
Pagi itu, saat tuan dan nyonya Andrian pergi ke rumah sakit. Raditya menelpon Beno sang asisten.
"Beno, hari ini ikut aku menemui orang tua kandung Rania" ajak Raditya di sambungan telpon.
Hari ini Raditya sengaja fokus untuk mencari keberadaan orang tua Rania untuk meminta restu. Niatnya sudah bulat untuk menikahi Rania.
Urusan diterima tidaknya lamarannya, semua sudah diurus oleh tuan dan nyonya Andrian yang pagi-pagi sudah berangkat ke rumah sakit untuk bertemu Rania. Saking semangatnya mendapat calon mantu plus bonus dua bayi kembar.
Padahal awalnya Raditya mengira akan kesulitan mendapatkan restu dari papa dan mama. Sudah muncul niat tetep akan menikahi Rania meski tak mendapatkan restu.
"Woooiiiii, masih hidup loe bossss?" teriak Beno yang ternyata sudah ngoceh sedari tadi.
"Sori...sori...apa yang kamu bilang?" tukas Raditya tanpa merasa bersalah.
"Hadech...susah memang ngadepin bos jatuh cinta" keluh Beno.
"Ulangi apa yang kamu katakan tadi!" suruh Raditya.
"Haissss, buat repot aja loe" tandas Beno sedikit kesal.
"Benooooo" kata Raditya.
"Iya...iya...bossss. Aku tadi cuman nanya, bukannya hari ini kita ke perusahaan. Menuntaskan permasalahan Dimas dan para stafnya?" ucap Beno dengan jengkel. Padahal dia sudah bilang tiga kali dengan kalimat yang sama.
"Tunda dulu. Ini lebih urgen" bilang Raditya.
"Urgen menurut loe bos, tapi tidak bagi gue" olok Beno.
"Beno, mau kuhapus bonus kamu" ancam Raditya.
"Sialan, sudah main ancem aja bossss" timpal Beno masih menunjukkan kejengkelannya.
"Setengah jam lagi, tunggu aku di lobi" suruh Raditya.
"Iye...mana bisa aku menolak" kata Beno masih saja ngedumel tak jelas.
.
Di perjalanan, Raditya teringat akan pesan dokter Andah semalam waktu memanggilnya semalam.
"Kalau ada baby shop, berhenti" perintah Raditya.
"Hah? Mau cari apa? Diapers?" tukas Beno bercanda.
"Serius Beno" tandas Raditya.
Semakin lama semakin aneh saja nih bos. Pikir Beno.
"Nggak usah mikir macam-macam, gua mau nyari alat pumping" terang Raditya.
"Buat apa?" sela Beno.
"Buat mompa air susu lah" jawab Raditya.
"Aneh, kan enakan diisep langsung bos?" ucap Beno menyela.
"Bayi gue kekecilan Beno" lanjut Raditya.
"Suruh mawakili papa nya aja. Beres tuh" gurau Beno. Pukulan tangan Raditya mendarat di lengan Beno.
"Wah, jangan sadis-sadis dong bos" tukas Beno sambil tertawa.
__ADS_1
"Tuh, kiri depan kayaknya baby shop tuh" tunjuk Raditya.
Beno pun membelokkan ke toko yang dimaksud oleh Raditya.
Raditya turun duluan, Beno ternyata mengikuti langkah sang bos.
Semua pengunjung yang mayoritas ibu hamil dan pasangan memandang kedua laki-laki yang barusan masuk.
"Berasa menjadi tersangka" gumam Beno bermonolog.
"Loe itu yang pantas, gue mah tidak" balas Raditya.
Raditya menghampiri penjaga toko yang nampak bengong menatapnya.
"Bukannya menghampiri pelanggan, kok malah bengong" omel Beno. Dan sedetik kemudian, Beno menepuk bahu cewek karyawan toko itu.
"Kak, tolong alat pumping" bilang Raditya.
"Pumping?" karyawan semakin melongo.
"Cepetan atuh! Bengong aja sih" kata Beno sewot.
"Hemmmmm, siapa suruh muka kalian bak artis" celetuk sang karyawan terus berlalu untuk mencari peralatan yang dimaksud.
"Ngapain loe senyum-senyum?" tanya Raditya ke Beno yang berada di sampingnya.
"He...he...muka artis nih" ujar Beno sambil menepuk pipi.
"Ini tuan. Silahkan. Ini sudah lengkap satu set. Apa mau dicoba dulu?" tanyanya.
"Loh? Terus yang dipompa punya siapa mba?" sela Beno membuat sang karyawan menunjukkan pipi yang kemerahan.
"Loe bilang apa sih?" sela Raditya.
"Iya kak, coba aja" suruh Raditya tak perdulikan Beno.
Beno mendekat karena penasaran, bagaimana karyawan itu mencoba.
"Ini tuan, berfungsi ya" tunjuknya ka arah alat yang memang berbunyi itu.
"Tahu tidaknya bisa memompa bagaimana dong? Ntar kalau alat pompanya bisa, air susunya tak keluar kamu harus tanggung jawab loh kak" tukas Beno mengancam. Meski ancamannya tak menimbulkan rasa takut sama sekali.
"Kak, siapkan 5 set lagi" suruh Raditya.
"Hah? Banyak amat tuan?" tanya karyawan dari toko itu.
"Nggak apa-apa. Buat gantian aja" ujar Raditya sekenanya.
"Beno, kamu panggil Pak Supri atau siapa terserah. Buat ambil alat ini dan serahin ke Rania" bilang Raditya menyuruh Beno.
Raditya menggesek kartunya di kasir untuk membayar alat yang dia beli.
Raditya dan Beno menunggu di mobil orang suruhan Beno yang mengambil alat pumping.
"Pagi tuan Beno" sapa orang itu menghampiri mobil yang terparkir.
"Bos, mana alatnya?" pinta Beno.
"Serahin ke nyonya Rania, kamar vvip enam rumah sakit di tengah kota" perintah Beno.
"Siap tuan" katanya mengangguk hormat ke arah Beno. Sementara Raditya masih asyik dengan ponsel.
__ADS_1
"Kita lanjut ke mana nih bosss?" tanya Beno.
"Nih" Raditya menyodorkan secarik kertas yang tertulis sebuah alamat.
"Bukannya ini gue yang ngasih?" celetuk Beno.
"Heemmm, sudah tahu pake nanya lagi" tukas Raditya.
"Issshhhhh,...ingat Beno pasal satu" Beno merutuki dirinya sendiri.
"Bos selalu benar...ha...ha..." Raditya tertawa.
Beno melajukan arah mobil ke sebuah alamat yang dimaksud.
"Beneran nih rumahnya?" tanya Raditya.
"Mana aku tahu? Kalau menurut tulisan tadi sih nggak salah" jawab Beno.
Raditya turun. Sengaja dia lepas jas nya dan hanya pake kemeja yang terlipat di lengan.
Posturnya yang tegak dengan perut ramping, sungguh membuat Raditya bagai Oppa Korea.
Raditya menghampiri orang yang lewat.
"Pagi tuan. Mau nanya?" kata Raditya.
"Iya" jawabnya sedikit gugup. Kaget mungkin melihat orang bak artis Korea di komplek perumahan ini...he...he...
"Apa benar itu rumah kediaman tuan Handono?" tanya Raditya menunjuk ke arah rumah besar dengan halaman luas dan pohon rindang itu.
"Oooo tuan Handono. Benar tuan, itu adalah rumahnya" beritahu orang itu.
"Makasih banyak pak" jawab Raditya.
Beno masih belum turun, dirinya memang sengaja membiarkan sang bos dengan usahanya sendiri.
Raditya memasuki pagar sebatas pinggang di depan rumah. Pohon besar yang ada di halaman, menambah suasana menjadi asri.
Rumah dengan bangunan khas Jawa itu nampak masih kokoh berdiri.
Raditya mengetuk pintu depan, sambil mulutnya berdoa agar tidak kena amukan dari papa Rania.
"Selamat pagi" ucap Raditya entah yang ke berapa kalinya.
"Selamat pagi, any body home???" suara Raditya terdengar lagi.
Mungkin karena terlalu luas bangunan, suara Raditya yang keras tak kedengeran dari dalam.
Pintu malah terbuka, saat Raditya tak mengetuk pintu.
"Oalah...ada tamu to? Kenapa nggak ngetuk pintu sih mas?" tanyanya dengan bahasa yang medok.
"I...iya...bu" jawab Raditya, dan tak bilang kalau sebenarnya sudah puluhan kali dia mengetuk pintu.
"Panggil bik Surti aja mas. Oh ya, nyari siapa?" tanyanya.
"Tuan Handono. Beliau ada?" tanya Raditya.
Bik Surti mengawasi dari atas sampai bawah sosok Raditya, sudah seperti penyidik menghadapi tersangka saja...he...he...
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
To be continued, happy reading