
Pagi itu, sudah seperti rombongan mau piknik. Keluarga Marino mendatangi rumah sakit swasta terbesar di ibukota.
"Kita mau ke mana ini Raditya?" tanya mama yang mendorong Cio di keretanya.
Bayi itu bahkan masih asyik terlelap di sana.
Sementara Raditya mendorong kereta Celo yang nampak terbangun.
"Ya ke poliklinik anak lah Mah" tukas Raditya.
"Kali aja ke poli obgyn" ledek mama.
"Ntar kalau selesai poli anak, Rania kuanterin ke poli obgyn" sambung Raditya mambuat Rania memandangnya.
"Kenapa? Aku nggak mau ditunda lagi" ujar Raditya.
"Pemaksa" celetuk Rania menimpali.
"Plissssss yank" mohon Raditya.
"Sudah kuantrikan loh nomornya" terang Raditya.
"Iya...iya..." balas Rania.
"Kamu memang cintaku...sayangku..." tanpa malu-malu Raditya mencium Rania di depan papa dan mama.
"Issshhhh, memalukan" ledek papa.
"Biarin" ujar Raditya membalas papa.
Karena Raditya datang menyesuaikan nomor antrian, tak perlu menunggu lama untuk mengantri.
Panggilan untuk Celo dan Cio pun terdengar.
Rania menggendong Celo dan Raditya menggendong Cio.
Opa dan Oma baru itu pun hendak ikut masuk.
"Ngapain ikut masuk?" sela Raditya.
"Ikut konsul" jawab papa tanpa rasa bersalah.
"Biar aja lah yank. Papa sama mama kan ingin lihat perkembangan cucu nya" kata Rania menengahi daripada terus melihat debat antara suami dan papa mertuanya itu.
Raditya masuk terlebih dahulu. Dia sekarang berhadapan dengan dokter anak senior yang usianya hampir sama dengan tuan Andrian.
"Selamat pagi dok" sapa Raditya.
"Pagi" jawab dokter itu singkat.
"Issshhh, sombong banget nih dokter" pikir Raditya.
"Sampaikan tujuan dan keluhannya periksa" lanjut sang dokter.
Raditya mulai memunculkan taringnya, tapi tangan Rania sudah terlebih dulu mengelus untuk meredam emosi sang suami.
"Begini dokter, kedua anak saya ini kembar lahir prematur dengan operasi. Dan hari ini ingin kontrol untuk tumbuh kembangnya" jelas Rania.
"Nah begitu dong, biar jelas semua" tukas dokter, kalau melihat name tag nya bernama Iskandar itu.
__ADS_1
Papa Andrian maju menyela.
"Dok, lupa sama aku???" sela papa kepedean.
"Hhmmmm siapa?" tanya dokter sambil membenarkan letak kacamatanya.
"Andrian, teman SMA" jelas papa Andrian.
Dokter senior itu coba mengingat, "Hhhmmm apa kamu Andrian yang sering bolos itu kah? Tapi selalu bisa nyaingin aku di peringkat kelas?" ujarnya.
"Heemmmm, andai aku rajin pasti bisa jadi dokter seperti kamu" imbuh papa Andrian.
"Bukankah anak kamu namanya Raditya? Di mana dia sekarang?" dokter itu tak tahu jika Raditya adalah papa dari si kembar.
"Tuh" tunjuk papa.
Dokter Iskandar menengok ke arah Raditya.
"Loh??? Kembar ini cucu kamu? Wah selamat ya, kok nggak kabar-kabar sih waktu kalian menikah?" ulas nya.
"Andah, cepat kamu ke sini" panggil dokter senior itu ke seseorang.
"Andah???" tanya Raditya dan Rania bersamaan.
"Iya, dia dokter anak juga dan menunggu aku kasih rekom untuk sekolah sub spesialisasi" jelas dokter Iskandar.
"Jangan-jangan" batin Raditya dan Rania hampir sama.
Dan apa yang dipikirkan oleh Raditya dan Rania tak salah.
Yang keluar memang lah Andah, dokter anak yang merawat Celo dan Cio kala di rumah sakit tempat Rania tinggal.
"Loh, ketemu lagi. Apa kabar kalian?" tanya Andah sok akrab.
"Aku yang merawat si kembar waktu lahir prof." jelas Andah.
"Bukannya kamu anaknya Yasmine kan?" sela papa dan langsung mendapat cubitan dari nyonya Andrian.
"Iya Om" bahkan Andah sudah berani memanggil Om ke tuan Andrian.
"Panggil tuan aja, nyatanya suamiku tak nikah dengan tante kamu kan" tukas mama sewot.
"Baiklah, kita mulai aja sesi pemeriksaan" sela dokter Iskandar agar suasana panas tak berlanjut.
'"Andah, berhubung si kembar kamu yang tangani. Sekarang ceritakan saja riwayatnya" perintah dokter Iskandar untuk sang asisten baru.
Dan dengan rinci dan lengkap Andah menjelaskan secara rinci kondisi kembar dilahirkan sampai pulang dari rumah sakit.
"Siippp, jadi dokter anak harus seperti itu. Tidak boleh sedikitpun ada yang terlewatkan" sambungnya.
Mendengar perkataan dokter senior yang sedang membimbing yuniornya membuat Raditya mulai tak sabar.
"Mulai kapan nih anakku diperiksa?" tukasnya.
Andah dengan cekatan mengambil Celo dari gendongan Raditya. "Sok gesit" batin Raditya.
Cio pun diambil Andah dari gendongan Rania.
Setelah melewati drama yang panjang saat pemeriksaan dengan sang dokter.
__ADS_1
Akhirnya bisa ditarik kesimpulan jika kembar dalam kondisi sehat.
"Makasih ya atas bantuannya" ujar tuan Andrian menyalami temannya itu.
"Om, bolehkan jika longgar aku mampir?" kata Andah menyela kala papa Andrian pamitan ke dokter senior itu.
Mama langsung saja sewot. Sekate-kate aja dia. Persis sama dengan mama nya. Yasmine. Gerutu nyonya Andrian dalam hati.
"Wah, kalau aku sih tergantung mama nya Raditya aja. Yang sering di rumah" kata tuan Andrian tak langsung mengiyakan permintaan Andah.
"Kita kan mau pergi Pah" sela mama.
"Sudah...sudah...ayo pulang. Kok malah ngobrol aja" sela Raditya.
"Ayolah" ucap mama mengiyakan tanpa menoleh ke Andah.
Raditya dan Rania pun sama, setelah berbasa basi ke dokter senior itu melanjutkan untuk ke poli kandungan.
Sementara Celo dan Cio langsung pulang ke mansion bersama Opa dan Oma nya.
Seperti yang terjadi di poli anak, Rania saat ini tengah berhadapan dengan dokter spesialis obgyn.
Dan setelah diberikan konseling, Raditya dan Rania menyetujui untuk pakai kontrasepsi jangka panjang.
"Jika masa pakai belum habis, bisa kok nantinya dilepas" imbuh sang dokter.
"Dan bila ada keluhan, silahkan kontrol" lanjut sang dokter setelah selesai melakukan tindakan.
"Makasih dokter" jawab Rania.
"Eh, bentar dok. Kalau langsung dicoba, bisa ya?" tanya Raditya langsung ke inti nya.
"Ha..ha....sepertinya sudah ada yang tak sabar nyonya. Semua kukembalikan pada istri anda tuan?" kata dokter itu terbahak.
Pipi Rania sudah bagai kepiting rebus, karena menjadi olokan sang dokter yang diawali oleh ulah sang suami.
Dengan wajah berbinar Raditya menyambar lengan sang istri keluar dari poli obgyn.
"Cari makan dulu aja yuk, biar kamu juga tahu suasana ibukota" ajak Raditya.
"Ntar Celo dan Cio bagaimana?" tanya Rania.
"Kan sudah ada Opa dan Oma nya. Yang tenang" ujar Raditya.
Di lorong rumah sakit, mereka berdua ketemu lagi dengan si ulat bulu versi Raditya.
Riska mendekat dan menelisik menatap wajah Rania.
"Kamu Rania kan? Wah...wah...tak menyangka akan ketemu dengan OKB macam kamu Rania. Di ibukota lagi" ujar Riska.
"OKB orang kaya baru...ha...ha..." Riska menjelaskan sedemikian rinci.
Raditya hendak mengatakan sesuatu, tapi tak jadi karena dilarang oleh Rania.
Riska menjauh tanpa mengatakan yang lain.
"Kok dia ada di sini?" gumam Rania.
"Bayinya ada kelainan jantung, dirujuk kali kesini" tukas Raditya.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading