Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Balada Kesemek


__ADS_3

Raditya keluar ruangan rawat Rania untuk pergi mencari buah kesemek.


Sementara untuk menunggu sang istri dipercayakan kepada pak Supri dan bu Marmi, karena papa Andrian dan mama menunggu si kembar di mansion.


Berita kehamilan Rania tentu saja disambut hangat papa dan mama Raditya yang hanya punya satu putra tunggal.


Rania masih terbaring dan harus tirah baring karena keadaannya mengharuskan itu.


Kehamilannya masih sangat rawan sekarang, dan barusan alat kontrasepsinya harus dilepas karena posisinya sudah berada di bawah. Itulah yang menyebabkan nyeri melilit dan Rania pingsan tadi.


"Nyonya muda ingin apa?" tanya bu Marmi.


"Enggak kok bu, hanya ingin kesemek aja. Mbayangin rasa manisnya yang seperti madu, kayaknya enak banget" bilang Rania sambil menelan liur.


"Smoga aja tuan muda segera dapat" tukas bu Marmi.


"Apa ada yang lain lagi nyonya?" sela pak Supri.


"Enggak pak" tukas Rania menimpali.


Raditya melajukan mobil yang tadi dibawa pak Supri untuk membawa Rania ke rumah sakit.


"Pasar buah sebelah mana ya?" gumam Raditya.


Saat berhenti di lampu merah, Raditya nyalakan aplikasi di ponsel sebagai petunjuk ke mana dia akan jalan.


Hampir setengah jam Raditya tempuh untuk mencapai pasar buah.


Saat turun, jalanan menuju pasar lumayan becek. Raditya lipat tuh lengan kemejanya. Dan mulai menyusuri blok demi blok untuk mendapatkan buah kesemek permintaan sang istri.


Setiap penjual dia tanyai satu persatu. Tapi semuanya tak tersedia.


Harapan Raditya hanya di penjual terakhir.


Penjual yang cukup renta untuk bekerja.


"Bu, apa ada buah kesemek?" tanya Raditya sopan.


Penjual itu pun mendongak menatap Raditya.


"Nyari apa tuan?" tanya ibu penjual dengan nada keras.


Sepertinya dia berkurang daya dengar nya. Batin Raditya.


"Ke-se-mek" Raditya mengeja buah yang diinginkan sang istri dengan suara pelan.


"Owh kesemek" ujar ibu itu menanggapi dengan antusias.


"Baru tuan aja yang belok ke lapak ini. Nggak tahu tuh orang-orang, berasa alergi aja mungkin belok ke lapak ini" serunya.


Lapaknya memang berada di ujung dan mojok sih. Jadi ketutup area pandangnya.


Padahal buah yang ada di lapaknya tak kalah bagus dengan yang lain. Malah sepertinya barang baru semua.

__ADS_1


"Kesemek itu yang mana sih bu?" tanya Raditya penasaran.


"Owh, pasti nyariin buat istri yang ngidam ya?" tebak ibu itu.


"Kok tahu bu?" tanya Raditya penasaran.


"Tahu aja...he...he... Berapa biji tuan?" tanya si ibu penjual. Menurutnya buat orang ngidam, biasanya hanya kepingin aja. Kalau sudah dapat, satu biji aja kadang nggak dihabisin.


"Aku beli semua bu" jawab Raditya.


"Apa nggak kebanyakan?" tanyanya. Bukannya senang tapi malah heran dengan pesanan yang dibilang Raditya.


"Nggak papa bu" seru Raditya.


"Secukupnya aja. Takutnya nanti malah kebuang. Orang ngidam mah, biasanya kalau dapat ya sudah. Bisa jadi nanti dapat buahnya, malah nggak dimakan" ujar ibu penjual.


"Masak sih bu?" tukas Raditya tak percaya.


Ibu itu mengangguk.


"Anak keberapa sih tuan? Anak pertama ya?" tanya si ibu.


"He...he...anak ketiga sih bu. Tapi saat hamil si kembar, aku belum diberi kesempatan untuk menungguin istriku" ujar Raditya sambil mengusap tengkuknya.


"Pasti tuan saat itu jauh-jauh an ya. Biasa itu terjadi di keluarga muda tuan. Sibuk mencari nafkah" kata ibu itu menimpali.


Ibu penjual akhirnya cuman memberikan tiga kilo kesemek untuk Raditya.


"Berapa bu?" tanya Raditya.


"Aamiin" jawab Raditya.


Raditya menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah.


"Harap diterima semua bu. Doa yang ibu berikan tak akan cukup dengan uang yang aku beri. Jadi mohon diterima" ucap Raditya.


Ibu itu pun tak kuasa menolak atas rejeki yang diterimanya hari ini lewat tangan Raditya.


Raditya kini kembali dengan perasaan senang. Sukses mendapatkan buah yang diinginkan oleh sang istri.


Sampai di ruang rawat inap sang istri, didapatinya Rania tengah tidur nyenyak.


"Husssttt...barusan aja tidurnya tuan. Sedari tadi nungguin tuan muda. Bilangnya tuan lama sekali" kata bu Marmi seperti orang berbisik.


Raditya tertawa lirih. Ternyata sebegitunya orang ngidam itu. Sepertinya Raditya lupa bagaimana merepotkannya dia saat ngidam dulu. Pak Supri dan Beno dibuatnya kalang kabut setiap saat.


"Pak, bu kalian pulang aja dulu. Ntar sore baru balik sini" suruh Raditya.


"Beneran nih? Yakin mau di sini sendiri nungguin nyonya Rania?" tandas pak Supri.


"Iya, ntar kalau butuh aku telpon dech" bilang Raditya.


"Baiklah tuan muda. Mobil juga kubawa sekalian, atau tinggalin aja?" ujar pak Supri.

__ADS_1


"Kalau ditinggal, kalian pulangnya gimana?" tukas Raditya.


"Naik angkot lah tuan muda. Sekalian mengenang masa muda" ujar pak Supri terkekeh. Sedetik kemudian pak Supri menutup mulutnya karena ada pergerakan Rania.


"Hussssssttt" bu Marmi ikutan mengangkat jari telunjuk dan menempelkannya di depan perut.


Mereka pun tertawa tapi tak keluar suara. Bagaimana modelnya, bayangin aja masing-masing yaaahhhh.


Raditya meluruskan pinggangnya di kursi panjang samping tempat tidur sang istri.


Raditya tersenyum sendiri, mbayangin istrinya yang kembali hamil di saat kedua putranya bahkan belum berumur setahun.


Raditya raih ponsel, hendak mengirim pesan ke Beno.


Ternyata sudah ada puluhan chat dari Beno yang terlewatkan oleh Raditya karena sibuk mencari buah kesemek tadi.


"Hhhmmmm, berarti asumsiku seperti mengenal sosok laki-laki sewaktu di mall itu benar adanya" gumam Raditya.


"Pandangan nya sama persis memang dengan Mahendra"


Beno juga mengirimkan gambar salon kecantikan itu nampak dari depan, dan memberitahukan jika salah satu anak buahnya berhasil menjadi member salon itu.


"Oke Beno, laporan aku terima. Lanjutkan semua sampai bisa terurai benang kusutnya. Bahkan kelompok mereka juga telah berani menyatroni mobilku yang lo pakai kemarin" ketik Raditya untuk memerintah asistennya.


"Siap" balas Beno dalam ketikan juga.


Rania membuka mata dan mencari keberadaan pak Supri dan bu Marmi. Karena tadi Raditya belum datang.


"Bu...bu Marmi" panggil Rania.


"Iya sayang. Pak Supri dan Bu Marmi barusan aku suruh pulang" kata Raditya.


"Loh, kok bu Marmi pulang sih?" tukas Rania lesu.


"Kan sudah ada aku sayang yang nungguin, makanya mereka berdua aku suruh pulang" imbuh Raditya.


Kembali mata Rania berkaca-kaca. Entah sejak tahu dirinya hamil hari ini, Rania jadi melankolis.


"Kok malah nangis? Kenapa sayang? Tuh buah kesemeknya sudah aku dapat. Mau aku kupasin" ujar Raditya bersemangat karena telah sukses mendapatkan buah kesemek.


"Nggak mau. Maunya aku dikupasin bu Marmi sekarang" rajuk Rania.


"Bukannya sama saja?" tandas Raditya.


"Nggak mau, aku inginnya bu Marmi" seru Rania dengan terisak.


Tau gitu bu Marmi tadi kusuruh ngupasin duluan sebelum pulang. Batin Raditya.


"Oke...oke...kutelpon bentar. Sabar yaaa" hibur Raditya supaya sang istri tak menangis lagi.


Bu Marmi menyanggupi untuk balik rumah sakit, setelah Raditya mengutarakan keinginan Rania.


Raditya mengacak rambutnya kasar. Gini amat ya ngadepin orang ngidam.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading


__ADS_2