Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Intrik


__ADS_3

Ponsel Raditya berdering saat dirinya menyerahkan bayi pertama kepada Rania.


"Biar aku bantu Radit, kamu angkat telpon barangkali penting" ulas nyonya Handono.


"Baik bu" Raditya mengambil ponsel yang ada di saku.


"Halo Beno" sapa Raditya yang ternyata penelponnya adalah assistennya.


"Dimana loe? Rumah sakit?" tanya Beno.


"Iya, bukannya aku suruh siang pertemuanku dengan Mahendra" tukas Raditya.


Tuan Handono menengok ke arah Raditya saat nama mantan menantunya itu kesebut di antara ucapannya.


"Oke Beno, selepas makan siang aku ke sana" jawab Raditya mengakhiri pembicaraan.


Tuan Handono masih menatap Raditya.


"Iya tuan" kata Raditya.


"Kenal dengan Mahendra?" telisik tuan Handono.


"Kenal karena kebetulan" jelas Raditya.


"Saya dengan Mahendra kerja di perusahaan yang sama. Kebetulan aku berada di pusat" imbuh Raditya tanpa menjelaskan bahwasanya dirinya adalah pewaris tunggal perusahaan tersebut.


"Bagian apa?" cerca Tuan Handono yang seorang purna pegawai pemerintahan itu.


Raditya gelagapan, nggak mungkin juga dia bilang kalau dirinya adalah CEO nya.


"Aku di bagian keuangan tuan" jawab Raditya, karena hanya kata itu yang terpikirkan saat ini.


Sementara tuan Handono memastikan kalau Raditya harus lebih baik dari seorang Mahendra. Yang notabene mempunyai jabatan mentereng di perusahaan besar itu. Naluri seorang ayah untuk memberikan yang terbaik untuk putrinya.


"Raditya semua yang telah lunasin biaya persalinanku ayah" sela Rania yang tahu kalau saat ini Raditya sedang bingung menata jawaban.


Tuan Handono menelisik ruang vvip itu.


Kalau melihat ruangan inap Rania, pasti ini mahal sekali perharinya. Batin tuan Handono. Padahal saat lahir Chiko dulu, Rania hanya berada di ruang kelas dua. Itupun Rania ikut andil membayar biaya. Dengan ini saja sudah membuktikan kalaulah Raditya lebih baik daripada Mahendra.


"Dalam rangka apa orang pusat turun ke perusahaan yang ada di kota ini?" tanya tuan Handono masih saja meneruskan interogasinya.


"Karena ada laporan ke pusat, kalau di sini sedang ada masalah. Makanya papa menyuruh saya ke sini tuan" kata Raditya tak sengaja menyebut kata papa dalam kalimatnya.


"Papa?" tanya tuan Handono heran.


"He....he...ketahuan gue" gumam Raditya sangat lirih.


"Maksudnya, aku diperintahkan langsung oleh tuan Andrian Marino pemilik perusahaan untuk menyelesaikan masalah di sini" terang Raditya.

__ADS_1


"Ooooooo..." tukas tuan Handono.


Sementara Rania menahan tawa, melihat Raditya yang berusaha membohongi sang ayah. Bukannya lebih enak kalau dia bilang langsung bahwa dirinya yang punya perusahaan, pakai berbelit-belit segala.


Aku kerjain dia aja ah. Pikir Rania.


"Tuan Andrian yang kemarin ke sini kan? Sama istrinya?" tanya Rania serius ke arah Raditya.


Sejenak Raditya membego, bukannya dia sudah tahu kalaulah Andrian Marino papaku? Batin Raditya.


"Loh ngapain ke sini?" tanya tuan Handono kepada Rania. Kok semakin mbuletisasi alias rumit sekali.


"Malamarku Yah" kata Rania masih dengan mimik muka serius. Membuat Raditya menggaruk kepala yang tak gatal.


Sementara tuan Handono kembali beralih menatap Raditya.


"Jelaskan yang sebenarnya?" suruh tuan Handono, dan di belakangnya terdengar tawa Rania yang renyah. Tawa yang tak pernah sekalipun Raditya lihat sebelumnya.


"Sa...saya...Raditya Marino, putra tunggal Andrian Marino. Penerus perusahaan Samudera Grub. Maaf karena tak mengatakan langsung. Karena tak ingin ayah salah paham. Untuk ayah ketahui saya tulus dengan Rania, tanpa membawa nama besar keluarga Marino" kata Raditya menjelaskan. Panggilan tuan kepada tuan Handono telah berubah menjadi ayah.


"Jadi kamu itu bos nya Mahendra?" sela nyonya Handono.


"I...iya..bu" jawab Raditya.


"Sudah bu, jangan sebut nama itu lagi" pinta Rania.


"Kalau begitu, aku tunggu paling lama akhir minggu kedatangan keluarga besar kamu ke rumah" tandas tuan Handono membuat Raditya tertegun.


"Apa nggak terlalu cepat ayah?" sela Rania.


"Apa kamu nggak ingin memberikan status yang jelas untuk kedua putra kamu itu?" ulas tuan Handono membuat Rania terdiam. Membenarkan apa yang dikatakan oleh sang ayah.


"Siap ayah. Terima kasih atas kepercayaannya padaku" tukas Raditya mencium punggung tangan laki-laki setengah baya itu.


"Kalau aku menolak?" kata Rania setelahnya.


"Akan aku paksa...he...he..." jawab Raditya.


"Kita tak saling cinta Raditya, bahkan keduanya lahir di antara kesalah pahaman" Rania memberikan alasan yang rasional.


"Kita coba. Cinta akan hadir jika kita ikhlas menjalani" ungkap Raditya.


Trauma yang dialami Rania ternyata terlalu dalam. Batin Raditya.


"Dengan menikah, secara tak langsung kalian juga menebus kesalahan sebelumnya" kata tuan Handono bijak.


"Anak kembar kalian memerlukan orang tua utuh. Sudah cukup Chiko yang menjadi korban keegoisan kamu dan Mahendra" terang tuan Handono.


"Oh ya Raditya, apa kamu juga sanggup jika seandainya Chiko ikut dengan Rania?" tanya tuan Handono.

__ADS_1


Raditya mengangguk pasti.


Ponsel Rania berdering keras.


"Halo" sapa Rania.


"Ini dari ruang intensif nyonya. Kami ingin memberitahu keadaan anak Chiko, karena saat ini tuan Mahendra tak bisa dihubungi" terang si penelpon.


"Iya, bagaimana keadaan Chiko?" tanya Rania.


"Anak Chiko saat ini kritis kembali. Mohon selekasnya ke sini nyonya" kata perawat itu bagai petir menyambar di tengah terik matahari. Ponsel Rania terjatuh dari genggaman. Rania telah berurai air mata.


Raditya meraih ponsel karena panggilan masih tersambung.


"Baik, kita akan ke sana" tegas Raditya.


"Apa Chiko dirawat?" sela tuan Handono.


"Iya ayah, Chiko dirawat jauh sebelum Rania melahirkan. Dan sekarang berada di ruang intensif" jelas Raditya mewakili Rania.


Raditya dengan sigap memanggil perawat ruang bayi untuk mengambil alih sementara perawatan kedua bayinya.


Sementara dia sendiri akan mengantarkan Rania ke ruangan di mana Chiko berada.


Dan di sinilah mereka berempat sekarang, di hadapan dokter yang menjelaskan keadaan terakhir Chiko.


Mahendra menyeruak di antara keempatnya.


"Apa yang terjadi dengan putra saya dokter?" tanya Mahendra. Kali ini nampak sekali guratan kecemasan di sana.


"Kalian berdoa saja. Karena kegagalan multi organ yang diderita putra anda lebih parah. Dari segi medis sudah tidak ada harapan. Berdoalah semoga ada mukjizat yang datang" kata dokter itu.


Semakin deras air mata Rania mengalir, sementara Mahendra terduduk lemas di kursi.


Di ujung lorong, Riska tersenyum smirk. Penghalangnya akan berkurang satu. Dan dia sekarang sedang fokus dengan target berikutnya. Laki-laki yang berada di samping Rania.


Raditya berpikir menunda pertemuan dengan Mahendra, karena keadaan Chiko.


Tapi tetap saja memberikan perintah kepada Beno untuk segera mengamankan Dimas sebelum uang perusahaan ditilap habis olehnya.


"Siap tuan" balas Beno dalam pesan yang dikirim.


Tanpa sadar Rania menyandar di bahu Raditya. Saat ini dirinya butuh kekuatan.


Riska mendekati sang suami. "Apa yang terjadi dengan Chiko sayang?" tanyanya sok baik.


"Chiko drop sayang" Mahendra menjelaskan lirih. Bagi Mahendra hanya Chiko yang bisa mengikat dirinya agar selalu berhubungan dengan Rania sang mantan istri. Dan Riska ingin memisahkan itu.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


To be continued, happy reading


__ADS_2