
Raditya menelpon Beno kembali.
"Beno, tolong kamu siapin untuk acara pemakaman Chiko" perintah Raditya.
"Aku tuan? Bener nih nggak salah orang? Dia punya bapak loh tuan?" konfirm Beno, takutnya sang bos salah orang karena ikutan kalut calon istrinya tengah kehilangan.
"Beno" kata Raditya dengan nada mulai naik.
"Oke, aku sedang di kantor polisi buat laporan ini" terang Beno.
"Sori tuan, jenazah mau dikebumikan di mana? Tempat tinggal Mahendra atau tempat tinggal tuan Handono?" kata Beno menegaskan. Jangan sampai liang lahat buat dua karena keegoisan seseorang. Hal itu tak terpikir sama sekali oleh Raditya.
"Ntar kukabarin. Aku tanyakan dulu" jawab Raditya.
Panggilan terputus begitu saja.
Bagaimanapun Mahendra adalah ayah kandung dari Chiko, tentu dia yang harus ambil keputusan.
Saat Raditya hendak menghampiri Mahendra, di sana sudah ada tuan Handono yang mengajak bicara Mahendra perihal jenazah Chiko di mana akan dimakamkan. Raditya pun mengurungkan niatnya.
"Rania, sebaiknya kamu pulang dulu saja sama ibu kamu" suruh tuan Handono.
"Jenazah akan dikebumikan di mana Yah?" tanya Raditya.
"Di kompleks perumahan tempat tinggal ayah" jelas tuan Handono.
Raditya pun mangangguk tanda mengerti. Dan segera menghubungi Beno kembali.
"Aku mau ke ruang bayi dulu" kata Rania lirih.
Raditya menautkan alisnya, "Mau ngapain? Mereka sudah kutitipin ke suster-suster yang ada di sana" terang Raditya.
"Aku mau pamitan ke mereka. Sebentar aja" lanjut Rania.
"Aku anterin" kata Raditya tanpa mau dibantah.
.
Dan disinilah mereka sekarang, setelah pamitan ke si kembar. Rania dengan ditemani Raditya telah sampai di pemakaman putra pertama Rania dengan Mahendra.
Beno lumayan cekatan juga menyiapkan semuanya.
Raditya memapah tubuh Rania yang masih nampak lelah. Lelah jiwa lelah raga.
Seorang wanita setengah baya menghampiri Rania.
Tangannya sudah mengayun ke atas hendak menampar pipi Rania.
Raditya yang mengetahui hal itu dengan sigap menahannya.
"Oooooo...jadi gara-gara laki ini kamu tega ninggalin putraku. Licik juga kamu Rania?" ucapnya tanpa basa basi.
Rania mendongak menatap wanita yang merupakan mantan ibu mertuanya itu.
"Siapa anda?" hardik Raditya.
"Tanya aja wanita yang ada di sampingmu itu. Siapa aku" katanya ketus.
__ADS_1
"Oooooo jadi anda mantan mertua Rania, yang tak tahu diri itu?" jawaban Raditya lebih ketus lagi setelah diberitahu Rania barusan.
"Kalau anda tak tahu cerita yang sebenarnya, sebaiknya diam dan jangan asal tuduh. Tanya kebenaran pada putra kesayangan kamu dan menantumu itu, apa yang sebenarnya terjadi" gertak Raditya.
"Kau????" wanita setengah baya itupun melotot ke arah Raditya.
"Apa? Jangan dikira aku takut nyonya. Kalau aku mau, bisa saja aku menjebloskan Mahendra ke penjara saat ini juga" lanjut Raditya.
Bahkan wanita itu membalas kata-kata Raditya dengan ucapan yang lebih kasar.
Saat Raditya akan membalas, tapi tangan Rania menggenggamnya erat.
Raditya menengok ke arah Rania, sebuah gelengan lemah dari kepalanya menandakan dia tak mau Raditya meladeni mantan mertuanya itu.
"Kenapa? Takut ya?" kata wanita itu sinis.
Kehadiran Raditya saat ini sangat membantu Rania. Entah kenapa dalam hati Rania mulai ada rasa ketergantungan pada nya.
Air mata kembali lolos begitu saja, saat jenazah Chiko dikebumikan. "Bunda ikhlas nak, bunda ikhlas" ucap Rania lirih. Dan sedetik kemudian Rania pingsan lagi. Untung saja Raditya segera menangkap tubuh yang limbung itu.
"Aktingnya sudah seperti artis profesional saja" sindir wanita yang notabene manta mertua Rania.
Ingat akan pesan Rania tadi, maka Raditya pun tak menggubrisnya sama sekali.
"Riska, mana Mahendra?" tanyanya pada menantunya yang sekarang sedang hamil tua itu.
Raditya yang sedang menyangga Rania yang pingsan pun masih mendengar obrolan mereka berdua. Tak mau kepo sebenarnya, tapi pembicaraan mereka sungguh tak ada kontrol nada sama sekali.
"Mahendra menghindar Mah, takut dimintain dana buat acara pemakaman ini" jelas Riska.
Ini anak kandungnya loh. Hati Raditya miris mendengar obrolan mereka.
"Tindakan Mahendra benar kalau begitu. Apalagi papa nya saat ini waktu kontrol, pasti butuh biaya banyak. Biar saja semua diurus Rania dan calon suaminya itu" tukas wanita setengah baya yang sepertinya sangat culas itu.
Raditya mengepalkan tangannya kencang. Untung saja ada kejadian malam itu Rania, kamu akhirnya bisa bebas dari tangan besi keluarga Mahendra. Meski kamu harus menderita selama ini. Aku janji akan membahagiakanmu ke depannya.
"Raditya, Rania pingsan lagi?" tuan Handono menghampiri.
"Bawa aja ke rumah. Sepertinya dia kelelahan" imbuh nyonya Handono.
Raditya menggendong tubuh kurus Rania dan membawanya ke kediaman tuan Handono yang jaraknya butuh sepuluh menit untuk sampai.
"Wah, lumayan tuan untuk olahraga pemanasan" olok Beno saat melihat Raditya dengan nafas ngos-ngosan mengangkat tubuh Rania.
"Mau dibantuin?" Beno menawari.
"Nggak usah" tukas Raditya. Mana dia rela tubuh Rania dijamah oleh Beno, meski hanya kakinya saja. Egoisme laki-laki...he...he...
Raditya meletakkan tubuh Rania di kamar yang ditunjukkan oleh nyonya Handono.
"Makasih Raditya, silahkan keluar sebentar. Akan aku longgarin baju Rania dan kuolesin minyak angin biar lekas siuman" terang nyonya Handono.
Raditya keluar dan menghampiri Beno yang duduk di bawah pohon rindang. Para pelayat pun telah meninggalkan kediaman. Tuan Handono juga sudah datang dari makam.
"Masuk aja kalian" suruhnya.
"Di sini aja Yah, hawanya seger" bilang Raditya.
__ADS_1
"Wah, sudah ayah aja manggilnya. Kemajuan pesat bos" Beno masih saja mengolok Raditya.
"Bos, aku kok nggak lihat batang hidungnya Mahendra?" sela Beno yang celingak celinguk nyariin.
"Dia menghilang, takut ditagih biaya pemakaman" terang Raditya.
"Waooowwww...gila tuh orang. Anak kandungnya loh bos ini yang meninggal" tukas Beno tak percaya.
"Sudah kamu selesaikan semua kan?" konfirm Raditya.
"Rebes bos, apa yang enggak sih buat bos" celetuk Beno tetap saja dengan gurauan garingnya.
Riska yang menggandeng ibu mertuanya sengaja menghampiri keberadaan Raditya dan Beno.
"Tuan Raditya, makasih semua atas bantuannya. Kalau enggak entah bagaimana nasib jenazah anak itu" katanya.
Sungguh muka Riska terbuat dari apa. Beton pun kalah tebal dengan mukanya. Bisa-bisanya dia menghampiri Raditya tuk mengatakan semua itu.
"Suami kamu di mana nyonya?" tanya Beno seolah-olah belum tahu.
"Ooooo...suamiku ada di rumah tuan. Sepeninggal putra kesayangannya dia bolak balik pingsan. Kondisinya terlalu lemah untuk datang ke pemakaman" terang Riska. Seolah-olah semua yang dikatakannya benar adanya. Itu bagi yang tidak tahu. Bagi Raditya, dirinya hanya memandang sinis ke arah Riska dan mantan mertua Rania itu.
"Pintar nya bersilat lidah" ungkap Beno kala Riska dan mertuanya sudah menjauh darinya.
"Keberuntungan Rania bisa lepas dari mereka" imbuh Raditya melengkapi perkataan Beno.
"Yeeeessss...bener tuh bos" tandas Beno.
Raditya dan Beno masuk untuk pamitan ke tuan Handono dan yang lain.
"Makasih nak Raditya, entah apa yang terjadi jika tak kamu bantu" ungkap nyonya Handono.
"Sama-sama bu. Kami pergi dulu. Salam buat Rania" pamit Raditya.
"Iya, nanti kusampaikan. Biar dia istirahat dulu" ucap nyonya Handono.
Raditya dan Beno meninggalkan kediaman tuan Handono.
"Kita cari apartemen Beno" pinta Raditya.
"Ealah bos, nyariin apartemen seperti nyari donat aja" canda Beno.
Raditya tak bergeming.
"Bakalan lama nih tinggal di kota ni" gumam Beno sambil mengusap tengkuknya kasar.
"Bisa karatan nih punyaku, lama tak kesentuh Siska. Siska aku padamu" Beno terus saja berceloteh.
Tabokan Raditya tepat mengenai kepala Beno.
"Sakit bos" keluh Beno.
"Ngomong tuh yang berfaedah gitu loh" balas Raditya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
to be continued, happy reading
__ADS_1