Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Raditya vs Mahendra


__ADS_3

"Pak Supri, langsung ke resto Z" kata Raditya saat sudah berada dalam mobil yang mulai berjalan.


"Sebelah mana itu tuan muda?" tanya pak Supri yang memang belum terlalu mengenal jalan-jalan di kota ini.


"Aku juga nggak tahu pak, lihat aja di maps" suruh Raditya.


Pak Supri menaruh ponsel di dasboard mobil, dan membuka aplikasi penunjuk arah itu. Tak sampai lima menit mobil telah melaju memecah jalanan.


"Silahkan tuan muda, sudah sampai" terang pak Supri membukakan pintu untuk bos nya.


"Makasih pak" tukas Raditya beranjak dari duduk.


Tampilan Raditya yang lengkap dengan kacamata hitam nangkring di pangkal hidung membuat dirinya menjadi pusat perhatian di resto itu.


"Mba, reservasi atas nama tuan Raditya?" tanyanya ke pelayan resto.


"Baik tuan, kami cek dulu" jawabnya.


"Ruang VIP lima, silahkan" kata pelayan itu.


"Makasih" kata Raditya datar dan melangkah sesuai arah yang ditunjukkan oleh pelayan tadi.


Ada yang memanggil di sebelah kiri Raditya, dengan otomatis dia menoleh ke sumber suara.


"Tuan Raditya" suara wanita memanggil.


"Oooo...dokter Andah. Selamat siang dokter" sapa Raditya masih dengan muka biasa saja.


"Sendiri aja" kata dokter Andah sambil meninggalkan meja makannya untuk menghampiri Raditya.


"Gabung aja yukkkk!" ajaknya.


"Maaf, saya ada rapat dengan relasi. Silahkan lanjut aja" tolak halus Raditya.


"Wah, sori tuan. Ternyata saya gangguin orang yang buru-buru nih" tukas dokter Andah dengan suara yang sedikit genit dari biasanya.


Raditya hanya sedikit menyunggingkan senyum ke arah dokter yang merawat anak-anaknya itu.


"Kapan-kapan boleh dong agendakan makan bersama" kata dokter Andah tanpa malu-malu.


"Sori nih, aku buru-buru dok" ucap Raditya sambil melihat jam tangan yang melingkar di tangan.


"Oh ya...silahkan...silahkan" imbuh dokter Andah.


Raditya berlalu menuju ruangan VIP lima seperti yang disebutkan oleh pelayan di depan tadi.


Di sana sudah duduk Mahendra dengan gelisah.


"Siang tuan Mahendra" sapa Raditya yang barusan masuk membuat Mahendra menoleh ke arahnya.


Mahendra berdiri dan menyambut kedatangan Raditya, yang notabene juga menjadi bos nya di perusahaan.

__ADS_1


"Silahkan, duduk aja" suruh Raditya.


Mahendra kembali menghempaskan pantatnya ke kursi yang ada di hadapan Raditya.


"Ada apa tuan memanggilku sendiri seperti ini?" ulas Mahendra memulai pembicaraan inti.


"Tanpa aku jawab, harusnya kamu sudah mengerti" ujar Raditya menanggapi, yang bagi Mahendra seolah-olah menjadi teka teki.


"Saya tidak mengerti tuan" ucap Mahendra.


"Ha...ha...bahkan kamu beraninya berpura-pura bodoh di depanku" Raditya malah tertawa dengan keras. Tawa yang membuat bergidik seorang Mahendra.


"Kejadian malam itu, pasti ada keterlibatan dirimu kan?" telisik Raditya.


"Apa tuan menuduhku?" sela Mahendra.


"Ha...ha...beraninya kamu mengelak Mahendra. Aku sudah menyimpan bukti-bukti itu" tandas Raditya membuat Mahendra terkejut. Tapi keterkejutannya langsung dia tutupi dengan berkata, "Aku benar tak tahu tuan" jawab Mahendra.


"Ha...ha...tapi sayang aksimu gagal di tengah jalan. Karena mantan istrimu lah malah yang menghampiriku terlebih dahulu" lanjuta Raditya.


Mahendra terdiam dengan mengepalkan tangan erat.


"Jangan hanya menjadi anjing yang menuruti apa kata majikan" kata Raditya sengaja memanasi Mahendra.


"Apa maksudnya?" tukas Mahendra.


"Ha...ha...bahkan sampae sekarang kau masih bego" olok Raditya.


"Apa imbalan yang kamu dapat dari Dimas?" tanya Raditya to the point.


"Apa yang harus kulakukan?" tanya Mahendra kemudian.


'Ha...ha...dengan kata-katanya ini, berarti dia mengetahui semua saat kejadian malam itu dan bisa dijadikan saksi suatu saat. Batin Raditya.


"Pertama, jadilah saksi jika suatu saat aku memerlukan kehadiran dirimu" ulas Raditya.


"Saksi apa?" kejar Mahendra.


"Saksi apapun. Karena aku yakin kamu tahu semuanya. Mulai kejadian di malam itu dan kejadian di perusahaan" tegas Raditya.


"Yang kedua, bersihkan nama Rania Putri Handono di depan kedua orang tuanya" lanjut Raditya.


"Aku menolaknya" jawab Mahendra.


"Ha...ha...kamu tidak dalam posisi menawar tuan. Jadi semua mau tak mau harus kamu lakukan" Raditya terbahak.


"Boleh kamu menolak, tapi semua kejahatan istri kamu dalam andilnya penjebakan malam itu akan aku laporkan semua" ancam Raditya.


"Kamu mengancamku tuan" balas Mahendra.


"Oooo...tidak. Aku hanya bicara berdasarkan fakta tuan Mahendra" sahut Raditya.

__ADS_1


"Oh ya tambahan. Aku tidak mau baik kamu sendiri ataupun istri kamu mendatangi Rania untuk meminta uang biaya perawatan putra kamu dan Rania" jelas Raditya.


"Bukankah harta bersama kalian saat menikah, sudah ada padamu semua tuan Mahendra. Jadi jangan menjadi serakah" senyum sinis tersungging di bibir Raditya.


"Sore ini juga, aku tunggu kabar baik dari kamu tentang orang tua Rania" imbuh Raditya penuh intimidasi.


"Aku sudah selesai. Ada pertanyaan?" kata Raditya menatap Mahendra.


"Kalau aku tidak melakukan?" sela Mahendra.


"Ha...ha...ha...Masih berani saja kamu menawar. Tentu saja tak harus menunggu malam untuk membuat kamu dan istri kamu masuk penjara. Istri kamu yang hampir melahirkan itu" kata Raditya menanggapi.


"Kamu mengancamku tuan?" tatap Mahendra.


"Untuk apa aku mengancam kamu? Nggak ada untung yang aku dapat. Cuman sekarang fakta dan bukti lah yang bicara" tegas Raditya balas menatap Mahendra.


"Karena jebakan kamu dan juga jebakan istri kamu yang sekarang, kehidupanku dan juga mantan istri kamu menjadi rumit" Raditya tak menjelaskan kalaulah dirinya juga ada rasa dengan Rania. Malah dengan kejadian itu dirinya merasa bersyukur bisa bertemu dengan wanita baik seperti Rania. Meski sekarang Raditya musti berusaha keras untuk mendapatkan hati bunda kembar itu.


"Aku rasa sudah tidak ada yang perlu kubicarakan lagi. Aku tunggu kabar baik dari kamu nanti malam tuan Mahendra" kata Raditya sambil menyuap makanan yang baru datang ke dalam mulutnya.


Mendapat pengusiran halus seperti itu Mahendra beringsut dari duduk.


Hidupnya terhimpit sekarang. Mau tak mau hari ini dirinya harus menemui mantan mertua yang nyatanya memang dihasut olehnya waktu itu.


Mertua yang tulus menyayangi Mahendra seperti mereka menyayangi putri kandungnya.


Yang Mahendra ingat, saat dirinya mendatangi mantan mertuanya itu. Dengan air mata buaya, Mahendra memberitahu bahwasanya Rania kepergok olehnya sedang bersama laki-laki lain. Dan Mahendra terpaksa menalak Rania dan mengembalikan Rania kepada tuan Handono orang tua kandungnya.


Bahkan dengan meneteskan air mata, laki-laki setengah baya itu berjanji kepada Mahendra jikalau Rania mendatanginya akan langsung mengusirnya. Mahendra tersenyum dalam hatinya.


Dan apa yang dikatakan oleh tuan Handono benar adanya. Mahendra mendengar Rania diusir oleh orang tuanya setelah kejadian Mahendra ke sana.


Dan kini, atas suruhan Raditya dirinya harus menarik kembali semua kata yang diucapkan dulu kepada sang mantan mertua. Kata-kata fitnahan untuk sang mantan istri.


'Bagaimana caranya mengatakan, tapi tetap menjaga nama baik aku dan juga Riska? Apa aku fitnah tuan Raditya saja? Tapi mana bisa, tuan muda itu punya semua bukti atas kejahatanku waktu itu. Sialan" Mahendra menendang batu di depannya, saat berada di parkiran resto. Mau tak mau hari ini dia harus datang ke tuan Handono.


Sementara Raditya masih melanjutkan makannya dengan tenang.


Ponselnya berdering, tanda panggilan masuk.


"Beno?" Raditya menautkan alisnya.


"Halo" kata Raditya sebagai tanda kalau panggilan dari Beno telah tersambung.


"Bos, semua bukti sudah kuserahin ke pihak berwajib. Tinggal menunggu saksi" terang Beno menjelaskan.


"Oke, besok panggil lagi Mahendra. Dan harus ada kamu juga" perintah Raditya.


"Hobi banget manggilin tuh orang" ucap Beno menanggapi.


"Hari ini masalah pribadi, besok masalah kerjaan yang dibahas...ha...ha..." imbuh Raditya. Tak perduli Beno paham atau nggak Raditya tetap tertawa. Puas dengan hasil hari ini.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


__ADS_2