
Rania tetap mengajak ngobrol Chiko, meski Rania merasa belum ada respon apapun dari sang putra.
Setelah puas, Rania pun pamitan kepada Chiko.
"Kak, sekarang giliran bunda jenguk adik-adik kamu ya. Lekas sehat-sehat lah kalian semua. Bunda janji akan menyayangi kalian semua" ucap Rania dan sedetik kemudian mengecup kening seakan Chiko sedang tidur nyenyak.
Rania memutar arah kursi roda yang sedang dinaiki olehnya saat ini.
"Heemmmm, untung elektrik. Jadi nggak begitu berat memutar roda" gumam Rania.
Rania mencari bu Marmi yang tadi pamitan ke toilet.
Mau nelpon, Rania saat ini juga sedang tak membawa ponsel.
Rania mulai mengarahkan laju kursi roda ke ruang intensif bayi baru lahir.
Entah siapa yang mengundang, selalu saja Rania ketemu dengan Riska saat berada di luar kamar rawat nya.
'Heemmmmm, sudah seperti jelangkung aja dia. Datang tak diharap, pergi pun masih buat masalah' gerutu Rania dalam benak.
Dengan tatapan sinis Rania mendekat.
"Mana laki loe yang sok kaya itu?" tanya Riska dengan ketus.
"Siapa ya?" Rania menanggapi. Rania tak akan tinggal diam sekarang, andaikata Riska berbuat lebih.
"Aku mau tagih janjinya buat kasih uang ke aku. Bahkan jika anakmu yang menyusahkan itu hak asuhnya berpindah ke kamu, akan aku ikhlasin. Suami ku kan akan dapat putra dari perutku ini" jelas Riska dengan menunjuk perutnya yang membesar.
"Ha...ha...jadi Mahendra mau jual anakku? Apa segitunya dia jatuh miskin? Hingga membiayai anaknya saja dia harus menyerahkan ke orang lain" tukas Rania. Rania tak mau diinjak-injak lagi oleh Riska.
"Asal kamu tahu, rumah dan mobil yang kamu naikin dengan angkuh itu ada sumbangsih dari gajiku" sindir Rania.
"Kalau kalian tak ada biaya, jual aja tuh mobil. Aku ikhlas kok" sambung Rania.
"Enak aja, lantas aku ke mana-mana pakai apa dong" tandas Riska tak mah kalah.
"Jalan kaki lah. Dua kaki mu itu kan bisa digunakan" olok Rania. Kata-katanya semakin tajam saja ke Riska.
"Kuamati, sejak Mahendra menikah dengan kamu. Kok makin miskin aja sih???" celetuk Rania.
"Apa kamu bilang?" Riska mendekat. Ibu hamil itu hendak mencakar muka Rania.
Tapi sebelum itu terjadi, datanglah sepasang suami istri yang melerai mereka berdua.
Beberapa waktu sebelumnya, kedua orang setengah baya itu telah mengamati dari jauh perdebatan kedua wanita muda seusia.
Mereka tahu Rania berdasar laporan pengawal yang selalu setia menjaga kamar rawat, karena memang belum bertemu langsung dengan Rania. Para pengawal itu melaporkan kalau Rania sedang berada di ruang intensif sekarang.
Maka kedua orang tua itupun menyusul untuk mencari keberadaan Rania.
__ADS_1
Tak dinyana malah dilihatnya sang calon menantu yang sedang berdebat dengan wanita hamil.
"Ada apa ini?" sela Tuan Andrian. Laki-laki yang sudah berumur tapi nampak sangat berwibawa itu.
Tanpa menghiraukan suara tuan Andrian, Riska terus saja hendak mendekati Rania.
Nyonya Andrian yang mencoba menghalangi, malah ditepis oleh Riska membuatnya hampir terjatuh.
Para pengawal dengan sigap mencekal Riska.
"Heh, kalian lagi? Tak henti-hentinya menghalangiku" hardik Riska.
Kedua tangan Riska dipegang erat oleh kedua pengawal.
"Maaf nyonya atas kelengahan saya" kedua pengawal itu membungkuk ke nyonya Andrian.
Rania pun ikutan menoleh ke wanita yang nampak sangat anggun itu.
Tak sengaja tatapannya bertemu dengan nyonya Andrian.
"Pagi sayang. Kamu Rania kan?" nyonya Andrian menghampiri Rania, seakan melupakan kejadian barusan yang membuat dirinya hampir terjengkang.
"I...i...iya nyonya" jawab Rania gugup.
Wajah cantik wanita berumur itu membuat Rania merasa insecure. Dirinya dengan paket komplit, wajah pucat mata sayu... Jelas sangat berbanding terbalik dengan wanita di depannya ini.
"Aku ini mama nya Raditya, calon suami kamu" terang nyoya Andrian dengan wajah hangat.
"Ooooooo...jadi kamu sudah mendapatkan restu dari kedua orang tua ini. Pakai ilmu pelet apa kamu Rania???" olok Riska, yang aslinya merasa iri akan nasib baik yang selalu berpihak ke mantan sahabatnya itu.
Rania melotot tajam ke arah Riska.
"Ngapa lihat-lihat? Benar kan apa yang aku bilang barusan? Kamu buang kakap malah dapat paus Rania" kembali Riska menyindir Rania.
Rania malah tersenyum, "Makasih ya, setelah kamu jebak malah aku yang dapat pausnya...ha...ha..."
Riska semakin emosi dan meronta meminta lepas, tapi tak dibiarkan begitu saja oleh kedua pengawal itu.
Hingga Mahendra datang juga di tempat kejadian.
Mahendra yang ingin menjemput sekaligus mengantar sang istri ke tempat kerja pun menghampiri Riska.
"Huh, beraninya main keroyok" bilang Mahendra sengaja menyindir Rania.
"He...he...suami istri yang kompak. Bisanya hanya menyela orang tapi tak pernah evaluasi diri sendiri" ucap Rania.
Mahendra mendekati Rania dan mengangkat kedua tangannya.
"Apa? Mau mukul? Ingat di sini banyak saksi" Rania hanya bereaksi santai.
__ADS_1
Tuan Andrian yang coba membaca situasi.
'Apa ini mantan suami Rania yang pernah dibicarakan Raditya? Kalau benar, dia lah manager anak cabang yang juga ikut berperan dalam misi penjebakan Raditya' pikir tuan Andrian menganalisa.
Mahendra pun menghentikan aksi nya.
"Riska, ayo!" ajaknya. Sepertinya Mahendra tak ingin berdebat kali ini.
"Sayang, kok buru-buru sih? Aku ke sini duluan, karena ingin minta uang buat biaya Chiko. Anak kamu sama Rania" Riska masih enggan meninggalkan tempat.
"Oh ya nyonya dan tuan yang terhormat. Asal kalian tahu, Rania itu janda beranak satu. Dicerai suaminya karena suka selingkuh. Masih yakin menjadikannya menantu?" kata Riska dengan sinis.
Rania sudah tak sabar lagi, dia bangun dari kursi roda hendak menjambak rambut wanita yang tak sopan itu.
Tapi sebuah tangan menahan nya, "Kalau kamu emosi, maka kamu tak jauh beda dengannya. Kalau mau balas dendam, harus berkelas dong" sarannya perlahan penuh kemantaban.
Rania menengok, ternyata nyonya Andrian yang mencoba menahannya tadi.
Riska terus mengoceh, "Bahkan Rania juga punya anak di luar nikah loh nyonya".
"Heemmm, sudah selesai bicara?" sela nyonya Andrian.
"Makasih ya atas informasinya" lanjut nyonya Andrian.
"Lantas keputusan nyonya?" tanya Riska yang penasaran. Tak rugi dia memprovokasi kedua orang tua di depannya ini. Batin Riska.
"Berkat kamu, aku malah semakin yakin kalau Rania adalah wanita baik-baik. Bisa saja dia menggugurkan cucu-cucuku. Tapi nyatanya tidak kan? Padahal jelas-jelas itu anak di luar nikah" ujar nyonya Andrian.
"Calon menantuku ini tentu saja tak ingin menambah dosa lagi. Bukan begitu sayang?" tanya nyonya Andrian mengelus punggung tangan Rania penuh kesabaran.
"I..i..iya Mah" sebut Rania memanggil mama untuk menyempurnakan akting mereka berdua.
Tuan Andrian mengangkat sudut bibirnya sedikit. 'Sudah mulai kompak saja istriku dengan calon menantu' batin tuan Andrian.
Riska mencebik, segala upaya hasutan yang dia lakukan belum berhasil juga.
Mahendra langsung saja mengajak pergi Riska tanpa menyapa yang lain.
Mahendra belum ngeh, ternyata yang ada di hadapannya adalah pemilik sebenarnya perusahaan di mana dia bekerja.
"Maaf nyonya, saya memanggil anda dengan kata 'Mah' barusan" ucap Rania sepeninggal Riska dan Mahendra.
"Aku malah senang sayang. Dan mulai sekarang biasakan dengan panggilan itu" pinta nyonya Andrian.
"Kenalkan, kami ini orang tua Raditya. Laki-laki tak tahu diri yang menghamili kamu. Maafkan atas perilakunya" kata tuan Andrian.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
To be continued, happy reading
__ADS_1