memaksa, tapi tetap saja ada embel-embel karena aku belum selesai masa pasca salin. Pikir Rania.


Ponsel Raditya berdering, Beno calling.


"Bos, gue sudah di basement. Turun aja. Gue lagi males naik. Takutnya lihat adegan ehem-ehem di aperteman loe" bilang Beno begitu saja kala panggilan tersambung.


"Tungguin, aku sarapan dulu sama istriku" sengaja Raditya menekan kata istriku di depan Beno.


"Sialan loe, sengaja ya?" umpat Beno.


"Ha...ha...." Raditya menanggapi dengan tawanya.


"Hussttt, jangan keras-keras" suara Rania berbisik dan mengangkat telunjuk ditempelkan di bibir. Isyarat agar Raditya menurunkan nada suara.


"Oke Beno, tunggu saja" bilang Raditya berbisik seperti yang diminta sang istri.


Memang benar apa kata Rania, kedua bayi yang barusan tertidur itu kembali membuka mata terang saat mendengar suara tawa Raditya.


"Yaaaaccchhhh kan bangun lagi mereka. Katanya papa nya mau sarapan?" bilang Rania.


"Kubantuin tenangin dulu aja" Raditya mengambil satu bayi untuk digendong.


Demikian juga Rania melakukan hal yang sama.


"Haus kali yank" ungkap Raditya.


"Sepertinya begitu" jawab Rania.


"Kamu duduk aja, aku bantuin" seru Raditya.


"Nggak panggil bu Marmi aja?" tanya Rania. Rania masih sungkan tentu saja jika Raditya melihat kedua aset yang dibilang Raditya sebesar melon. Memang sejak hamil si kembar, keduanya pun ikut tumbuh. Dan semakin kencang tentu saja.


"Aku kan sudah bilang, jangan selalu ngrepotin bu Marmi" jelas Raditya.


Si kembar tengah menangis, "Ayolah, apa nggak kasihan sama mereka?" ujar Raditya.


Mau tak mau Rania berposisi seperti biasa, untuk memberikan ASI pada kembar secara bersamaan.


Tentu saja ulah si kembar, menjadi godaan besar bagi papa nya.


Hal indah terpampang di depan mata, saat si kembar menghisap pabrik susu itu.


"Kalian kompak menggoda papa ya?" ujar Raditya yang hanya bisa menelan ludahnya kasar.


Rania yang kadang meringis seperti menahan sesuatu.


"Kenapa?" tanya Raditya yang melihat itu.


"Enggak kok, kadang mereka menghisap terlalu kuat. Jadinya berasa perih" ujar Rania.


"Nanti malam aku juga minta" kata Raditya absurd.


Sungguh Raditya tak bisa nahan melihat keduanya turun naik karena hisapan mulut kedua bayi itu.


Hanya rona merah sebagai tanggapan Rania.


"Boleh ya?" sengaja Raditya mengulang, karena ingin jawaban pasti dari sang istri.

__ADS_1


Rania mengangguk. Bagaimanapun Raditya punya hak atas dirinya.


Raditya melonjak girang. Bagai anak kecil yang mendapatkan lotre dari mainan yang dibeli.


Karena sudah tenang, kembali si kembar ditaruh di box.


Raditya yang tak tahan melihat milik Rania.


"Bentar yank, aku bantuin" modus Raditya.


"Sedikit aja ya?" Raditya dengan mata berkabut.


"Katanya nanti malam?" tukas Rania.


"Ini nyicil sedikit aja yank" lanjut Raditya.


Tanpa menunggu jawaban Rania, mulut Raditya sudah terbenam di sana. Seperti halnya si kembar, papa nya pun melakukan hal yang sama.


Rania dibuat tak berkutik oleh ulah Raditya.


******* lolos begitu saja.


Raditya menghentikan sebelum semua kebablasan.


"Tunggu nifas kamu selesai yank. Makasih untuk yang barusan. Nikmatnya....heem... Luar biasa" kata Raditya absurd.


Rania menahan rasa malunya yang luar biasa. Bisa-bisanya dia mengeluarkan suara itu kala Raditya melakukan hal tadi.


"Jangan malu...bahkan saat itu suara kamu lebih dari yang tadi" ledek Raditya membuat pipi Rania semakin memerah bagai tomat rebus.


Ponsel Raditya kembali berdering.


"Nggak sabar amat sih Beno" gerutu Raditya.


"Sayang, aku buru-buru nih. Maaf ya nggak nemenin kamu sarapan" kata Raditya tanpa mengangkat panggilan Beno.


"Iya nggak papa. Kasihan Beno" papar Rania menanggapi Raditya.


.


Dan sinilah Raditya dan Beno sekarang. Mereka berdua tepat di depan penyidik untuk memberikan keterangan.


"Selamat pagi tuan Raditya. Akhirnya setelah sekian lama, aku bertemu dengan anda. Selama ini hanya tuan Beno lah yang sibuk wara wiri ke sini" sapa petugas yang pegang kasus ini.


Raditya tersenyum tanpa ada kata keluar dari mulutnya.


"Silahkan dimulai aja tuan" sela Beno.


"Baiklah" jawabnya.


Ada beberapa pertanyaan yang musti dijawab oleh Raditya keterkaitan dengan kasus penggelepan di perusahaannya.


Dan lebih menarik lagi, laporan tentang jebakan yang dilakukan oleh Mahendra.


"Jadi saat itu anda sendiri yang berada di sana bersama istri terlapor?" tanya penyidik.


"Benar" tukas Raditya hemat kata.


"Oh ya tuan, dalang semua sampai saat ini belum kesentuh" terang Beno.


"Maaf berdasar keterangan dari mereka, tidak ada yang menyebutkan jika mereka mendapat perintah dari atasannya. Jadi mereka merubah kesaksian sebelumnya" terang penyidik.


Raditya dan Beno saling bersitatap. Dengan begitu, Dimas bisa lepas dari jeratan semua? Bahkan anak buah setianya rela menggantikan dirinya untuk di penjara.


Sialan Dimas. Umpat Raditya tanpa suara.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading guysssss

__ADS_1


__ADS_2